Entah iklimnya yang tak punya pendirian atau benar kata pembaca berita di tivi, akibat Badai La Nina hujan terus-terusan datang tanpa peduli banjir-banjir yang menggenang di beberapa sudut kota. Menerobos tumpahan air, aku mengusap mataku yang memburam. Tengok kanan-kiri, semestinya betul ini tempat yang Eleona maksud dalam pesan singkatnya.
Taman yang ada air mancurnya, dekat rumah Garin. Yah, cuma satu ini. Basah kuyup, aku berupaya keras menemukan Eleona dalam jarak pandang minim.
Namun, kosong. Di tengah derasnya air mata langit orang-orang jelas lebih suka berlindung. Hujan-hujanan dampaknya tak pernah baguskan? Mengigil, beku lantas pangkalnya demam atau flu. Akan tetapi, bagiku ini bukan waktu yang pas guna memikirkan remeh-temeh mengenai apa-apa yang hendak ditinggalkan hujan. Untukku yang seumur hidup tak sekali pun mengumpati bentuk siklus lumrah ini, hujan di sore hari tak lagi sebatas menjatuhkan bebannya, ia juga tengah berlaku untuk mewariskan beban yang begitu sulit kupikul.
Mematung di poros taman, Jakarta mendadak terlihat luas nan sunyi. Penghuninya hanya pohon-pohon tanggung yang daunnya tak berhenti bergoyang, beberapa bilah bangku yang kayunya tergerus lumeran awan, lalu sebulatan kolam air mancur yang menari-nari, mencipratkan air persis di hadapan mukaku. Tentu saja, makhluk waras mana yang tartarik bergabung bersama mereka–benda-benda yang walau menjerit ingin lari tapi tak punya kaki–mungkin cuma aku. Yah, si gila yang keras kepala menganggap menadahi buih awan sebagai hiburan.
Menyeringai, mencemooh diri sendiri aku lantas menelengkan kepala pada saat sekelebat siluet singgah menginterupsi.
Sumbernya dari balik bak air mancur. Meniti rerumputan sang alas kaki, tak sekejap pun kedua kelopakku mengedip meski demi mengusir air yang tak mau luruh saja tanpa harus menciptakan jejak di wajah.
Dengan merangkai celah di mulut, aku berusaha mengakali sesak yang mendera akibat tidak lancarnya proses respirasi via hidung sekaligus kian mendesaknya remasan pada jantungku. Berharap-harap cemas, seseorang yang teramat kukenal, gerangan yang menjadi alasanku hadir di tempat ini, terlihat masih berjongkok di bawah payung merah.
“Eleona?”
Pemilik nama itu mendongak tanggap. Tersenyum lega, dia bangkit berdiri. “Lo lama banget. Gue kira lo nggak akan dateng.”
“Maaf. Jalannya banjir, gue lari ke sininya. Maaf yah?”
“Gue takut,” akunya singkat yang membuatku dihantam rasa tak nyaman. Eleona cewek pemberani. Dipukul dia balik nonjok, diejek dia balas nyinyir, ditakuti dia balas dendam. Setelah lulus dari Terasus dan menjadi keluarga Bakti Luhur hampir setahun ini, aku belum pernah mendapati ia segan akan apa pun.
“Gue takut banget,” tegasnya diiringi tetesan air yang menelusuri pipi. Payungnya mustahil bocorkan?
Eleona menangis, mata indahnya berair, bibirnya bergetar. Dia terlihat menyedihkan. Hatiku sakit dipaksa menyaksikan hal ini.
“El–“ dia ambruk, menghempaskan payungnya lalu menelungkupkan wajah guna menangis tersendu-sendu. Hujan yang menderas seakan memukulinya tiada ampun. Suara isakannya yang menyayat bahkan tak mampu dilerai oleh bunyi tubrukan air dan tanah.“–Leona?”
“Ini susah, Sen. Gue nggak ngerti.” Aku pun. Kemarin kami masih nonton film bareng, gandengan waktu jalan, tertawa juga saling asik mengumpati, tapi tiba-tiba saja segalanya berubah dalam semalam oleh satu kalimat.
“Gue pikir Om Raga bohong. Gue kira itu karena Bokap lo nggak support hubungan kita aja. Gue masih percaya bahwa apa yang gue denger tuh omong kosong sampe Bokap sendiri yang ngaku di depan mata gue. Kenapa jadi gini, Sen?”
“El?” Aku menghampirinya, ikut merunduk menyamai posisinya bersama aktifnya lenganku untuk memboyongnya ke dalam dekapan.
“Gue terlatih sakit hati. Gue tahan walau orangtua gue cuek, gue tahan walau diomongin yang nggak enak sama temen-temen, gue tahan sama ujian yang Tuhan kasih. Tapi, yang ini rasanya berat banget. Hati gue perih banget, Sen.”
Aku mengusap kepalanya yang basah, aku merangkum wajahnya sambil menahan kabut pribadi yang kian pekat. “Maafin gue, El. Karena gagal nahan air mata lo.”
Karena gagal jadi teman yang baik, karena gagal menjadi pacar terbaik, karena gagal menangkis takdir ini. Satu detik aku ingin menyesali pertemuan kami namun tidak bisa. Eleona merupakan keputusan Tuhan yang paling kupuji. Telah mempertemukanku dengan cewek ini maka, hidupku tak monoton lagi. Menjalin ikatan bersama Eleona aku merasa sangat dikasihi sekaligus mengasihi. Eleona sumber cinta dan patah hatiku.
“Maafin gue karena udah lahir dari laki-laki yang sama dengan lo.”
Di hari hujan itu, aku baru sadar seberapa kuatku ingin menyandang nama belakang Wirama. Betapa besar asaku untuk menjadi anak kandung Papa Raga. Betapa besar sesalku sebab bersaudara dengan cewek yang paling kusayangi. Seberapa kerasnya aku memohon toh tidak ada cara bagi kami untuk menyatu. Takdir memotong tali yang kusimpul untuk Eleona. Takdir mengawali permainannya bersamaku.
***