Bab 13

1496 Words
 "Kamu marah?" aku memecah hening, menatap teduh bagian sisi kiri wajah Nura yang dipulas make up minimalis. Petang ini, dia tampil dengan teramat memanjakan mata. Kuperhatikan rambut hitam legam sepunggung yang kerap ia ikat ekor kuda atau cepol asal telah tertata dan jatuh sempurna menutupi gaun berenda berwarna pink pucat sebatas lutut. Ah, hal baru lainnya adalah kutek sewarna kuku yang ambil bagian memfemininitasi kekasih supelku ini.  "Nggak," responnya singkat tanpa mau repot melirikku.  "Kesel?" "Enggak." "PMS yah?" tanyaku hati-hati.  "Enggak." "Mau kucium?" "E-eng ...," menoleh ke arahku, sudah kusiapkan sebingkai senyum jahil guna mengelabuhinya. Beberapa detik kalimatnya menggantung, dengan Nura yang tanpa berkedip membalas tatapanku. Aku tak seganteng Brad Pitt atau seberkharisma Jhonny Depp, tapi cukup bersyukur terlahir dari sepasang laki-laki juga perempuan yang digandrungi oleh masing-masing lawan jenisnya.  "Enggaklah," aku mengangguk puas saat Nura berpaling, menghajar kemacetan Ibu kota dengan bola matanya. Kadang, melihatnya yang bertingkah kesal-manja begini menjadi penghibur hati tersendiri.  Merebahkan punggung mencari kenyamanan, aku dapat meyakini betapa Jakarta tak tertarik rehat. Dari balik kaca taksi yang kami tumpangi, diam-diam aku berdoa bahwa pada hari weekend, pilihan nongkrong di kawasan Thamrin itu berjejer dari sudut ke sudut, aku dan Papa jangan sampai bertemu di salah satu titiknya. Itu saja.  "Pake sendal jepit gitu, emang nggak apa?"  "Hm?" Aku membuntuti petunjuk Nura, tampak jari-jariku yang t*******g. Sudah kuduga ia marah akan perihal ini. "Aku buru-buru banget, beneran." Hingga dengan cerobohnya mengkombinasikan jepit hijau ini beserta kemeja merah muda polos juga jeans hitam. Salahkanlah deru kantuk yang menerjang sejam sebelum kalender kencan kami, ditambah lagi mimpi-mimpi yang belakangan mengganggu. Aku cukup kewalahan.  "Em, kamu malu yah?" Seolah penelitianku terhadap cewek ini belum mumpuni. Come on! Aku kenal Nura lebih baik dari stalker.  "Enggak. Kenapa malu? Emang aku jalan sama koruptor? Pembunuh? Cuma jalan sama cowok yang hobinya telat sama lupa mah, biasa aja tuh." Menelan senyumku sendiri, tiba-tiba aku penasaran tentang sesuatu. "Kalau sama anak koruptor atau anak pembunuh?"  Nura berpikir sejenak, dia mencoba menyelami mataku detail. "Papamu korupsi?" Tertawa lirih, aku gemas buat mencubit pipi chubby-nya, membuat dia menyikut perutku galak." Aw! Aw! Belum sih. Mungkin nanti, siapa yang tahu?" "Ih, kok do’amu jelek banget gitu? Nggak baik loh." "Terus maumu aku ngomong apa? Kita nggak bisa benar-benar memahami hati manusia. Bahkan ada kalanya manusia itu sendiri nggak mampu mengartikan bisikan hatinya. Kita kadang nggak berdaya melawan diri kita sendiri, Ra.” "Sen?" "Debatnya tunda dulu yah? Welcome to our kingdom tonight," kataku menyadarkannya bila kami telah sampai di tempat tujuan.  Aku, dia, dan kerajaan khayalan yang niat kami bangun.  Menggandeng jari-jemarinya semenjak meninggalkan taksi, aku mengguratkan senyum simpul di beberapa kesempatan.  Sesungguhnya jurus ini bukan untuk menenteramkan Nura, ia menguar sebagai simbol mendamaikan rasaku pribadi. Sebab sejak kami terkurung di dalam lif, diriku telah dihantam firasat buruk. Nura yang mengambil sikap untuk berdiri 4 langkah jaraknya dariku, kebungkamannya yang tak lumrah, dan ketika kuraih jari-jari tangannya, sengatan rasa es batu menjalari kulit telapakku. Melirik dia yang tingginya sedikit di atas bahuku, sepertinya hitungan harus kumulai segera.  Satu. Sebut ini ritual, spontanitas aku akan menjalankan perhitungan 5 detik sewaktu aura Nura kian pekat gelapnya.  Saksikanlah! Dia mematung, menaikan alisnya tidak habis pikir. Terang sekali pangkalnya tak akan terlalu bagus.  Dua. Gigitan bibir, jelas pertanda kemalangan. Nura melakukannya seakan sedang pemanasan menyambut perang.  Tiga, dia mendongak demi mensibobrokan mata denganku. Menggeleng sekali, aku baru mengerti jika ada saatnya dia menjadi sangat mirip dengan Eleona.  Empat. "Kamu gila,” desisinya menipiskan bibir, "enggak! Kamu luar biasa gila!”  Kelinci pun bisa menggigit bila diganggu. Nura yang manis, ceria, pancarona jua diberkati kadar murka sebuas singa.  Menghempaskan tautan tangan kami, dia menunjukan ketidaksukaannya.  "Cuma booking seperempat jam doang kok, Ra," kataku menjelaskan berusaha mengantisipasi alasan kesalnya. Bila perlu ini wajib ditangkis segera.  Berjalan mengeluari mesin kubus, Nura masih memelintir renda gaunnya. Dia terlihat tak baik-baik saja. Untung pelalu lalang di kawasan ini cuma kami, jika menyempil orang lain cewek ini pasti akan menahan kekesalannya dan ketika ia mempraktikan ilmu tersebut maka artinya jiwa-ragaku tengah terancam. Demi Tuhan, cewek yang jarang marah, sekalinya murka kehancuran yang ia timbulkan tak tanggung-tanggung merugikannya. "We are here, Sky loft! Terakhir aku denger buat duduk di sofa outdoor itu, minimal budget-nya satu setengah juta. Dan yang kamu lakuin sekarang?"  Aku mengabsensi restoran luas yang tersulap sunyi ini. Bangku-bangku kesepian, sofa tanpa penghuni dan meja-meja yang menggigil rindu buaian. Di tempat tinggi ini hanya ada kami, langit sehabis hujan kota Jakarta serta lampu-lampu berkilauan milik gedung pencakar langit tetangga.  "Aku nggak tahu semelimpah apa harta orangtuamu. Tapi, mestinya kamu bisa menghargai kerja keras mereka. Buang uang itu mudah banget, Sen. Kamu kekanakan banget loh." Memaparkan letupan emosi di raut mukanya. Ini adalah pertama kalinya Nura menyorotku kecewa. Kami sering cek-cok ala pasangan ABG, meributkan bioskop mana yang paling asik, café mana yang sedang hits, serta aku atau dia yang bakal punya gebetan baru duluan saat kami putus.  "Aku nggak suka sama apa yang kamu lakuin hari ini. Kita anak SMA, sebaiknya yah kita berperilaku kayak anak sekolah sewajarnya." "Anak sekolah sewajarnya itu yang gimana?" Hal yang paling kuhindari adalah berteriak kepadanya. Aku meminimalisasi hobi tersinggungku khusus untuknya. "Kita cuma makan malem, aku nggak beli gedung ini buat kamu. Aku nggak nyiapin buket 100 tangkai bunga mawar, nggak diam-diam nyelipin berlian di dessert atau nyewa pemusik handal buat main solo di depan kita. "Dan lagi, penilaianmu soal aku seburuk itu yah? Di keluarga seperti apa kita lahir aku nggak bisa milih. Tapi, aku masih bisa menentukan harus bagaimana aku bersikap dan mengatur jalan hidupku di tengah keluarga itu. Satu hal, untuk ngebahagiain kamu, mengistimewakanmu aku nggak pernah ngelibatin orangtuaku. "Aku bukan tipe anak yang kayak dibayanganmu." Bagaimana bisa Nura menghakimiku serendah itu? Dia kenal aku walau tak sepenuhnya. Tapi, dia cewek yang memercayaiku.  Lalu, dari mana kesimpulan picik seperti itu tega ia rangakaikan?  Membuka sandi pada layar smartphone, aku lantas menyortir beberapa pesan singat, salah satu yang kutunjukan kepada Nura berisi kalimat ini. Bang Romy Thanks buat kerja sama asiknya di pemotretan hari ini. Nanti Mbak Nia yang kirim honornya kayak biasa yah, Sen. Hope we have other opportunities to work together soon. "Cari uang emang melelahkan. Tapi, menggunakannya buat orang yang kita sayangi aku ngerasa bangga juga bahagia." "Sen, aku .... " "Jangan minta maaf! Cewek nggak pernah salah. Don't you agree so much?" aku melunakan suara sambil menyampirkan senyuman yang tadi sempat tenggelam demi membuang kobaran gundah, gelisah nan tak nyaman Nura, melatihnya agar yakin kalau dia lebih berarti dari amarahku.  "Yep," Nura mengangguk setuju sambil mulai tertawa lirih namun merdu. "Tapi, kamu nggak pernah cerita kalau kamu ngefreelance jadi fotografer?"  "Karena aku emang nggak ngelakuin itu." "Terus, pemotretan maksudnya apa?" Aku berhutang terima kasih buat Eleona. Berkatnya, aku berjuang mandiri. "Hm, cuma memanfaatkan muka fotogenik aja sih.  Kebetulan aku belum nemu jalannya untuk jadi fotografer. Ingin sih, lagi coba-coba cari lobang juga.”  "Wait! Kamu ... Model? Seriously? Kok bisa? Kok aku nggak tahu? Udah lima bulan kita jadian loh. Ih, nggak ada yang bilang pula. Kamu nggak cerita jahat amat." "Not a model anymore. Dan salahmu sendiri yang nggak pernah buka majalah remaja atau merasa penasaran dari mana aku dapat 300 ribu followers di Instagram." Aku mungkin anak bintang tenar namun go public bukan gayaku. Segala pencapaian yang kuraih, diawali oleh nol besar. Aku kerap ikut audisi terbuka sejak di Bakti Luhur untuk mengisi posisi sampul majalah. Aku berjuang keras tanpa harus merasa terdesak menggeret nama Mama atau Papa di belakangku.  "Huhuhu, merasa hebat?" pancingnya.  "Of course," kataku sambil kembali menggenggam tangan Nura dan menuntunnya keluar ke arena outdoor, menyaksikan gedung perkantoran yang menantang langit malam, juga kunang-kunang lampu kendaraan yang macet mengular di bawah sana.  "Kita bener-bener di lantai 13?" gumamnya mirip memantapkan diri daripada bertanya. Sepertinya bayangan gelapnya telah memudar terbawa angin dingin bekas hujan. Syukurlah!  "Aku tahu kamu suka lihat langit. Dari sini langit kayak cuma sejengkal ‘kan?" kataku yang kini sudah berdiri di balik punggungnya. Mengungkungnya dalam pelukan punggung yang menenangkan.  "Nggak adil," dia menghela napas lirih tapi aku tak berniat menginterupsi. "Kamu lagi lagi selangkah lebih maju dari aku. Tanpa kukasih kode apa pun, kamu terus-terusan sukses ngebaca aku, Sen. Dan aku? Masih stuck. Aku nggak bisa berbuat sesuatu yang berharga demi kamu.”  "Salah. Kamu salah. Aku nggak ngerasa gitu kok. Dengan kamu tetap di sampingku, dengan aku bisa bahagiain kamu, itu aja udah cukup.” "Kamu selalu ngomongin dan nomor satuin kebahagiaan aku. Lalu, apa kamu bener-bener bahagia juga?" Jujur, aku tak berharap Nura berani menanyakan kata keramat tersebut. Bahagia? Aku dikutuk dalam kehampaan, perasaan semacam itu sangat jauh dari jangkauan eksistensiku. "Aku sayang kamu. Jangan pernah berani buat nangis selagi ada aku, hm?" Dari dulu perasaan tidak pernah menempati posisi puncak dalam hidupku. Kalau aku tak bahagia, memangnya itu penting?  "Jangan tinggalin aku! Walau dengan melihat mukaku aja kamu serasa mau mati, kamu tetep nggak boleh pergi dari aku! Oke?” lanjutku membalikan tubuh mungilnya dan serta merta mengurungnya dalam rengkuhan melindungi.  "Sen?" "Aku sayang kamu, Ra. Hidupku buat ngebahagiain kamu." Bersamaan kalimat tersebut Nura memantapkan permukaan wajahnya di atas dadaku, melingkarkan lengan kurusnya di pinggangku. Aku mengusap rambutnya berulang kali. Dia bisa percaya aku.  "Makasih, Sen. Makasih." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD