Bab 17

1150 Words
Jatuh cinta memang tak pernah bisa diterka apalagi dicegah __________ Memacu matic merah mengkilapku 70 km/jam aku menebas hujan tanpa notifikasi khas megapolitan. Aku menahan keras benakku supaya kosong, bahkan tat kala rodanya menggelinding memasuki kawasan Altair yang berangin, pohon-pohon mahoni yang berjajar sepanjang garis parkir belum sanggup mengubah niatku.  Tidak! Berpikir akan menjerumuskanku ke sisi mekanika yang aku tak berharap mampu menduganya. Efek berbicara dengan Papa, hasil buruk balapan semalam meski terlihat sudah tuntas, cemas itu tak mudah hilang, belum lagi persoalan Garin yang mungkin bertikai dengan Harby, dan tentu saja tentang Odessa. Topik-topik tesebut hilir mudik bagai komedi putar dalam rongga sesak benakku. s**l sekali!  "Sen!" mengabaikan rangakian hujan, aku mengeloyor melewati Garin yang nyatanya tak sudi menyerah untuk mengekoriku bersama payung sewarna rumputnya. Jujur, aku ingin dengar apakah ia dan Harby baik-baik saja setelah peristiwa semalam? Tapi, fokusku bercabang-cabang seolah tak kenal lelah.  "Pagi gue lumayan kacau, Gar. Cuti ganggu dulu, please?” sebalku berharap ia berhenti mengintili.  "Fyi, sehabis makan gue selalu berdoa supaya problem lo terbawa hilang bersama rasa lapar," ujarnya kembali menunjukan keanehan, memancing mataku untuk meliriknya curiga. "Cius, kita ‘kan sohib kentel."  Dasar bocah satu ini! “Gue nggak nafsu bercanda. To the point, ada apaanlah udah?" Ia mengangsurkan payung agar melindungi kepalaku. "Gue ingin ngecek sendiri tapi, kayaknya itu ngelewatin batas," ucapnya mengangsurkan secarik kertas merah jambu ke atas telapak tanganku. "Buat kali ini lo lebih pantes nangkep basah dia pake mata kepala lo." DEKAT KOLAM. AYO LARI KAYAK BIASA! KENYATAAN SELALU NGGAK BERGUNA BUAT KAMU. KABUR, SEN! PERGI YANG JAUH! -Odessa- "Kalau Nura nyariin gue, bilang gue nggak masuk," pesanku sambil melangkah menjauhi lahan parkir. Meremas kuat kertas milik Odessa, aku membiarkan derasnya air menyiram kepanasan jiwaku. Sudah cukup! Orang-orang ini telah begitu lancang memporak-porandakan kehidupan pribadiku.  “Hoi! Payungnya b**o! Kok malah dilempar. Woiiii!” omelan-omelan Garin setidaknya membuatku sedikit rileks. Apa pun persoalannya dengan Harby tampaknya tak serusuh aku dan Odessa.  *** Altair hanya mempunyai sebuah kolam. Letaknya di belakang gedung Laboratorium IPA. Berbentuk bulat, diameternya sekitar 3,5 meter dengan air mancur setinggi dua kaki. Anak-anak sering menjadikannya tempat nongkrong sewaktu istirahat. Tapi di waktu hujan begini, aku sebatas menemukan kelengangan jua sesosok berpayung merah yang berdiri tepat di tepiannya. Punggung kecil, tubuh ramping nan tinggi. Rasanya mataku telah akrab sekali. Benar, saking familiarnya aku sempat berpikir untuk mendorongnya jatuh ke air sedalam pusar orang dewasa tersebut. Sayangnya aku cowok, di mana doktrin memperlakukan cewek dengan kasar itu tak pernah mampir dalam undang-undang hidupku. Terlebih ia golongan serupa dengan pahlawan yang sudah melahirkanku. Bila aku mencelakainya maka sama dengan aku menusuk Mama dari belakang. Perdebatan-perdebatan batin tersebut menghantarkanku untuk berhenti melangkah saat jarak yang melintang di antara kami sekitar satu meteran.  "Lo tunjukin mana anak gue dan nggak nyampe semenit setelah itu kita ke KUA. Gue nikahin lo," menelan setetes-dua tetes air langit, aku menatap punggung bersweter merah bata tanpa berkedip.  "Itu kan tujuan lo? Kembali kepelukan gue ... Odessa?" sengaja kutekan pengejaan namanya.  Mengusap wajahku dari basahnya air, aku menuntun kaki guna berdiri di sisi kiri cewek yang wajahnya belum ketahuan olehku namun aromanya sudah lebih dulu memperkenalkan diri. Joy by Jean Potou, tak cukup mahal mungkin untuk ukuran cewek sekelas dia.  "Mau lo yang mendengarkan atau gue yang bungkam? Percaya deh, sekalinya gue ngomong gue bisa kapan aja lupa kalau lo itu cewek." Meraih lengannya yang menggantung di samping tubuh proposionalnya. Aku memaksa demi memutarnya agar menghadapiku. "Lo bener-bener ngejiplak gue yah? Jadi hobi ingkar janji, hm? Setelah ngomong bakal nemenin gue terus apa pun yang terjadi, lo kabur. Nice! Sehabis bilang nggak akan balik sampai gue mati, tiba-tiba lo berkeliaran di sini. Great! Jadi, apa? Gue punya anak dari lo? Di saat gue bahkan dilarang buat jatuh hati ke lo, hm?  "Odessa ... entah yang lo maksud Arcadia atau justru itu adalah representasi perasaan lo di balik nama sok misterius ini. Ah, tapi gue baru aja dapet titisan ide brilliant nih," aku mengambil alih gagang payung dari cengkeramannya. Memposisikan mulutku dekat lubang telinganya, aku berbisik rendah sekali, "Kita buat anak beneran yuk?"  'Byurrrr' lantas kurasakan lembab menguasai tubuhku. Menumpukan pijakan di dalam air, aku mendongak menemukan wajah cewek itu yang sekarang sama kuyupnya oleh hujan atau air mata? Entahlah.  "Shut up!" cicitnya memberi tanda stop dengan tangannya. "Lo nggak semestinya ngumbar omongan kotor macem itu sekalinya lo emang ngerasa benci ke gue."  Itu dia tahu. Aku benci dia, tapi tidak separah rasa jijikku pada diri sendiri juga takdir sih. "Terus lo mau gue bicara kayak gimana? Ngomong kalau sampai hari ini gue masih dihantui rasa cinta ke lo? Mau gue ngaku gue nggak bisa hidup tanpa lo? Hm? Gue bukan apa-apa tanpa lo? "Mimpi! Lo udah ambil semuanya dari gue. Rasa cinta ... gue sendiri nggak yakin masih punya atau nggak. Cinta itu cuma omong kosong. Dan hidup gue terlalu berarti untuk sekadar ngurusin hal bullshit macem itu." Mulut ini bergetar, dingin merambat melingkupi. Aku menyaksikan Odessa memandang tak habis pikir dan tepat di belakangnya cewek berpayung bunga-bunga tampaknya sedang menarik kesimpulan tanpa bimbingan guna merajut benang salah paham. Bagus! Sepertinya skrip peran utama bagiku tak kunjung bersambung.  Di saat aku menarik napas letih, Nura sukses berlari dengan garis-garis penuh curiga otak ala ceweknya yang kaya akan rasa. Tsk! Dia ada jadwal biologi hari ini dan aku melupakan detail kecil tersebut.  Kembali memerhatikan Odessa. Aku wajib merampungkan segala bentuk urusan bersamanya. "Lo tahu apa yang gue syukuri dari perpisahan kita?"  Membebaskan diri dari kolam, aku beranjak melewati si Odessa. "Seenggaknya gue ngerti kalau gue diberkati seorang adik yang sangat mencintai gue."  "Perasaan nggak kayak telapak tangan yang bisa dengan gampang kita ubah posisinya. Gue pernah mencintai lo sebagai cowok dan mengarahkan hati yang pernah jatuh terlalu dalam kemudian menanggung luka yang teramat perih jelas butuh waktu.” Aku mendekat, menggerakan tanganku guna menangkup rahang cewek ini kemudian perlahan-lahan mengusap wajahnya yang basah nan memerah akibat hujan juga tangis. Detik tersebut suara Ben semalam saat bicara empat mata denganku mendengung ulang.  “Gue nggak tahu ini masih penting buat lo apa nggak. But, beberapa hari kemarin gue lihat Eleona di Altair.” Dan Ben tidakah berbohong. "Gue udah menemukan tujuan napas gue, El. Meski begitu lo tetep yang membuat gue bernapas di masa lalu. Gue benci lo, sumpah! Lo udah ngajarin gue banyak hal, kalau nggak ketemu lo, gue nggak akan sekuat sekarang. El, biarin gue mencoba oke? Karena nggak adil kalau lo aja yang berusaha ngejauh dan mengubur semuanya." Mendaratkan kecupan ringan di atas permukaan dahinya, Eleona akan terus menempati ruang kecil di bilik perasaanku. "Beri gue waktu buat beresin beberapa hal dan lo harus bayar hutang untuk ngatur jadwal gue buat ketemu anak kita, deal?"  Sebuah gocohan di d**a adalah jawaban yang lebih dari cukup guna beristirahat menyoal Odessa. Bagaimana selera pemilihan namanya sangat tidak kreatif. Padahal dia bisa pakai Mosel, Manarola, atau Colmar yang lebih pelosok dari tetangga Kiev itu.  Namun, sepertinya dia masih berpendapat bahwa cita-cita kami untuk mengunjungi pantai Arcadia di Odessa sana sebagai sesuatu yang bermakna. Padahal untukku itu terang sekali mengerikan dan mumetinnya.  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD