Alanis; Cabut Nyawa Dia!
Ringga, adalah iblis berwujud manusia!
Selain ketus dan sinis, laki-laki itu hobi menyiksaku. Apa... jika dia melihatku menderita, ia akan bahagia?
Oh, Tuhan.
Tanpa sepengetahuanku atau setidaknya bicara dulu padaku, Ringga mendaftarkanku ke salah satu kampus ternama. Bukan hanya itu saja. Ringga juga mengikutsertakan diriku pada sebuah kelas kepribadian yang harus kuikuti paling tidak tiga kali dalam satu minggu.
Di sana aku diajari bermacam-macam. Mulai dari kecantikan serta merawat diri. Cara berjalan, cara berbicara sampai soal table manner. Aku diberitahu bagamana cara makan ala orang Inggris, Amerika, Jepang hingga China. Sepanjang kelas berlangsung, aku merasa bosan. Aku tidak suka. Dalam hati aku mengutuk Ringga yang memaksaku mengikuti kelas kepribadian, dan bodohnya, aku menuruti perintahnya tanpa membantah.
"Hebat ya. Baru beberapa hari masuk kuliah udah dapat pacar," sindir Ringga, tersenyum sinis kepadaku.
"Siapa yang pacaran, sih?" dengusku.
Kujatuhkan tasku ke lantai tanda lelah. Menurutku, Ringga aneh. Dia sendiri yang mendaftrakanku untuk kuliah, tapi setiap kali aku pulang dan melihatku diantar seorang teman, pasti akan seperti ini. Memangnya kenapa kalau aku pulang diantar teman? Tidak ada yang salah. Toh, cuma diantar, tidak lebih. Lagi pula, orang-orang di kampus tahu siapa aku. Aku bukan perempuan lajang yang bisa menggandeng laki-laki di sana sini.
"Siapa yang nganterin kamu tadi?" tanya Ringga menjejalkan sebelah tangannya ke dalam saku celana.
"Temen," jawabku pendek. Kupungut tasku, kemudian berjalan melewati Ringga.
"Temen?" dengus Ringga, sinis.
Aku pernah bilang tidak, kalau aku adalah manusia super malas? Iya. Malas melakukan sesuatu selain makan dan memasak. Aku tidak memiliki bakat apa pun. Tidak memiliki cita-cita selain ingin jadi kaya raya, tapi aku malas belajar! Dan lagi, aku malas berdebat dengan manusia seperti Ringga. Laki-laki sombong, tukang mengatur, galak, juga sok pintar! Akh, aku akan menarik kata-kataku kemarin. Aku tidak beruntung bertemu Ringga. Malah sebaliknya, aku merasa sial. Menjadi istri kontraknya melelahkan, apa lagi menjadi istri sungguhannya! Mungkin, aku akan melakukan bunuh diri di usia muda karena harus diatur segala sesuatunya, dan tidak boleh membantah.
"Mama aku ada di rumah. Kalau Mama tahu kamu diantar pulang laki-laki lain, Mama akan curiga." Ringga menghadang langkahku di tengah-tengah anak tangga.
Kusilangkan kedua tanganku di depan d**a. "Justru suara kamu yang bisa bikin Mama denger dan curiga sama kita."
Ringga melotot padaku. Laki-laki itu menuruni satu anak tangga dan berdiri tepat di depanku. "Dengar ya, Alanis," Satu jari Ringga menunjuk hidungku. "Kamu mau pacaran? Silakan. Tapi nanti, setelah kita resmi bercerai."
"Siapa yang mau cerai?!"
Mampus!
Kini, ganti aku yang melotot kepada Ringga. Sudah kukatakan, suara Ringga bisa saja didengar Mama, lalu wanita tua itu akan menaruh curiga terhadap pernikahan kami! Sejak awal saja Mama mertuaku merasa tidak yakin. Dia menanyaiku dengan berbagai hal untuk memastikan apakah benar aku dan Ringga memiliki hubungan atau tidak. Dan sekarang, setelah Mama sedikit bisa percaya padaku, Ringga menghancurkannya.
Sialan, Ringga!
"Siapa yang mau cerai?" tanya Mama mertuaku marah.
Aku dan Ringga diam. Aku memilih diam karena sibuk mencari alasan. Sedangkan suamiku, oh, tidak. Akan kuralat. Suami kontrakku diam seolah sedang berpikir, bagaimana caranya supaya dia bisa menumbalkanku. Pasti begitu isi di dalam kepalanya.
Akan kuberitahu bagaimana sosok Ringga sebenarnya. Dengar baik-baik, buka telinga kalian lebar-lebar dan jangan terkejut. Okay?
Damanik Ringga, laki-laki berusia tiga puluh sembilan tahun adalah anak sulung dari keluarga Damanik. Di balik wajah tampan serta otak yang cemerlang, Ringga adalah sosok ambisius dan tidak ingin kalah dari siapa pun. Bahkan, adik keduanya, Bizar, dianggap sebagai musuhnya. Di mata Ringga, Bizar bisa saja menjadi penghalangnya untuk menguasai Damanik's Hotel.
Jika orang-orang kebanyakan akan terlihat berbeda di depan publik dan keluarga, nyatanya Ringga tidak. Mau di depan umum, keluarga, bahkan di depanku saja dia tidak ada bedanya. Dia ketus, sangat. Mulutnya berbisa. Segala sesuatu yang keluar dari mulutnya benar-benar menyakiti hati. Terang saja orang-orang takut pada Ringga!
"Kamu bilang begitu karena belum kenal Ringga dengan baik."
Satu kalimat Mano, seketaris sekaligus sahabat Ringga waktu mengantarku pergi ke kelas kepribadian membuatku diam. Kutelaah kalimatnya dalam-dalam. Memangnya, manusia semacam Ringga, memiliki nilai tambahan apa lagi selain wajah dan tubuhnya yang rupawan?
Bagiku, tidak ada.
Mano tertawa melihat reaksiku. "Ringga lebih suka bikin orang salahpaham. Dan ya, dia nggak peduli sekali pun dibilang jahat dan kejam."
Aku jadi makin bingung. Aku tidak tahu kenapa Mano mengatakan hal itu padaku. Mama dan Hada saja mengakui kalau Ringga itu kejam, kenapa justru Mano yang hanya teman malah mengatakan sebaliknya? Apa... Ringga memiliki dua kepribadian tanpa orang tahu?
"Mama tunggu kalian berdua dia bawah, sekarang!" sentak Mama, galak.
Kesadaranku kembali. Terlebih saat Mama berteriak lalu menunjuk kami berdua dari kaki anak tangga. Kulirik Ringga kesal, sedangkan manusia setengah iblis itu menatapku tajam lalu turun ke bawah tanpa mengajakku.
Aku jadi ingin meminta sesuatu kepada Tuhan. Aku hanya ingin satu permintaan saja, asal dikabulkan. Aku meminta, "Tuhan, segera cabut nyawa Ringga. Secepatnya!"
To be continue---