Bab 9

1064 Words
“Gimana acara perjodohannya lancar?” aku melempar sebungkus roti yang langsung ditangkap secara sempurna oleh Garin yang sedang menumpu diri pada balkon lantai 2 milik jajaran kelas IPA di Altair.  “Gendeng banget suer tuh acara. Siapa sih yang mengaruhin pikiran jernih Bonyok gue? Nggak lagi-lagi deh gue tergiur sama makan pizza gratis sampe buncit yang hampir merebut kebebasan tiada tara nan abadi milik gue,” Garin misuh-misuh sambil memasukan sebulatan roti ke dalam rongga mulutnya. “Eh, lo pura-pura sehat yah? Kok udah masuk sih?” “Ya emang berbaring seharian di rumah, berlindung di bawah selimut, ngunci diri bisa bikin semua yang udah terjadi ini dicancel? Life must go on ‘kan? Hah, lagian males gue absen solo, nggak ada lo nggak rame.” “Wuah, sebegitu bergantungnya lo sama gue. Cinta mati yah lo?” “Iya gue pingin ngebunuh lo nih,” responku sambil memiting lehernya.  “Asem lo!” umpatnya disela upayanya mengendurkan seranganku.  “Eh, jadinya lo apa Harby yang dapet tuh cewek calon mantu Om sama Tante, hm?” tanyaku kembali membimbingnya ke lajur obrolan semula.  “Yang jelas gue menolak secara keras dan mantap. Mending dicoret dari KK deh daripada kudu nikah sama nona Manis itu.” “Hem, ngakunya nolak tapi buktinya muji juga tuh, ‘Nona Manis’ asik.” “Muji jidat lo! Ora sudi gue meluangkan waktu berharga serta mulut indah ini demi si cewek senglek itu.” Aku tak menuangkan balasan, hanya saja alisku terangkat sebagai tanda belum puas akan jawaban serba mencurigakannya.    “Ish. Suer! Itu bukan sanjungan. Itu anak temen Bokap emang namanya Manis.” “Halah! Manas, Manis, Manas, Manis. Semanis apa sih namanya?” “Se-Semanis apa?!” Garin menjambak poninya. “Nama lengkap cewek itu Manis Wianon, Arseno Diputra yang mendadak telmi.” “Oh?” aku membulatkan bibir. “Gue kirain cuma analogi.” “Analogi mulut lo isi comro! Eh yah, analisis gue beres.” Untuk ukuran sesuatu hal yang tamat, ekspresi Garin terbilang sangat lesu.  Pagi diguyur hujan rintik-rintik, Ibu kota bersuhu cukup dingin mungkin karena angin yang tak henti bertiup. Sekolah bukan spot yang enak dalam kondisi macam begini.  "So, kabar buruk apa?" inisiatifku menebak.  "Bukan warga sini. Gue udah pinjem mata gengnya Harby yang sumpahnya itu untuk pertama dan terakhir kali gue memohon bantuan ke dia. Odessa, bukan nama samaran, nama beken, nama pena, nama lahir, atau nama masa depan siapa pun di Altair." "Unbelievable," lirihku hampir sirna di tengah denting gerimis. Sobekan kertas merah jambu masih mencuat di ujung saku seragamku.  LARI SENO! KAMU KAN JAGONYA. TANGGUNG JAWAB NGGAK COCOK SAMA DIRIMU.  -Odessa- Aku tidak melakukan tuduhannya. Tapi, perkataannya sanggup menggoyangkan keteguhanku. Ini aneh.  "Altair gudangnya cowok populer, kenapa harus gue?" gumamku masih terombang-ambing tak habis pikir.  "Ya sebab lo beken juga. Cewek kekinian mana sih yang sanggup merem lihat lo? Nyokap Artis dan Bokap Best Lawyer. Mertua idaman tahu. Ibaratnya gue cewek, bakal semangat empat lima minta dilamar segera sama lo deh.” Mendesis gemas, aku tak mengira bila urat sok kocak dan sok tidak punya malunya Garin itu kian tebal per harinya. "Pondasi alasan macem itu, harusnya Harby yang kena tembak, dia ‘kan anak Menteri. Vino ... Nyokapnya Anggota Parlemen. Atau nggak Bara, orang tuanya punya sekolah ini. Dan kalau dia beneran melek potensi lo lebih menguntungkan daripada gue."  "Oke. Oke. Oke. Gue setuju sama pembenaran lo. Cuma ada satu, Sen yang semua orang-orang itu khususnya gue nggak punya tapi lo punyai." "Apaan?" Yang membuatku berbeda dengan mereka hanyalah masalah. Kelebihanku cuma itu.  "Kombinasi rasa penasaran dan tanggung jawab. Menurut gue, Odessa ngerti lo dengan baik. Lo bukan model cowok yang bakal dengan mudah ngelepasin permainan sesimple apa pun. Ah, kecuali monopoli karena walau usaha lo udah sampe merem-melek, endingnya lo tetep gagal karena emang lo nggak ada bakat di situ." Pujiankah? Hinaankah?  “Jadi, coba inget-inget lagi! Siapa sih cewek yang pernah deket sama lo?” lanjutnya.  Dekat? Setelah putus dari Eleona aku terbilang sering gonta-ganti cewek sih. Dalam kurun satu tahun di Bakti Luhur, aku bahkan sempat memacari lebih dari 20 orang. Rekor paling singkat hubunganku itu 6 jam sedang yang terlama bersama Fanya sekitar 2 bulanan. Lalu, diantara mereka kira-kira siapa yang paling dekat denganku? Jangankan mengingat poin tersebut, nama dan wajah mereka pun aku sudah buram.  “Gue nggak yakin sebenernya,” jujurku menjuruskan memori agar menampilkan apa yang kubutuhkan. “Mungkin Nadine? Eh, namanya Nadine apa Raline yah? Gitulah, pokoknya dulu dia pacar gue yang suka gue ajak balapan. Menurut gue sih kami lumayan deket. Terus, Dania. Kalau nggak salah dia mantan pacar gue yang paling seksi, populer pula. Kami juga cukup akrab karena sama-sama suka fotografi. Terakhir yang sering jalan bareng gue tuh Kella, dia anak SMA Yanova yang khusus putri itu loh.” “Wuidih, ternyata banyak dongeng yang belum sempet lo bacain buat gue yah? Apaan noh? Seksi? Sejak kapan lo doyan ngegebet yang seksi-seksi?” “Sejak gue patah hati. Nggak tahu lo, heh?” “Ampun deh produk sumo! Lah terus, dari segambrengnya koleksi mantan lo, ngaku mana yang hubungannya paling jauh sama lo?” “Gue pacaran bukan nikah, Mbel! Walau gue bandel tapi, gue bukan b******n. Lo raguin pengakuan gue?” “Nggak sama sekali. Tujuan gue ngorek info ini adalah siapa tahu di antara mereka ada yang lo curigain? Ada yang dendam gegara lo putusin? Ada yang nggak rela lo jadian sama cewek lain? Kira-kira, siapa yang mungkin berbuat gitu?” “Semua,” jawabku enteng yang langsung memancing berengutan pada ekspresi wajah Garin. “Gue belum pernah putus baik-baik. Ketika udah masuk ke hidup gue, sebagaian dari mereka keberatan buat pergi. Ya udah, gue nggak nganut istilah mantan jadi temen.” “Hem, emang k*****t lo! Terus kita mesti nyari ni Odessa kemana?” Garin mendumel, kemudian membuang perhatian ke lantai dasar. Celingak-celinguk dari sudut ke sudut, tampaknya Altair kian penuh oleh anak-anak. Bel masuk bakal berdering tak kurang dari 5 menit kedepan. Sementara itu, bulir-bulir tangisan langit justru semakin melebat. Mendung putih menggantung, melayangkan kode bahwa hari ini awan sedang kehilangan hasrat.  Meninggalkan tempat bersandarku, punggung ini menegak demi bersiap kembali ke lantai satu di mana kelasku dan Garin berada. Mata pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia, belum mulai tapi, hawa mengantuknya kian kental oleh latar belakang cuaca dicampur materi nanti. Huh! Terang bukan jenis hari yang mujur.  “Sen!” panggil Garin menginterupsi kebosananku.  “Yo?” “Menutut lo itu Odessa ‘kah?” cuitan ini refleks menarikku guna berpaling mengikuti arah telusur Garin.  Sedang mengayunkan langkah besar-besar, membelah anak-anak yang terburu berlarian, berlindung di bawah sebulatan payung merah, objek tersebut bergegas melewati pintu gerbang. “Dua menit lagi bel masuk, maka yang berjalan keluar tentu sebatas tamu di Altair.” Bertukar tatapan dengan Garin, kami memutuskan tidak melakukan pengejaran. Membiarkan sosok itu pergi karena dia pasti akan kembali.  “Odessa … maumu itu apa sebenernya?” melihat udara kosong nun jauh di sana, bagaimana kami yakin si tersangka ini akan datang lagi? Tentu karena sebagai korban, aku belum merasa kalah oleh serangannya. Dia tak mungkin berhenti. Lihat saja!  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD