Bab 10

845 Words
Hal tersulit dalam hidup adalah ketika dirimu hanya satu tapi, kamu terjebak dalam banyak masa kehidupan _____ Hari-hari berganti ibarat pergeseran dari scene satu ke scene selanjutnya pada tayangan film. Saking runut dan kilatnya tahu-tahu waktu membawaku ke akhir pekan. Jelas minggu yang kaya akan halang rintang tapi, aku bersyukur setidaknya Sabtu di Altair lumayan menghibur. Seluruhnya didominasi oleh program ekstrakulikuler. Tak begitu ditekankan untuk siswa kelas tiga macam aku yang dalam waktu dekat hendak dicegat UN namun, sesekali rehat dari buku, menjernihkan pikiran, memainkan hobi di dunia luar bisa dimanfaatkan pula sebagai sarana terapi kejemuan.  Sekolah merupakan aktivitas monoton, penyakit lelah pun mudah menjangkit siswa dan aku menyambut gembira kebijakan Kepala Sekolah untuk tetap memperbolehkan kami ikut berkecimpung dalam eskul hingga prosesi serah terima jabatan dilangsungkan bulan depan.  Ngomong-ngomong soal eskul dibandingkan sekolah lamaku, di Altair kelompok kreatif rimbun berkembang biak. Andai kata hari tak hujan lapangan pasti telah luber oleh gerombolan-gerombolan kecil.  Mengalungkan kamera Canon di leher, aku bertumpu pada beton pembatas lantai dua di depan hall basket. Aku tak begitu suka aktivitas bakar kalori kecuali lari serta ngegym. Nura berulang kali mencibir kebiasaan tersebut, tapi atensiku memang di fotografi.  Menyamankan pegangan terhadap grip, segera saja kunyalakan auto focus. Perkumpulan berpayung di pinggir kanan lapang ialah calon bidikan utama lensa EF-S 15-85 kamera berusia dua setengah tahunku. Melalui akses viewfinder yang berkedip merah, siluet para pencinta alam sukses terkunci. Penekanan penuh pada tombol shutter menandai abadinya Nura dalam memori khususku.  "Hm, perfect." "Hoi, Sen! Sekali-kali bikin gue jadi model ganteng dong! Jangan lagi mangap, lo jeprat-jepret, terus ngetag gue di i********:. Gara-gara ulah lo tuh komen di Insta gue isinya faker sama tukang jualan semua." Garin dengan setelan kaus LA Lakers kebanggaannya sekonyong-konyong merangkul bahuku demi mengambil alih Canon hitam dari tanganku.  "Halah, itu sih emang muka lo aja yang nggak fotogenik. Mau ngiler seluas laut Jawa, atau mangap kayak lubang buaya kalau emang keren mah bakal photo-able," balasku seraya berupaya merampas kembali apa yang telah diakuisisi olehnya.  "Seno! Yang kamu lakukan ke saya itu jahat," ujar Garin berlaga ala Cinta sang icon remaja cewek generasi awal 2000-an sembari mengalah terhadap kameraku dan ikut memandang betapa hujan kian deras.  "Belum gue tinggal ke New York satu purnama aja udah ngomong jahat lo. Gimana rasanya jadi pengisi bangku cadangan selama dua tahun? Coach Lian sama Harby mau lo kasih predikat apaan?" balasku santai yang langsung menyeterumkan deru sesal. Terbukti, diam mengungguli beberapa menit. Garin tidak jarang berubah gagu bila disinggung soal keikutsertaannya di eskul basket. Seolah aku telah mendobrak pintu rahasia yang dia ingin diami sendiri.  Mendengus singkat, ia memperbarui urat di wajahnya agar cerah. "Om-Om pemilih sama Mas-Mas sok hebat yang emang keren itu? Terserah dia lah, toh di rumah ataupun di sekolah gue nggak pernah kepake sama dia." Jika aku belum pernah memberi bocoran. Garin itu saudara kembar Harby. Yah, Harby Adijafri Jusuf Ibrahim sang bintangnya klub basket, sang casanovanya Altair, cowok berkuda putih yang populernya tiada tara di kalangan cewek-cewek. Anak IPA paling teladan sekaligus pesaing terberat Nura untuk urusan akademik. Entah mengapa meski identik, mereka berdua sangat bertolak belakang. Bahkan aku tak pernah tertarik masuk ring pertemanannya Harby. Meski satu cetakan wajah, warna yang kakak-beradik itu bawa sungguh berlainan.  So, bagaimanapun juga sebagai kembaran mereka tetap tak kalah dalam urusan pesona. Sayangnya, sahabat karibku ini terlalu nyaman menempati posisi bayangan.  "Stop diskusiin makhluk artis-able itu lah. By the way, tiap ada latihan bareng semua eskul macem ini, fokus, minat, dan nyawa lo rasa-rasanya tertuju buat gerombolan Caring Environment atau nggak Osis. Seriusan, lo udah move on?" Kedua organisasi yang Garin sebutkan ialah rumah Nura.  "Sure. Lo nggak lihat cinta di mata gue sejernih apa buat Nura?" "Nice, percikannya nyata banget. Seakan lo nggak akan hidup kalau bukan untuk peduli ke dia. Layaknya de javu, gue nyaksiin aura ini juga lima tahun lalu." Jujur aku agak terkejut mendapati pengakuan Garin.  "Lo sama mantan-mantan selingan lo itu mungkin putus dengan masalah yang ngegantung. Tapi lo dan El, kalian putus baik-baik, Sen. Kenapa nggak bisa anggap dia macem temen lama? Semalem Eleona ngechat gue, dia nanya apa gue udah bikin lo ketawa? Dia khawatirin lo, dia takut lo nggak ada yang nemenin, dia takut lo biarin diri lo babak belur sendirian. Dan kalau-kalau lo ingin tahu, kabar El baik-baik aja.” Garin tidak mungkin bisa menerima Nura sebaik dia menerima Eleona. Garin sama menderitanya denganku akan takdir kami." El ..., " Leona. Aku mustahil sanggup menyebut namanya secara utuh lagi.  "Sorry juga katanya karena belum bisa balik." Tidak bisa. Dia tak akan kembali walau aku mati sekali pun, dia mustahil melayat. Jerman adalah hunian barunya. Itu janjinya dulu.  Eleona ... bukankah malam tadi aku memimpikannya?  Meraih kameraku kasar, aku mencari-cari bias Nura di kejauhan. Cewek itu masih menebarkan senyum menenangkan. Nura, mungkin kalah telak dari Eleona tapi, sekarang dia memenangkan hatiku. Yah. Dia pemiliknya.  "Thanks," gumamku bersamaan dengan terambilnya foto anyar cewek manisku. "Bilang ke dia kalau gue berterimakasih atas perhatiannya."  Tubuhku terbelah di antara masa lalu dan masa nanti. Namun aku bernapas untuk mengisi masa kini. Biarlah misteri unjuk kebolehan tongkat ajaibnya di depan sana. Aku tak mau terus-terusan peduli, lagi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD