Ringga; Janji Dulu
"Kenapa bioskopnya sepi?"
"Kok, cuma ada kita doang sih?"
"Aku yang pilih filmnya, ya!"
"Aku pengin nonton horor, tapi takut sama hantu."
"Film horor yang nggak muncul hantunya, ada nggak ya?"
Kalimat di atas hanyalah sebagian dari celotehan Alanis. Dari sebelum berangkat sampai kami sampai di tempat tujuan, gadis itu tidak berhenti berceloteh. Entah menanyakan kenapa tidak ada pengunjung elain kami, ribut memilih film tanpa boleh ada campur tanganku, ribut memilih cola atau fanta, ribut memilih popcorn manis atau asin. Ya Tuhan, aku merasa membawa anak kecil ke sebuah bioskop. Dia benar-benar cerewet sekali!
Sebelum kami sampai kemari, aku dan Alanis sempat berdebat hanya karena gaya berpakaiannya tidak cocok di mataku. Ah, tidak, bukan di mataku, tapi lebih tepatnya tidak cocok dengan cara berpakaianku. Dia akan pergi bersamaku, suaminya, tapi gaya berpakaiannya lebih mirip anak TK yang akan pergi bermain dengan teman-temannya.
Kaus berlengan panjang berwarna hitam dengan motif garis-garis di tangan itu dipadupadankan bersama celana pendek berbahan jeans. Tidak lupa rambut kerintingnya dibiarkan tergerai. Sambil memasang tas selempang kecilnya, gadis itu menyambutku dengan cengiran lebar luar biasa.
"Ganti." Kukibaskan tangan kananku menyuruhnya kembali ke kamar dan berganti baju.
Alanis menunduk, memerhatikan penampilannya sendiri. "Kenapa harus ganti?" tanya Alanis memasang wajah polos. Matanya yang kecil mengerjap-ngerjap. "Baju aku nggak ada yang sobek. Wangi... udah dicuci, cium nih..." Alanis meluruskan sebelah tangannya, kemudian diarahkannya ke depan wajahku.
Iya. Bajunya memang wangi, tapi gaya berpakaiannya tidak cocok saat jalan bersamaku. Lihat, sangat kontras sekali!
"Ayo pergi." Alanis menarik tanganku. "Kalau telat, kita bisa ketinggalan filmnya!" rengeknya.
Kulepaskan tangan Alanis dari lenganku. Tidak. Aku tidak akan pergi dengan penampilan seperti ini. Kemeja dan celana yang kukenakan terasa begitu kaku ketika berdiri di samping Alanis. "Tunggu sebentar." Kutunjuk gadis itu sambil berjalan mundur.
"Mau ke mana sih?"
"Bentar aja. Tetep di situ. Okay. Bagus!"
Karena Alanis, aku harus repot-repot berganti pakaian. Aku tidak ingin orang-orang mengira Alanis pergi bersama ayahnya kalau dandananku seformal ini. Iya, kan? Maka, diriku segera naik ke lantai atas dan mengganti pakaian yang lebih santai. Tapi... tunggu dulu, bagaimana anak zaman sekarang berpakaian? Ah, tidak! Aku sudah cukup tua untuk mengenakan pakaian seperti Hada, misalnya. Okay, aku akan berganti, tidak perlu meniru cara berpakaian seperti anak-anak muda. Aku akan terlihat tampan dan muda dengan caraku, dengan gaya berpakaianku.
Kuputuskan untuk mengenakan sweater berwarna marun serta celana jeans berwarna hitam. Tampak baik-baik saja kan? Tidak terlihat norak? Benarkah?
"Bantuin bawa, dong!" seru Alanis di belakang punggungku.
Gadis itu cerewet minta ampun! Sudah kuberikan apa yang dia mau, dan sekarang masih saja mengomel karena tidak kubantu membawa camilannya? Dia yang makan, kenapa mesti aku yang repot, sih!
"Jangan manja," bisikku, sinis.
Kami sampai di depan pintu teater. Seorang perempuan menyambut kami dengan ramah. Kuberikan dua tiket milik kami kepadanya, lantas perempuan itu mempersilakan aku dan Alanis masuk ke dalam.
"Makasih, Mbak!" seru Alanis ceria.
Kugelengkan kepalaku melihat tingkahnya mirip anak kecil. Woah, ternyata kemarin aku sempat tertipu ya. Pada awal pertemuan pertama kami, Alanis terlihat berbeda di banding sekarang. Gadis itu berbicara begitu tegas, ekspresi wajahnya sangat minim, tampak jauh lebih dewasa ketimbang usianya yang masih sembilan belas tahun. Tapi, ternyata, Alanis baru menunjukkan siapa dirinya setelah kami menikah. Gadis itu bukan hanya masih ingusan, namun juga kekanakan serta cerewet minta ampun! Lihat saja, kalau Alanis masih saja berceloteh, akan kusumpal mulutnya agar tidak banyak bicara.
Kami duduk bersebelahan. Alanis memeluk dua cup popcorn-nya sekaligus. Di tangan kirinya memegangi segelas cola dingin. Kulirik Alanis, gadis itu mulai tenang. Sepasang matanya mengerjap-ngerjap memandangi layar besar di depannya.
Alanis meletakkan satu cup popcorn di kursi, sedangkan satunya dia peluk bersamaan dengan segelas colanya. Kusandarkan kepalaku, pura-pura mengamati film di layar, padahal aku tidak selera menontonnya. Kalau saja bukan karena Alanis, aku tidak akan bersedia meluangkan waktu untuk pergi nenonton. Lebih baik aku menyibukkan diri di ruang kerjaku saja. Entah membaca atau mengerjakan sesuatu yang lebih berguna.
"Di sini beneran nggak ada siapa-siapa selain kita, ya," gumam Alanis menolehkan kepalanya ke kanan ke kiri.
Kupejamkan mata rapat-rapat. Dibanding suara dari layar, pertanyaan Alanis lebih menggangguku. Sedari tadi gadis itu tidak berhenti bertanya kenapa bioskop ini tidak ada orang lain selain kami berdua. Aku tersenyum masam, gadis di sampingku ini benar-benar tidak peka, ya.
Tanpa sepengetahuan Alanis, aku menyewa satu bioskop demi dirinya. Akh, tidak juga sih. Lebih tepatnya aku sengaja menyewa bioskop ini karena aku tidak suka berada di tempat keramaian. Membayangkan kami mengantre tiket, berdesak-desakkan saat akan masuk ke ruang teater membuatku menarik napas panjang. Pasti sumpek, belum lagi jika menemukan penonton yang berisik, aku tidak akan betah.
"Kapan terakhir kali kamu pergi ke bioskop?" tanya Alanis.
Hmm, kapan ya? Sejujurnya aku sudah tidak ingat kapan terakhir kalinya pergi ke bioskop. Itu sudah sangat lama, kira-kira ketika diriku masih remaja.
"Nggak inget," jawabku.
Alanis menarik napas, kedua tangannya memeluk dirinya sendiri. "Aku juga. Terakhir pergi ke bioskop pas masih SMA!"
"Nggak ada yang nanya!"
Alanis menoleh ke arahku. Mata sipitnya berusaha mendelik. "Jahat!"
Tidak ada lagi obrolan di antara kami berdua. Alanis tampak menikmati film di layar sesekali kudengar suara gadis itu mengunyah popcorn miliknya. Sepasang mataku masih memejam, namun kurasakan lenganku dicengkram agak kuat. Kubuka mataku, kulirik Alanis mendekatkan wajahnya di lenganku ketika sosok hantunya keluar dibarengi efek suara horor yang cukup menyeramkan.
"AKHHH!" Alanis mengangkat lenganku, lantas menyembunyikan kepalanya di balik ketiakku. "SURUH HANTUNYA PERGI DONG! AKU, KAN, KAGET!"
Aku terbengong-bengong mendengar teriakkan Alanis. Gadis itu ajaib, ya. Bagaimana bisa aku menyuruh hantunya pergi? Yang dilihatnya film, HEI!
"DASAR SETAN! SUKA BANGET MUNCUL TIBA-TIBA!" jeritnya.
Melihat tingkahnya malah membuatku serbasalah. Iya, bingung ingin marah atau tertawa. Dia sendiri yang memilih judul filmnya, giliran filmnya diputar, gadis itu malah jerit-jerit sambil memelukku tanpa dia sadari.
