Kamu sebuat ia Ibu sebab dia sungguh luar biasa
_________
"Kenapa Mama jarang syuting?" aku ingat saat aku baru masuk SMP, di suatu waktu aku serius menayakan perihal ini kepada perempuan yang telah melahirkanku. Entah mengapa hari itu, aku benar-benar dihantui rasa penasaran.
Mama adalah artis yang naik daun pasca menikah. Satu film layar lebar soal perjuangan wanita single parent mengurusi putra berkebutuhan khusus merupakan pintu gerbang karir cemerlangnya. Usiaku tujuh tahun saat itu dan Mama sukses membawa pulang piala citra sebagai pemeran wanita terbaik. Untuk kali pertama, aku melihat Mama menangis sambil tertawa. Demi Tuhan, walau aku bukan anak alim, satu-satunya kesempatan bagiku menyaksikan air mata milik Mama ialah saat di film.
Mamaku sangat kuat. Sungguh. Dan dunia entertainment ialah sumber kegembiraannya.
"Seno nggak suka Mama temenin di rumah?" ujarnya menjawab tanyaku dengan pertanyaan lain.
"Bukan. Seno cuma nggak suka jadi penghalang buat Mama."
"Loh, kok bicaranya ngelantur gitu?"
"Seno tahu akting itu passion Mama. Tapi, gara-gara nilai Seno jelek mulu, karena Seno bandel di sekolah Mama jadi nggak pergi kemana-mana. Mama jadi harus terjebak ngurusin masalah Seno, nggak ada waktu buat ambil job."
"Hahaha. Ih, tanda-tanda udah mau baligh nih anak Mama," ujarnya justru bergurau. Sejak kapan mimpi basah dan tumbuh jakun diganti sama perkataan macam begitu?
"Ma!" tegurku tak ingin melanjutkan basa-basi konyolnya.
"Mama seneng kok di rumah sama Seno. Mama kan jadi ngerti kalau Seno nggak doyan cokelat, Mama tahu Seno sukanya sarapan nasi goreng, suka nonton Sherlock Holmes tapi nggak tertarik jadi Pengacara atau Detektif. Mama juga tahu kalau temennya Seno cuma Garin," Mama menjeda perkataannya, melihat responku yang sedikit cemberut mendengar penjelasannya.
"Mungkin Mama memang lebih dulu kenal akting daripada Seno. Tapi, nggak ada satu pun hal yang bisa menggeser posisi Seno di hati Mama begitu Seno hadir di hidup Mama.
"Di sini sama Seno, Mama selalu menikmati setiap detiknya," aku menubruk tubuh ramping Mama. Memeluk damai bahu perempuan paling berarti di hidupku. Mamaku, aku sayang sekali.
Mengelus punggung bergetarku lembut, Mama masih sempat terkekeh menyebalkan di situasi emosional ini. "Lagian kalau Mama kerja terus kesenengan Papa ntar, uangnya nggak kepake."
Venola, nama Mama sangat sederhana tetapi rasa kasihnya begitu luar biasa. Sudah menjadi perempuan kecintaanku, terima kasih.
***
Terduduk sejam lebih di depan pintu bercat putih. Aku menekuk lutut, menelungkupkan wajah di atas lekukan tangan. Mama tak kunjung datang. Aku, butuh sokongan. Dan singgahnya usapan sejuk telapak tangan di pangkal kepala adalah kode yang cukup menyedot fokusku.
Tersenyum lega, aku menyongsong perempuan bergaun ungu nan memesona, demi tenggelam dalam dekap kerinduan.
"Tolong, Ma. Tolongin Seno sekali ini aja?”
Mengusap punggung berkeringat dan berguncangku, aku sadar Mama lebih kuasa dariku. "Seno beneran sayang Nura?"
Aku mengangguk. Bukan pelarian, aku peduli padanya sebagai Fenura bukan Eleona. "Mama nggak bisa bantu Seno menang dari Papa tapi, Mama bakalan berusaha membuka jalan Seno untuk juara di suatu hari nanti. Jawab satu pertanyaan Mama, sekarang apa Seno bahagia?"
"Enggak." Air mata bergulir halus menjejaki tulang hidungku. "Seno sedih karena udah ninggalin Mama dan Seno ngerasa nggak tenang saat nggak tahu kondisi Nura. Seno mau lihat kalian bahagia, dengan begitu Seno nyaman."
"Oke. Kita berangkat sekarang, yah."
***
Ketika Mama menyinggung soal membuka jalan, aku tak menduga kalau itu berarti dia rela menjatuhkan harga diri. Berlutut di depan seseorang, aku tidak mengharapkan pengorbanan macam itu.
"Pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya mungkin Ibu pegang kebenarannya. Tapi, putra saya adalah jenis buah yang akan tumbuh tanpa pengaruh dari siapa pun. Seseorang berbuat salah, banyak orang nggak mengakui kekeliruan itu. Dan tak sedikit juga hati mengeras walau jutaan maaf terucap.
"Suami saya bukan orang baik. Saya penuh kekurangan. Lahir di tengah manusia seperti kami, saya sangat bangga karena Seno paham bentuk ketulusan. Bu Laras, saya nggak meminta Ibu memaafkan perbuatan kami. Saya hanya berharap sedikit saja kesempatan untuk Seno."
"Jadi intinya?" Bu Laras, melipat lengan di d**a. Tidak terganggu sedikit pun akan posisinya yang bak Tuhan.
"Biarkan anak-anak menentukan jalannya. Sewaktu mereka merasa nyaman, kita seenggaknya bisa memberi ruang. Nggak semua orang yang saling mencintai menjajakan kaki di pelaminan. Tak semua manusia mencintai bisa menjodohi. Ibu boleh mempertahankan kebencian terhadap kami tapi, tolong jangan juga tolak cinta yang datang."
"Saya mohon, satu kesempatan saja. Biarkan putra saya membuktikan jika kebencian bukan untuk diturunkan." Mama tak menangkupkan tangan kepada siapa pun namun demi aku dia mengiba di kaki orang lain. Maaf, Ma. Seno jahat yah?
"Akan timbul skandal besar kalau sampai media mengendus berita ini. Artis sekelas Venola mempermalukan diri demi putranya.
Hm, kabar soal Anda selalu menarik untuk diikuti. Sayangnya Anda terjebak dengan keluarga yang b****k. Maaf, kesakitan ini terlalu dalam. Tapi, Nura titip ini buat kekasih tersembunyinya, katanya."
Melemparkan selembar kertas ke udara, Bu Laras lantas menutup rapat pintu. Menyisakan aku dan Mama yang kemudian berangkulan erat.
***