Tiba tiba....
Terdengar suara gaduh dari luar kelas, berlarian menuju satu tempat, gudang sekolah. Sangat ramai.
“Ada apa? Kenapa rame-rame gitu?” tanya Gladys heran, karena baru pertama kali melihat yang seperti itu di sekolah ini.
“Kita gak bakal tau apa-apa, kalau diem di kelas kaya gini. Ayo cari tahu," ajak Ashila yang langsung mendapat anggukan dari semuanya.
Terdengar lebih banyak suara sepatu yang berlarian menuju satu tempat. Kemudian Ashila mencegah salah satu gadis yang hendak menuju ke sana juga. Jangan lagi, please, batin Ashila.
“Sorry, kenapa mereka semua panik seperti itu? Ada kejadian apa lagi?” Gadis itu menjawab dengan suara gugup.
“I-itu shil katanya ada yang bunuh diri lagi,” ucap gadis itu.
“Lagi?!” tanya Ashila kaget.
“Iya. Ya, udah gua kesana dulu yah.”
Mereka hanya mengangguk saja.
“Kejadian seperti ini tuh sering, ya? Selalu ada korban?” tanya Gladys.
“Sudah seperti rutinitas, setiap bulan pasti selalu ada yang meninggal, Glad. Ini yang selalu gua khawatirkan," ujar Ashila. Jawaban dari Ashila sukses membuat Gladys meringis ketika mendengarnya.
“Gua jadi ngeri dengernya, gimana kalau itu terjadi sama kita?” tanya Gladys.
“Selagi kita ikutin peraturan, sesuatu kayak gini pasti gak akan menimpa kita.” Gaga menimpali.
“Apa nggak lebih baik kita percepat misi itu? Gua takutnya bakal ada korban lebih banyak lagi, gua gak mau masa SMA gua terbuang hanya untuk melihat hal-hal seperti ini.”
“Kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi, harus kupas tuntas sampai ke akarnya.”
“Gua setuju, gua gak mau ada korban yang lainnya. Mereka masih SMA, masa depan mereka masih panjang. Jadi, jangan sampai masa remaja mereka harus terenggut.”
“Kalau sudah tau sekolahnya seperti ini, kenapa sekolahnya gak di tutup? Emang orang tua murid gak ada yang protes?” ujar Gladys.
“Pernah ada sih, cuma ya gua gak tau apa yang di lakuin sama kepsek sampai wali murid itu tidak jadi menuntut sekolah ini,” balas Gaga.
Gladys mengangguk. “Kok gua sedikit curiga ya, kenapa sekolah ini akhirnya tidak jadi di tutup. Bahkan gua juga baru mendengar dari Abang gua tadi pagi kalau sekolah ini horor.”
“Kalau lo udah tahu sekolah ini horor, kenapa lo masuk sini?” tanya Nevan.
“Gua mana tau, pas pendaftaran semuanya di urus sama orangtua gua, gua tinggal terima beres.” Nevan mengangguk mengerti.
“Kalian juga kenapa? Udah tau sekolah ini horor, kenapa masih lanjut sekolah di sini?” Gladys balik bertanya.
“Gua sih punya prinsip, sesuatu yang di mulai harus di selesaikan. Pernah sih ada niat buat pindah sekolah, tapi gua udah terlanjur nyaman di sini.” Perkataan Gaga seakan mewakili jawaban mereka semua.
“Beruntung gua bisa kenal sama kalian,” ujar Gladys.
“Kita lebih beruntung bisa kenal sama lo, gadis yang mungkin bisa aja membawa perubahan kedepannya,” ujar Ashila.
Gladys menatap meminta jawaban. “Maksud lo apa, Shil?”
“Bukan apa-apa.”
"Ya udah, deh. Gua mau liat korbannya dulu," ujar Gladys sembari nyelonong duluan.
"Ikut!" ujar Mereka, lalu berjalan bersamaan.
Kelimanya berlari menuju gudang sekolah, yang sudah ramai dihuni oleh murid-murid sekolah SMA Kebangsaan. Tidak hanya murid, sebagian guru juga sudah ada di sana dengan raut wajah panik.
Sesampainya disana, mereka langsung menerobos masuk kerumunan seluruh siswa-siswi yang berdiri menghalangi wajah korban. Betapa terkejutnya Ashila ketika melihat korban yang bunuh diri tersebut, sampai menutup mulut tidak menyangka.
“Kenapa, Shil? Lo kenal korban itu?” tanya Gladys.
“Itu Risa, murid cukup berprestasi disini. Baru kemarin gua kenalan sama dia, kenapa sekarang jadi kaya gini?” ucap Ashila.
“Risa?”
“Iya, Risa. Dia anak yang baik, rajin juga. Setiap istirahat gua sering liat dia selalu baca buku, Risa juga sering menyabet penghargaan setiap kali ikut olimpiade.”
“Umur bener-bener gak ada yang tau. Mau muda, tua, bayi, kalau sudah waktunya kita mana bisa menghindar?" Gladys berusaha menenangkan Ashila.
“Tapi kenapa harus Risa?”
“Mungkin yang diatas lebih sayang sama Risa. Semua berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.”
“Bijak banget lo, Glad.” Ivan menatap Gladys.
“Nuhun, Van.⁴”
“Sawangsulna.”
“Anak-anak, jangan ada yang mendekati mayat Risa, bapak sudah menghubungi ambulance dan polisi untuk menindak lanjuti kasus ini,” ucap Pak Bara selaku kepala sekolah di sini.
Tidak berselang lama, polisi dan ambulans datang dan langsung memeriksa mayat tersebut. Tidak ada yang berani mendekat, atau bahkan melewati garis polisi.
Setelah itu, para petugas langsung membawa mayat Risa tersebut. Gladys merasa ada yang aneh, kenapa pihak sekolah atau bahkan murid-murid di sini tidak ada yang dimintai keterangan? Sekilas, Gladys juga melihat Pak Bara mengusap dadanya. Entahlah....
Karena kejadian hari ini, sekolah akhirnya diliburkan untuk sementara, sekiranya sampai kasus ini sudah bener-bener tuntas. Sekolah lebih mencari aman, daripada harus ada korban selanjutnya.
“Eh, ada apa ni?” ujar seorang gadis yang baru saja datang menghampiri mereka berlima.
“Itu Vell, ada korban lagi,” ucap Ashila.
Gadis itu adalah Velly, sahabat Ashila yang kini menjadi sahabat Gladys juga. Gadis itu mempunyai wajah yang sedikit bulat, juga rambut sebahu yang indah. Ivan saja terbuai oleh kecantikan Velly.
“Lagi?” tanyanya, tidak percaya.
Ashila mengangguk membalas ucapan Velly. "Iya."
“Kok bisa, sih?”
“Ya bisa lah! Ini sudah masuk bulan lagi, lo tau kan rumor itu?” tanya Ashila.
Ashila langsung mengangguk, membenarkan.
“Vell, dia Gladys. Sahabat baru kita,” ujar Ashila memperkenalkan Gladys.
“Anak baru?”
“Pindahan,” jawab Gladys. Bagi Gladys yang baru bertemu dengan Velly hari ini, gadis itu terlihat sangat jutek walau dari raut wajahnya saja.
“Hai, gua Velly,” ujar Velly ramah.
“Iya, nih. Ashila udah terima gua sebagai sahabatnya, lo mau akui gua juga nggak?” tanya Gladys sambil terkekeh.
“Santai aja kali! Gak usah tegang, rileks aja.” Velly merangkul bahu Gladys, sangat bersahabat. Wajah jutek Velly tiba-tiba sirna begitu saja, ternyata gadis ini sangat baik dan juga supel.
“Selagi lo baik, gua akan anggap lo sahabat.”
Tiba tiba, Ashila seperti menerawang sesuatu yang akan terjadi dan langsung menarik Gladys. Tidak berselang lama Kayu yang berada tepat di atas kepala Gladys jatuh, untung saja Ashila segera menarik Gladys untuk menjauh.
Braak!
“Aaaakh!” teriak Gladys setelah kayu itu jatuh.
Semua terkejut. “Lo... Kok bisa tau?” tanya Gladys.
“Ntah, yang penting lo gak apa-apa.” Ashila tersenyum.
“Makasih ya, Shil. Untung ada lo, kalau nggak gua gak tau lagi deh.”
“Iya Glad, sama-sama. Gua cuma berusaha jadi yang terbaik kok buat kalian semua. Karena cuma kalian yang gak anggap gua aneh kaya mereka.” Velly dan Gladys langsung memeluk sahabatnya itu.
Gaga dan dua temannya hanya tersenyum melihat sahabat mereka.
“Gua gak dipeluk, nih?” ucap Ivan mendramatis.
“Tuh peluk aja kayu yang barusan jatoh!” ketus Velly.
“Ogah! Mending gua peluk lo daripada kayu itu,” ucap Ivan.
“Gua lebih ogah dipeluk sama lo!”
“Udah-udah, kalian itu berantem terus kalo ketemu,” ujar Ashila melerai perdebatan antara Velly dan Ivan.
“Shil, gimana sama rencana kita?”, tanya Gladys.
“Rencana? Apa? Kok gua gak tahu. ” tanya Velly.