Kutepuk kepalanya pelan, tanpa kuduga, Alanis malah menjerit kembali. "SETANNYA BISA SAMPAI SINI YA?"
Sialan! Yang barusan menepuk kepalanya itu aku. Suaminya. Kenapa aku disebut setan? Dasar bocah kurang ajar!
***
Sesuai permintaan Alanis, gadis itu ingin pergi ke sebuah taman sambil jajan es krim, katanya. Jadi, selesai menonton film dan makan sebentar, aku membawanya pergi ke sebuah taman. Tidak jauh letaknya dari mal yang kami kunjungi tadi. Alanis menurunkan kaca mobil, matanya memejam seolah menikmati angin yang menerpa wajah dan rambutnya.
Kurang dari lima belas menit kami sampai di taman yang kami tuju. Alanis turun lebih dulu tanpa menungguku. Gadis itu berlarian layaknya anak kecil. Rambut keritingnya yang panjang hingga sepunggung melayang-layang diterpa angin. Seriusan, kalau seperti ini kesannya aku sedang membawa seorang anak berusia lima tahun yang tidak pernah diizinkan keluar tanpa didampingi orang tua. Alanis lari ke sana kemari, kemudian berhenti pada sebuah gerobak es krim.
"Sini, bayarin!" Aku mendengus keras. Alanis baru mengingatku ketika akan membayar es krimnya.
Kurogoh saku celanaku dan memberikannya uang beberapa lembar kepada Alanis. "Kebanyakan," kata Alanis mengembalikan empat lembar uangnya padaku.
"Beli aja semua!" Aku mendorong tangannya.
"Orang gila mana yang makan es krim segini banyaknya?" protes Alanis. "Nanti gigi aku sakit!"
Kulihat banyak anak-anak kecil di sekitar kami. Kudorong kembali uang di tangan Alanis. "Kamu beli semua, terus bagiin ke mereka tuh..." Kutunjuk anak-anak di sana. Sebagian dari mereka sedang bermain bersama teman-teman serta orang tuanya.
"Boleh?" tanya Alanis, matanya mengerjap-ngerjap.
Aku pun mengangguk. "Iya. Sana," Kuusir gadis itu agar kembali ke penjual es krim dan membelikan dari sisa uang yang kuberikan.
Selesai membeli es krim dan membagian ke orang-orang di taman ini, gadis itu duduk manis di sampingku. Sambil menjilati es krimnya, Alanis memerhatikan anak-anak yang sedang bermain sesekali ikut tertawa. Ah, membuat gadis itu senang ternyata semudah ini ya. Tidak perlu membelikan sesuatu yang mahal. Begini saja dia sudah sangat girang.
"Ringga..."
Dari awal bertemu sampai kami resmi menikah, dia tidak pernah memanggilku dengan sopan. Alanis akan menyebutku dengan 'kamu' atau memanggil namaku tanpa embel-embel 'Mas' seperti istri pada umumnya.
"Hmm."
"Makasih," gumam Alanis tersenyum manis padaku.
Woah. Ini pertama kalinya dia tersenyum tulus di depanku.
"Kapan-kapan ke sini lagi ya?" pintanya, lucu.
Rambut keriting Alanis tidak berhenti bergerak karena angin lumayan kencang sore ini. Kurapikan poni gadis itu agak ke samping, matanya kembali mengerjap-ngerjap seolah menunggu jawabanku.
"Tergantung."
Bibir Alanis mengerucut, siap-siap melayangkan sebuah protes.
"Berhenti membantah dan bertingkah aneh-aneh lagi! Kalau kamu nurut sama aku, apa pun mau kamu bakal aku turuti."
Alanis menyodorkan jari kelingkingnya padaku. "Janji?"
Dahiku berkerut, kepalaku sedikit mundur ke belakang. "Janji apa?"
"Janji bawa aku ke sini lagi selama aku nurut sama kamu?"
Aku mengangguk-angguk.
Alanis menarik tanganku, lalu menyatukan jari kelingking kami berdua. Digerakkannya jari kami ke kanan ke kiri. Wajahnya tampak senang, sepasang matanya berbinar begitu bahagia hanya karena aku mau berjanji padanya. Padahal belum tentu aku menepatinya.
To be continue---