Misteri-5

1082 Words
Rencana? Apa? Ko gua gak tahu.” *** Velly menatap mereka satu-persatu, tidak mengerti apa yang dimaksud. Velly berganti menatap Ashila, ia meminta jawaban atas pertanyaannya. Setelah cukup lama Velly bertanya, Ashila baru menjawab rencana yang sebelumnya sudah disepakati oleh bersama. Lebih tepatnya sebuah misi penyelamatan. “Kita semua udah sepakat buat jalanin rencana ini, gua harap lo juga mau ikut serta didalamnya.” “Mau, kok. Tapi rencana apa dulu?” tanya Velly memastikan. “Jadi gini, gua punya rencana buat cari tahu apa yang sebenernya terjadi sama sekolah ini,” ujar Gladys. “Supaya di sekolah ini gak ada lagi yang mati bunuh diri kayak sekarang.” “Okey, jadi apa rencananya?” “Nanti kita omongin lagi, intinya sekarang lo mau ikut bantuin gak?” “Temen-temen gua ikut, masa gua nggak? Temen macam apa! Gua ikut lah,” ujar Velly. Lagi, tatapan mata Ashila kosong menatap ke depan. Ia seperti sedang menerawang sesuatu diluar nalar, sikap Ashila sukses membuat Gladys dan Velly menatap satu sama lain. AlamArwah Ashila berdiri sendiri di sebuah ruangan yang cukup gelap dengan aura mencekam. Ia berputar-putar untuk mencari tahu tempat apa ini, sampai di satu titik dimana ada sedikit cahaya di salah satu kamar yang berada di ruangan ini. Ashila mencoba untuk membuka knop pintu lebih lebar, tetapi aksinya terhenti ketika ada yang menepuk bahunya. Terkejut, Ashila sangat terkejut oleh tepukan itu. Karena yang dirinya tahu, hanya ada dia seorang di sini. Lalu, siapa yang menepuk pundaknya itu? Keterkejutan Ashila tidak hanya sampai disitu, ia lebih dikejutkan dengan seseorang yang menepuk bahunya barusan. Itu... Gladys? Ia ragu, apakah itu benar orang? “Glad? Lo kok ada di sini juga?” tanya Ashila. Ashila tersadar jika gadis ini ternyata bukan Gladys, Gladys masih hidup, jadi mana mungkin wajahnya sepucat ini. “Kamu siapa? Kamu bukan Gladys, tetapi kenapa kamu sangat mirip sama Gladys?” tanya Ashila. Makhluk itu tidak menjawab, ia hanya menatap Ashila seperti menyiratkan sesuatu. Tidak lama tatapannya menajam seperti ingin membunuh. Ashila berjalan mundur saat makhluk itu melangkah mendekat. “BUNUH GLADYS! ATAU AKU YANG AKAN MEMBUNUHNYA!" teriak makhluk itu. “K-kenapa harus dibunuh? Gladys baik, dia gadis yang sangat baik yang pernah saya kenal! Kamu siapa?!” “AKU MAU GLADYS MATI!” “Kena....” belum sempat Ashila melanjutkan perkataannya makhluk itu sudah menghilang. Ashila masih memikirkan penglihatannya barusan, apa yang di maksud harus membunuh Gladys? Siapa sosok makhluk itu. Gladys menggoyangkan lengan Ashila, berusaha menyadarkan lamunannya. "Shil, lo kenapa sih?” tanyanya. Ashila bingung harus menjelaskan apa dan darimana yang barusan ia lihat, ia masih tidak mengerti siapa dan apa hubungannya dia dengan Gladys. Merasa ia harus menyampaikan, akhirnya Ashila buka suara soal penglihatannya tersebut. “Tadi, gua liat wanita cantik tapi pucat di penglihatan gua. Gadis itu mirip banget sama lo, Glad.” “Mirip gua? Kok bisa?” Ashila mengedikan bahu, tanda ia juga tidak tahu. “Hanya saja gadis itu terlihat lebih muda dari lo. Yang lebih buat gua gak ngerti lagi, dia menginginkan lo... MATI.” Penjelasan dari Ashila sukses membuat semuanya terkejut, terutama Gladys. Mereka menatap Ashila seperti mencari tahu lebih jelas lagi. “Kenapa gua? Siapa gadis itu, dan kenapa dia ingin gua mati?” tanya Gladys. “Gua juga gak tau, hanya itu yang gua liat tadi.” “Terus dia bilang apa lagi?” “Setelah mengucapkan itu, dia langsung hilang. Gua gak tau dia siapa, tapi yang pasti dia itu mirip banget sama lo.” “Lo punya kembaran?” tanya Ivan. Gladys menggeleng. “Gua anak terakhir, gua cuma punya Abang dan gak punya kembaran.” “Serius? Terus siapa dong makhluk itu?” tanya Ivan. “Lo pernah kecelakaan, Glad.” Ashila berucap, membuat Gladys lagi-lagi harus merasakan sakit di kepalanya. “Argghss!” Gladys meringis sambil memegangi kepalanya. “Gladys! Kenapa, Glad?” tanya Velly panik. “Sakit, Vel! Akhh!” Velly menatap teman-temannya. “Woi bantuin kek! Temen lagi kesakitan juga!” teriak Velly. “Apa Gladys amnesia?” bisik Ivan kepada Nevan. “Mana gua tau.” Tidak lama, Gladys tidak meringis seperti tadi. Sakit di kepalanya perlahan menghilang, entah kenapa ia selalu sakit kepala seperti itu. “Lo udah nggak apa-apa?” tanya Velly. “Udah mendingan, Vell.” “Gua takut kalau sampai makhluk itu beneran ingin bunuh gua,” lirih Gladys. “Jangan takut, justru kalau kita takut mereka akan semakin menjadi.” Gaga angkat suara. “Ada kita, kita akan jaga lo. Kita gak akan biarin lo kenapa-napa.” “Ashila bener. Sesama teman, kita harus saling jaga satu sama lain. Jangan khawatir, ada gua sama yang lain juga,” ujar Gaga menenangkan. “Thanks, ya. Kalian baik banget, padahal gua baru di sini. Kalian belum tau kayak gimana aslinya gua, tapi kalian sama sekali gak permasalahin itu.” “Gua yakin lo orang baik, kalaupun lo jahat, lo gak akan mungkin celakain sahabat lo sendiri.” Velly tersenyum kepada Gladys. “Neng Gladys nu bageur, mau nggak jadi kabogoh urang?” Ivan berbicara menggunakan bahasa Sunda. Gladys terkekeh. “Ngaco lo, Van!”. “Dia ngomong apa emang, Glad?” tanya Nevan. “Ivan barusan nembak gua tuh,” ujar Gladys sambil bersedekap. Nevan langsung menoyor kepala Ivan. “Si oncom! Mana mau Gladys sama lo,” ujar Nevan. “Kan gak ada salahnya nyoba.” Ivan terkekeh. “Lo mimpi sebelum tidur, Van?” tanya Velly. Semuanya terkekeh melihat Ivan yang ternistakan. “Kalian kenapa sih! Nista banget gua di sini,” ujar Ivan. “Nyenyenye.” “Udah-udah, kasian Ivan.” Gladys terkekeh. “Sekali lagi makasih banyak, ya. Gua beruntung bisa kenal dan jadi sahabat kalian.” “Itulah gunanya sahabat Glad. Menolong saat kesusahan, dan membantu tanpa meminta imbalan,” ujar Velly. “Aaa... Beruntung gua ketemu kalian.” “Tapi, kita harus hati-hati juga, karena kita semua gak ada yang tau apa yang diinginkan oleh makhluk itu.” “Gua setuju Shil, intinya kita semua harus saling menjaga satu sama lain!" "Siap laksanakan!" ujar Gaga, Ivan dan Nevan. Ketiga gadis itu hanya terkekeh melihat tingkah ketiga sahabat lelakinya. “Besok, kita omongin lagi masalah ini. Sekaligus susun rencana atas kasus yang akan kita pecahkan,” usul Ashila yang menadapat anggukan dari semuanya. “Besok kalian boleh ke rumah gua aja, alamatnya nanti gua kirim di chat.” Gladys tersenyum. “Sekalian kenalan sama keluarga gua, hehe....” “Oke, besok kita kumpul di rumah Gladys. Karena sekolah diliburkan, sekarang kalian pulang ke habitat masing-masing ye,” ujar Velly. “Ini waktu yang tepat!” seru Gaga. Semuanya menoleh ke arah lelaki itu. “Maksudnya?” “Sekolah libur, itu artinya kita punya waktu untuk menjalankan misi,” ujar Gaga. “Setuju!” kompak semuanya. “Seenggaknya kita harus dapat bukti-bukti sekaligus petunjuk, agar kita tahu apa yang harus dilakukan kedepannya,” ujar Ashila. Semua tersenyum lalu mengangguk patuh. “Ya udah. Kalau gitu gua pulang dulu yah,” ucap Gladys. “Mau gua anterin?” tawar Gaga. “Ihiyy, gercep ya Mas!” sindir Ivan. "Berisik lo!" "Ampun, haha..." Ivan malah tertawa dibuatnya. “Gua dijemput sama abang, lain kali aja ya, Ga.” Gladys menolak secara halus. “Oh gitu, yaudah next time deh.” Gladys tersenyum. “Ya udah, gua tunggu kedatangan kalian besok!” seru Gladys sambil melambaikan tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD