Senyuman itu, mirip sekali dengan senyuman gadis yang berada di penglihatannya. Ashila beralih menatap Gladys yang tengah tersenyum, mungkin Ashila salah tebak, senyum Gladys sangat mirip dengan mamahnya.
“Lo kenapa, Shil?” tanya Velly yang berada di samping Ashila.
“Nggak kenapa-napa, Vell. Tante Tasya cantik banget,” puji Ashila.
Tasya terkekeh. “Bisa aja kamu, Tante sudah tua tau.”
“Shila bener tan, Tante cantik banget.” Gaga menimpali.
“Duh, bisa-bisa Tante terbang nih kalau dipuji seperti ini.” Tasya tertawa lalu diikuti oleh semuanya.
“Pantes anaknya bibit unggul, tempat prosesnya sebagus ini sih.” Ivan terkekeh.
“Sudah, sudah. Kalian lanjutkan deh, Tante mau ke kamar dulu.”
“Iya, tante.”
“Adis kalau mau keluar, pulangnya jangan malem-malem,” ujar Tasya.
“Siap, Ma.”
Sepeninggal Tasya, barulah mereka semua memulai pembicaraan tentang misi yang akan dijalankan malam ini.
“Tunggu apalagi, ayo berangkat sekarang. Nanti keburu larut,” ujar Gaga.
“Persiapan kalian gimana? Di periksa dulu, takut ada yang ketinggalan.”
“Senter?” tanya Ashila.
“Ada!”
“Pokoknya kita harus tetap saling komunikasi, kita gak tahu gimana keadaan sekolah saat malam, untuk itu tetap hati-hati.”
“Saling jaga satu sama lain, yang cowok jagain cewek.” Ashila mengusulkan.
“Lo cowok bukan, Van?” tanya Velly menyenggol lengan Ivan.
“Cowok lah! Gak percaya lo, mau gua buktiin?” balas Ivan.
“Gak usah k*****t!” semprot Velly.
“Serius, mau gua buktiin nggak?” Ivan bersiap membuka celana. Dasar gubluk!
“Si pea!” Nevan menoyor kepala Ivan. “Yang ada nanti mereka kaget liat punya lo!”
“Lagian Velly gak percaya banget sama kelakian gua.”
“Gua kan cuma becanda! Serius amat lo nanggepinnya!” geram Ashila.
“Udah, stop! Sampai kapan mau berantem?” Velly dan Ivan langsung membungkam mulutnya.
“Maaf, Shil.”
“Karena semuanya udah siap, ayo berangkat sekarang!”
“Lets go!”
Baru satu langkah menuju pintu keluar, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Mereka sontak menyilangkan kedua tangan masing-masing. Lampu di ruang tamu Gladys seperti ada yang memainkan, mati kemudian hidup kembali, seperti itu terus.
Brakk!
Pintu depan tiba-tiba terbuka sangat lebar dengan sendirinya, membuat mereka semua terkejut. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba sekali. Seakan ada yang tidak mendukung dengan rencana mereka ini.
“Ini kenapa, Shil?! Kenapa anginnya kenceng banget kayak gini!” teriak Gladys.
“Ini ulah makhluk itu, Glad. Dia seperti tidak mendukung dengan rencana yang mau kita jalankan!” balas Ashila yang melihat makhluk itu berada tidak jauh dari mereka.
“Kenapa dia menghalangi kita? Padahal kan niat kita baik, Shil.”
“Gua juga nggak tahu, dia seperti gak suka sama misi penyelamatan kita Glad.”
“Aku mohon! Biarkan kami menyelesaikan misi ini, kami tidak mau ada korban lagi. Kalau itu ulah kamu, aku mohon stop untuk ganggu sekolah kami!” teriak Gladys kepada makhluk yang tidak bisa dilihatnya.
“Aku mohon, jangan halangi niat baik kami semua!”
Perlahan, angin yang tadinya bertiup sangat kencang berhenti seketika. Sepertinya makhluk itu sudah pergi dari hadapan mereka semua. Gladys membenarkan rambutnya yang tertiup angin.
“Kita gak boleh berhenti. Gua yakin makhluk itu baik, hanya saja ada urusan yang sepertinya belum selesai di dunia. Gua gak tahu kenapa gua punya pikiran seperti itu, gua harap kita bisa segera memecahkan misteri ini,” ujar Gladys.
“Kita lanjutin, ya?” tanya Gladys.
Ashila memperhatikan wajah sahabat-sahabatnya satu persatu dengan raut muka yang seakan "Gimana mau lanjut, gak?"
“Lanjut lah!” ujar semuanya serempak.
“Gua suka kekompakan kalian!” Gladys terkekeh.
Setelah semua sudah setuju, akhirnya mereka memutuskan untuk segera menuju sekolah yang penuh misteri.
“Yaudah, ayo berangkat.”
Mereka semua berangkat menggunakan mobil milik Gaga. Karena jarak dari rumah Gladys ke sekolah lumayan dekat, hanya dengan waktu lima belas menit mereka sudah sampai di depan gerbang SMA Kebangsaan.
Baru saja turun dari mobil, Gladys merasa menginjak sesuatu yang aneh. Ia mengarahkan senternya ke bawah, untuk mengetahui apa yang barusan dirinya injak. Sesuatu yang kental dan sangat bau amis.
“Darah? Darah siapa nih?” tanya Gladys.
“Mungkin darah hewan yang mati, gak usah terlalu cemas kayak gitu,” ujar Gaga berusaha santai.
“Setuju, Ga. Palingan juga darah ayam, gak usah parno kayak gitu deh,” timpal Ivan enteng.
“Sok banget lo! Aslinya lo juga takut kan?” tuduh Nevan.
“Ngga dong, kan gua udah cees sama penunggu di sini,” ujar Ivan lagi.
“Halah! Palingan juga pas di samperin lo yang ngibrit duluan!”
“Kaga lah!” bantah Ivan. “Emangnya gua Velly, yang takut sama hantu.”
“Heh! Apa-apaan lo, kenapa jadi bawa-bawa gua!” sentak Velly.
“Ngapain bawa-bawa lo, berat kali Vell.” Ingin sekali rasanya Velly menyumpal mulut Ivan menggunakan kaos kakinya.
“Berisik! Ini kapan masuknya?” tanya Gladys.
“Hampura, slur!” ujar Ivan.
"Yaudah, ayo masuk. Nanti keburu larut."
Pemandangan yang pertama dilihat adalah gelap, tidak ada cahaya sama sekali yang menerangi, pohon beringin yang menjulang tinggi semakin menambah kesan horor sekolah ini. SMA Kebangsaan terlihat sangat menyeramkan ketika malam hari.
Setelah berada di dalam sekolah, mereka semua berpencar menjadi tiga kelompok. Ashila dengan Nevan menuju ke gudang sekolah, Gladys dan Gaga menuju ke perpustakaan sekolah, sedangkan Ivan dan Velly menuju ke ruang guru, untuk mengetahui sejarah sekolah ini.
---
“Nev, lo hati-hati karna mereka banyak banget disini. Mereka gak suka dengan kedatangan kita,” ujar Ashila kepada Nevan. Hanya Ashila yang bisa melihat mereka.
“Iya, Shil. Lo juga hati-hati, gua gak bisa liat mereka, jadi gua gak bisa apa-apa.”
“Iya, Nev.”
Seketika angin bertiup sangat kencang, meja-meja tidak terpakai di gudang seperti ada yang mendorong ke arah mereka, untung saja tidak terjadi apa-apa kepada keduanya. Hanya modal penerangan dari senter mereka berusaha untuk tetap waspada, karena gelap sekali.
“Pergi kamu!” teriak Ashila. Nevan terkejut, ia kemudian berdiri di samping Ashila.
“Mereka ada?” bisik Nevan. Ashila mengangguk membenarkan.
“UNTUK APA KALIAN DATANG KE SINI!” geram makhluk itu. Ia terlihat sangat marah dengan kehadiran keduanya di sini.
“Kami ingin menyelamatkan sekolah kami dari kalian semua! Apa yang membuat kamu masih gentayangan di sini!” teriak Ashila.
"TINGGALAKAN TEMPAT INI SEKARANG JUGA! ATAU KALIAN SEMUA AKAN MATI!” makhluk itu menghampiri Ashila dan mulai mencekiknya.
Nevan berusaha menarik Ashila yang seperti sudah kehabisan oksigen, namun justru tubuhnya malah terpental jauh. Nevan meringis karena benturan yang cukup keras, ia berusaha bangkit dan menghampiri Ashila.
Ashila terengah-engah sambil memegangi lehernya. Ashila kembali menjerit ketika makhluk itu mulai menyerang dirinya, Nevan bingung harus berbuat apa. Ia merasa tidak berguna jadi lelaki.
Sedetik kemudian wajah putih Ashila dihiasi oleh cairan berwarna merah, darah. Karena makhluk itu mencakar Ashila sambil terus mencekiknya.
“ASHILA!” teriak Nevan.
“Men-jauh Nev!” ujar Ashila terpotong-potong.
“Shil, doa Shil!” teriak Nevan, berharap Ashila bisa mendengarnya.
Ashila memejamkan matanya, mulutnya merapalkan doa-doa yang ia bisa. Lalu tidak lama cekikan di lehernya mengendur, makhluk itu kemudian menghilang.
Ashila terkulai lemas dilantai gudang, Nevan segera menghampirinya. “Shila?! Lo masih sadar kan? Shil?!” Nevan menepuk-nepuk pipi Ashila.
“Gua masih sadar kok, gua gak apa-apa Nev. Kita keluar sekarang. Gua khawatir makhluk itu muncul lagi terus nyerang kita.” Ashila berusaha bangkit dibantu oleh Nevan.
“Lo serius nggak apa-apa? Kita ke rumah sakit aja ya?” Ashila tersenyum.
“Gua baik-baik aja, Nev. Bantu gua obatin lukanya di UKS, ya?” pinta Ashila. Nevan langsung mengangguk.
"Iya, gua obatin lo di UKS." Nevan meletakannya tangannya dikedua bahu Ashila untuk membantu gadis itu berjalan menuju UKS.