Misteri-8

1002 Words
“Gelap banget, Ga. Auranya juga mencekam banget, disini emang gelap banget ya kalau malam?” tanya Gladys. “Mungkin, karena ini pertama kalinya juga gua ke perpus waktu malam. Lo masih mau lanjutin, lo berani?” Gladys mengarahkan senternya ke wajah Gaga, terdapat senyum meremehkan di sana. “Lo ngeremehin gua?” “Gua berani, lo pikir gua takut?” ujar Gladys dengan sangat percaya diri. “Ya, siapa tau aja lo takut.” Gladys mendesis kesal. Gaga kemudian memalingkan wajah tampannya. Gladys yang tidak suka diremehkan, lantas memukul bahu Gaga keras. “Gak usah ngeselin lo jadi cowok! Gua tampol baru tau rasa lo,” omel Gladys disela-sela suasana mencekam. “Jangan mukul dong, ini kdrt namanya.” Gaga terkekeh. “Gak usah takut, ada gua di sini, gua bakal jagain lo.” Gaga menaik turunkan alisnya sambil tersenyum sangat manis. “Serius, Gaga! Hari udah semakin larut, jangan sia-siakan waktu! Time is money,” ujar Gladys. “Iya, iya. Jadi apa yang harus kita cari di sini?” tanya Gaga. “Cari petunjuk, apapun yang menurut lo aneh, kasih tau sama gua.” “Kalau perasaan gua yang mulai aneh sama lo gimana?” “Gak usah bucin, sekarang bukan waktu yang tepat!” sentak Gladys. “Iya, iya. Marah teroos!” “Udah ayo buruan masuk. Lo duluan,” ujar Gladys. “Leadis first,” Gaga tersenyum miring. “Untuk saat ini, gua akan ngalah. Boy first.” Gladys tersenyum. “Bilang aja takut,” ledek Gaga. “Bacot!” Gladys menepuk bahu Gaga. Mereka terus menelusuri setiap sudut dari rak penyimpanan buku tersebut, perpustakaannya sangat bersih dan terawat. Namun, kenapa tidak diberi lampu atau alat penerangan apapun di sini?  Gladys berusaha meraih buku yang berada tepat di atasnya, hanya ada satu buku itu saja di sana. Banyak buku lain, namun buku itu justru hanya sendiri di atas rak paling tinggi. Gladys masih berusaha meraih buku itu, namun dengan tinggi badan yang pas-pasan, ia tidak bisa meraih buku itu. Gaga yang berada disampingnya justru tertawa geli memperhatikan Gladys yang meloncat-loncat. “Kalo butuh bantuan bilang dong,” ucap Gaga sambil terkekeh. “Ya harusnya lo tau kalau gua butuh bantuan! Bukannya bantuin, malah liatin doang, ngetawain lagi,” sewot Gladys. “Mana gua tau lo butuh bantuan kalau nggak ngomong.” “Berisik! Buruan ambilin bukunya," ujar Gladys. Gaga mengambil buku itu dan mulai meniup-niup karena bukunya tertutup oleh debu yang tebal. Namun saat hendak membuka lembarannya, tiba-tiba saja pintu perpustakaan tertutup dengan kerasnya. Vas bunga yang berada di meja pengawas perpus jatuh dengan sendirinya, ada apa ini? Gladys memegang lengan baju Gaga kuat, Gaga membalas dengan cara memegang pergelangan tangan gadis itu. Tidak lama, angin kembali bertiup sangat kencang disusul oleh hujan yang turun dengan sangat derasnya. Jendela terbuka dan tertutup dengan suara nyaring diterpa angin. “Ada apa sih, Ga? Kenapa tiba-tiba banget turun hujan kayak gini?” tanya Gladys. “Gua gak tau, Dis. Kayaknya mulai gak beres, mending kita buru-buru keluar, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” Gladys menganggukkan kepalanya. Gaga mengapit lengan Gladys dan membawa gadis itu keluar dari perpustakaan. --- Baru membuka pintu ruang guru saja bulu kuduk Velly langsung pada berdiri, bagaimana kalau masuk. Velly langsung mengumpat dibelakang tubuh Ivan. Ia mendorong Ivan untuk masuk duluan. “Lo masuk duluan, gua ikutin lo di belakang.” “Tadi bilangnya gak takut, kok sekarang malah ngumpet-ngumpet kayak gini,” ledek Ivan. “Gua gak takut, gua cuma waspada!” “Alasan.” “Ya udah coba masuk duluan sana kalau berani,” tantang Ivan. “Gak usah ngeledek, Van! Mau gua sleding lo?” Velly bersiap untuk melakukan aksinya. “Eh, nggak! Lo mah gak bisa di ajak becanda.” “Becanda ada waktunya, tapi sekarang bukan waktu yang tepat buat becanda, Van!” Tiba-tiba lampu berwarna kuning, satu-satunya penerangan di ruang guru berkedip-kedip. Hujan yang sangat deras membuat suasana menjadi lebih horor. “Guru kita gak punya duit banget apa gimana, sih? Masa pake lampu yang warnanya kuning kayak gitu,” ujar Ivan. “Berisik, Van. Ini gimana, kita masuk atau jangan?” “Masuk. Ini tugas kita, mereka juga pasti ngalamin hal yang sama seperti ini, jadi gak usah takut ya.” Ivan tersenyum. “Van, lampunya kok kedip-kedip terus sih. Gua jadi sedikit takut kalau gini ceritanya,” ujar Velly yang masih berada dibelakang tubuh Ivan. “Gua rasa mereka belum bayar listrik, Vell. Makanya kedip-kedip terus kayak gitu,” balas Ivan. “Lo bisa gak sih, serius sebentar aja! Gua beneran takut ini,” omel Velly. “Biar gak tegang, Vell. Gak usah takut, kan ada Abang Ivan.” Ivan menepuk dadanya sambil tertawa. “Bacot! Ya udah sana masuk lo,” ujar Velly. “Masuk ke mana?” Velly menepuk bahu Ivan “Gak lucu Van, buruan sana masuk!” “Gandeng tangan dong, Vell.” Velly menatap Ivan jengah, ia kemudian melangkah masuk terlebih dahulu tanpa mempedulikan ocehan tak penting Ivan. “Banyak bacot lo, Van!” Ivan menatap miris ke arah tangannya yang mengambang tanpa ada yang membalas. “Gak apa-apa, nanti coba lagi.” Ivan kemudian ikut masuk ke dalam ruangan. “Velly tunggu!” teriak Ivan, ia berlari kecil menyusul Velly dari belakang. Keduanya mulai menelusuri, mencoba mencari petunjuk yang ada di ruangan ini. Velly terus mengobrak-abrik berkas yang berada di meja, namun tidak menemukan bukti apapun. Ivan mencari di rak penyimpanan barang milik guru, namun tidak menemukan apapun juga di sana. “Gua gak nemu petunjuk apapun, Vell,” ujar Ivan. “Sama, gua juga gak nemu apa-apa,” sahut Velly. “Ini kita yang kurang teliti, apa emang gak ada petunjuk apapun di sini?” “Kayaknya emang gak ada apa-apa deh, Vell.” Ivan menghampiri Velly. “Kira-kira, yang lain ngalamin hal yang sama juga nggak, ya?” tanya Ivan. “Mana gua tau! Gua kan bukan peramal,” balas Velly. “Santai atuh,” ujar Ivan. “Neng Velly ngomel-ngomel mulu dah. Bang Ivan kan cuma nanya.” Velly memutar bola matanya malas. “Berisik, lo!” “Terus gimana?” “Gimana apanya?” “Kita gak dapet bukti apa-apa, itu artinya kita harus pulang dengan tangan kosong dong?” “Ya mau gimana lagi? Semoga aja yang lain dapet petunjuk,” balas Velly. “Vell, gua lemes nih gara-gara di ketusin mulu sama lo.” “Lebay! Ayo keluar, malam udah makin larut, gua gak mau terjadi apa-apa sama kita semua di sini.” Velly menarik tangan Ivan. Namun, saat hendak membuka knop, pintu tertutup dengan sendirinya. Karena terkejut, Velly langsung melepaskan tangan Ivan, dan mengumpat kembali di punggung lelaki itu. Ivan hanya terkekeh geli melihat tingkah ajaib Velly. Ivan memegang pergelangan tangan Velly, mengusapnya pelan. “Gak ada apa-apa, Vell. Ayo keluar,” ajak Ivan. “Pintunya kok kebanting sendiri sih, Van?” tanya Velly. “Paling juga angin,” sahut Ivan, santai. “Hmm, bisa jadi sih.” Velly bergumam. “Ayo buruan keluar, sebelum pintunya ketutup lagi.” Velly langsung melenggang meninggalkan Ivan yang masih diam di tempat. Ivan geleng-geleng kepala sambil terkekeh, kemudian ia menyusul Velly yang berjalan di depannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD