Saat itu aku baru kelas delapan, di mana berbuat usil, mencela, atau berulah onar adalah hobi belaka.. Dan yang kurasa pertengkaran-pertengkaranku dengan Eleona pun semakin sering terjadi namun sekalinya absen, bolong besar secara tak kasat mata menguasai. Entah normal atau abnormal setidaknya aku menikmati detik per detik kami saling melempar ejekan, aku terkesima dengan lirikan tajam bola mata cokelat biji kopinya, aku senang saat dia memarahiku yang sering iseng nan bandel.
Eleona yang menoyor kepalaku seenaknya, Eleona yang menjejaliku tahu bulat di kantin, Eleona yang menguber-uberku di sepanjang lorong Terasus, Eleona yang keras kepala dan tak mau berjalan di balik punggungku. Eleona … waktu cukup sigap berputar. Cewek kucel yang hobi nangis karena kekunci di toilet itu perlahan-lahan terpampang sinarnya.
Seragam biru-putih sepertinya berdampak luas terhadap perubahannya. Aku jadi tahu, dia tak hanya jago bicara dan mencak-mencak. Eleona yang anak tunggal itu memiliki kebiasaan mengunjungi yayasan yatim piatu di akhir pekan. Dia positif tukang jajan tapi, dia tidak pernah lupa untuk menjajankan anak-anak di yayasan itu juga. Eleona tanpa sadar mengajariku bahwa tidak mendapat perhatian dari orangtua bukan akhir dunia. Tiga tahun di Terasus, tidak sekali pun aku pernah mendapati orangtuanya datang untuk rapat wali murid atau menggambil rapot. Eleona selalu mandiri walau aku sadar ia sangat kesepian karenanya.
Bahkan di keramaian, ia tentu merasa demikian namun pandai ia sembunyikan. Seperti hari minggu sore itu. Aku, Garin dan dirinya mengamini ajakan Tante Rana untuk berlibur ke Ancol. Sebenarnya masing-masing dari kami lebih senang menghabiskan waktu di rumah sambil nonton bareng atau main monopoli–mungkin bagian ini aku saja yang merasa asik memainkannya–intinya jalan-jalan di luar jauh dari style kami.
Terbukti, tidak banyak yang dapat kami–aku lebih spesifiknya–perbuat dengan berjubelnya warga Ibu kota yang berduyun-duyun menutupi bibir pantai, mengularkan antrean setiap wahana bermain serta menguasai spot-spot bersantai.
“Bener-bener liburan rasa demonstrasi. Tukang jualan aja pantatnya nggak kelihatan,” keluhku menendang-nendang udara kosong.
“Mata lo aja yang jelalatan pake nyari-nyari pantat.” Haruskah kuperjelas siapa tukang nyamber nan ngeselin ini? Eleona. Tidak ada yang lain. Eleona. Eleona. Eleona.
“Mulut lo aja yang gatel pake komentar segala,” cercaku membalas.
“Biarin yang penting nggak kegatelan.”
“Adek-adek? Udah yah? Kakak risih nih dilihatin orang gara-gara kalian,” Garin si penengah. Garin si pengasuh. Di tengah aku dan Eleona entah mengapa Garin selalu mampu mengambil peran anak dewasa.
“Lo aja yang terlalu sibuk peduli. Cuekin makanya biar nggak risih,” Eleona dan mulut siletnya. Garin malah telah terpuntal-puntal menuju dermaga akibat kejaran Eleona yang hendak menuntut balas atas jitakan yang mampir ke kepalanya. See! Kami masihlah bocah.
Dan mestikah aku berterimakasih kepada Tante Rana? Pasalnya sebagai masyarakat Jakarta, ini kali pertama aku pergi ke Ancol setelah hidup selama 14 tahun. Entah bagaimana bisa seperti itu, seingatku Mama dan Papa jadwalnya padat. Sekali pun tamasya, kami–aku dan Mama atau aku dan Papa–lebih sering mengunjungj tempat-tempat di mana konsep ‘Bermain sambil belajar’ dapat diterapkan. Ke Museum, ke toko buku, ke perpustakaan kota. Semonoton itulah.
Pantai, deburan ombak, warna pasir, semuanya sebatas kutonton dari channel tivi. Maka, ketika kedua belah mataku menyaksikan air bergerak-gerak, air yang melimpah, air yang melintang tanpa batas. Ujung dunia sungguh tidak terlihat. Air, seluas ini? Angin kencangnya yang meniup rambutku, derai udara yang mengibarkan kaus Eleona dan Garin. Suara-suara orang di kejauhan bahkan terbawa mencapai telingaku, wangi air yang baru sekali ini kubaui, aku tiba-tiba saja diterpa pening.
Mengerjap-ngerjapkan kelopakku, berat menjamah pangkal kepalaku. Kaki ini seolah melayang, tubuhku mendadak ringan. Ada apa? Mengapa bising sekali? Mengapa berputar? Mengapa langkahku serasa terseret gulungan air ini?
Kenapa? Kenapa? Kenpa berbeda sekali dari gambar yang kutonton? Kenapa rasanya begini?
Aku … mau jatuh.
“Sen?” Genggaman disela jari-jariku, usapan di pundakku. Eleona?
“Nggak apa-apa. Jangan takut!” lanjutnya menutup kedua mataku menggunakan telapak kecilnya. “Coba, sekarang kamu harus coba buat percaya sama aku, yah?”
Aku tidak menggeleng tak pula mengangguk namun Eleona menuntunku, berjalan di sampingku dalam kegelapan yang menyelimuti. Jujur, aku benci gelap tapi sore itu aku tidak lagi sendiri dalam kepengapan. Eleona, tangannya halus. Entah tak bisa melihat membuat pendengaranku lebih peka atau bagaimana. Yang pasti jantungku deg-degan untuk pertama kalinya di dekat cewek. Aku merasa nyaman dan beruntung ada Eleona bersamaku. Aku yang lemah memang butuh pegangan.
***