Gadis Ingusan

1176 Words
Ringga; Gadis Ingusan Dani bilang, Alanis tidak mau makan. Gadis itu ngambek karena stock mi instan miliknya telah dibuang. Namun nyatanya, gadis itu diam-diam pergi ke dapur tengah malam. Ingin sekali rasanya aku menertawai lalu kuejek sampai gadis itu menangis. Kuperhatikan tubuh kecilnya dari belakang. Gadis itu belum menyadari keberadaanku di sekitarnya. Alanis berjinjit mencari sesuatu dari rak atas. Mungkin saja dia sedang mencari mi instan, padahal jelas-jelas sudah kusuruh Dani untuk membuangnya dan tidak menyisakan satu pun di rumah ini. Alanis menarik tangannya menjauh, kemudian beralih ke kulkas. Masih saja kuperhatikan, belum berniat untuk menegur atau sekadar bertanya apa yang dilakukannya tengah malam di dapur, kalau sore tadi saja mengatakan tidak ingin makan kecuali mi instan. Kujejalkan tangan kananku ke dalam saku celana, berjalan pelan menghampiri Alanis yang tampak kesusahan mengeluarkan sesuatu dari dalam kulkas. Kuperhatikan kedua sikunya yang dililit perban. Lihat, saat sakit pun, Alanis masih saja susah diberitahu. "Nggak ada makanan selain bahan di dapur," seruku di belakang punggung Alanis. Gadis itu berbalik dan menatapku tanpa ekspresi. "Aku sengaja minta Rani nggak masak, ya, cuma ada bahan mentah aja." Serius, aku sedang menahan tawa melihat raut wajahnya yang berubah kesal. Siapa suruh dia mengancamku tidak mau makan? Kalau dia mengira bisa membuatku mengalah, apa lagi luluh cuma karena dia ngambek, maaf, dia salah orang. Alanis sendiri yang mengatakan tidak ingin makan, kan? Ya sudah, aku meminta Rani dan lainnya untuk tidak memasak, dan hanya menyisakan bahan-bahan mentah di dalam kulkas. Lalu, Rani dan pelayan lainnya makan apa? Mudah, aku memberi mereka uang, lalu menyuruh mereka semua makan di luar. "Kamu pasti sengaja," tuduhnya sambil menunjukku. "Benar," Aku mengangguk-angguk, tidak lupa senyuman tanda mengejek kuperlihatkan pada gadis ingusan di depanku. "Kamu lama-lama tambah jahat, ya," tunjuk Alanis. Tidak kuhiraukan ocehan Alanis. Gadis itu masih berdiri di depan kulkas, sibuk mengambil bahan-bahan makanan lalu menaruhnya ke dalam wadah. Dalam posisi tangan dan kakinya yang terluka, jelas membuat Alanis sedikit kesusahan. Beberapa kali kudengar gadis itu mengadu, meringis, mendumal karena aku tidak ada inisiatif membantunya. Kupertahankan ekspresi wajahku seperti hari-hari biasanya. Padahal, aku sedang bersusah payah agar tidak menertawakan Alanis. "Tangan sama kaki aku sakit!" keluh Alanis diam-diam melirikku. "Aku laper! Ngerti nggak, sih?!" Aku berbalik memunggungi Alanis, bersiap pergi ke kamar karena hari semakin larut, dan di luar sangat dingin. Kubiarkan saja gadis itu mengoceh semaunya. Kalau sudah lelah mengoceh, Alanis akan diam dengan sendirinya. "Nggak punya perasaan banget," oceh Alanis, seperti sengaja mengeraskan suaranya agar aku bisa mendengarnya. "Gini-gini, biar aku cuma istri kontraknya, aku juga perempuan yang lemah, mana lagi sakit pula. Sumpah ya, nggak ada perasaan banget jadi laki-laki. Peka dikit-ap-eh!" Aku paling benci mendengar orang mengomel. Siapa pun itu. Entah itu Alanis atau seseorang yang kukenal. Daripada dia mengomel tidak jelas, kenapa tidak meminta tolong baik-baik kepadaku? Toh, kalau Alanis mengatakannya secara baik-baik, aku tidak akan keberatan membantunya. Kutarik satu kursi panjang lalu mendudukkan gadis itu di sana. Alanis terkejut, satu jarinya menunjuk-nunjukku hendak protes. Mungkin saja gadis itu kaget karena tubuhnya kutarik tiba-tiba, lantas membawanya duduk di kursi. Kugulung lengan kausku, kemudian kutarik wadah berisi bahan-bahan makanan yang telah disiapkan Alanis. "Kamu bisa masak?" tanya Alanis, dari nada bicaranya saja terdengar tidak yakin. Aku menoleh sekilas ke arahnya. "Nggak ada yang nggak aku bisa lakukan di dunia ini." Sejak remaja, aku terbiasa melakukan semuanya sendiri. Aku tipe orang yang disiplin. Apa lagi ketika aku memutuskan untuk tinggal di apartemen selama kuliah, aku melakukan tugas-tugas rumah sendirian. Mencuci pakaian, piring, bersih-bersih rumah sampai memasak adalah sesuatu yang mudah kulakukan hingga saat ini. Jadi, jangan heran kalau nanti Alanis akan ketagihan masakanku. "Kamu mau masak apa?" tanya Alanis memiringkan kepalanya, tingkahnya mirip anak kecil yang sedang penasaran. "Aku penginnya makan mi kuah, pake telur setengah matang," celoteh Alanis. Kuletakkan wadah dan pisau ke tempat asalnya. Masih saja membahas soal mi instan! "Enak kali ya," gumam Alanis. "Kamu lagi ngidam?" Alanis membeliakkan matanya padaku. "Seharian ini kamu membahas mi instan, mi instan, terus! Mirip orang hamil!" Alanis meletakkan kedua tangannya ke pinggang. Sepasang mata sipitnya melebar seolah menunjukkan padaku kalau dia sedang marah. "Hamil apaan sih? Kita aja nggak pernah ngelakuin apa-apa. Tidur aja kamarnya pisah. Kenapa kamu nuduh aku hamil?" Sebelah alisku terangkat, pada detik berikutnya, Alanis tampak gugup. "Udah ngocehnya?" ejekku. Alanis merapatkan bibirnya, dengan cepat gadis itu membuang pandangannya ke arah lain. Aku berbalik pura-pura memunggunginya. Serius, sekarang aku hampir tidak bisa menahan tawaku. Gadis ingusan itu... benar-benar jengkel padaku sekarang! *** Tak! Alanis meletakkan gelasnya yang telah kosong ke atas meja. Diusap-usapnya ujung bibirnya, kalau kuperhatikan lagi, Alanis mengulum senyum puas sesekali mengusap perutnya berulang-ulang. Tingkahnya bisa membuat orang salahpaham. Kalau Mama melihatnya, mungkin saja Mama mengira Alanis benar-benar hamil. Ah, tidak, Mama tidak boleh melihat tingkah Alanis seperti ini. Atau kalau tidak, bisa-bisa Mama akan terus-terusan membahas soal keturunanku dan Alanis. Di belakang Alanis, Mama seringkali menyindirku soal momongan. Pernikahan kami terhitung empat bulan, tapi Mama tidak pernah lupa mendesakku untuk segera memiliki keturunan. Mama bertanya, apa Alanis dalam kondisi sehat? Bahkan Mama memaksaku untuk pergi cek bersama Alanis, Mama takut di antara kami memiliki masalah. Ya, Tuhan. Permintaan Mama saat memaksaku untuk menikah saja sudah membuat kepala dan gendang telingaku akan pecah. Lalu sekarang, aku dipaksa agar segera memiliki momongan? Momongan... hah? Momongan apa! Aku dan Alanis saja tidak pernah melakukannya. Hei, Alanis saja baru genap dua puluh tahun! Bagaimana bisa aku melakukannya kepada anak ingusan seperti Alanis? Dilihat-lihat, pun, postur tubuhnya mirip anak TK! "Apa lihat-lihat?" Alanis menyilangkan kedua tangan menutupi dadanya. "Tatapan kamu, tuh, bisa dibilang pelecehan!" "Pelecehan apa?" Aku melotot padanya. "Apa yang mau dilecehin dari kamu? Badan kamu sama Daryl aja, masih besar badannya Daryl!" Alanis mendengus tidak terima. Bentuk badan Alanis memang tidak sebagus Mano, mungkin karena usianya masih sangat muda, jadi bentuk badannya belum terlihat. Atau, bisa jadi dia kekurangan gizi saat masih tinggal sendiri. Hmm, apa... Alanis masih bisa menambah tingginya? Jika dia berdiri di sampingku, gadis itu terlihat seperti akan tenggelam. Tinggi badannya tidak selaras dengan wajahnya yang bak boneka. Akh, aku bicara apa sih! "Kamu," gumamku melirik Alanis. "Kamu pengin jalan ke mana?" Alanis mengerjapkan mata. "Jalan?" Aku mengangguk. "Ada tempat yang pengin kamu kunjungi?" Alanis mengulum senyum hingga matanya menyipit lucu. "Kamu mau ngajak aku kencan?" "Mimpi!" dengusku. Alanis meletakkan kedua tangannya ke atas meja. "Aku pengin nonton ke bioskop," jawabnya. "Aku udah lama nggak nonton. Terakhir kali waktu masih SMA. Udah lama banget kan?" "Selain nonton?" "Pergi ke taman sambil jajan es krim." Seleranya benar-benar seperti anak kecil. Aku kira, dia akan menyebutkan beberapa toko pakaian dari merek terkenal. Tapi sebaliknya, keinginannya sangat murah. Bahkan uang recehanku saja bisa membeli es krim dan ratusan gerobaknya. "Aku juga mau main sepeda," gumam Alanis ceria. "Okay!" "Apa?" tanya Alanis, bingung. "Besok kita pergi," jawabku. "Pergi ke mana?" Aku mendesah, kesal kepada otak lemot Alanis. "Kita nonton, pergi ke taman dan makan es krim!" "Main sepedanya, nggak?" "Yang satu itu bisa kapan-kapan." Aku beranjak dari kursi. "Nanti, kalau kita liburan. Kamu bisa main sepeda sepuas kamu." Alanis cemberut berat. "Apaan, main sepeda aja nunggu liburan dulu!" To be continue---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD