Bab 14

1171 Words
Saat kamu punya saudara bukannya seharusnya bahagia? __________ Meremas tautan yang aku dan Nura ciptakan, kami melenggang keluar setelah menandaskan masing-masing semangkuk soto Lamongan juga jus jambu.  “Irit uang, kamu ‘kan kerjanya capek,” nasehat tersebut mengalun waktu menu sepiring steak well done siap di ujung lidah. Yah, satu hal Nura memang tak mudah menerima sesuatu dari orang lain apalagi gratis. Cewek ini mottonya agak kaku. Dia menjunjung emansipasi kaumnya termasuk menyaratkan untuk membagi dua biaya yang terpakai pada saat kami pergi makan. Lumayan langka ‘kan tipikal serupa dia? Entah aku kudu merasa gembira atau merana akibat kebiasaannya ini.  "Kita langsung pulang?" tanya Nura mendongak mencari tampangku.  Menilik arloji sebenatar, aku otomatis mengangguk. "Jam setengah sembilan, kalau pergi-pergi lagi ntar Bunda kamu khawatir, udah gitu ...."  Air mukaku memberontak diajak berdamai. Ia mengeras secara tiba-tiba. Kalimat rapi yang hendak kuperdengarkan pada Nura menguap tanpa sisa. Sungguhkah Tuhan segegabah ini dalam mengurus takdirku? Kenapa Ia seolah enggan mengabulkan asa-asaku? Padahal ada banyak pasang mata, terdapat begitu banyak tempat untuk makan. Jakarta yang penuh sesak, haruskah mencekikku seerat ini?  "Sen, kenapa?" Nura menarik pelan ujung kemejaku, menyeret mataku untuk menyudahi kontak bersama seseorang yang semestinya tak kujumpai.  Merilekskannya dengan seulas tarikan bibir, aku menggeleng singkat lalu mempererat tautan jari-jari kami. "Yuk keluar, makin rame nih."  Membimbing Nura supaya lebih dempet kepadaku, begitu tergesa dan resahnya aku, kami bahkan sempat menubruk satu-dua sejoli yang mulai berdatangan selepas berakhirnya sesi bookingku.  Sampai di batas pintu, aku memberanikan diri guna melongok ke dalam melalui ekor mata, orang itu memang nyata di sana. *** Jika seseorang berusaha melawan kodrat alam, dia akan menghancurkan dirinya sendiri. Itu kutipan populer Sherlock Holmes di The Adventure of Creeping Men. Ada kalanya aku berpikir, manusia cukup hidup dengan kelogisannya. Namun, ketika kuintai kembali sepertinya itu agak memaksa. Bahkan tokoh paling logis sekelas Sherlock, dia tetap tak mampu menolak kehadiran Mycroft dalam rak ingatannya demi menyelamatkan James Sholto. Manusia memang makhluk kolektif.  Kemudian, aku di sini. Duduk tak nyaman di permukaan ranjangku sendiri. Mengamati pendobrak rak ingatanku yang tengah anteng merilekskan punggung.  "Menurutmu, kenapa keledai dianggap bodoh? Bintang laut nggak dianugerahi otak. Tapi, nggak satu pun orang menyamakannya dengan keledai. Kenapa?" Inilah dia, Papaku. Laki-laki yang sudah tiga hari tak mencukur bulu dagunya.  Seseorang yang baru saja mengetuk pintuku empat kali, lalu mendobraknya dalam dua kali percobaan.  Mengusap rambut-rambut halus di wajahnya, dia lantas menukar tatapan diiringi sorot paling tak terbantahkan. He is very confidance.  "Sebab otakmu menjadi nggak terlalu penting saat kamu bisa mengambil keputusan atas dirimu sendiri. Sewaktu perlindungan dapat kamu berikan kepadamu sendiri. Bintang laut tahu pasti, bahwa nggak semua orang yang mendekatinya pantas untuk kamu takluk terhadapnya. "Antisipasi, walau nggak punya saraf berpikir dia tahu kalau di kehidupan ini diam adalah jenis pertahanan yang wajib dikombinasikan. Dan kamu, otak itu bukan sekadar hiasankan? Isinya normalkan?" Papaku bukan orang yang kasar. Hanya saja dia terlalu tegas dan keras. Perkataannya di persidangan bahkan ratusan kali menusuk orang-orang. Lidah atau silet ialah judul artikel di salah satu situs yang memuat opini masyarakat. Segelintir nettizen bahkan ada yang mengutuk suatu hari akan datang setan yang rela memotong lidah itu. He has more haters around this town.  "Terjatuh di lubang yang sama. Kamu inginnya diberi gelar apa? Kata orang Yunani kuno persamaan paling cocok denganmu pasti keledai. Punya pembelaan?" Meringis sarkas, aku menekuk lutut membentuk posisi sila. "Bukannya Papa yang tugasnya membela? Perlukah Seno datang ke kantor dulu untuk buat janji? Ah, curhat masalah denganmu itu ‘kan macam pemerasan. Oprasionalnya mahalnya setinggi Mercusuar. Buruh foto seperti Seno tentu nggak mampu bayar."  Melipat tangan di depan d**a, Andri Raga Wirama itu mengambil tempat guna menyangga tubuh bak model di punggung lemari. Dia diam, tampaknya serius mau memberiku giliran berbicara.  "Oke. Sepertinya Seno memang kudu jadi Pengacara seperti kehendak Papa ‘kan? So, Papa yakin Seno jatuh? Bukannya didorong ke lubang yang sama yah?" Mengusap hidung yang mendingin sebab hawa AC, aku menghujamnya dengan pandangan menantang. "Berpacaran dengan putri ayah, jelas kekeliruan. Tapi, semestinya Papa nggak melibatkan diri dan memperparah keadaan. Tanpa Papa menemui ayah, beban yang Seno tanggung udah cukup berat, Pa.  “Menyekolahkan Seno di Terasus itu ide Papa. Pertemuan Seno dengan Eleona adalah bukti kecolongan Papa. Lalu, cinta yang dalam ini ada sebab hati nggak bisa milih kepada siapa ia akan jatuh. Seno udah membencinya, Pa. Di awal Seno nggak terima sama keberadaanya di sekeliling hidup Seno. Tapi, nyatanya? Eleona terlalu susah untuk nggak Seno sayangi. Salah Seno. Papa melimpahkan ketidakbenaran ini cuma sama Seno. "Sudah jadi figur Papa buat Seno. Seenggaknya Seno samgat berterimakasih karena pilihan Papa menyembunyikan identitas persaudaraan kami, Seno jadi pernah ngerasain pengalaman dicintai dan mencintai sebegitu besarnya." Jujur, dia bukan penyumbang s****a yang membentukku tapi, Papa tak pernah menganggapku anak tiri. Dia memberiku segalanya sekaligus menyita segalanya pula dariku.  "Buat Seno, Papa adalah satu-satunya ayah Seno. Tapi, Seno nggak ingin punya Papa yang hidup dengan merenggut kehidupan milik orang lain. Cukup milik Seno aja. Seno nggak bisa biarin hidup Nura hancur." "Dengan berdiri di sampingnya kamu pikir kamu bisa menyelamatkan dia?" Papa memandangku dengan sorot aneh. Selama mengenalnya baru pertama ini aku melihat aura lain di luar ambisi. "Kamu pernah melakukannya sekali, Sen. Dan hasilnya?  Gagal! Karena nggak mesti menjadi yang selalu ada adalah jalan keluar. Kita laki-laki, Sen. Semua dinilai dari langkah yang kita ambil. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."  "It's sound you regretting something,” komentarku culas. Pengakuannya baru saja menyadarkanku bahwa dia sedang bergelut dalam posisi tersebut. Dia mengambil tanggung jawab atas Mama namun tidak kunjung bahagia, begitu?  "Jangan jadi sepertiku atau pun Dion. Dengar, amnesianya temporary dan saat dia mengetahui kebenarannya, nggak ada jaminan hatimu akan selamat." "Yah, I know. It's all because of you. Takdir buruk Seno yang katanya dari Tuhan ini lebih terlihat seperti rules-nya Papa." Aku jarang menangis kecuali di hadapan Mama dan Garin. Tapi, detik sekarang menyaksikan sosok yang menggendongku di pundaknya saat aku anak-anak, seorang laki-laki yang mengusap kepalaku dikala aku dijahili teman-teman di Sekolah Dasar, Andri Raga Wirama, pernahkah aku benar-benar menjadi bagian dirimu?  "Seno ... andai bisa terlahir lagi. Seno mau jadi Wirama, Pa. Putra Papa." Suatu hari ada temanku yang mengolok. Mereka bilang, aku anak keranjang sampah. Alasanya karena mereka mendapati nama belakangku berbeda dengan Papa. Keluarga Wirama cukup populer di kota ini sebagai keturunan ahli hukum. Dan aku sama sekali berbeda dari trend tersebut. Saat aku mengadu, dulu Papa menepuk pundakku dua kali.  "Masalahnya bukan dalam nama. Ikatan ayah dan anak datangnya dari sini," Papa menyentuh bilik kiri dadaku. Letak rongga hati bersembunyi, katanya. Dan hari itu, aku sadar hati lebih berarti dari darah. "Sen. Jadi pahlawan itu nggak gampang dan kamu tahu jalan apa yang harus kamu pilihkan?” "Aku nggak akan lepasin tangan Nura, Pa. Bahkan saat aku harus menyimpannya dari dunia luar, aku akan lakuin itu." "Fine. Satu hal, ternyata kamu memang belum dewasa." Kata-kata itu menghantarkan Papa mengeluari ruangan, di ujung pintu dia sempat menilikku lagi. "Soal Mamamu, aku nggak pernah menyesal sudah bersamanya sejauh ini."  Aku tahu tak selalu ada pelangi selepas hujan. Namun, bukankah kita masih bisa menciptakan pelangi itu sendiri dari air hujan tersebut?  "Aku nggak akan menyerah, Pa. Not twice." "Let's see!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD