Balas Dendam

1690 Words
Alanis; Balas Dendam Ringga benar-benar sialan memang. Kalian tahu, sesuai dugaanku, Ringga menumbalkanku di depan mamanya. Alhasil, aku diceramahi hampir satu jam lamanya. Dan yang paling menyebalkan, Ringga hanya diam sembari mengangguk-anggukkan kepalanya kala Mama mertuaku mengomel. Katanya, seorang istri harus menurut apa kata suami. Tidak boleh sembarangan pergi bersama laki-laki lain tanpa izin suami. Woah! Aku baru sadar kenapa Ringga bisa menyebalkan ketimbang dua adiknya. Dan ya, gen tersebut diwarisi dari sang Mama. Ya Tuhan, Mama mertuaku benar-benar gambaran seperti mertua di sebuah sinetron atau FTV azab. Sepanjang Mama mengomeliku tanpa henti, Ringga hanya diam dan menampilkan ekspresi puas melihatku diomeli. Sudah kubilang, kan, Ringga sangat suka menyiksaku. Dia akan merasa puas setiap kali aku menderita. "Al!" Kutolehkan kepalaku ke belakang. "Ya?" "Kenapa masih di sini? Sebentar lagi kelas mau mulai. Kamu nggak mau diusir sama Pak Doni karena telat masuk, kan?" Oh iya. Karena sibuk mengomel di sepanjang lorong kampus, aku sampai lupa kalau kelas Pak Doni akan dimulai. Sebenarnya, ini adalah pertama kalinya aku mengikuti kelas beliau karena kalian tahu sendiri kan ya, aku baru satu minggu mengikuti kuliah. Jadi belum hapal bagaimana karakter dosen-dosen di kampus ini. Kata teman-temanku sih, Pak Doni adalah salah satu dosen galak dan pelit memberi nilai. "Ayo, Al." Temanku melambaikan tangan ke arahku. Aku jalan malas-malasan. Di rumah, aku bertemu Ringga yang galaknya minta ampun. Di kampus pun, aku juga bertemu dosen galak. Tapi, bisa kutebak, Pak Doni tidak akan segalak Ringga. Seriusan! "Sebentar," kataku berhenti ketika hendak sampai di pintu kelas. "Aku mau ke toilet." Temanku menatap panik. "Seriusan, perut aku sakit!" Kupegangi perutku, tidak lupa memasang ekspresi menahan sakit. Tanpa menunggu jawaban temanku tadi, aku berlari secepat mungkin meninggalkan pintu kelas. Masa bodoh dengan kuliah dan dosen galak. Sudah kukatakan kalau aku adalah orang paling malas sedunia, kan? Selain makan dan kegiatan memasak, aku tidak memiliki keahlian apa pun. Saat sekolah pun, otakku sangat pas-pasan. Entah bagaimana caranya aku bisa lulus, padahal saat ujian kukerjakan dengan asal-asalan. Kabur saat kelas Pak Doni adalah salah satu caraku membalas Ringga. Dia ingin aku jadi pintar seperti dirinya, kan? Tidak. Aku tidak akan menurutinya. Aku tidak suka diatur-atur, apa lagi soal belajar yang jelas akan menguras isi otak dan tenagaku. Kalau dia marah, ya silakan. Lagi pula, siapa suruh dia mendaftarkan diriku menjadi mahasiswi di kampus sebesar ini? Akh, Ringga tidak tahu saja aku bisa jauh lebih menyebalkan. Dia belum mengenaliku. Dia tidak tahu aku bisa menjadi gadis pemberontak, yang bisa saja membuat Ringga memiliki serangan jantung dadakan. *** Ada gunanya juga mempunyai suami kaya raya, ya? Aku bisa pergi ke mana pun aku mau. Makan makanan apa saja tanpa harus takut berapa harga yang akan kubayar. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Ringga saat tahu istrinya bolos kuliah dan malah jalan-jalan ke mal, makan makanan enak, mengelilingi mal sampai kakiku pegal. Ah... begini rasanya menikmati hidup tanpa beban ya? Jarang sekali aku merasakan seperti ini. Dulu, sebelum aku resmi menikah dengan Ringga, waktuku lebih banyak dihabiskan untuk bekerja. Pagi harinya aku pergi, pada sore aku pulang ke tempat kost. Ketika tanggal tua sudah datang, aku lebih sering berpikir, besok makan apa ya? Apa... uang segini cukup untuk beli ini? Beli itu? Dan sialnya, bertepatan dengan habisnya perlengkapan mandi. Aish. Sebenarnya, aku tidak meminta uang sebagai imbalan. Aku hanya meminta tempat tinggal dan makan nasi sehari tiga kali. Tapi, ya karena Ringga menyiapkan semuanya tanpa kuminta, masa harus kutolak, sih? Setiap bulannya Ringga memberiku uang yang cukup banyak, bahkan aku bingung harus kuapakan uang pemberian Ringga. Apa... kukumpulkan saja lalu kubelikan rumah ya? Ide yang bagus. Paling tidak, setelah aku dan Ringga resmi bercerai, aku tidak akan khawatir soal tempat tinggal. Ponselku tiba-tiba saja berdering. Kulirik benda tipis berwarna hitam tersebut, setelah kulihat nama Hada terpampang di layar, maka segera kuangkat panggilannya. Kukira Ringga yang menelponku, ternyata adik iparku. "Di mana lo, Al?" tanya Hada begitu panggilannya kujawab. Kukunyah sisa-sisa makanan di dalam mulut sebelum menjawab pertanyaan Hada. "Di kampus lah." "Bohong lo!" tuduh Hada. "Gue lihat lo lagi enak-enakan makan burger!" Kutarik punggungku dari sandaran kursi. Kutolehkan kepalaku ke kanan ke kiri mencari sosok Hada, tapi tidak kutemukan. Lalu, tahu dari mana laki-laki itu aku sedang makan burger? Pasti dia ada di sini dan bersembunyi di suatu tempat. "Traktir gue deh," kata Hada menyemburkan tawa. "Lo mau apaan?" tantangku. "Buruan ke sini. Lo sembunyi di mana sih?" Aku masih menoleh ke sekeliling. Dan tidak lama, Hada muncul dari arah kanan sambil tertawa-tawa seperti orang bodoh. Ah, dasar si bodoh! Hada adalah keturunan Damanik yang paling beda. Anak bungsu, berbeda dari kedua kakaknya yang serius dan berotak cerdas. Hada sendiri yang bercerita kenapa dirinya memilih menjadi artis ketimbang bergelut di dunia perkantoran. Sambil tertawa-tawa setiap kali berbicara, Hada mengatakan, "Gue capek lihat Mas Riri sama Mas Bizar getol banget kerja! Ya, mereka sih otaknya encer ya, nah gue, pas sekolah dulu hobinya tidur sama godain cewek." Aku ikut tertawa mendengar curhatan Hada. Ternyata aku dan Hada tidak ada bedanya. Soal isi otak, tidak ada yang spesial. Di sekolah, kami hanya dikenal karena wajah yang rupawan. Eiii. Aku tidak bohong soal itu, ya. Selain dikenal paling bodoh di sekolah, aku juga terkenal karena masuk ke jajaran siswi paling cantik. "Gue juga heran dah, kenapa cuma gue doang yang bodoh. Sedangkan Mas Riri sama Mas Bizar otaknya pada encer," aku Hada, lagi. "Udah nasib lo kali!" Dari sekian banyak keluarga Damanik, cuma Hada satu-satunya yang membuatku nyaman. Tidak ada lagi. Sekali pun Daryl, anak Mas Bizar. Bocah itu hampir mengikuti gaya omnya, Ringga. Ya, Ringga suamiku. "Mas Riri tahu lo nongkrong gini? Bukannya lo kuliah sekarang?" tanya Hada. "Gue bolos," jawabku memainkan sedotan di gelas. "Bolos? Dan Mas Riri nggak tahu?" Hada tiba-tiba heboh. "Ya lo pikir aja kalau dia tahu," sahutku melemparkan sedotannya ke arah Hada. Hada tertawa, kemudian mengerutkan dahi. "Oh ya, Al, gue penasaran deh gimana bisa lo mau sama Mas Riri?" Tahu-tahu aku cegukan. Buru-buru kuraih minuman milik Hada dan meneguknya cepat hingga membuatku tersedak dan membuat Hada tertawa meledekku. "Lo udah gituan belum sih?" Mataku mendelik. Pertanyaan Hada terasa random. Pertanyaan sebelumnya saja belum kujawab, sekarang malah bertanya hal lain. Bohong kalau aku tidak tahu ke mana arah pertanyaan Hada. Aish. Jangan kan melakukannya, untuk dekat-dekat dengan Ringga saja aku tidak mau! Apa Hada tidak tahu kalau kakaknya sangat-sangat menyebalkan? Lagi pula, aku tidak memiliki kewajiban melakukannya bersama Ringga. Di kontrak, tidak ditunjukkan bahwa aku harus hamil anaknya. Aku dikontrak hanya untuk menjadi istrinya. "Dih. Pipi lo merah. Hahs!" Hada menunjuk pipiku lalu menggebrak meja dengan heboh. "Apa sih, bodoh!" makiku kesal. "Pertanyaan lo sama sekali nggak berkualitas. Buat apaan gue jawab?" "Pasti lo malu ya?" goda Hada. "Diem nggak lo?" bentakku, tapi Hada malah semakin keras tertawa. *** "Mbak nggak apa-apa kan?" Nggak apa-apa bagaimana sih?! Aku ditabrak motornya lumayan keras sampai lutut dan sikutku terluka! Sepulang dari nongkrong bersama Hada tadi, aku pulang sendirian karena Hada harus pergi syuting. Kukatakan padanya aku bisa pulang sendiri tanpa harus diantar. Aku terbiasa sendiri, hanya saja Ringga terlalu berlebihan sampai menyuruhku ke mana-mana menggunakan supir pribadi. Setelah berdadah-dadah kepada Hada, aku pergi menyebrang untuk mencari angkutan umum. Tapi, sialnya saat aku menyebrangi jalan, ada sebuah motor melaju dengan kecepatan gila-gilaan. Belum sempat aku menghindar, motor tersebut melaju begitu cepat lalu menghantam tubuhku lumayan keras. Tubuhku terjatuh di pinggiran jalan. Orang-orang dengan segera memgerumuniku. Si pengendara motor mematikan mesin motornya kemudian menghampiriku. Orang-orang di sana membawaku duduk di trotoar. Si pemilik motor yang menabrakku hendak membawaku ke rumah sakit untuk diobati tapi kutolak. "Ada nomor keluarga kamu, mungkin? Biar aku telepon," kata si pemilik motor yang menabrakku. Kugigit bawah bibirku, antara bingung dan menahan perih lukaku. Aku tidak punya keluarga selain Ringga sekarang. Apa, aku harus menelpon Ringga? Akh, dia mana peduli, sih! Yang ada, dia akan marah-marah padaku. "Mbak," tegurnya menepuk bahuku. "Nggak usah, Mas. Biar saya telepon sendiri," kataku. Pelan-pelan kukeluarkan ponsel dari saku celanaku. Menelpon Ringga? Tidak! Satu-satunya orang yang bisa kumintai tolong adalah Mano. "Ya, Al. Kenapa?" suara Mano terdengar halus dari dalam telepon. "Tante," panggilku. Selanjutnya, kujelaskan apa yang terjadi padaku barusan. Pada awalnya Mano terkejut, sempat heboh namun kuminta agar perempuan berusia tiga puluh sembilan tahun tersebut lebih tenang. "Ya udah, sekarang aku ke sana ya. Jangan ke mana-mana." "Mm, Tante..." selaku sebelum memutuskan sambungan telepon. "Apa, Al? Apa ada yang sakit?" "Tante Mano, jangan bilang ke Ringga ya?" "Kenapa?" tanya Mano. "Jangan bilang aja. Ya?" Mano menarik napas panjang. "Okay. Aku nggak akan bilang sama Ringga. Kamu nggak usah khawatir ya." *** Mano bohong. Katanya, dia tidak akan bilang kepada Ringga. Nyatanya apa? Orang yang menjemputku adalah Ringga, laki-laki menyebalkan, hobi marah-marah dan suka menyiksaku! Ringga keluar dari mobil, lantas memasang kaca mata hitamnya dengan gaya sok keren. Orang-orang di sekitarku menatap Ringga sangat kagum. Mungkin, mereka bertanya-tanya siapa laki-laki di depan mereka sekarang. Ringga adalah Ringga. Masih ingat dengan ceritaku kan? Di depan keluarga, di depan umum, Ringga tidak ada bedanya. Ringga dan mulut pedas serta ketidaksopanannya tidak bisa dijauhkan. Sudah seperti ciri khas laki-laki itu. "Siapa yang nabrak kamu?" Seharusnya dia tanya dulu bagaimana keadaanku. Bukannya malah tanya siapa yang menabrakku. "Saya, Mas. Maaf." Si pengendara motor tadi mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ringga membuka kaca mata hitamnya. "Kamu tahu dia siapa?" tunjuk Ringga padaku. "Dia, istri saya. Menantu keluarga Damanik! Kamu tahu artinya kalau sampai berani melukai menan-" Mati-matian aku menahan rasa sakit di siku dan lututku, buru-buru aku berdiri di belakang Ringga. Setengah berjinjit karena perbedaan tinggi kami yang kontras, kubungkam saja mulutnya dengan tanganku. "Nggak apa-apa, Mas. Nggak apa-apa kok!" Kucubit pinggang Ringga sebagai isyarat agar tetap diam. "Terima kasih buat Bapak sama Ibu yang udah bantu saya, ya. Sekali lagi terima kasih." Segera, orang-orang berhambur meninggalkanku dan Ringga hanya berdua. Ringga melepaskan tanganku agak kasar, ditatapnya diriku tajam dan galak. "Kamu tuh, ya," tunjuk Ringga padaku. "Kaki aku sakit. Kamu bisa diem nggak!" sentakku. "Lagian siapa yang minta kamu jemput aku sih? Aku, kan, minta jemput Tante Man-akh, apa sih! Turunin!" "Kamu bikin aku pusing!" sentak Ringga. Aku didudukkan di samping kursi pengemudi. Tidak lupa pula laki-laki itu membantuku memasang sabuk pengaman. "Ngerepotin," dumel Ringga, melirikku sinis. To be continue--- 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD