Ringga Tetap Ringga

1379 Words
Alanis; Ringga Tetap Ringga "Males ah, Tante!" seruku sambil mengacak-acak rambut. Bagaimana aku tidak mencak-mencak, sih? Aku masih asyik berpelukan dengan guling, tetapi Mano datang lalu membangunkanku karena hari ini jadwal kelasku. Kubuang selimut ke lantai, kutepis tangan Mano berulangkali. Setengah mengerang kesal akibat tidurku diganggu terus-terusan. Mano menepuk bahuku, tidak henti-hentinya perempuan itu membujuk diriku. Aku menepis tangannya sekali lagi, kemudian menyembunyikan wajahku di bawah bantal. Sekali lagi kucoba memejamkan mata, rasa-rasanya aku malas bangun. Tapi aku ingin tetap berbaring di ranjang sampai benar-benar bosan. "Belum bangun juga?" Suara Ringga terdengar dari ambang pintu. Mano menarik napas panjang. "Istri kamu susah dibangunin." Kupejamkan mataku erat-erat. Sebisa mungkin aku tidak menghiraukan obrolan kedua orang dewasa tersebut. Samar-samar kudengar Ringga menarik napas panjang, lalu suara langkah kaki seseorang masuk ke dalam kamarku, hampir mendekati ranjang. Semakin dekat, dekat, dan dekat. Sampai sebuah tangan menyentuh bahuku, lantas ditepuknya beberapa kali. "Ayo bangun." Tidak kuhiraukan perintah Ringga. Kali ini Mano menyerah, sehingga membuat laki-laki itu turun tangan. "Bangun Alanis!" Tangannya berpindah ke bahuku. "Istri kamu tidur apa pingsan, sih?" komentar Mano. Mano tidak tahu saja kalau aku paling kuat soal urusan tidur. Selain doyan makan, aku juga kuat kalau disuruh tidur. Bahkan aku pernah tidur dari pagi dan bangun di tengah malam, itu pun hanya sebentar karena kelaparan. Selesai menghabiskan satu bungkus nasi goreng dalam porsi besar serta segelas es teh manis, aku kembali ke ranjang lantas tidur lagi sampai pagi. Hebat, kan? Jadi, Mano dan yang lain jangan pernah heran. "Kamu ada kelas hari ini," peringat Ringga. "Aku hitung sampai tiga, kalau kamu nggak bangun juga, aku tarik kamu sampai ke kamar mandi, ya!" ancamnya. Ancaman Ringga tidak pernah kuhiraukan. Laki-laki itu tidak akan benar-benar melakukannya sendiri. Seringkali dia mengancamku begini dan begitu, tapi tidak pernah benar-benar terjadi selain mengomeliku sepanjang malam. Ringga adalah tipe laki-laki tidak peka, tidak peduli terharap orang-orang di sekitarnya. Jangankan padaku, pada keluarganya saja dia tidak peduli. Di balik bantal, aku senyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana raut wajah Ringga yang kesal. Pasti sebentar lagi Ringga akan pergi sambil mengomel karena tidak berhasil juga membangunkanku. Yes! Hari ini aku menang! Teriakku dalam hati ketika merasa pergerakkan di tepi ranjang berhenti. Pasti Ringga sudah beranjak, dalam hitungan ketiga, dia akan pergi meninggalkan kamarku sambil berteriak, "Jangan ada yang bangunin Alanis, apa lagi ngasih dia makan!" Ah, jangan khawatir. Ringga tidak benar-benar melakukannya. Buktinya, setiap kali laki-laki itu menyerah membuatku bangun lalu menyerukan sebuah ancaman, nyatanya aku tetap bisa makan sampai perutku kenyang. Haha. Silakan teriak sesuka Anda, Tuan Damanik Ringga! Cekrek! Sebentar, sebentar. Tunggu dulu. Kenapa tiba-tiba jadi terang ya? Perasaanku, tadi gelap kok. Aku, kan, menyembunyikan wajahku di bawah bantal. Perlahan, kubuka kedua mataku. Saat keduanya terbuka sempurna, pandanganku disambut wajah minim ekspresi Ringga. Serta, Mano yang tengah mengarahkan kamera ponselnya ke arah kami. Iya, padaku dan Ringga. "Turunin," pintaku memelas. Dia bilang akan menyeretku. Tapi ini apa, dia menggendongku paksa! Aku memintanya untuk menurunkanku, tetapi Ringga tidak mengatakan apa pun selain diam dan membawaku ke dalam kamar mandi. Sial. Dia tidak akan memandikanku, kan? Hanya membayangkannya saja sudah berhasil membuat pipiku terasa hangat. Akh, tidak. Jangan. Aku belum siap. Ringga akan semakin mengejek bentuk tubuhku kalau dia berhasil memandikan diriku. Katanya, bentuk badanku mirip anak kecil. Seperti anak TK. Bahkan, tubuhku kalah besar dengan tubuh Daryl, anak semata wayang Mas Bizar. Astaga, yang benar saja, bentuk badanku disamakan dengan anak berusia sebelas tahun? "Mau mandi sendiri, atau-" "IYA. IYA. AKU MANDI SENDIRI!" jeritku memejamkan mata. "NGGAK PERLU DIMANDIIN SAMA KAMU!" Ringga mendorong tanganku yang terulur di depannya. Ekspresi wajahnya belum berubah, menatapku datar, namun terlihat kesal setelah kuperhatikan baik-baik. "Siapa yang mau mandiin kamu?" Mataku terbuka lebar. "Aku bilang, atau dimandiin sama Mano. Mau?" Ringga menatapku galak. Laki-laki itu mendorongku hingga kedua kakiku menabrak ujung bak mandi, lantas keluar, menyisakan diriku yang sedang melongo. "Haha!" Mano tertawa dan memegangi perutnya. "Kalian lebih mirip tikus sama kucing!" Aku mencebikkan bibir. "Sumpah, kamu mikir Riri mau mandiin kamu?" tanyanya, lebih seperti mengejekku. Igin sekali kukubur diriku ke suatu tempat, aku benar-benar malu. Ringga, sialan. Dasar setan! "Ayo mandi. Biar aku bantu!" "NGGAK USAH!" Beak! Sebelum kaki Mano mencapai ambang pintu, kudorong pintu kamar mandi kuat-kuat. Bisa kudengar suara tawa Mano makin menggema. Perempuan berusia di akhir tiga puluhan tersebut berseru. "Ya Tuhan, lucu banget sih!" Lucu? Dia pikir, aku badut?! Sialan, kalian berdua menyebalkan! *** "Kamu bolos kuliah lagi, kan?" Akh, sial. Baru saja aku pulang, aku sudah disambut dengan wajah horornya. Mataku memejam, pegangan tasku mengendur dan jatuh ke lantai. Ringga ada di belakangku, tapi tidak berani kutolehkan kepalaku untuk melihatnya. "Bagus ya." Bulu kudukku berdiri kompak. Aura horor Ringga seolah membuatku seperti di sebuah teater yang sedang memutar film horor. "Udah berapa kali bolos?" tanya Ringga, datar. "Apa? Mau alasan apa lagi? Mau bilang sakit supaya bisa bolos?!" Pada akhirnya aku menolehkan kepalaku. Ringga menggulung lengan kemejanya hingga siku. Dua kancing teratas kemejanya dibuka. Dalam hati, aku mengerang kesal. Ketahuan juga ya? Aduh. Bagaimana jika Ringga bertanya alasanku? Sakit? Dia tidak akan percaya. Tapi, jika kuberitahu ke mana dan bersama siapa aku selama bolos kuliah, Ringga akan berang. Bisa-bisa aku dimarahinya habis-habisan. "Gimana? Enak jalan sama artis terkenal?" Akh, ketahuan lagi! Siap-siap gendang telingaku akan pecah setelah ini. "Pantas ya, perempuan bersuami jalan-jalan sama laki-laki lain?" "Aku perginya sama Hada. Dia bukan orang lain." Ringga menyeringai. "Bagus. Ngaku juga!" Ingin sekali kupukul kepalaku sekarang juga. Selain bodoh, aku juga ceroboh. Aku lupa siapa Ringga. Orang-orangnya ada di mana-mana. Aku bergerak sedikit saja, dia pasti tahu. Tidak perlu tanya, apa lagi menebak. Ringga selalu to the point. Dan itu membuatku bungkam seketika. "Aku udah bilang, tunggu kita sampai bercerai, baru kamu bisa bebas cari pacar!" "Kapan?" tanyaku, lirih. Berulangkali Ringga mengatakan aku bisa bebas memiliki pacar jika kami bercerai nanti. Sekarang yang menjadi pertanyaanku, kapan kami akan bercerai? Sedangkan pernikahan kontrak yang kujalani dengannya tidak memiliki batasan. Di dalam surat kontrak hanya ditulis, kami akan bercerai setelah misinya selesai. Misi apa? Kenapa kontraknya tidak menunjukkan kapan berakhir? Setidaknya beritahu aku, berapa banyak waktu yang harus kujalani untuk menjadi istrinya. Satu tahun? Dua tahun? Tidak ada. Atau, dia berencana mengikatku sampai mati? Raut wajah Ringga berubah kaku. Dia selalu mengaku-ngaku sebagai orang genius, otaknya cerdas, pasti dia paham maksud dari pertanyaanku. "Dengar kata-kata aku," Ringga menggulung lengan kemejanya lebih tinggi. "Selama kamu menyandang nama Damanik di belakang nama kamu, kamu tidak diperbolehkan pergi sembarangan dengan laki-laki lain, apa lagi menjalin hubungan di belakang aku!" peringatnya, tajam. "Aku nggak mau karena ulah kamu, nama Damanik tercoreng!" Kupikir, hubungan kami sedikit lebih baik dari sebelumnya setelah dia mengajakku jalan-jalan beberapa hari lalu. Akhir-akhir ini, Ringga jadi sering mengajakku ngobrol, tidak banyak, tapi setidaknya kami memiliki interaksi ketimbang sebelumnya. Namun nyatanya, Ringga tetaplah Ringga. Apa saja yang keluar dari mulutnya selalu menyakiti hati. "Siapkan pengawal untuk Alanis, besok!" seru Ringga kepada seseorang di telepon. Entah siapa yang sedang dia hubungi, mungkin saja Mano. "Ya. Pengawal khusus menjaga Alanis." Pengawal? Tidak cukup dia membuatku pergi ke mana-mana bersama supir, sekarang menyiapkan seorang pengawal untuk mejagaku? Gila. Aku bukan anak-anak. Aku tidak akan ke mana-mana, apa lagi bermain serong dengan laki-laki lain, sementara aku masih menjadi istrinya. "Mulai besok, kamu jaga Alanis. Tugas kamu sementara aku alihkan ke yang lain," lanjut Ringga sebelum menutup sambungan telepon. Kuhela napas kasar. Ringga kembali jadi galak. Dia marah karena aku bolos kuliah, atau karena aku pergi bersama Hada? Hada kan adiknya. Bukan orang lain. Lagi pula aku tidak pergi ke tempat aneh-aneh, kenapa dia bisa semarah itu? "Mana HP kamu," Ringga meminta ponselku dengan paksa. "Buat apa?" Kupeluk tasku erat-erat. Ringga menarik paksa tas milikku lalu mengeluarkan ponselku. Dengan tangan kiri memegangi tasku, kemudian di tangan kanannya memegangi ponsel milikku, laki-laki itu balik badan dan berjalan ke arah kamar mandi bawah. Kuikuti Ringga dari belakang karena penasaran apa yang akan dilakukannya pada ponselku. Dan... PLUNG! Ringga melemparkan ponselku ke dalam westafel yang telah dipenuhi air. Mataku membeliak, sontak saja kupukul bahunya kemudian kudorong tubuh laki-laki itu. Nyaris saja aku menjerit, ponselku... astaga, apa yang dia lakukan! "Mulai hari ini, HP dan nomor kamu akan diganti sama yang baru," kata Ringga, tenang. "Dan inget, Alanis," Ringga kembali memperingatiku. "Aku nggak mau ada nomor Hada atau laki-laki lain di HP kamu. Cuma ada nomor aku. Ngerti?" To be continue--- 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD