Bab 7: GPS Atau CCTV?

639 Words
Semua makanan yang dibeli Mas Bayu termasuk segelas ukuran besar minuman bersoda kumusnahkan ke ke dalam toilet. Burger dan ayam kucabik jadi potongan kecil. Sekepal nasi pun kuawur-awur terlebih dahulu agar berderai dan mudah tenggelam. Untuk minuman bersoda kubuang ke dalam saluran air kamar mandi. Kini, tersisa bungkus dan tulang ayam saja. Sengaja semuanya kembali kumasukan ke dalam paper bag yang Mas Bayu bawa tadi, kemudian kubuang dalam tong sampah dapur. Saat Mas Bayu dan adiknya pergi, aku pun gegas mengemaskan diri. Mandi, bertukar pakaian, dandan yang cantik, kemudian memutuskan untuk keluar rumah dengan menaiki sepeda motor pembelian Mas Bayu. Lihatlah istrimu yang katamu sangat cantik dibanding SPG-SPG seantero mal ini, Mas. Dia mengikhlaskan kamu pergi dengan adikmu dengan menaiki mobil. Sedangkan istrimu harus ikhlas hanya naik motor saja. Benar-benar suami tak berperi kemanusiaan! Sebelum keluar dari rumah, aku sudah memeriksa ponsel. Mematikan GPS dan paket data. Entah mengapa, aku tiba-tiba saja merasa takut sendiri. Khawatir kalau-kalau ternyata ponselku telah disadap oleh Mas Bayu jauh-jauh hari. Ya, meskipun itu sepertinya tak mungkin sebab Mas Bayu tidak pernah memegang-megang ponselku apalagi menyadapnya segala. Waspada tapi tak ada salahnya. Bukankah karena sembrono tadi malam, aku jadi teler semalaman? Sepeda motor pun kupacu kencang. Aku tak ingin waktuku habis terbuang sia-sia. Aku harus bergerak lebih cepat. Kalau perlu, aku harus telah berada di rumah lagi sebelum pria gila itu pulang. Isi kepalaku sudah penuh dengan rencana. Rencana yang tak main-main, memang. Sudah kupertimbangkan segala risiko yang akan menimpa apabila rencana ini sampai gagal. Tak apa, pikirku. Aku siap! Setidaknya, aku telah berusaha. Tak sampai sepuluh menit dari rumah, aku sampai di kawasan pertokoan elektronik. Kuparkirkan motor di depan sebuah bangunan ruko bercat putih. Toko milik etnis Tionghoa tersebut dari plangnya diketahui menjual segala jenis kamera CCTV. Akan kucari sebuah kamera pengintai yang tidak memerlukan pemasangan berbelit. Semoga mereka menyediakannya, pikirku. “Siang. Saya mau cari CCTV untuk kamar. Ada nggak ya, yang bentuknya simple tapi tidak membuat orang curiga bahwa itu adalah kamera?” Aku bertanya kepada seorang wanita pelayan toko. Gadis manis berkulit putih dengan rambut sebahu yang diikat ekor kuda itu terlihat senyum lebar. “Ada, Kak. CCTV berbentuk bohlam lampu, jam waker, dan pas foto. Kami punya semua. Kalau bohlam tidak perlu batere, dayanya berasal dari aliran listrik. Kalau jam waker sama pas foto harus pakai batere. Bisa di-chage ulang, Kak. Kakak mau?” Aku berpikir sejenak. Menimbang-nimbang apa yang harus kubeli terlebih dahulu. Mengingat, saldo dompet elektronikku tak begitu banyak. Saldo yang lumayan ada di ATM. Sialnya, ATM itu atas nama Mas Bayu. Internet bankingnya malah terhubung ke ponsel dia. Kurang ajar memang Mas Bayu. Dia bilang, katanya supaya belanjaku terkontrol. Sekarang aku paham apa maksud lain di balik siasat liciknya ini. Bukan hanya mengontrol belanja, tapi juga memata-mataiku. b*****t! “Aku ambil bohlam saja dulu. Cukup satu,” ucapku. “Oke, Kak. Sebentar saya ambilkan.” Cewek cantik berseragam korsa warna biru berlis putih itu lalu balik badan. Ketika aku menunggu di dekat beberapa pengunjung lainnya yang sedang bertanya tentang CCTV, tiba-tiba ponsel dari dalam tas bahuku berbunyi. Tentu aku tersentak. Kaget. Terlebih ketika berhasil mengeluarkan ponsel itu dari dalam tas. “Mas Bayu,” lirihku. Seketika, gelisah melanda. Mengapa pria itu menelepon? Apakah dia sudah sampai di rumah? Apa jangan-jangan … dia memang tahu aku keluar rumah? Namun, bukankah GPS dan paket data sudah kupadamkan, kalaupun dia memang menyadap ponselku? “Halo,” sahutku mencoba untuk santai. “Sayang, kamu sudah selesai makannya?” tanya Mas Bayu terdengar sangat manis. “Sudah. Kenapa, Mas?” Jantungku sudah berdegup kencang. Ya Allah, aku rasanya pengen pingsan! “Oh, baguslah. Kamu di mana sekarang? Keluar rumah, ya?” Napasku tercekat. Tidak, tidak mungkin! Tahu dari mana laki-laki itu? Apa dia telah menempelkan GPS di sepeda motorku? Atau mungkin … dia telah memasang CCTV di rumah kami terlebuh dahulu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD