“Jadi menurut lo, gosip tentang Ketua Osis kita yang macarin anak haram lebih membanggakan daripada berita pacar sang Ketos kalah balapan dari Benedikta Aljanuar?” Berhenti membereskan barang-barangku ke dalam tas, atensiku lantas mengarah ke si penyeru. Sejak pindah ke Altair aku mengerahkan seluruh tenaga demi menghindari keroco-keroco penimbul onar. Ben merupakan teman satu SMP-ku dulu. Kegemarannya mengganggu, merebut ketenangan orang lain dan mengoleksi musuh.
Perang dingin di antara kami telah berlangsung begitu lama, saat di Bakti Luhur tak sekilas pun aku mengabaikan segala jenis tantangannya. Balapan untuk senang-senang, balapan untuk pamer motor, balapan untuk taruhan. Kejahatan-kejahatan macam itu kulakukan bersamanya namun kini katakanlah aku tobat. Lantas, egonya merasa tercederai mungkin. Dia bisa jadi merasa meradang akibat rindu bertengkar denganku.
Memasukan telapak tangan ke dalam saku, bibirku mencibir. “Bukannya bagus? Nggak adanya gue membuka kesempatan menang lebih besar buat lo. So, pantesnya gue denger terima kasih dong dari lo.”
Ben yang dianugerahi tinggi sedikit melebihiku menyeringai bagai superman menang lotre. “Gue kira skandal memalukan keluarga lo bikin lo gagu,” ia membenarkan kerah kemeja putihku yang kuyakini tak kusut. “Yeah, akuilah justru keikutsertaan lo yang memacu kehebatan gue. Tanding tanpa lawan adalah lomba yang sia-sia. Sirkuit bener-bener hambar minus lo dan MV Agusta kebanggaan lo itu. Gue sangat berharap lo gabung.”
Ben featuring otak liciknya. Terakhir kami bersinggungan di jalanan, aku ingat betul seberapa panas tamparan Mama di pipiku juga seberapa keras Papa Raga membentakku oleh sebab bocah ini berkhianat lalu lapor Polisi. Bualannya tidak patut dipercaya.
“Terserah rencana lo ngebentuk alur macem apa. Gue nggak akan terjebak dalam ocehan lo lagi,” ujarku mengibaskan tangannya dari badanku kemudian sengaja melangkah menabraknya.
“Bahkan jika balapan kali ini soal Nura si Ketua Osis plus kekasih backstreet lo itu?”
Ibarat terprogram lajuku mandek. Berbalik mengintrogasinya, tidakkah perkataannya itu lancang membawa-bawa Nura? Oke, ada yang pernah bilang bahwa orang yang paling mengenali diri kita ialah musuh. Ben salah satu orangnya. Ada Yura, Garin … entah siapa lagi di luaran sana yang berhasil mengendus hubunganku dengan Nura.
“Gue nyaranin ide asik. Siapa pun pemenang kali ini berhak memerintah apa pun kepada yang kalah untuk mempermalukan Nura. Menurut lo, betapa kesempatan emas ini sudah sangat ditunggu-tunggu? Nura si Ketua Osis paling sok bener, Nura si belagu, Nura si trouble maker. Anak-anak cowok yang kena poin sama dia tentu nafsu buat nuntut balas. Ini bakal rame, gue jamin.”
Refleks saja aku maju mendekat, menggeret kerahnya ganas. “Lo kira lo bisa lakuin hal b***t itu?”
“So pasti. Inget nggak? Dulu gue pernah ngomong bahwa lo dan sifat nantang lo bakal ngerasain ngedekem di penjara. Realisasinya? Lo nginep di kantor polisi berkat aduan gue,” bebernya besar hati. “Ben, selalu mampu menghapus kata ‘im’ dalam possible.”
Kerusakan mentalnya benar-benar mengakar rupanya. Bicara saja tak akan menimbulkan dampak apa pun. Menyikapi Ben, artinya melempar koin tinggi-tinggi demi peruntungan kemenangan atau kemalangan. Aku harus duel secara langsung, mekanismenya seperti itu.
“Start dari mana dan kapan waktunya?”
“Wow! Manusia berpendirian ini berubah pikiran demi cinta. Marvelous!”
“Tunjukin sikap kebule-bulean lo ke orang lain. Jawab gue to the point!”
“Fine. Minggu besok di persimpangan samping toko swalayan Fess. Datang semenit aja lebih dari jam satu malem lo di diskualifikasi.”
“Oke.”
Mengurut pelipis selepas kepergian remaja keturunan Jerman itu, aku lalu digelendoti gejolak dosa. Mana janji agung yang kusumpahkan untuk Nura?
“Aku nggak akan balapan, berantem, atau ngeladenin pertikaian jenis apa pun. Sampe lulus aku bakal jaga nama baikku sendiri dan kamu tentunya. Udah bersedia jadi pacarku, aku janji kamu nggak akan kecewa.”
Sekarang, kujilat ludah itu. Saat ini aku membuka gembok serta mempersilakan dosa-dosa tersebut singgah berkunjung.
Kupikir episode berkhianat tak harus kuulang. Pada dasarnya menggenggam seutas janji memang tidaklah gampang. Semakin aku berusaha menjaganya, semakin kuat bombardir yang mengenai tautannya.
Dan aku yang lemah macam begini, selalu menanting sekotak ingatan yang demi Tuhan ingin sekali kulupa.
***