Misteri-6

1091 Words
“Jadi, apa yang harus di susun buat besok?” tanya Velly. “Besok kelamaan, gimana kalau nanti malam aja,” ujar Gaga. “Lebih cepat lebih baik, sih.” “Oke, berarti nanti malam ya.” “Gimana kalau kita mulai dari sekolah dulu, kita cari tahu apa aja yang ada di sana. Selama ini kalian belum pernah nyoba buat cari tahu, kan?” tanya Gladys. “Boleh juga, tapi apa yang harus di cari?” “Apapun. mulai dari UKS, perpustakaan, ruang guru, siapa tau ada petunjuk yang bisa kita dapetin di sana.” “Setuju, kita kan ada enam orang nih, tiga tempat itu kita telusuri secara bersamaan. Satu tim dua orang, gimana?” usul Velly. “Gua sih setuju aja, yang penting kita dapat bukti.” Gaga menyetujui. “Masalahnya, nanti kita gimana cara masuknya?” tanya Ivan. “Satpam di sekolah kita kan selalu jaga walaupun libur juga, jadi gampang lah masalah itu mah.” “Fiks ya malam ini?” tanya Gladys memastikan. “Siap!” “Sekarang kita pamit pulang dulu deh, Glad. Nanti malam kumpul di sini aja,” ujar Nevan. “Boleh, dengan senang hati gua nunggu kalian di sini.” Gladys tersenyum. Mereka semua beranjak menuju keluar rumah, di mana kendaraan mereka semua terparkir di sana. “Hati-hati, guys!” teriak Gladys sambil melambaikan tangannya. --- Setelah menyusun rencana dengan sahabatnya, Gladys memutuskan untuk beristirahat sejenak. Hari ini terasa sangat melelahkan, sekaligus mengejutkan juga bagi Gladys yang baru pertama kali melihat secara langsung korban bunuh diri. Suhu di kamarnya seakan menyuruh Gladys untuk tertidur. Baiklah ia akan tidur sekejap sebelum malam tiba, sekaligus menyiapkan energi juga. Tidak lama, Gladys mulai terlelap dan berpindah haluan menuju alam mimpi. “Kamu s-siapa? Kenapa wajah kita mirip? Siapa kamu!” “KAMU HARUS MATI GLADYS!” “Apa maksud kamu, aku tidak mau mati!” “KAMU HARUS MATI! HARUS MATI!” Makhluk itu terus berjalan mendekat ke arah Gladys. Semakin dekat... makin dekat... Gladys terus berjalan mundur sambil terus merapalkan doa sebisanya, agar makhluk ini segera menghilang. Namun nihil, makhluk itu justru semakin mendekat ke arah dirinya. “Jangan mendekat, aku mohon jangan ganggu aku! Aku tidak tahu siapa kamu, tapi aku yakin kamu orang baik!” ujar Gladys sambil terus berjalan mundur. Gladys semakin berjalan mundur sambil terus mencegah makhluk itu untuk mendekat. Dugg... Sial! Gladys tidak bisa lagi berjalan karena sudah mentok tembok besar dibelakangnya. Keringat dingin mengucur deras diwajahnya. Gladys berusaha menahan rasa takutnya setengah mati. “Aku mohon, stop di situ! Apa salah aku? Siapa kamu? Aku masih mau hidup, aku gak mau mati!” teriak Gladys. Makhluk itu tidak berbicara apa-apa lagi, dia terus mendekat ke arah Gladys lalu mengulurkan tangannya seperti ingin mengajak Gladys untuk ikut ke dunianya. Semakin dekat... Semakin dekat... Gladys memejamkan matanya lalu kemudian menyilangkan kedua tangan di depan wajahnya. Tiba-tiba... “GUA GAK MAU MATI!” teriak Gladys, ia terbangun dari tidurnya. Mimpi apa gua barusan? Batin Gladys. Terdengar suara gagang pintu di buka, Gladys terus memperhatikan siapa yang membuka pintunya. Tidak lama, muncul Refo dengan raut wajah khawatir. Barulah ia bisa bernapas dengan lega ketika mengetahui siapa yang masuk. “Lo kenapa, sih? Teriak teriak gak jelas.” Munculah seorang pemuda tampan dengan muka yang di tekuk karna kesal. “Kenapa, De? Mimpi buruk lagi?” tanya Refo dengan raut wajah panik. Sudah dua kali ia dikejutkan dengan teriakan melengking dari adiknya. “Gua, mimpi bang.” “Mimpi apalagi? Mimpi gadis yang mukanya hancur lagi?” Gladys langsung menggelengkan kepalanya cepat. “Bukan. Gadis itu mukanya gak hancur, tapi serem banget Bang. Yang buat gua heran, kenapa gua ngerasa makhluk itu punya wajah yang sangat mirip sama gua!” “Udah, udah. Itu cuma mimpi,” ujar Refo menenangkan. “Nggak, Bang! Makhluk itu pengen gua mati, gua takut kalau itu benar terjadi!” ujar Gladys. “Dia kayak pengen ajak gua buat ikut sama dia, gua takut banget Bang.” “Mimpi itu cuma bunga tidur, De. Jangan terlalu dipikirin,” ujar Refo. “Lo tahu sesuatu nggak, sih? Abang tahu gak apa yang terjadi sama Adis? Kenapa Adis selalu sakit kepala tiba-tiba, Adis merasa ada yang gak beres sama ingatan Adis," ujar Gladys dengan deru napas menggebu. “Lo ngomong apa, sih? Gak terjadi apa-apa sama lo. Lo sehat, De.” “Adis takut, Bang...” ujar Gladys lirih. Refo merengkuh tubuh adiknya, lalu mengusap-usap punggungnya. “Ada Abang, Abang pasti jagain Adis. Jangan terlalu dipikirin soal mimpi tadi.” “Serius lo gak tau dia siapa, Bang?” “Ya nggak lah, De. Kan yang mimpi itu lo, bukan gua. Jadi, gua mana tahu dia siapa.” Refo masih mengusap-usap punggung adiknya. Gladys mendongak menatap abangnya. “Lo... Nggak nutupin sesuatu dari gua kan, Bang?” “Nggak, Gladys!” tekan Refo. Ia terus memperhatikan wajah abangnya lekat. “Biasa aja dong liat gua nya, naksir aja baru tahu rasa lo.” “Idih, kepedean banget lo, Bang!” “Pokonya kalau sampai lo naksir sama gua, gua gak mau tanggung jawab ya.” “Terserah!” --- Tidak lama, muncul Tasya dibalik pintu. Wanita itu tersenyum ramah kepada kedua anaknya. “Abang kenapa ada di sini?” tanya Tasya. “Itu Ma, tadi Gladys teriak-teriak, makanya Abang samperin.” “Adis teriak? Kok Mama gak denger?” “Gak apa-apa, Ma. Lupain.” Tasya mengangguk. “Oh, ya udah. Adis, ada temen-temen kamu tuh di depan.” “Oh, iya. Adis lupa, makasih Ma. Mereka udah lama datang?” tanya Gladys yang buru-buru meloncat dari kasurnya. “Daritadi sih, tapi mamah buatin mereka minuman dulu, terus bangunin kamu.” “Mau kemana lo malem-malem gini?” tanya Refo. “Pengen tau? Gak usah kepo deh sama urusan anak muda!” ujar Gladys sambil melenggang ke kamar mandi. “s**t! Gua juga masih muda woi!” teriak Refo. “Emang siapa yang bilang lo tua?”ledek Gladys. “s****n, lo!” “Udah, udah. Abang keluar sana. Adis jangan lama-lama ya, sayang. Kasian mereka udah nunggu.” “Iya, Ma. Bentar lagi Adis keluar!” teriak Gladys di kamar mandi. Setelah selesai mengganti bajunya, Gladys langsung turun menemui teman-temannya yang sudah menunggu. Semangat Gladys! “Kalian udah lama? Sorry ya, gua ketiduran.” Gladys terkekeh. “Lama banget, untung gak lumutan gua nunggu lo,” ujar Ivan lebay. “Gak usah lebay, kadal!” Velly menoyor lengan Ivan. “Apa sih, Vell. Hati-hati naksir lo sama gua,” ujar Ivan menarik turunkan alisnya. “Halu!” “Berantem, terooos!” ujar Nevan. “Udah gua bilang, masalah rumah tangga gak usah dibawa-bawa ke sini.” “Diem lo, Nev!” tukas Velly. “Sekali lagi, sorry.” Gladys merasa tidak enak. “Santai aja kali, Glad,” ucap Gaga. “Kalau gak salah, tadi gua denger lo teriak. Kenapa, Glad?” tanya Gaga. “Kalian denger?” Mereka semua mengangguk. “Ada apa?” tanya Ashila. “Gua tadi mimpi, Shil. Kayaknya gadis di mimpi gua tadi, adalah gadis yang ada di penglihatan lo.” Gladys mulai bercerita. “Dia mirip banget sama gua, umurnya juga lebih muda dari gua. Dia juga menginginkan gua mati.” “Iya, itu pasti dia. Apa gadis itu ada hubungannya sama keluarga lo?” “Hubungan? Maksudnya?” tanya Gladys. “Mungkin aja dia ada hubungannya sama keluarga lo, karena gak mungkin tiba-tiba makhluk itu pengen lo mati tanpa ada sebab apapun.” Benar juga apa yang dikatakan oleh Ashila, tapi apa itu benar? Gladys tidak tahu apa-apa soal itu. “Gua gak tahu, Shil.” Lalu muncul wanita paruh baya dari arah dapur, ia tersenyum sangat manis kepada mereka semua. “Silahkan di minum,” ujar Tasya. “Mamah! Kenalin, mereka teman-teman Adis di sekolah baru, Ma.” “Mamah udah tahu, tadi sempet kenalan juga sama mereka.” Tasya tersenyum manis. “Bener tuh Glad, kita udah kenal kok sama Tante Tasya.” Ashila balas tersenyum. Namun tiba-tiba, Ashila seperti menerawang sesuatu kembali saat melihat Tasya. Senyuman Tasya mirip dengan....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD