Jalanan telah sepi. Bhumi pulang larut hari ini. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum dia bisa pulang ke rumah. Tentu saja ini melelahkan. Ditambah lagi, kini Bhumi tidak memiliki orang yang akan bangun setiap kali dia pulang dan menemaninya mengobrol hingga beranjak tidur. Bhumi tersenyum tipis saat mengingat Desita, almarhum istrinya.
Beruntung Bhumi memiliki dua bidadari yang masih ada bersamanya. Alika dan Faya selalu berhasil membuat lelah Bhumi menguap. Melihat mereka tersenyum, melihat mereka perlahan tumbuh, semua itu yang akhirnya menguatkan Bhumi. Demi Tuhan Bhumi akan memberikan apapun yang dia miliki untuk membuat Alika dan Faya bahagia.
Membuka pintu kamar Faya, Bhumi berjingit. Dia tidak mau Faya terbangun. Gadis kecilnya itu akan sulit tidur jika terbangun tengah malam. Kasihan dia jika harus begadang.
Bhumi duduk perlahan di pinggir ranjang. Wajah Bhumi sumringah melihat Faya yang telah terlelap. Nafas teratur yang Faya hembuskan terdengar seperti alunan musik klasik di telinga Bhumi. Benar, kan. Melihat Faya yang tertidur membuat lelah Bhumi seharian memudar perlahan.
Tangan Bhumi bergerak perlahan ke wajah Faya. Bhumi mengusap dahi Faya yang basah. Anak rambut Faya sampai menempel hingga hampir mengenai mata. Bhumi heran, kenapa anak kecil berkeringat banyak saat dia tidur?
Sebelum beranjak, Bhumi menunduk. Bhumi mengecup kening dan kedua pipi Faya.
"Mimpiin ayah, ya," ucap Bhumi pelan.
Seperti ketika masuk, Bhumi juga keluar dengan perlahan. Sebisa mungkin suara deritan pintu tidak terdengar.
Bhumi mengambil tas yang tadi ia taruh di meja makan. Ia hendak berjalan ke kamar. Sengaja dia melewatkan kamar Alika. Sudah setahun belakangan Bhumi tidak mengunjungi Alika sebelum tidur dan mengecup keningnya. Hal itu karena Alika selalu mengunci pintunya.
"Ayah."
Bhumi yang baru menaiki beberapa anak tangga menoleh. Terlihat Alika tengah berdiri dengan tangan memegang gagang pintu.
Bhumi tersenyum.
"Belum tidur, Kak?"
Alika menggeleng, lalu menghampiri Bhumi.
"Yah, Alika mau tanya sesuatu."
Bhumi sedikit heran, pertanyaan apa yang akan ditanyakan Alika tengah malam begini?
"Tapi ayah jangan marah."
"Tanya apa, sih? Penting banget, ya?"
"Emm..."
Tubuh Alika bergoyang. Dia tengah menimbang apakah harus bertanya pada Bhumi.
"Alika," panggil Bhumi saat putrinya malah terdiam beberapa saat. "Jadi nanya, nggak? Udah malem, lho. Besok kamu telat kalau nggak tidur sekarang.
Bukannya berbicara, Alika malah menyodorkan tangan. Dia menatap tangga yang dipijak ayahnya, tak mampu menatap langsung mata Bhumi.
"Ini apa?"
Bhumi menatap bingung benda kecil di telapak tangan Alika. Bhumi mengambil benda itu, tapi masih belum mengerti. Keadaan rumah yang beberapa lampu utama telah mati membuat Bhumi sedikit sulit mengidentifikasi benda yang ia pegang sekarang.
"Itu kuku palsu. Aku nemu di mobil ayah."
Bhumi menatap putrinya.
"Mobil ayah?"
Alika mengangguk.
"Iya. Jatuh di karpet mobil. Itu punya siapa, Yah?"
Bhumi terdiam. Dia hanya memijit keningnya beberapa saat.
"Rahasia, ya? Kok Alika nggak boleh tahu?"
Tangan Alika di belakang tubuh terkepal. Jangan-jangan apa yang dikatakan Safa benar. Jangan-jangan Bhumi memang memiliki pacar.
"Ayah," panggil Alika sedikit tak sabar. Entah kenapa dadanya terasa perih saat menduga-duga jika perkataan Safa benar.
Bhumi bukannya tidak ingin memberi tahu, tapi dia memang tidak tahu. Bhumi saja baru tahu jika benda ini kuku palsu. Dia mana tahu siapa pemiliknya atau kenapa benda ini ada di mobilnya.
Kuku? Bhumi sepertinya ingat sesuatu soal kuku.
Ah! Kalani. Perempuan itu terus memainkan kukunya dengan gelisah kemarin. Faya juga sempat membahas soal kuku ketika makan siang bersama. Bhumi memang tidak ingat apakah kuku ini sama seperti yang dikenakan Kalani, namun dia yakin jika perempuan itu pemiliknya.
"Ini punya teman kantor ayah," ujar Bhumi. Bhumi memasukkan kuku palsu itu ke saku kemeja.
"Beneran? Kok bisa jatuh di sana?"
"Emm... Kemarin ayah pergi sama teman-teman kantor. Terus ada satu yang suka pakai kuku palsu. Kayaknya lepas waktu dia buka kaleng minuman."
Alika menatap Bhumi tidak percaya. Dia ingin bertanya lagi, namun Bhumi keburu berbicara.
"Ayah capek mau bersih-bersih dulu. Sekarang kamu balik ke kamar terus tidur. Ayah nggak mau ya besok telat-telat lagi."
Bhumi kemudian melangkah kembali menaiki tangga, meninggalkan Alika yang tengah terdiam.
Sampai di kamar, Bhumi tak segera masuk ke kamar mandi. Bhumi duduk di ranjangnya. Kuku palsu yang ia masukkan ke saku ia keluarkan. Bhumi menatap kuku palsu itu lebih saksama. Kini lebih mudah karena kamarnya terang.
Warna biru dengan hiasan kerang berwarna putih gading. Cantik. Warna biru adalah warna kesukaan Bhumi. Dulu, Bhumi pernah diejek karena menggilai warna biru.
"Bhumi kok suka biru? Bhumi sukanya hijau, dong! Kan warna alam."
Bhumi menempelkan kuku itu ke kuku kelingkingnya. Tanpa sadar Bhumi tertawa pelan. Kuku ini masih terlalu kecil bahkan untuk kelingking Bhumi. Lalu sekecil apa kuku Kalani?
Menyadari isi pikirannya, Bhumi berdehem pelan. Sebaiknya dia segera bersiap tidur.
Bhumi bangkit dan meletakkan kuku palsu Kalani ke laci nakas. Jika ada kesempatan bertemu, Bhumi akan mengembalikannya kepada Kalani.
***
"Tumben anak-anak ayah nggak ribut pagi-pagi."
"Hari ini Faya di depan, jadi nggak rebutan sama Kak Alika lagi."
Bhumi tersenyum dan mengacak rambut Faya. Kemudian dia menoleh ke belakang.
"Kak seatbelt kamu kok nggak dipakai?"
"Iya, Yah." Alika bergegas memasang seatbelt. Dia tidak fokus sampai lupa memakainya.
Kepala Alika kini penuh dengan banyak prasangka-prasangka. Apa ayahnya memang punya pacar?
Alika meraih tas di sampingnya. Dirogohnya isi tas bagian depan. Setelah menemukan benda yang Alika cari, Alika buru-buru mengeluarkannya sebelum mobil Bhumi sampai di sekolah.
"Inget peraturannya, Kak."
Alika yang hendak membuka botol yoghurt menghentikan gerakan tangan. Dia menatap Bhumi dari spion depan. Bhumi melirik ke belakang untuk memastikan jika Alika mendengarkannya.
"Makan permen di mobil boleh, tapi jangan minum. Ayah nggak suka kalau ada yang minum di mobil."
Alika menghela nafas, lalu mengembalikan botol berwarna putih itu ke dalam tas.
"Jangan ngambek gitu, dong. Ini juga udah hampir sampai di sekolah. Kamu minum di sana aja."
"Iya," jawab Alika singkat.
***
Dalam perjalanan menuju ruangan, Bhumi menyempatkan diri masuk ke kamar mandi di lantai bawah. Dia tidak sanggup jika harus menahan sampai di ruangan.
"Pak Bhumi," sapa seorang pria yang sedang mencuci tangan.
Bhumi mengangguk kecil pada pria itu. Mereka kini mencuci tangan bersebelahan.
"Kamu divisi apa, ya? Kok saya lupa? Tapi mukanya nggak asing."
"Oh, saya nggak kerja di sini, Pak. Saya Dion dari Newdee."
"Newdee?" Bhumi menaikkan alis.
"Iya, firma arsitektur yang ada proyek rest area. Kita pernah rapat bareng waktu itu. Saya ingat Bapak soalnya namanya Bhumi, atasan saya namanya Kalani, artinya langit. Ingat, kan?"
Bhumi tersenyum, lalu mengangguk.
"Iya saya ingat."
Jadi sekarang Kalani ada di kantor ini, batin Bhumi.
"Kalau gitu saya duluan, ya, udah ditunggu di ruang rapat."
"Iya"
Bhumi kembali mengangguk. Matanya mengekor Dion yang keluar dari kamar mandi. Tangan Bhumi masuk ke saku jas, mengeluarkan kuku palsu yang ia lapisi plastik dan ia masukkan di sana.
Bhumi menatapnya ragu. Apa dia harus mengembalikannya hari ini?
***
Tangan Alika bergerak menyuapkan melon potong ke mulut, tapi pikirannya tidak fokus. Seharian ini Alika terus memikirkan tentang siapa pemilik kuku palsu itu. Jelas Bhumi bohong. Tapi kenapa? Kenapa Bhumi harus bohong?
"Lik, makan jangan sambil ngelamun," tegur Lina.
Lina kini tengah mengisi ulang beberapa bahan makanan di dapur.
"Nek, kenapa bibi jadi cepet pulang?"
"Bibi tuh udah tua, sayang. Dia sebenernya mau keluar. Tapi berhubung ayah belum nyari yang baru, jadi bibi masih ditahan-tahan. Kasihan bibi masih harus masak sama bersih-bersih buat kalian."
"Nenek percaya ayah bakal nyari? Dia aja sibuk banget," ucap Alika.
"Nggak"
"Terus kenapa nggak nenek aja yang nyariin ART baru?"
Lina tersenyum penuh rahasia.
"Ayah kamu aslinya udah minta tolong sama nenek buat dicariin, tapi sengaja nenek nggak nyari."
Alika meletakkan garpunya. "Kenapa gitu? Katanya kasihan sama bibi."
Lina mengedikkan bahu, membuat Alika menatapnya curiga.
"Nenek aneh," celetuk Faya.
"Oh ya?" tanya Lina masih tetap tersenyum lebar.
"Nek, aku mau ngomong sesuatu, deh."
Alika berpindah dari sofa ruang keluarga ke kursi kitchen island. Faya yang dengan bermain rumah-rumahan ia tinggal.
"Mau ngomong apa?"
"Nenek jangan bilang-bilang ayah tapi."
"Kamu bolos sekolah, ya?"
Alika menggeleng.
"Nggak."
"Oh, kamu ngerokok?"
Alika menggeleng lagi.
"Kamu berantem sama teman kamu?"
Alika lagi-lagi menggeleng.
"Nggak, nenek."
"Ooooh! Kamu punya pacar?"
"Ayah yang punya pacar," ucap Alika cepat.
Lina terdiam. Dia menatap Alika penuh selidik.
"Kamu ngomong apa tadi?"
Alika menekuk wajah.
"Nek... jangan-jangan ayah punya pacar," ujar Alika dengan penuh kesedihan.
"Kamu diceritain sama ayah?"
Alika menggeleng pelan.
"Kemarin aku nemu kuku palsu di mobil ayah. Kata ayah punya teman kantornya, tapi aku tahu kalau ayah bohong."
Lina menyandarkan tangan ke kitchen island. Dia terdiam dan tampak berpikir.
"Kuku palsu?"
"Iya kuku palsu."
"Kuku palsu tuh yang kayak yang dipakai tante Kala, ya?" tanya Faya.
Faya tadinya sedang makan melon. Karena melon di meja sofa habis, dia inisiatif mengambil melon lain di kitchen island.
Lina menatap sang cucu yang pipinya menggembung karena mengunyah melon.
"Kayak punya siapa?" Alika menatap Faya penasaran.
Faya menelan melon di pipinya susah payah.
"Kayak tante Kala. Tante Kala yang kemarin jagain aku di rumah." Faya menunjuk lengannya. "Kuku palsu tante Kalani ladybug, kayak jamnya Faya."
Alika dan Lina saling berpandangan. Alika mendadak kesal. Berarti wanita yang kemarin itu?
"Jangan-jangan Kala Kala itu beneran pacarnya ayah."
Lina melebarkan mata. Ia lalu bertepuk tangan pelan.
"Yes! "
Lina mengepalkan tangannya di udara. Alika tentu menatap neneknya bingung, sementara Faya malah ikut bersorak kegirangan.
"Nenek!" Alika berusaha menarik tangan neneknya. "Nenek kok malah seneng, sih?"
"Seneng, lah! Kalau ayah kamu beneran pacaran sama Kalani, berarti usaha nenek buat jodohin mereka berhasil!"
Alika terdiam. Dahinya sedikit berkerut saat mencoba mencerna kalimat neneknya.
"Nenek tadi bilang apa?"
Lina terdiam dan menoleh ke Alika. Mendadak Lina tersadar ketika melihat mata Alika yang mulai berkaca.
Dari dulu, Bhumi selalu mewanti-wanti Lina, Dara, dan Inggid agar tidak membahas apapun soal perjodohan kepada anak-anaknya, terutama Alika.
"Ayaaaah!"
Alika dan Lina bersamaan menoleh ke arah ruang tamu. Bhumi yang masih memakai jas melebarkan tangan. Faya berlari senang dan masuk ke pelukan Bhumi. Faya tertawa saat Bhumi mengangkatnya dan sedikit berputar.
"Ayah kok jam segini udah pulang?"
"Iya, sayang, soalnya ayah kangen banget sama princess kecil ini."
Bhumi memburu Faya dengan ciuman bertubi-tubi. Faya tergelak kegelian.
Bhumi lalu melihat ke dapur.
"Mama beneran ke sini? Kan aku udah bilang nggak usah. Ngapain jauh-jauh ke sini?"
Bhumi menatap Lina yang terdiam. Pandangan Bhumi lalu beralih ke Alika. Menemukan ekspresi yang tidak mengenakkan, Bhumi mengerjap pelan.
"Alika."
Bhumi hendak menyentuh pundak Alika, namun gadis itu lebih dulu menghindar. Alika berlari ke kamarnya. Lengan Alika sempat menyenggol piring berisi melon hingga jatuh. Suara pintu dibanting terdengar keras begitu Alika menutup pintu. Faya bahkan sampai terkejut dan menutup telinganya.
"Kakak bikin kaget!"
"Faya turun dulu, ya," ucap Bhumi pada Faya.
Bhumi dan Lina menghampiri kamar Alika.
"Kak! Kamu kenapa, Kak?"
Bhumi mengetuk pintu Alika.
"Kak! Buka pintunya, Kak!"
Bhumi kembali mengetuk pintu putih itu.
"Alika!" Tangan Bhumi berusaha membuka gagang pintu. "Alika kamu kenapa banting pintu kayak gitu?"
"Alika sayang, buka pintunya, dong," bujuk Lina.
"Ma, Alika kenapa, sih?" tanya Bhumi khawatir.
Akhir-akhir ini Alika memang sering membantah, tapi tidak pernah dia sampai membanting pintu begini. Terlebih, Bhumi merasa tidak ada hal yang bisa membuat Alika marah sekarang.
Lina menatap Bhumi takut-takut.
"Mama ngomong soal Kalani."
Bhumi menghela nafas, lalu mengusap wajahnya kasar.
"Mamaaa," rengek Bhumi. "Kan Bhumi udah bilang jangan kasih tau anak-anak."
"Mama nggak sengaja, Bhum. Alika ngira kamu pacaran sama Kalani, terus mama keceplosan."
"Pacaran? Dari mana Alika bisa ngira..."
Bhumi berdecak. Jangan-jangan karena kuku palsu yang kini masih tersimpan rapi di saku jasnya. Pantas tadi malam Alika agak aneh saat bertanya soal itu.
Bhumi mengetuk pintu untuk kesekian kalinya.
"Alika, buka dulu pintunya, ayah mau ngomong sesuatu."
Tidak ada sahutan dari dalam.
"Alika, kamu dengerin ayah dulu, dong."
Bhumi mendesah pelan kala tak kunjung mendapat jawaban.
"Kalau nggak dibuka ayah dobrak pintunya. Ayah nggak peduli ya kalau pintunya rusak atau..."
KRIET...
Pintu terbuka dan tampak Alika yang sudah berderai air mata.
"Ayah pedulinya kan cuma sama pacar ayah doang!"
"Alika!"
Bhumi meraih tangan Alika, mencegah agar dia tidak kembali masuk ke kamar.
"Ayah nggak pacaran sama siapa-siapa. Nenek emang ngenalin ayah sama tante Kalani, tapi ayah nggak ada hubungan apa-apa, Kak."
Alika menatap Faya yang berada di dapur.
"Terus kenapa Faya bisa tahu soal dia? Dia juga kemarin datang ke rumah, ayah."
"Ayah ada urusan penting di kantor dan waktu itu cuma tante Kalani yang bisa bantu jagain Faya."
"Alika," panggil Lina. "Kamu jangan marah-marah gitu. Tante Kalani baik, kok. Kamu kenalan sama dia dulu, siapa tahu..."
"Nggak mau!" potong Alika.
Alika menatap Bhumi tajam.
"Ayah udah nggak sayang lagi sama bunda?"
"Alika sayang." Lina menyentuh tangan Alika pelan. "Kamu nggak boleh ngomong gitu, sayang. Ayah pasti masih sayang sama bunda. Nenek jodohin ayah sama tante Kalani juga buat kebaikan kalian, kebaikan kamu juga."
Alika tidak mengindahkan kata-kata Lina. Ia masih menatap tajam ayahnya. Bhumi pun begitu. Dia menatap Alika dengan pandangan yang belum pernah ia berikan sebelumnya.
Bhumi melepas tangan Alika, lantas menghela nafas pelan. Bhumi berjalan menuju kamarnya. Alika dan Lina melihat itu hanya terdiam. Pembicaraan tentang Desita seringkali memang menjadi sesuatu yang sensitif.
***