Rasanya jadi ABG itu manis, asem, asin tapi, banyakan pahitnya sih
____
Nasi goreng hasil karya Bi Yum enak. Telurnya diceplok setengah matang persis seleraku. Rasanya pun agak manis, Bibi hafal untuk memasukan 5 setengah sendok kecap, serupa favoritku. Apabila demikian adanya, kenapa lidah ini terasa pahit saat berusaha menelannya? Sungguhkah aku meriang? Kerongkonganku berontak, aku paling anti mengubah rutinitas.
Tiga bulan lalu, aku duduk di sini, melihat jendela besar yang meloloskan gambar pohon beringin tua, daunnya hijau dan lebat. Semilir angin kerap masuk tanpa diundang, kadang kala justru usil menerbangkan rambut kemerahan Mama. Dari tempatku, sering sekali aku menggombal serta mencemooh Papa sebagai pribadi si minus kepekaan. Mamaku pesonanya menyaingi bidadari, namun menjodohi Papa malah menjerembabkannya ke ladang neraka. Meskipun tak pernah terang-terangan mengadu, aku mengerti sederas apa hatinya menangis akibat sikap Papa. Sekuat-kuatnya seorang perempuan, perasaannya tidak sanggup kabur dari kodrat. Mereka tersusun dari kepingan-kepingan nurani yang sangat lembut.
"Papa ada titip pesan sesuatu nggak, Bi?" tanyaku setelah benar-benar kehilangan ambisi untuk makan serta memutuskan guna menandaskan segelas air es.
"Anu, paling kata Bapak, Mas Seno nanti makan malam duluan aja. Soalnya Bapak bakalan pulang telat," ungkap Bi Yum terbaca sekali sedang mengingat-ingat. Maklum, di usia awal lima puluhan dia terus bekerja keras. Salah satu pegawai kepercayaan orangtuaku juga paling kusayang.
"Cuma itu?" lanjutku malas. Sebab putranya keluyuran semalaman, tak pulang pun Papa tidak tahu. Payah!
"Ah, satu lagi, Mas. Katanya, khusus hari ini Mas Seno nggak usah nonton tivi atau buka berita online dulu." Telat! Jangan baca majalah, hindari koran, tutup layar televisi yang isinya gosip sensasional. Jika mereka ingin aku tidak membuka lantas kecewa, kenapa senang banget bikin ulah ngedrama?
Ratusan artikel membanjiri internet. Beritanya berinti serupa. Masyarakat pun ikut berkomentar, sebagian besar antipati terhadap Mama, Papaku tampil bagai korban. Padahal di balik panggung ceritanya sungguh bertolak belakang.
"Mas Seno, yang sabar, yah Mas! Mau Bi Yum masakin bubur aja? Katanya nggak enak badan? Apa mau Bi Yum buatin jahe anget?” aku menerima remasan menguatkan di area pundak. Bi Yum, telah menitihkan sebulir air mata. Lihat! Betapa perempuan begitu gampangnya tersentuh padahal aku hanya muram namun Bi Yum justru luruh duluan.
Meraih tangan tua Bi Yum, aku balik menggenggamnya. Hm, kulit Bi Yum memang kalah jauh dari kencang nan lembutnya punya Mama namun sensasi tat kala aku menyentuhnya tak jauh berbeda. "Seno nggak apa-apa, Bi. Jangan nangis gitu dong, keriputnya jadi pada muncul tuh. Nanti Mang Ratmo nggak cinta lagi ‘kan berabe. Kalau Bi Yum patah hati, sayurnya pasti asin deh."
Bi Yum mencubit ringan pinggangku sebagai bentuk protesnya yang sekadar kubalas dengan cengiran tak bersalah. "Malem masakin bacem tempe dong, Queen! Seno kangen baceman Yogyakartanya Bi Yum. Oke oke?"
Bi Yum menggangguk semangat sambil tetap mengeluarkan air mata, menuntun tanganku guna bergerak mengusap pipi kendurnya yang basah. "Ceup dong, Queen! Nanti seksinya hanyut loh? Sini, Seno peluk boleh?"
Bi Yum mengelus rambutku, sementara aku bersandar, mengais ketenangan dengan merengkuh pinggangnya.
“Jangan nangis, Mas!” katanya semakin erat mendekapku.
"Bi Yum plin-plan nih, kemarin mintanya jangan nakal, Seno jadi bingungkan, air mata ini juga. Suruh masuk, malah cari pintu keluar," ujarku yang kini merasa begitu cengeng jua kekanakan. “Dia cuma salah jalan, Bi. Seno nggak niat nangis kok.”
"Nggak apa-apa. Nanti Bi Yum lapin kalau udah beres. Mas Seno laporan yah ntar?”
"Hum."
Kepada Mama, aku berjanji untuk tidak menangis namun kali ini aku mengingkarinya. Janji-janjiku padanya sulit ditepati. Lagi.
***
“Monopoli lagi?” Garin dan Eleona kompak menghela napas pasrah pasca mengetahui mainan apa yang kucalonkan untuk menemani akhir pekan kami.
“Yah,” yakinku. Apa salahnya manual games ini? Asik kok. Kita bisa latihan jadi pengusaha, membangun hotel di seluruh belahan dunia, lama-lama kita pun terlatih dalam mengocok dadu, kita cakap buat mengatur keuangan.
“Dari SD kita selalu main ginian tiap libur dan lo belum pernah menang. Eh, di SMP mau coba lagi? Ayolah, gamebot aja udah diganti Playstation. Masa kita kudu main uang-uangan mulu. Cewek yang hobi masak-masakan aja mulai seneng masak beneran. Hei! Ini terlalu bocah!” Eleona dan aku tidak pernah sepaham, itu kenapa kami tidak bisa lebih dekat. Hampir 3 tahun berteman, aku belum sekali pun berkunjung ke rumahnya, mengobrol bersama orangtuanya, atau menghadiri pesta ulang tahunnya. Entahlah, setidaknya dia berbuat begitu juga terhadapku.
“Terlalu bocah?” tanyaku yang Eleona tanggapi menggunakan anggukan mantap. “Bagus! Lo jadi tukang Banknya aja kali ini. Nggak usah ikut pertandingan. Gar! Kita main berdua, ayo suit!
“Ah, tapi kalau berdua aja nggak seru. Biarin El ikutan juga, hm?” nego Garin tampaknya jelas terlihat kepada siapa ia memihak. “Kita bertiga tanding. Yang bisa ngebangun hotel paling banyak, dapet hadiah. Terus yang bangkrut duluan kita hukum.
Gimana?”
“Hadiahnya apa?” tanyaku.
“Em, sekardus mie instan?” jawab Garin hati-hati.
“Lo kira kita lomba Agustusan apa korban dipengungsian, heh? Jangan cuma sekardus mie dong tambahin sekantong beras, minyak goreng, telur, s**u. Ah, buku-buku yang udah nggak muat dilemari juga, terus lebih bagus kalau baju-baju yang udah nggak kepake dihadiahin juga,” usul Eleona.
“Lo ngerampok atau apa niatnya ini?” simpulku heran. Tentu saja, walau aku tak kenal keluarganya, satu yang sangat kutahu.
Eleona berasal dari keluarga serba ada itulah mengapa ia sanggup bergabung ke SMP Terasus.
“So, lo keberatan?” tuduhnya tertarik adu mulut denganku lagi sepertinya.
“Gue–“
“Deal. Gue sama Seno setuju kok. Iya ‘kan, Sen?” Garin kembali mengambil perannya sebagai penengah, ia bahkan melayangkan morse khusus buatku melalui matanya.
“Oke. Lalu hukumannya?” lanjutku ingin segera menutup diskusi dan lekas bertarung.
“Truth or Dare,” Garin membeberkannya sok mistis. “Yang kalah wajib milih truth or dare. Tenang, cuma seronde. Keberatan?”
Aku menggeleng. Terserahlah! Toh aku telah berlatih keras, sekarang kemenangan pertamaku di depan mata.
“Nggak masalah. Jelas juga kok siapa yang bakalan mainin itu,” ucap Eleona yang serta merta menyinggungku.
Huh, lihat saja aku mustahil terkalahkan.
Yah, skenario versiku begitu. Tapi, siapa yang sangka? Kocokan daduku tak sekali pun menghantarkanku ke kotak parkir bebas. Dan aku kesalip Eleona yang lebih gesit mendirikan segunduk hotel merah secara sejajar di kolom negara Jepang, India dan Korea. Yang benar saja, sekali melintas nan s**l aku masuk perangkap beruntun di satu kawasan tersebut, pundi-pundi dollarku pindah tangan. Apalagi saat kartu kesempatan memerintahkan aku supaya kembali ke kolom Indonesia di mana letak hotel-hotel Garin berendeng gagah. Sungguhkah kerja kerasku berlatih mengocok dadu sia-sia?
“Ah, kalian sekongkolan yah? Masa gue dari tadi maju-mundur, maju-mundur di lingkungan ini mulu,” protesku.
“Itu sih lonya aja yang emang nggak berbakat di monopoli,” Eleona … mentang-mentang dia jago dan belum terkalahkan seenak kepala buletnya saja menghakimiku. Bakat?
“Makan tuh bakat ngocok dadu! Kalau gue gede nanti, jangankan hotel-hotel plastik macem ini. Lo-lo pada minta gue bangunin hotel pribadi bakal gue jabanin.”
“Oh yeah. Omdo garis keras!” cemooh cewek itu belum puas.
“Serius. Gue bakal buktiin ke lo. Bahwa tangan gue punya keahlian lain dibanding sebatas menadah ke orangtua. Catet tuh!”
“Sip gue catet. Sekarang siapa yang menang, Gar?”
“Juara bertahan, Eleona. Runer up bertahan Garin. Third place, Arseno Diputra.”
“Nah ‘kan. Tuan kalahan turth or dare?”
“El, jangan gitu!” lerai Garin.
“Biarinlah, Gar! Oke, gue milih truth,” putusku.
“Gar, sebagai pemenang gue punya hak buat nanya ke si kalahan ini nggak?”
“Iya. Silakan.”
Aku menantikan sepatah kata yang hendak Eleona kuarkan. Mataku pun memicing saking antisipasinya.
“Lo pernah bikin janji ke seseorang?” tanyanya aneh. “Sebutin satu janji yang udah lo ingkari!”
Kalimatnya … memanggil sebias kejadian dalam memori sana. Ingkar janji? Jangan-jangan, maksudnya perkataanku yang itu.
“Ngajak lo makan siang bareng Nyokap gue?”
“Hm, gue kira lo nggak inget lagi. Ternyata, lo berani ngaku juga. Sip! Kumpulin barang-barang yang udah dijanjiin buat hadiah gue! Sekalian pada bantuin anter ke Yayasan Amerta yah?” Dialah Eleona, orang pertama yang menyaksikan ingkar janjiku.
Kedepannya, siapa duga cewek itu adalah sumber segala bentuk pengalaman pertama dalam kehidupanku. El, semoga aku selalu sekuat dirinya.
***
Orang bilang, kamar refleksi kepribadian penghuninya. Papa mengawali perahu rumah tangganya bersama Mama di sebuah rumah dua lantai di salah satu sudut Menteng. Bangunan tempat aku tumbuh besar dirancang khusus oleh kakak kandung Papa. Arkha Rega Wirama, bertolak belakang dengan adiknya, terasa sekali dari gaya klasik sederhana yang ia tuangkan dalam desainnya.
Ruang tidurku seluas 4 x 5 meter, berisi ranjang berseprai kelabu tepat di titik simetrisnya. Tak kaya akan perabot. Total 4 buah poster menempeli bagian dinding sewarna kapasnya, tiga merupakan potret Benedict Camberbatch dan Martin Freeman, simbol pertalian kawan yang lumayan kukagumi. Sisanya ialah foto hitam-putih yang menampilkan angle terbaikku. Garin menganggap itu narsis, norak, dan kekanakan. Tapi, Mamaku suka, bahkan dia sendiri yang memasangnya jumbo pada tembok belakang kasur. Dan merusak kesenangan Mama tak masuk catatan to do list-ku.
Ah, walau kadang di saat-saat sepi, aku kerap mengamini apa yang sering Bi Yum proteskan tentang kawasan private-ku ini; kamarku sungguh-sungguh bagaikan cermin. Minus televisi, radio, DVD player, playstation, meja belajar, rak buku atau t***k bengek perkakas yang mampu mewakili diriku. Sewaktu kusinggung soal kosong maknanya tidaklah hiperbolis. Melompong, hanya lemari semodel blester tiga pintu di dekat kamar mandi, penghuni lain yang ikut menetap bersamaku. Menyalin keahlian Papa, aku sama sekali tak transparan. Itulah mengapa Nura sedikit sulit untuk menerkaku.
Berbicara soal Papaku, dia ahli hukum nomor satu. Dia jenis laki-laki yang mustahil keliru. Orang yang belakangan kuragukan keabsahan nuraninya. Apabila kamu pernah dengar, waktu sangatlah serakah. Ia omnivora. Maka, jangan kaget jika ada masanya ia memakan habis apa yang kamu punyai. Bahkan Papa telah dilahapnya perlahan-lahan sehingga kami berubah asing.
Menatap nanar layar smartphone, kontak ‘Orbit Hidup Gue’ terpajang di sana. Barusan saja, aku mimpi soal cewek yang sekuat diri kuhapus kenangannya. Namun, entah bagaimana alam bawah sadarku tetap menyimpan sisa-sisa kebersamaan kami. Hal tersebut salah dan cara meloloskan rasa tak mengenakan ini artinya aku butuh bantuan seseorang.
Pukul 7.30 malam. Nura, sedang apa yah?
“Selamat malam, Penelepon. Udah sehat?” suara lembut ini, ah aku berhasil menekan tombol call rupanya.
“Hum. Jauh lebih baik.”
“Hem, okay. Kedengeran sih dari suara serak kamu.”
“Haha seksi yah suaraku?”
“Mungkin. Eh, tengah malem ada komet yang mau lewat loh. Mitosnya, kalau bikin permintaan bakal terkabul.” Mengabulkan munajat?
“Tuhan aja belum bisa ngejawab do’aku apalagi komet. Takhayul banget.”
“Kesannya emang omong kosong sih. Eh, Garin ada di situ nggak?”
“Owh, ada sinyal-sinyal apa ini tumben-tumbenan nyariin rival cintamu, hm?”
“Rival cinta kaleng rombeng! Itu … waktu tadi kamu pulang dianter Garin, ada adik kelas yang nyamperin aku kayaknya sih aku pernah lihat, anak futsal kalau nggak salah.”
Yura Alona. “Terus, dia nanya apa?”
“Soal Garin sih. Dia nanya alamatnya, nomor teleponnya. Tapi, aku nggak kasih takut Garinnya nggak suka. Tadi aku chat dia tapi, belum dibales tuh. Kirain dia lagi nemenin kamu.”
“Enggak. Dia ada undangan makan malem bareng Mama sama Papanya di hotel mana gitu. Tahu deh mau dijodohin kali tuh bocah.”
“Ah, kalau dia jodohin bakal timbul bau hati yang gosong nanti.”
“Uh, ada yang cemburu nih?”
“Apaan? Soh-ri yah aku jelaous sama istri pertamamu itu? Cuih! Aku lebih unyu dan gemesin kali, udah gitu nggak berotot bikin serem.”
“Haha oke oke. Em, Ra?”
“Yah?”
“Kayaknya kamu bisa deh.”
“Maksud?”
“Ngerealisasiin keinginanku.”
“Hah? Yang mana?”
“Buat gantiin komet?”
“Gila ah! Tuhan sama komet aja belum kuasa. Nah, kamu malah minta ke aku? Ya kali, kamu sebatas pengen kujajanin mendoan apa donat, mungkin aku masih sanggup. Kamu minta mobil sport, seblok apartemen di CBD Sudirman plus emas sepeti, apa nggak mabok frustasi lalu mati muda akunya?”
Tidak akan. Selagi aku hidup, waktu tak kuizinkan dekat-dekat kamu. Aku bakal menjagamu sampai akhir sehingga ia berhenti menguasai orang-orang tersayangku.
"Seno? Nggak lagi tidur terus ngiler ‘kan? Kamu masih di situ ‘kan? Sen? Seno ...?"
Janji yang kupegang buat Nura. "Iya, sayang aku di sini. Selamanya ada demi kamu."
"Ih, gombal! Mualin. Hoek …!”
"Ngangenin kali? Hm?"
"Enggak. Pede gila tingkat semesta kamu."
"Iya, emang. Tergila-gila sama kamu sebesar angkasa nih aku. Kamu iya juga ‘kan?”
"Bener-bener lagi gangguan yah? Otakmu lagi konslet? Salah minum obat jangan-jangan? Udah ah, aku tutup aja kamu ngelantur terus sih."
Tersenyum semringah membayangkan seberapa merahnya sekarang wajah pacar sok malu-maluku itu. Beneran.
Mengistimewakannya merupakan kesenangan buatku. "Satnite kencan yuk?"
"Apa?"
"Kayak pasangan lainnya. Kita malam mingguan, oke?"
"Apa nggak mencolok? Kita biasa keluar di malem hari-hari biasa. Aku takut ada yang curiga. Udah gitu kamu juga lagi punya masalah sendiri, aku–"
"Jam lima sore kita ketemuan di taman kompleks deket rumahmu. Dan anggap aja ini adalah cara kamu ngabulin harapanku. Kamu berhak nolak, bungkam karena marah, atau nggak dateng. Tapi, aku nggak akan kemanapun sebelum kamu muncul di depan mataku besok. See you tomorrow. Aku tutup yah? Sleep tight, and come to my dream please?”
Tut. Tut. Tut. Aku menurunkan ponsel dari lubang kuping begitu nada putus menyambut. Sepertinya, aku bakalan jadi tamu di mimpi seseorang.
Mendongak ke arah neon, Yura tampaknya bukan tipikal cewek gampang putus asa. Seberapa banyak lagi daftar keresahan yang hendak menimpaku? Perceraian s****n kedua orangtuaku, Odessa si cewek aneh yang mengaku punya anak dariku, dan sekarang Yura yang tak mau menyerah akan aku. Kehidupan remaja mbluet macam apa sih ini?
“Coba Mama main ke mimpi Seno sekali aja. Gimanapun susahnya rintangan yang harus Seno tebas pasti jadinya nggak semembebani ini. Seno, kangen Mama …, “ aku membisiki sebingkai foto berisi sesosok perempuan bergaun bunga-bunga. Mendekapnya erat di d**a, aku rindu sekali.
***