Bab 18

681 Words
Cinta sangatlah utama bagi cewek. Seolah mereka hidup hanya untuk bercengkerama bersama kasih sayang. Perasaan teramat mendominasi hati rapuh mereka. Saat aku bilang tak lagi punya stok cinta bukan berarti hatiku membekukan?  Sebulan berlalu sejak peristiwa di dekat kolam itu. Nura tidak terlihat di sekolah atau di mana pun selepas mengestafet jabatannya di tubuh Osis sedari minggu kemarin. Beberapa temannya bilang dia absen sakit. Handphonenya? Mati. Rumahnya?  Aku yang mati jika masuk ke sana. Tapi, aku sadar Nura adalah cewek kuat. Nura bukan jenis cewek yang sudi kalah dari batuk-pilek. Nura, sepanjang penelusuranku ia pun tak punya riwayat penyakit berbahaya kecuali hilang ingatan sementara yang ia dapat dari perkara satu setengah tahun lalu. Kejadian yang menjadi alasan aku terlibat di hidupnya. Dan tiba-tiba aku ditinju kecemasan kalau-kalau dia tersadar mengenai sesuatu. Ibunya juga izin beberapa hari ini. Apa ada yang kukaburkan?  Melongok ke bawah tangga, awal ajaran baru semester lalu ialah kali pertama kami saling bertatap muka. Di undakan ke empat dari total 20 anak tangga yang menghubungkan lantai pertama untuk kelas IPS dan lantai 2 untuk kelas IPA. Aku menyapanya secara langsung. Entah kenangan mana yang diingat Nura tentangku tapi, aku pribadi selalu segar menemukan sosoknya yang tengah terbaring bersama selang oksigen, perban luka dan ketidaksadaran diri.  Malam itu seorang gadis bahkan tak kuasa menghadiri pemakaman sang ayah. Fenura Alyanindira, aku menyaksikannya menangis seolah esok kiamat saat ia terbangun dari tidur satu bulannya dan mendapati dunia tak lagi serupa.  Untuk pertama kalinya aku merasa iba. Mengutuk kesalahan yang Papaku perbuat. Aku sungguh tidak ingin melihat air mata mengalir di wajah Nura lagi. Gadis itu pantas bahagia meski aku harus mempertaruhkan segalanya.  "Kamu." Menyudahi kelanaku di alam memori, aku mendongak serta membulatkan mata terkejut. Beliau menyapakukan?  Setelah sekian lama.  "Yah? Apa saya–" "Urus hidup kamu sendiri. Jangan sok jadi pahlawan dan berhenti mengintili putri saya!” Bu Laras, Bundanya Nura mengangsurkan sebuah ponsel kepadaku. "Taruh di ruang guru kalau sudah selesai!”  Membagi perhatian antara handphone putih dan langkah menjauh Bu Laras. Tampaknya maafnya memang akan sangat sulit didapat.  Menghidupkan tombol power di tengah layar bagian bawah, menu utamanya menampilkan icon hasil rekaman. Hanya ada satu, berdurasi 7 menit 57 detik tertanggal 6 hari lalu. Menyentuhnya dengan ujung telunjuk, aku mendengarkan melalui headset.  "Hanya jika Anda kecolongan," ini suara Papa. Dia menelepon Bundanya Nura?  "Putra saya dan anak Anda sepertinya punya suatu ikatan. Sebenarnya saya nggak terlalu tertarik mengurusi persoalan remaja macam begini tapi, rasanya sudah terlalu banyak waktu yang putra saya buang sia-sia. Kejadian tahun silam, bagaimanapun juga Pengadilan memutuskannya sebagai kasus kecelakaan lalu lintas." "Hanya setelah Pengacara tanpa moral layaknya diri Anda ikut campur. Saya paham hukum di negeri ini takluk oleh apa tapi, amat disayangkan orang-orang picik sekelas Anda masih dipelihara, dibiarkan berkeliaran di negara ini. "Tuan Andri Raga yang terhormat, sungguh sepantasnya Anda malu karena telah mencoreng institusi Anda." "Ibu Laras, saya hanya menjalankan peran saya sebagai pihak pembela. Saya mengumpulkan bukti, menyampaikan pembelaan. Masalah kalah atau menang, Hakim yang mengetuknya. Dan Arkha Rega Wirama memang tak membunuh siapa pun. Pak Jun, terbukti menabrak pembatas jalan. Saudara saya hanyalah pengendara kurang beruntung yang terkena imbas lakalantas tersebut." "Pengendara kurang beruntung yang mujurnya memiliki adik yang sanggup menghalalkan segala cara demi membebaskan kliennya dari tuduhan. Saya akui Anda hebat, pamor Anda terlibat dalam kasus hukum petinggi politisi sangatlah mengharumkan. Menyogok sana-sini tentu perkara yang mudah. Bagaimanapun juga kebenaran di mata Anda kalah telak dari kebebasan klien Anda." "Anda boleh menilai bahkan menghakimi. Tapi satu, bagi kami tak ada kebenaran yang sungguh tepat. Sekalipun klien kami bersalah bukan kemutlakan bila korban selalu benar. Mereka memegang hak dan ketika hak-hak tersebut menghantarkan mereka ke gerbang bebas, orang-orang seperti Anda langsung kalang kabut. Ah, oleh karena penilaian Anda terhadap saya sungguh buruk alangkah baiknya kita memang tak usah berurusan. Saya percaya Anda ibu sekaligus guru yang hebat. Untuk menyikapi permasalahan di antara kita, Anda tentu sanggup membuat pilihan yang berlaba." Detik-detik berikutnya merekam senyap. Meloloskan penyambung suara dari telinga, aku lantas menjambak surai gemas. Papa mengulang kesalahan yang sama. Keterlaluan! Dia menganggapku angin lalu. Papa tak mungkin sudi mendengar, aku butuh bantuan seseorang. Bertarung sendiri adalah keluputanku.  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD