"Beri aku satu jawaban, mas. Andai saja, tiga tahun lalu aku tidak pergi dari rumah. Apakah rasa penyesalan itu akan datang? Apakah kau akan membatalkan pernikahanmu dengan Kania?" **** Hening. Untuk beberapa saat kami berdua saling diam, sesekali terdengar hembusan nafas berat dari Mas Bayu. Tak lama suara tangis Diyara akhirnya memecah keheningan kami. Suara Mbak Sita yang menenangkan gadis kecil ku terdengar. Hanya sebentar saja ia menangis. Karena beberapa saat kemudian suara celotehan Diyara sampai ke telingaku. Aku kembali memandang Mas Bayu, Bibir suamiku itu mengatup, wajahnya masih terlihat kesal dengan pertanyaanku. Aku masih diam dan menunggu jawaban darinya. "Pertanyaan macam apa itu, Alina?" Kalimat itu terucap dari mulutnya, aku menggigit bibirku. Aku tahu jika Mas B

