Kalah atau pun menang rasanya tetaplah menyakitkan
_______
“Lo yakin nggak apa-apa balapan sama wajah mules macem gitu?” Garin mengedikan dagu demi menunjuk objek yang dimaksudnya.
Aku tidak menampik, semenjak adu urat bersama Papa kemarin malam hingga satu hari berlalu, aku belum mumpuni guna memperbaiki ekspresi menyebalkan yang disiratkan kanvas mukaku.
“Toh gue nggak niat batalin juga,” kataku sembari menarik resleting jaket. “Asal gue menang dan ngamanin Nura, semuanya juga bakal berangsur baik sendiri. Muka gue, mood gue. Masalah yang akhirnya selesai satu. No probs, yuk naik!”
“Waspada, Bray! Ben dan fair nggak pernah sejalankan?” tutur Garin mengingatkan sambil mengambil tempat di jok belakang.
“Oke. Kita lihat apa dia bisa jeblosin gue ke kesalahan yang sama,” tanggapku mencoba santai kendatipun terasa agak de javu lalu menstater Sigi–nama motor sport warna hijau yang selalu menghiasi garasi rumah Garin. Melaju sekencang yang sanggup kukendalikan, membelah hawa dingin bukti mendung menggantung malamnya Ibukota.
Lubang yang sama yah?
Lima kilo rute yang aku dan Garin tempuh hingga tibalah kami di kawasan jalan raya di mana segerombol anak-anak muda berisik kumpul. Diterangi cahaya oranye dari bakaran ban di dalam tong, aku mengerem Sigi tepat menyebelahi Ben parkir.
Disambut seringaian mengejeknya, aku abai saja kemudian mulai meneliti situasi. Kira-kira belasan kepala hadir di sini. Tidak semua masyarakat Altair sih, aku lumayan hafal beberapa siswa SMA Bakti Luhur juga Jugyasa yang ikut ambil bagian.
“Gue pikir lo batal ikut,” seloroh Ben yang sok gagah nangkring di atas roda dua hitam mengkilap kebanggaannya.
“Kayak lo bakal lepasin gue aja kalau gue nggak nunjukin muka malem ini,” ujarku ringkas.
“Aha! Falling in love is dangerous. Oh yah, setelah bubaran nanti ada yang mau gue omongin ke lo. So, jangan kabur duluan, all right?” Bicarakan? Nadanya sok urgent sekali.
Bersiap memakai ulang helmku, sorot headlamp dari arah depan memerihkan mata. Menyipit, dua orang penumpang yang semakin jelas terbias pun tak ayal meningkatkan hantaman keterkejutan pada diriku. Berbalik mencari Garin, melalui air mukanya sudah pasti bila ia sama kagetnya denganku.
“Ah, willkommen anggota baru. Nggak susah ‘kan nemuin tempatnya?” Ben mengudarakan nada berbicara sok bersahabat sembari menghambur ke arah dua orang baru tersebut.
“Enggalah orang kita diguide-in,” jawab Harby enteng serta tak lupa sorotnya memenjarakanku. Yah, tamu anyar itu adalah Harby–Adik semata wayang Garin– sudah jelas siapa di balik makna ‘guide’ yang ia singgung. Si sempurna ini pasti membuntuti kami diam-diam.
“Wah, syukur deh. So, ready to start kan?”
“Suatu kehormatan dong bisa berkompetisi sama para senior di bidang ini. Gue udah nunggu-nunggu dari lama. Kenapa nggak kita mulai aja?” Harby sang siswa paling bersih.
Entah badai apa yang meniupkan bisikan-bisikan pengkhianatan macam begini tapi keikutsertaannya bisa kuasumsikan berkorelasi dengan Nura. Mereka memupuk duel tersendiri dan bila salah satunya bisa menjatuhkan pesaingnya betapa bangganya kan? Aku tidak tahu riwayatnya dalam urusan balap motor. Namun, seseorang yang mampu berkendara mustahil tidak sanggup mengebut. “Ah, ya. Ini Yura. Cewek gue.”
Petir itu melintasiku serta pasti mengenai Garin secara telak. Cewek ini, dia terus-terusan memburuku, menyuarakan kalau dia menyukaiku. Di lain sisi ia getol sekali memblock segala cara yang Garin upayakan guna mendekatinya. Namun, seperti yang sudah kuketahui jauh-jauh hari, aku dan Harby hanya salah dua cowok yang ia pasang sebagai target. Entah dia terobsesi atau bagaimana. Menaklukan anak populer pasti sangat membanggakan untuknya.
“Wuih, lo beda banget yah sama saudara lo yang kayaknya nggak ada minat buat urusan cinta-cintaan macem gitu,” ujar Ben menanggapi.
“Mulut lemes lo sebaiknya mingkem dari sekarang deh! Mending kita mulai aja langsung tanpa banyak prolog nggak penting,” cegatku sambil menyalakan mesin si Sigi.
Menatap lurus trek. Kami harus meliuk di jalan berbatu-batu sepanjang 10 kilometer demi sampai di garis finish. Jelas tak akan gampang khususnya buatku yang telah lama pensiun. Kehilangan MV Agusta membabat habis pula gairahku untuk berada di jalanan.
Kini, aku memulainya dari titk dasar untuk Nura sekaligus Garin juga. Secara lisan ia tak mengakui iri itu ada atas Harby.
Bagaimanapun mereka tidak diperlakukan dengan sama. Garin yang lebih sering mengalah, Garin yang dipandang sebelah mata, Garin yang bahkan belum mampu mendapat pengakuan dari Ayah kandungnya. Garin sudah terlalu lama dan dalam memerankan posisi bayangan. Setidaknya sekali ini, aku ingin membuka matanya bahwa kembarannya tidaklah sesempurna doktrin benaknya. Mereka punya kelebihan masing-masing. Garin harus sadar jika ada kalanya ia pun mumpuni guna menaklukan Harby.
Menghidupkan Sigi, jariku menarik rem belakang samar-samar sambil mencondongkan tubuh ke depan. Berkonsentrasi pada sirkuit, lebar jalannya hanya sekitar 4 meter. Aku belum berkesempatan menjajal area ini sebelumnya jadi, entah trek akan didominasi batuan, bergelombang atau landai saja. Satu hal, licinnya aspal tentu menghadang pasalnya hujan turun kembali sepanjang sore tadi.
Mesin yang menderu saling sahut-menyahut melatarbelakangi suara aba-aba juri. Kami berempat berjajar siap untuk saling mengungguli dalam mengambil start.
“Tiga,” suara lantang ini menambah semarak.
“Dua,” perasaan menggelora yang meletup-letup kecil, sudah begitu lama ia tak singgah untuk kurasa.
“Satu!”
Aku menarik gas dan membukanya setengah agar ban depan Sigi tak terangkat yang berdampak pada berkurangnya waktu lajuku. Menyeimbangkan caraku berkendara, aku berupaya keras guna menahan posisi sebanding terhadap mesinnya.
Lumayan kaku sebetulnya sebab telah begitu lama tak kulakukan ini tapi, yang kutahu apa pun yang sudah kumulai pantang untuk tak dikahiri.
Berlari sepanjang 500 meter, aku terus bergesekan bersama Ben sementara di belah depan Harby yang beberapa waktu lalu mendapat start mulus berkendara dengan lebih baik. Bocah itu kentara sekali bukan pemula. Entah sering menjajal aksi-aksi macam begini di mana namun sesi sekarang ini jelas bukanlah situasi pertandingan perdananya.
Segalanya kian terbukti benar ketika di tikungan pertama Harby membiarkan putaran mesinnya dalam kondisi tetap tinggi.
Prediksiku ia dapat melaju stabil begitu karena rem belakangnya tak ia tarik sampai habis. Trik-trik seperti itu … Harby memiliki jam terbang yang lumayan.
Melirik singkat ke samping, aku juga Ben masih susul-menyusul di antara selisih satu lingkaran roda. Bahkan ketika lomba tinggal menyisakan satu over trek lagi, kedudukan kami tak mengalami banyak pergeseran. Jujur, jarak Harby yang masih memimpin tidaklah jauh dari kami. Hanya saja setiap kali aku berupaya menyalip, Ben sudah lebih dulu ketat menempelku. Sepantasnya aku tak heran sebab dua orang ini tentu akan mempraktikan segala cara agar tampil sebagai champion demi hadiah yang mereka damba-damba.
Namun, aku pun tidak boleh kalah. Bagaimana kubuktikan janjiku bila di sini aku gagal melindungi Nura?
Maka, aku menambah gas Sigi. Menabrak gemuruhnya angin, aku mencapai kecepatan 165 km/jam yang sekaligus menciptakan jeda antara aku dan Ben. Jalan yang tidak rata memang sedikit menghambat tapi, belokan terakhir yang kami lalui nyatanya sangat curam. Aku kukuh untuk tidak mengurangi laju Sigi, pasalnya aku berniat menikam Harby di sesi kali ini.
Perkiraan timing telah kususun tat kala ekor motor Harby condong dalam berbelok, putaran mesinku menderu bersiap mengambil sisi kiri badan jalan. Yah, aku yakin mampu mengambil tempat di celah sempit yang tercipta. Sekelebat gambar Nura yang tersenyum bahkan menambah kekuatan asaku. Segalanya akan berjalan sesuai rencana, hampir benar sebelum kurasakan benturan pada roda Sigi yang terpaksa mengolengkan stabilitas berkendaraku. s**l! Aku menabrak lubang.
Beruntungnya aku sanggup menjaga refleks sehingga tak terlempar ataupun jatuh menggelinding di atas aspal. Hanya saja gara-gara itu, aku baru melepaskan sebuah kesempatan emas yang kujamin tak mungkin datang lagi. Meluruskan pandangan, Harby beserta motor abu-abunya tampak telah parkir diiringi sorakan-sorakan kejuaraan.
Menarik rem penuh, aku finish di podium ke dua. Bukan kejadian pertama aku kalah namun ini merupakan kejadian pertama aku merasa dipecundangi.
“Nggak mau ngasih selamat nih buat gue?” Selama ini aku menganggap Harby dan Garin adalah kembar identik yang sulit dibedakan berdasarkan fisiknya. Namun sepertinya hal tersebut keliru. Pasalnya tak sekali pun pernah kusaksikan seulas seringaian memuakan dari diri Garin.
“Selamat?” aku mencopot helm sambil meringis kecil. “Cowok yang takut kalah saing sama cewek, masih butuh selamat ternyata.”
Menengok Ben dan Lucas yeng menyusul sampai di titik finish, aku menipiskan bibir. “Gue apresiasi kemenangan lo terlebih kerja kelompok lo. Hebat!”
“Huh, lo menikmati ketidakberdayaan lo kan hari ini?”
“Lo berguru cara ngomong sama Ben? Mulesin tahu nggak bunyinya.”
“Aih, Aih, Aih! Kita dapet jawara baru! Congrats, Bro!” Ben turun dari roda duanya dan ambil bagian bertengger di antara aku dan Harby. “Ah, yah. Tenang kita juga bakal tepatin janji kok. Begitu kan Sen? Cowok bakal pegang perkataannya kan?”
“Gue akan dapetin rewardsnya?”
“To be sure! Lo bisa ngasih titah apa pun sama kita-kita yang kalah buat bales Nura.”
“Apa pun dan sama siapa aja kan?”
“Of course. Apa pun. Gue, Lucas, dan Seno pasti bakal laksanain.”
Aku sungguh telah sukses bunuh diri.
“Luar biasa! Tapi, gue nggak tertarik buru-buru sih. Yang penting gue udah menang dan kapan pun gue minta, kalian harus siap? Gimana?”
“Why not? Deal!”
Sebetulnya aku sanggup atau tidak sih melindungi orang-orang yang kukasihi? Berulang kali aku gagal mengamankan mereka, berkali-kali aku menyaksikan kelaraan mereka. Jika sudah begini, masih pantaskah aku percaya diri mengemban tanggung jawab atas orang lain?
“Kak Seno, boleh ngomong bentar?” Sang pacar dari juara pagi ini tiba-tiba menyeruak ke hadapanku di tengah semarak riuh perayaan kemenangan Harby. “Bentar doang. Serius.”
Turun dari jok Sigi, aku melenggang mendahuluinya guna menemukan tempat yang tak seramai keberadaanku sebelumnya.
Berhenti di dekat pohon palem, aku otomatis berbalik demi memandangnya tanpa suara. Menantinya yang bisa jadi hendak melantunkan bualan-bualan seperti biasanya.
“Makasih udah ngasih kesempatan buat dengerin gue, Kak,” bukanya dengan raut yang selalu penuh kepercayaan diri.
“Sebenernya gue mau jelasin sesuatu,” lanjutnya memandangku berani. “Soal gue sama Harby … itu nggak mengubah apa pun mengenai perasaan gue ke lo, Kak.”
“Dan menurut lo itu bakal berdampak apa sama gue?” kataku tegas. “Gue nggak paham lo lagi mainin games macam apa. Tapi, apa lo tahu kalau jenis permainan yang lagi lo geluti ini udah melibatkan terlalu banyak orang?”
“Garin sama Harby itu saudaraan, kandung bahkan. Gimana bisa lo sebagai cewek setega itu melibatkan mereka ke dalam kubangan konyol lo? Dengan gencarnya lo nolakin Garin, sebentara itu lo terus nguber-nguber gue dan saat lo udah milih Harby, dengan Pedenya lo ngaku nyimpen perasaan ke gue?
“Yur, yang lo rasain ke gue bukan cinta ataupun suka. Yakin deh!”
“Nggak! Gue suka lo, Kak. Dari waktu lo nolongin gue dari serangan anak-anak Bina Bakti. Lo yang rela dikeroyokin, lo yang bocengin dan gendong gue pulang walau lo sendiri luka. Lo yang nggak kenal gue, tapi mati-matian belain gue karena seragam kita sama. Lo penyelamat gue, Kak.”
Kejadian itu adalah ketika awal-awal aku bergabung dengan Altair. Yang kuingat, hari itu aku pulang menjelang Maghrib. Saat melewati persimpangan yang sekaligus perbatasan SMA Altair dan SMA Bina Bakti, aku menyaksikan segerombolan siswa berseragam membentuk lingkaran. Mulanya, aku berinisiatif abai saja namun ketika dari balik helm aku menyaksikan sekelebat sosok berseragam serupa denganku refleksku berfungsi. Sedari dulu, di mana pun aku bersekolah satu yang bisa kupertanggungjawabkan; loyalitas. Aku paling gerah bila harus berpangku tangan sementara teman seperjuanganku babak belur. Itulah mengapa Ben pun ikut memanfaatkan kebiasaanku tersebut. Daripada menyaksikan orang lain terluka akan lebih baik bila luka itu mengenaiku saja.
Dan Yura merupakan imbas dari motto tersebut. Memasang badan di depannya, aku merasa sangat malu akibat terlahir sebagai kaum cowok. Bagaimana tidak? Orang-orang yang mengerumuni Yura berjenis sama denganku. Mereka bersiul, mengumpat-umpatkan perkataan menjijikan, lebih-lebih mereka berani berlaku kasar kepada lawan yang jelas tak sebanding.
Tujuh banding satu. Cowok vs Cewek. Lagi-lagi aku tak kuasa menyesali turut campurku kala itu. Di sore tersebut aku melayani keributan yang coba mereka kobarkan. Niat untuk tak kembali begajulan, berkelahi, jua hidup damai kulanggar. Aku melayangkan belasan atau malah puluhan kepalan tinju, aku menendang bagian mana pun yang lawanku sodorkan. Bukan demi Yura namun, karena sejak aku memutuskan bergabung dengan Altair aku meyakinkan diriku bahwa cewek tak lagi boleh terluka.
“Itu rasa terima kasih, Yur. Jangan salah mendefinisikan!” tukasku memberi pengertian terhadapnya bahwa deru tersebut tumbuh sebab ia merasa hutang budi.
“Memang apa yang lo ngerti soal cinta, Kak? Bukannya kapan datangnya, pada siapa datangnya dan atas dasar alasan apa datangnya kita nggak pernah tahu? Gue cinta sama lo, Kak!” erangnya.
“Yur, denger!” kataku melembut, “oke, gue nggak berhak ngelarang-ngelarang lo buat jatuh cinta ke siapa. Tapi, coba deh lo pikir lagi. Selama ini gue sering banget bikin lo sedih kan? Gue terang-terangan nyakitin lo. Tanya ke hati lo, apa lo baik-baik aja dengan itu?”
Aku menarik napas singkat sementara raut wajah Yura sudah tak setegang tadi. “Yur, setahu gue cinta itu nggak bikin sakit. Ketika lo terus kesiksa karena keberadaan rasa itu, ada baiknya lo hilangin. Serius, hidup lo bakal lebih nyaman kalo lo tahu mana yang harus lo lepas.”
“Gue beneran cinta lo Kak ....”
“Yur! Gue sampai ngomong gini demi kebaikan lo. Percaya, mencintai gue nggak akan bikin lo bahagia,” tekanku. Tentu saja.
Aku si orang gagal yang bahkan tak kuasa menangkis bahaya pada cewek yang kusayangi jelas harus ditinjau lagi untuk dicintai. Mereka tidak boleh mengorbankan jua menyia-nyiakan waktu hanya buat aku.
“Sen, jangan kegigihan ngelarang anak orang gitulah.” Suara anyar ini?
Aku otomatis menoleh ke balik punggung guna menemukan Garin yang sedang bersedakep sambil melangkah kian dekat ke arah kami. Kuteliti ekspresi di dirinya yang santai. Garin, dia mendengar segalanya. Apa yang telah kubincangkan bersama Yura, berhasil ia tangkap.
“Garin?” cicit Yura terkejut.
“Sorry yah gue main nimbrung. Abis gue gemes aja sama si Seno ini. Kerjaannya larang-larang mulu. Giliran sendirinya nggak boleh mencintai lebih dari satu cewek aja nolak. Bro! Jangan jahat kayak Rangga ginilah.”
“Dan Yur, walaupun Harby nyebelin tapi dia cowok yang asik kok. Sekalinya dia ngenalin pacarnya ke orang lain itu tandanya dia serius. Sekarang lo mungkin belum pake perasaan. Tapi nggak ada ruginya loh kasih dia kesempatan. Oke?” Garin yang seperti ini, yang mematenkan senyuman pada wajah, yang sok ceria. Dia sedang kecewa.
“Ah, satu lagi. Makasih yah,” lanjutnya tak pasti. “Sekarang gue ikhlas lo nolak gue nggak ada capeknya. Karena dengan begitu lo udah jujur sama hati lo sendiri.”
“Gar!” ujarku memeringati.
“Lo juga kudu bilang makasih, Sen. Posisi mencintai itu lebih sulit dari dicintai. Berkat usaha susah payah seseorang lo bisa ngerasain jadi berharga. Jadi, seenggaknya meski lo nggak bisa bales cintanya, lo masih bisa bilang thanks atas pengorbanannya.”
“Thanks.” Bukan aku. Yang mengungkapkan ini adalah cewek berjaket cokelat. Ialah Yura yang terlihat berkaca-kaca. “Thanks, Gar. Karena udah suka ke gue.”
Pernyataan yang aku maupun Garin tak kuasa duga. Yura si keras kepala, yang terlihat tidak sudi mendengar omongan orang tiba-tiba saja mematahkan anggapan tak berdasar kami.
“Juga gue tetep nggak bisa berhenti gitu aja buat cinta ke Kak Seno. Gimanapun juga mengendalikan hati nggak segampang menguasai pikiran. Ngelakuinnya pun nggak semudah bicara. Gue nggak bisa menjanjikan bakal udahan tapi, gue juga nggak akan sering-sering gangguin lo lagi Kak. Thanks buat pertolongan lo, thanks udah jadi cinta pertama gue.”
Selama ini dalam urusan asmara cowok lebih dominan sebab kami pemberani. Dan melihat Yura hari ini, aku sadar bahwa cewek pemberani pasti akan menemukan kebahagiaannya yang sejati.
Yura Alona, cewek itu melangkah pergi meninggalkan aku berdua dengan Garin. Langkahnya yang mantap membuatku semakin yakin jika di masa depan cewek itu tak mungkin menderita.
“Gar, gue minta maaf,” kataku.
“Kayak lebaran aja deh lo. Udah sih, gue denger dari awal kok. Jangan khawatir gue salah paham. Lagian cinta kan emang bukan b***k yang bisa dipaksa. It’s okay.”
“Tapi gue tetep nggak enak kan. Udah rahasiain fakta sepenting ini sama lo.”
“Udah, Sen! Gue bakal marah nih kalau lo kekeuh mikir gitu.”
“Gar?”
“Oke kalau lo emang serius minta maaf. Beliin gue 2 kotak pizza deh. Impas?”
Mendengus lirih. Aku lantas menyengir geli akan tingkahnya yang tak rela jauh dari Italian food favoritnya itu. “Deal!”
Bukan hanya pizza, aku juga akan memberinya ruang untuk sendiri. Pikirku, bantuan itulah yang paling Garin butuhkan.
“Apa gue ganggu brothership kalian?” Harby yang entah datang dari mana mulai mengusik.
“Jawabannya iya ataupun nggak juga mustahil bikin lo mundur kan? Ada apa?” tantangku.
“Gue udah denger,” akunya.
“Maksud?”
“Yura, lo, Garin.”
Membulatkan mata, aku bergegas saling lirik dengan Garin.
“Itu ...,” Garin mencoba mengambil alih keadaan.
“Gue ikut prihatin buat cinta sepihak lo, Gar. Tapi ini persoalan yang ingin gue beresin bareng Seno,” aura intimidasi menyebalkan Harby mengenai Garin telak sehingga detik berselang Kakak kandung Harby yang sekaligus teman kentalku itu pun bungkam.
“So lo mau apa dari gue?” kataku.
“Bayaran atas kemenangan gue hari ini.”
Nura ... aku tidak ingin berbuat apa pun yang membahayakannya. Namun jika Harby memintaku berbuat curang padanya. Apa yang sanggup kuperbuat?
“Lo bilang nggak ingin buru-buru?”
“Sebelum lihat kejadian di sini gue emang berpikir begitu tapi sekarang gue nggak bisa santai lagi.”
“Lo minta apa dari gue?”
“Gue minta lo, Arseno Diputra untuk nggak pernah lepasin Nura sedetik pun. Jangan biarin hati lo punya celah untuk jauh dari Nura. Lo selamanya harus cinta sama Nura!”
“Yah?” kutak salah dengar kan?
“Karena gue bakal rebut hati Yura. Dia bakal lupain lo.”
Untuk cinta kadang orang rela berlaku di luar prediksi.
***
***