Rahasia Kelam

1086 Words
Ringga; Rahasia Kelam "Jangan khawatir, istri kamu nggak apa-apa kok." Dibanding khawatir, aku lebih takut bocah itu membuat ulah baru yang lebih merepotkanku lagi! Akhir-akhir ini Alanis mulai berani membantahku, bahkan berani melotot padaku. Berbeda ketika kami bertemu pertama kalinya enam bulan lalu, Alanis tampak seperti gadis manis yang penurut. Tapi, setelah tinggal bersama kurang lebih empat bulan sebagai suami-istri, aku mulai mengenali siapa Alanis. Bocah itu pemalas, setiap kali kutanya di mana Alanis berada, pembantu di rumah ini mengatakan kalau gadis itu ada di kamarnya sedang tidur, kadang akan keluar ketika perutnya keroncongan. Melihat Alanis tidak memiliki kegiatan apa pun selain berbaring di ranjangnya sembari menghabiskan bertoples-toples camilan, membuatku berinisiatif mendaftarkannya ke salah satu kampus ternama. Dan juga, memasukkannya pada sebuah kelas kepribadian. Di sana, Alanis akan diajari banyak hal. Gadis itu harus tahu bahwa kehidupannya telah berbeda. Ketika dia masih sendiri, dia bisa saja melakukan sesuatu yang dia mau. Namun, begitu Alanis menyandang nama Damanik di belakang namanya, aku tidak akan membiarkannya hidup seperti dulu lalu menjadi bulanan orang-orang di sekitarku. Dulunya, kampus Alanis adalah tempatku kuliah. Dengan bantuan orang-orangku, gadis itu berhasil menyandang status sebagai mahasiswi di sana. Masih ada beberapa dosenku yang aktif di kampus tersebut. Karena sejak dulu aku dikenal sebagai mahasiswa teladan dan berotak encer, tidak salah jika beberapa dosen dekat denganku. Hm, salah satunya, Pak Doni. Meskipun orang-orang mengenalnya galak dan pelit nilai, nyatanya Pak Doni memang dosen terbaik. Aku salah satu pengagumnya. "Om, bisa periksa dia sekali lagi?" tunjukku pada Alanis. Gadis itu mencebikkan bibirnya. "Bisa aja kepalanya cidera, atau mungkin ada tulangnya yang patah?" Om Dion, dokter keluarga Damanik tampak terkekeh. Tangan kanannya menepuk-nepuk bahuku. "Wajar kamu sekhawatir ini, Ringga," Om Dion mengalihkan pandangannya pada Alanis di atas ranjang. "Tapi beneran, istri kamu nggak apa-apa. Lukanya nggak terlalu serius kok." Kuhela napas panjang sesaat, sepertinya Om Dion salah mengartikan kekhawatiranku. Aku meminta laki-laki itu memeriksa Alanis lebih teliti lagi bukan karena aku mengkhawatirkannya. Melainkan, diriku mulai antisipasi dari sekarang. Bisa saja luka-luka Alanis berubah buruk keesokan harinya. Iya, kan? Aku tidak suka direpotkan, apa lagi yang jelas-jelas tidak ada hubungannya denganku. Tidak bisa kubayangkan akan merawat Alanis yang lumpuh mendadak akibat kecelakaan yang dia alami. Tidak. Itu akan sangat merepotkan diriku pastinya! Selesai memeriksa dan mengobati Alanis, Om Dion pamit pulang. Kuantar Om Dion sampai ke depan dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada laki-laki berusia enam puluhan tersebut. Om Dion mengangguk-angguk, lantas masuk ke dalam mobilnya. "Itu makanan buat siapa?" tanyaku pada Dani. Harum dari semangkuk mi instan tercium hingga ke seluruh ruangan. Dani menatap isi mangkuk yang dia bawa dan memandangku takut-takut. "Buat Mbak Alanis, Mas." Sudah kubilang berulangkali kepada siapa pun di rumah ini. Khususnya Alanis. Tidak ada mi instan. Memangnya mereka tidak tahu betapa bahayanya mengonsumsi makanan-makanan instan, ya? Lagi pula, di rumah ini ada banyak makanan. Bahan makanan pun ada. Di sini, mereka bebas memakan apa pun yang mereka mau. "Buang!" seruku menunjuk dapur. Dani menunduk takut. "Tapi, Mas, tadi Mbak Alanis...," "Buang! Atau kamu udah nggak betah kerja di sini?" Dani menggeleng cepat. "I-ya. Saya buang sekarang." Gadis itu berbalik memunggungiku, lantas berjalan ke arah dapur untuk membuang mi instan milik Alanis seperti perintahku. Dasar bocah! Menjadi istri orang kaya ternyata tidak mengubah selera makanannya! "Jangan ada lagi mi instan di rumah ini," peringatku kepada Dani dan yang lainnya. "Buang semua stock mi instan di dapur!" "Tapi, Mas, itu... yang beli Mbak Alanis." Aku menarik napas berat. Seumur hidupku, baru Alanis yang berani membantah. Bocah itu, akh! "Buang," Kutunjuk mereka satu per satu sembari menaiki anak tangga. "Buang sekarang juga! Sekarang!" *** "Mbak Alanis nggak mau makan, Mas," adu Dani. Gadis itu berdiri di depan meja kerjaku. Kepalanya agak menunduk, tidak berani menatapku. Entah takut kumarahi, atau memang dia pemalu. Setahuku, Dani dan Alanis hampir seusia. Dan yang kudengar pula, Dani agak kesulitan berinteraksi dengan laki-laki. Maka dari itu aku memintanya menemani Alanis selama di rumah. Jadi tidak heran jika kedua gadis itu terlihat akrab seperti seorang teman. "Katanya, Mbak Alanis nggak mau makan kalau bukan mi instan." Semakin kepalanya menunduk, maka semakin sulit kudengar suaranya. "Saya nggak dengar kamu ngomong apa!" kataku, jengkel. Dani mengangkat sedikit wajahnya. "Mbak Alanis nggak mau makan kalau bukan mi instan." Woah. Bocah ingusan itu. Ya Tuhan! Dia sengaja membuatku marah ya? Hanya karena semua persediaan mi instannya kubuang, gadis itu mogok makan dan seolah ngambek. Dia pikir, dia siapa? Dia pikir aku peduli? Tidak. Terserah Alanis saja. Mau makan silakan, tidak mau ya sudah. Toh, yang kelaparan juga dia, bukan aku. "Gimana, Mas?" "Apanya?" Kutatap Dani segera, namun detik berikutnya gadis itu menunduk. "Mas Ringga nggak mau bujuk Mbak Alanis buat makan?" Aku tertawa sinis. "Terserah dia," jawabku, ketus. Dani tampak terkejut. Gadis berambut sebahu itu berjalan ke samping ketika diriku berjalan melewatinya. Sembari memasang jaket ke tubuhku sendiri, kubilang padanya. "Jaga Alanis, saya mau pergi. Jangan biarin dia pergi ke mana-mana selama sakit. Mengerti?" "I..ya, Mas," Dani menunduk kian dalam sampai aku benar-benar menghilang dari pandangannya. *** Tumpukkan kertas di atas meja tidak berhenti kupandangi. Beberapa robekan dari sebuah koran lima tahun lalu terpampang di depan mataku. Ketika kuangkat wajahku, pandanganku dan Ago saling bertemu, seolah kami memiliki isi pikiran yang sama. "Gue nggak bisa bilang ini ulah bokap tiri lo, sih," gumam Ago menyangga dagunya dengan satu tangan. "Cuma, dari hasil yang gue kumpulin, ini yang gue dapetin." Kubereskan kertas serta kumpulan robekan dari sebuah koran lima tahun lalu dan menyimpannya ke dalam sebuah amplop cokelat. "Aku butuh informasi lebih. Ini belum cukup." Kutatap lawan bicaraku lurus-lurus. "Kematian Pak Bram masih jadi misteri. Meskipun pihak kepolisian bilang itu adalah murni kecelakaan akibat terbawa pengaruh obat-obatan, aku nggak percaya!" Ago mengisap ujung rokoknya, kami saling diam selama beberapa detik. Mungkin saja Ago masih memiliki informasi lain untuk dikatakan padaku. Aku membayar Ago sangat mahal agar bisa membantuku memecahkan misteri kematian Pak Bram lima tahun yang lalu. Pak Bram satu-satunya orang yang tahu mengenai kisah kelam keluarga Damanik. "Tapi, Ri," Ago membuka suaranya. Dimatikannya rokok di tangannya di dalam asbak, "Sampai kapan lo mau rahasiain ini dari Alanis? Lo mau bikin dia dan semua orang salahpaham sama lo?" Membuat orang salahpaham adalah keahlianku, itu kata Mano. Aku tidak peduli komentar negatif orang-orang terhadapku. Mereka bisa bicara sebanyak yang mereka mau. Bagaimanapun itu hak mereka, aku tidak bisa membungkam mulut mereka semua, meskipun sebenarnya itu adalah hal yang mudah. "Paling nggak, kita harus punya satu bukti baru. Alanis nggak boleh tahu soal ini, khusunya apa yang terjadi sama kakeknya lima tahun lalu." To be continue--- 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD