Semesta Keempat

2295 Words
"Makan siang apa, Onti?" Alika menatap Inggid penuh selidik. "Emm..." Inggid bergumam kebingungan. Dia menatap Bhumi untuk mendapat bantuan. "Kenalannya Onti Inggid punya restoran, terus tadi ayah cobain." Alika tidak percaya dengan ucapan Bhumi. Jika hanya begitu, kenapa Bhumi dan Inggid bertingkah mencurigakan? "Terus ngapain Onti sama Ayah diem-dieman gitu? Ada yang disembunyiin, ya?" "Kok Faya nggak diajak?" Faya menggerutu pada ayahnya. "Tuh! Karena adik kamu, tuh. Tadinya ayah kamu nyuruh diem-diem biar Faya nggak tahu. Beneran kan, anaknya protes." Bhumi tersenyum dan mengelus rambut putrinya. "Kan tadi habis makan siang ayah harus langsung balik ke kantor." Alika tidak percaya dengan ucapan Inggid. Jika hanya karena Faya, kenapa Bhumi dan Inggid bertingkah mencurigakan? "Terus ngapain Onti sama Ayah diem-dieman gitu? Ada yang disembunyiin, ya?" "Kok Faya nggak diajak?" Faya menggerutu pada ayahnya. "Tuh! Karena adik kamu, tuh. Tadinya ayah kamu nyuruh diem-diem biar Faya nggak tahu. Beneran kan, anaknya protes." Bhumi tersenyum dan mengelus rambut putrinya. "Kan tadi habis makan siang ayah harus langsung balik ke kantor." Alika sebenarnya sedikit tidak percaya dengan ucapan Inggid dan Bhumi. Kalau memang agar Faya tidak protes, kenapa wajah mereka terlihat mencurigakan? *** Pagi ini harusnya Faya dan Alika diantar oleh Inggid. Sayangnya, Inggid tiba-tiba merasa mual dan kehilangan mood. Jadilah Bhumi yang mengantar Faya dan Alika ke sekolah. Ternyata kehadiran Inggid tidak membawa apapun. Mereka tetap terburu-buru seperti biasa. Apalagi tadi sempat ada drama rebutan kursi depan "Kak, lain kali kalau adiknya mau sesuatu kamu ngalah dulu, deh. Kan dia masih kecil." "Ayah belain Faya terus!" kesal Alika yang berhasil duduk di depan. "Bukan belain, tapi ngasih nasihat. Udah tahu kita lagi buru-buru, eh kamu malah ngeladenin adiknya. Emang kenapa sih kalau duduk di belakang? Sama aja, Kak." "Udah perjanjiannya, ayah. Kalau kemarin Faya di depan, sekarang Alika, dong! Harusnya ayah nasihatin Faya biar nggak ingkar janji." Faya di belakang melanjutkan bermain Barbie tanpa rasa bersalah. Bhumi hanya bisa menggeleng pelan. Susah untuk berbicara dengan Alika. Remajanya itu selalu saja memiliki alasan untuk membantah kata-katanya. Beginilah repotnya punya anak yang memasuki masa puber. Untuk mengusir rasa kesal, Alika berniat memakan permen. Dia mengambil permen yang disediakan di dashboard. Sayang, Alika kesulitan membuka bungkus permen itu. Tangannya licin dan permen yang ia pegang terjatuh dengan bungkus belum terbuka. Alika merasa sayang jika harus mengambil permen baru. Toh permen yang baru saja jatuh belum terbuka, jadi isinya masih bersih. Dengan susah payah, Alika membungkuk untuk mengambil permen. Tangan Alika meraba-raba karpet mobil. Bergerak ke sana ke mari, Alika tidak kunjung menemukan permennya. Dia malah menemukan benda kecil yang terasa aneh. "Kak, kamu ngapain, sih? Kita udah sampai." "Bentar permenku jatuh." "Ambil yang baru aja, Kak, ini adiknya keburu telat." "Sebentar, Ayah." Alika menggenggam benda kecil tadi, namun tetap melanjutkan pencarian. "Alikaaa." Mendengar nama lengkapnya dipanggil, Alika langsung duduk tegap. Ia bergerak cepat untuk turun dari mobil. Alika membuka telapak tangan begitu mobil Bhumi pergi. Tampak sebuah kuku palsu berwarna biru dan putih dengan hiasan kerang kecil. "Kuku palsu?" Alika mengernyit. Kenapa bisa ada kuku palsu di mobil ayahnya? Sambil berpikir, Alika berjalan menuju kelas. "Apaan, tuh?" tanya Safa. "Lo pasang kuku palsu? Kok cuma satu?" "Bukan punya gue." Safa mengambil kuku itu sementara Alika meletakkan tas. Safa iseng memasang kuku palsu tadi ke salah satu jemarinya. Safa tersenyum melihat kukunya menjadi cantik. "Kalau bukan lo terus punya siapa?" "Nemu di mobil ayah?" Safa melirik heran. "Ayah lo pakai kuku palsu?" Pertanyaan Safa direspons Alika dengan pukulan pelan di lengan. "Enak aja! Ngapain ayah gue pakai kuku palsu?" Safa memutar bola matanya. "Terus punya siapa? Kok bisa ada di mobil ayah lo?" "Itu dia yang gue bingung. Perasaan gue nggak kenal siapa yang suka pakai kuku palsu." "Inget-inget coba, tante lo kan banyak." "Bukan, deh. Onti Dara sama Tante Arum nggak pernah pakai kuku palsu. Paling cuma Onti Inggid doang." "Berarti punya Onti Inggid." "Nggak mungkin!" "Kok nggak mungkin?" "Onti Inggid nggak pernah pakai kuku palsu lagi semenjak hamil," ujar Alika. "Berarti jatuhnya sebelum hamil." "Itu juga nggak mungkin!" "Kenapa nggak mungkin?" tanya Safa sedikit kesal. "Mobil ayah selalu dibersihin tiap bulan. Onti Inggid kan udah hamil gede. Kalau jatuh dari sebelum hamil, pasti udah ilang dari lama." "Terus punya siapa?" "Ya nggak tahu, Safa." "Tapi yang punya pasti seleranya bagus. Lihat nih, lucu banget. Kalau sekolah ngebolehin, gue mau pasang kuku palsu kayak gini." Alika tersenyum. "Lo nggak cocok pakai itu. Cocoknya pakai kuku item biar kayak mak lampir." "Enak aja!" gerutu Safa. Melihat reaksi teman sebangkunya itu, Alika tertawa senang. "Oh, jangan-jangan..." Mata Safa tiba-tiba melebar. "Jangan-jangan apa?" Alika menaikkan alis. "Ck! Jangan bikin gue penasaran, dong!" Alika kembali memukul lengan Safa. "Jangan-jangan ini punya pacar bokap lo?" "Pacar?" Alika menggeleng. "Nggak mungkin, Saf. Lo tahu sendiri ayah gue..." "Duda? Ya justru karena itu, Lik! Jangan-jangan dia kesepian terus ingin mencari pendamping hidup baru. Lo bakal punya ibu baru." Alika ingin memprotes kalimat Safa, namun seorang guru telanjur memasuki kelas. Safa menaruh kuku palsu itu di depan Alika dan langsung duduk rapi. Alika jadi kepikiran pada ucapan Safa. Pacar? Tidak mungkin kan? Alika tahu jika Bhumi sangat menyayangi Bunda Desita. Tidak mungkin Bhumi akan mencari penggantinya. *** Ruangan Bhumi didominasi warna putih dan biru tua. Beberapa ornamen berwarna emas turut menghiasi. Perpaduan antara cat, ornamen, dan penataan cahaya membuat ruangan Bhumi terlihat elegan. Dulu dia sendiri yang mendesain ruangan ini dengan referensi dari internet. Bhumi menoleh ke pintu dan mendapati Amel tengah masuk. Amel mengangguk pelan. "Kenapa, Mel?" "Udah jam makan siang. Saya izin makan dulu, ya, Pak." "Iya, silahkan," ucap Bhumi. "Bapak mau saya belikan makan siang sekalian?" "Oh, nggak usah, habis ini saya keluar mau jemput Faya terus sekalian makan siang. Nanti kalau rapat udah mau mulai tolong kasih reminder setengah jam sebelumnya, ya, jadi saya bisa buru-buru balik ke kantor." "Baik, Pak." Amel kemudian meninggalkan ruangan. Bhumi sendiri bersiap untuk menjemput Faya. Gara-gara dia tahu tidak diajak makan di restoran "teman Inggid", Faya jadi ngotot minta dijemput. Untungnya Bhumi masih punya banyak waktu sampai rapat setelah makan siang. Seperti biasa, Bhumi mengendarai mobil ditemani alunan lagu dari Coldplay. Dia sedikit bersenandung saat lirik favoritnya muncul. Sesampainya di sekolah Faya, Bhumi langsung disambut dengan bocah itu yang melompat-lompat dan melambai ke arahnya. Seorang guru mengantar Faya dan membantunya naik mobil. "Yeay! Faya senang ayah jemput Faya. Ternyata ayah beneran dateng." "Harus, dong. Buat anak ayah apa, sih, yang nggak? Ayah akan nurutin semua maunya Faya. Asal Faya pinter dan nggak nakal." "Serius?" "Serius, sayang." "Berarti kalau Faya makin pinter sama makin nggak nakal, Faya boleh minta sesuatu lagi?" "Boleh, emang Faya minta apa?" "Faya minta adik bayi kayak punya Chiko." "Adik... Bayi?" Bhumi menoleh sekilas. "Iya adik bayi. Kayak dedek yang di perutnya Onti Inggid." "Emm... Kalau itu...." Otak Bhumi berpikir keras. Apa yang harus Bhumi katakan sekarang? "Kalau itu, ayah belum bisa kasih." "Kenapa nggak bisa kasih? Nanti Faya pinter banyak-banyak, deh! Faya nggak nakal atau berantem sama kakak lagi." "Faya, itu..." Ponsel Bhumi tiba-tiba berdering. Bhumi sedikit lega karena bisa menghindari pertanyaan Faya. Saat melihat nama Lina di layar, Bhumi segera mengangkat telepon. "Halo, kenapa, Ma?" "Kamu lagi kosong nggak?" "Kosong gimana?" "Kosong ada kerjaan atau nggak." "Oh, ada sih ada, tapi sekarang aku lagi di luar sama Faya. Kita mau makan siang." "Neneek!" sapa Faya keras. "Ya ampun, pas banget!" "Apanya yang pas?" "Kamu ke Tampan kafe bisa nggak?" "Ngapain?" "Mama habis ini ke sana. Kamu sekalian, ya, bareng Faya juga. Jadi mama bisa makan siang bareng cucu kesayangan." Bhumi berpikir sejenak. Tadinya dia ingin mengajak Faya ke restoran Sunda dengan kolam ikan di belakangnya. Tapi sepertinya tidak apa jika dia makan bersama Lina. "Oke, Ma, habis ini aku ke sana." Setelah menutup telepon, Bhumi langsung memutar kemudi. Tampan kafe terletak sedikit jauh. Dia perlu kembali dan berbelok untuk sampai ke sana. "Kita mau makan sama nenek, ya?" tanya Faya begitu mereka sampai di Tampan kafe. Faya turun dengan antusias. "Tunggu, sayang." Bhumi bergegas mengejar putrinya yang telah masuk terlebih dahulu ke dalam kafe. Saat Bhumi berjalan, ponselnya berdering kembali. "Halo, mama duduk di mana?" Bhumi mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kafe untuk mencari keberadaan Lina, juga Faya yang telah menghilang dari pandangan. "Bhum, maaf banget, tapi mama nggak bisa datang." "Lho, gimana, sih?" "Maaf, deh. Tapi kamu tenang aja. Udah ada pengganti mama buat kamu ajak ngobrol." "Pengganti apa?" Bhumi menurunkan ponsel saat tak kunjung mendapat jawaban dari Lina di ujung telepon. Bhumi berdecak saat melihat sambungan telepon telah dimatikan. Mamanya kenapa tidak jelas begini, sih? "Ayah! Sini! Ada Tante Kala." Bhumi menoleh ke sumber suara. Faya tampak melambai senang kepadanya. Faya telah berdiri di area lesehan. Di belakang Faya, ada seorang wanita yang duduk menatapnya. Kini maksud Lina menjadi jelas. Pasti dia ingin menjebak Bhumi agar mau makan siang bersama Kalani. "Udah lama?" tanya Bhumi sembari melepas ikatan sepatu. Faya telah memilih tempat duduk di depan Kalani sebagai tempatnya makan. Mau tidak mau Bhumi harus menurutu putri kecilnya. "Baru beberapa menit, kok. Tadi Tante Lina minta ketemu, tapi terus katanya nggak jadi." Bhumi jadi merasa tidak enak pada kalani. Mamanya juga membohongi Kalani. "Tante, tante udah pesan?" Kalani menoleh ke Faya. Gadis cilik dengan seragan sekolah itu tengah memangku buku menu. Gayanya saja seperti orang dewasa, padahal buku menu itu setengah badannya sendiri. "Tante belum tahu. Kalau Faya mau pesan apa?" "Faya mau nasi goreng pataya sama udang goreng tepung." Faya mendongak ke Kalani. "Tante mau aku pesenin juga?" "Nggak usah, tante alergi udang soalnya." "Kalau gitu tante catat pesanan aku aja, ya, nasi goreng pataya sama udang goreng tepung." "Fay, kok kamu jadi nyuruh-nyuruh Tante Kalani?" Kalani tersenyum. "Nggak apa-apa, kok. Lagian kita semeja, jadi nggak apa-apa." Kalani kemudian menuliskan pesanan Faya dan juga pesanannya. "Kamu mau makan apa?" tanya Kalani pada Bhumi. "Aku... Aku mau pasta tuna sama es teh." Kalani menuliskan semua pesanan, termasuk tambahan milkshake untuk Faya. Dia lalu menyerahkan menu pada seorang pelayan. "Kalani, maaf, ya. Kamu pasti dibohongin sama mama." "Nggak apa-apa, kok." "Nenek bohong sama tante? Emangnya nenek-nenek boleh bohong, Yah?" Bhumi tersenyum. "Nggak boleh. Makanya ayah minta maaf karena nenek udah bohong." "Emangnya nenek bohong apa sama tante?" "Emm... Tadi tante mau ketemu sama neneknya Faya di sini, tapi nenek nggak jadi dateng." "Oh ya, kamu baik-baik aja, kan?" tanya Bhumi mengingat kejadian kemarin. "Iya, makasih udah nanya." "Kemarin kenapa? Kayak lihat setan gitu." "Nggak, cuma kurang enak badan, makanya langsung pulang." Faya yang merasa diabaikan cemberut. Faya kemudian mendapat ide saat melihat kuku Kalani. "Tante, lihat, deh." Faya menunjuk jam tangan bergambar tokoh kartun yang ia kenakan. "Kenapa, sayang?" "Jam Faya sama kuku tante sama. Gambar Ladybug." Kalani melirik kuku yang baru ia ganti tadi pagi. Kukunya kemarin rusak, jadi Kalani buru-buru menghubungi nail art langganan untuk memasangkannya kuku baru. "Wah, iya sama." Bhumi tersenyum melihat Kalani dan Faya yang kemudian bercanda ria. Dia takjub melihat Kalani tahu tokoh-tokoh kartun atau hal-hal yang disukai anak-anak. Sejak acara arisan, Faya memang tampak cepat akrab dengan Kalani. Sekarang saja Kalani sedang menyuapi Faya dengan telaten. Tepat saat Bhumi menyelesaikan pasta tuna miliknya, ponsel Bhumi berdering. Kini nama Amel yang muncul. "Halo, Mel, gimana?" "Halo, Pak. Bapak di mana, ya? Bisa ke kantor sekarang?" "Kamu kok suaranya panik gitu?" Bhumi sempat bertatapan sekilas dengan Kalani sebelum dia menyingkir. "Kenapa, Mel?" "Pak rapatnya udah mau dimulai?" "Lho, kok bisa?" Bhumi melirik arloji di tangannya. "Rapatnya masih satu jam lebih lagi." "Dari pihak klien tiba-tiba minta diajuin. Katanya dia mau nonton konser apa gitu, terus maunya rapat sekarang juga. Bapak bisa balik ke kantor?" "Iya, iya, saya ke kantor sekarang." Bhumi menutup telepon, lalu berbicara dengan Faya. "Faya ikut ke kantor ayah, yuk. Ayah harus rapat sekarang. Nanti habis rapat ayah antar pulang." Faya yang belum selesai makan menggeleng. "Nggak, ah! Faya masib disuapin sama tante Kala. Kantor ayah juga ngebosenin." "Ayolah, Fay. Nanti di san ada Mbak Amel, kan. Ikut ayah ke kantor, yuk." Bhumi meraih tangan Faya, namun segera ditepis oleh si anak. "Nggak mau!" "Faya, ayah lagi buru-buru." "Pak Bhumi kalau emang harus balik ke kantor balik aja nggak apa-apa. Biar saya yang nganterin Faya pulang." Bhumi menatap Faya dan Kalani bergantian. Tadinya Bhumi ragu, namun dering ponsel yang kembali masuk membuat Bhumi langsung mengambil keputusan. "Saya titip Faya, ya. Nanti sampai kantor langsung saya kasih alamatnya. Di rumah ada tantenya Faya, jadi kamu tinggal aja nggak apa-apa." Bhumi buru-buru mengikat tali sepatu kembali. "Makasih, ya." Bhumi menepuk pundak Kalani, kemudian mencium pipi Faya sebelum beranjak keluar dari kafe. *** Alika membayar taksi online yang baru membawanya pulang. Hari ini tiba-tiba sekolah pulang awal karena guru rapat. Alika tahu jika Bhumi tidak akan datang menjemput, jadi dia langsung inisiatif pulang sendiri. Alika melepas sepatu dan membiarkannya begitu saja. Padahal, Bhumi telah meminta agar Alika menaruhnya ke rak. "Ada tamu?" tanya Alika begitu memasuki rumah. Tadi dia sempat melihat mobil dan sepatu yang asing. Alika berdiri di ruang tamu. Faya tengah duduk di lantai dengan mainan berserakan. Dia sedang bermain dengan seorang perempuan. Alika mengangguk sopan. Kalani langsung berdiri begitu melihat Alika. "Kamu Alika, kan?" "Iya, tante." Alika sedikit bingung akan kehadiran Kalani. "Saya Kalani, emm... kerja di Newdee yang kerja sama sama kantor ayah kamu." "Tadi ayah kamu ada urusan penting di kantor, makanya Faya dititipin ke saya. Katanya di rumah ada tante kamu, tapi ternyata kosong. Makanya saya di sini nemenin Faya. Kasihan kalau cuma berdua sama satpam." "Oh, mungkin Onti Inggid udah pulang. Bibi hari ini izin ada acara hajatan." "Karena kamu udah di rumah, saya pamit dulu, ya." "Iya, Tante." Alika tersenyum pada Kalani. "Faya, tante Kala pulang dulu, ya." Faya menekuk wajah tidak terima, namun tetap melambaikan tangan. "Bye, Tante." "Bye, Faya." Alika menatap Kalani dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Cantik, batin Alika. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal ketika melihat Kalani. Rasanya Alika melupakan sesuatu, tapi apa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD