Bab 7

1120 Words
Selain markas bergosip, sekolah zaman sekarang merupakan lumbung untuk mencari masalah. Aku menelan bakwan jagung susah payah tat kala matahari siang bolong menerobos lebarnya daun-daun pohon palem di halaman ekor Altair.   Selepas cuci energi, menginjak-injak tanah lapang sekolah dengan diiringi sempritan dari Pak Rendra, bersandar pada sebilah batang kokoh terasa nikmat luar biasa. Aku pun terpaksa mengabaikan sebaris kalimat curhat milik Nura. Sungguh, aku tidak bermaksud begitu hanya saja lelah ini kebangetan lagian, sedari tadi pikiranku tidak menurut untuk diam. Ia bercabang sana-sini persis akar kelapa. Sulit fokus.  “Jadi gitu, Sen. Gimana kalau kata kamu?” Duh, inti percakapannya saja tak tertangkap. Sekarang Nura malah minta pendapat. Jujur mengakui keabsenanku mendengar curahan hatinya atau memberikan usul yang asal bunyi toh tetap berkekuatan membuatku dimarahi olehnya. Sudahlah, cowok kodratnya emang salah.  “Andai kamu ngomongnya pelan-pelan, sekali lagi. Aku pasti ngasih saran yang keren.” “Kamu nggak perhatiin aku ngomong apa yah?” “Perhatiin. Bibirmu hari ini pink-nya beda. Yang kemarin udah abis apa bosen, hm?” “Kok nyambung ke lipstik sih?” “Mukamu cantiknya keterlaluan. Aku jadi lupa fokusin kuping buat dengerin kamu.” “Gombal terus! Bilang aja emang nggak dengerin!” “Maaf. Tapi, suer mataku cuma lihatin kamu kok dari tadi.” “Udah ah. Kamu ngeselin,” rajuknya cemberut.  “Ah,” aku menyesap oksigen serakah lalu menselonjorkan kaki Nura yang tadinya menekuk, merobohkan badanku, kepala ini mencari kenyamanan di atas pangkuannya. “Kenyangnya makan bakwan sepotong. Pinjem handphone dong?” “Enggak! Aku setuju sama idenya Garin. Mending hari ini kamu jangan jadi anak dunia maya dulu,” tolaknya yang jelas sekali telah mendapat BC-an menyesatkan dari sahabat tengikku itu.  “Aku udah turutin kok. Dari bangun tadi sampe tengah hari gini belum ngenet. Sumpah! Tapi, semalem Madrid main aku mau tahu skor akhirnya. Yah? Sekali ini aja, kasih pinjem? Oke oke?” Nura mengelus rambutku lembut, pandangannya pun makin melunak. Aku yakin betul, ia paling tak tahan menerima serangan mengiba ala Arseno Diputra. Pacarku yang galak-galak nan ada manis-manisnya ini pasti akan menuruti permintaanku.  Menaikan alis tanda menanti, menit-menit bergulir minus keputusan. Hingga seulas senyum tipis mampir di bibirnya. “No!” Melunturkan ekspresi penuh juangku, diri ini lantas mencabuti rumput teki dan memelintirnya supaya sibuk. Em, apa itu istilahnya, merajuk?  “Aku takut,” Nura buka suara, lirih. Saat kulirik eksistensinya, ia justru membuang muka.  “Takut apa?” tanyaku serupa lirihnya.  “Aku takut kamu sakit sendirian. Sejak kenal kamu, saat aku nangis kamu selalu ada. Walau aku nggak cerita anehnya kamu bakal tahu tapi kamu susah dibaca, Sen. Di luar kamu kesannya selalu baik-baik aja tapi, siapa yang ngerti hati kamu? Aku nggak sepinter kamu, tanpa kamu ngomong ke aku, aku mungkin nggak bakal tahu. Jadi, pacarmu aku bener-bener ngerasa gagal.” “Sttt! Apaan sih ngomongnya gitu?” ujarku keberatan seraya bangkit demi duduk menyejajarinya. “Kalaupun aku nggak cerita bukan berarti aku nggak percaya sama kamu. Aku diam, karena aku paham bahwa aku bisa ngelewatinya. Jangan salahin diri kamu, hm? Iya, aku sedih dengan keadaan yang menimpa keluargaku tapi, ya udah toh realitanya emang gitu. Katamu, Tuhan nggak akan ngasih ujian di atas batas kemampuan umatnya ‘kan? Aku juga yakinin itu kok. Aku nggak baik-baik aja, tapi aku kuat ‘kan ada kamu, Garin juga. Oke?” “Maaf yah, Sen,” ucap Nura sudah mulai berkaca-kaca.  “It’s okay, hm? Jangan mikirin ini terlalu dalem. Kamu juga mesti fokus buat serah terima jabatan ke pengurus Osis yang baru ‘kan? Masalahku nggak akan berlarut-larut kok,” jelasku menggenggam erat jari-jari mungilnya yang hangat.  “Ini,” katanya kali ini sembari mengangsurkan seperangkat ponsel merah muda ke hadapan wajahku melalui tangannya yang bebas.  Menarik otot-otot bibir puas, Nura tak mungkin setega omongannya padaku. “Thanks.” “Ketimbang skor kenapa nggak tanya ke Garin aja?”  “Hm … dia fansnya Barca. Di luar kami temen, di La Liga kami musuh.” “Kayak kamu bisa marahan sama dia aja,” gumamnya yang sebenarnya terlampau mengerti ikatan persahabatan sejenis apa yang kumiliki dengan Garin.  Meringis kecil, aku membuka tab baru guna mengetikan salah satu situs berita online. Menunggu loading yang tak sampai dua detik, halaman utama lengkap beserta tajuk-tajuk terbaru berderet memenuhi layar. Kolom berita terpopuler, gaya hidup, olahraga, kesehatan, kecantikan sejajar pada menu.  Melirik Nura yang tengah melemparkan tatapan menyerongiku. Dibanding menyentuh bagian olahraga, telunjukku justru mengklik tentang berita terpopuler. Sudah kuduga. Gemuruh detakan jantungku pasti membeludak begitu berselancar di internet. Menskip artikel mengenai perubahan struktur kabinet yang mentereng di puncak halaman, mataku serta merta membulat kaget. Semestinya tak separah ini dampaknya bagiku. Berita-berita ini cuma tulisan tapi, kenapa efeknya selara ini coba? Hakim ketuk palu. Artis multitalenta Venola resmi bercerai dari suaminya Andri Raga Wirama.  Diduga memiliki PIL, retakan rumah tangga Venola mencapai klimaksnya di Pengadilan Agama.  Delapan belas tahun berpasangan, ARW berharap kebahagiaan untuk Venola kedepannya.    Putra tunggal akan ikut ayahnya, Venola : 'Nggak Tinggal Bersama Bukan Berarti Putus Hubungan. Dia Tetap Anak Saya' Luar biasa! Mereka membuat drama tanpa peduli seberapa remuk yang mereka kirimkan untukku. Bagus! Orangtua selalu ingin didengar, sedang anak berbicara hingga berbusa jangankan ditanggapi, sudi diindahkan pun tidak. Dunia memang setidakadil ini.  Menarik napasku yang mulai memburu, Nura tampak menyadari ketidak kerasananku. “Sen? Ada apa?” “Em, kalah,” beberku agak distorsi.  “Berapa-berapa?” “Telak,” jawabku entah terhadap kekalahan tim bola favoritku atau kekalahan aku sebagai anak yang tak kuasa menahan kesatuan keduaorangtuaku.  “Oh. Ya udah laganya masih nyisa banyak ini ‘kan? Besok-besok pasti menang kok. Jangan baper gitu sih.” Seandainya Nura benar. Sayangnya babak mereka sudah kelewat panjang. Jangankan yang melakoninya, penontonnya pun telah lelah. Besok-besok, aku hanya berharap mereka tak lagi ngotot saling menciptakan luka.  Menghapus riwayat penjelajahan pada browser, aku menarik telapak tangan Nura dan meletakan smartphone-nya di sana. “Kalau nanti kamu pulang sendiri, marah nggak?” “Yah? Kamu ada urusan?” tanyanya lumayan kaget.  Aku menggeleng. “Marah enggak?” “Kamu … sakit?” lanjutnya menebak.  “Sebenernya aku agak pusing. Tadi lupa sarapan, terus kena hukum Pak Rendra.” “Tuh ‘kan! Kalau kamu nggak bilang, aku mana tahu kalau kamu lagi nggak enak badan. Payah yah?” “Enggaklah! Bakal marahin aku nggak ini?” “Dikiranya aku sejahat itu? Jikapun aku marah bukan karena nggak dianterin pulang tapi, karena aku nggak ngerti kapan kamu lagi nyembunyiin sesuatu, kapan kamu lagi sakit, kapan kamu lagi ingin sendiri, kapan kamu lagi butuh ditemenin. Aku mau bisa kenal kamu sebaik kamu kenal aku, Sen.” “Kamu udah lakuin,” balasku berusaha mengenyahkan perasaan tak benar itu. “Saat aku kesel, saat aku butuh sandaran, saat aku seneng. Kamu ada. Kamu, Nura dateng di waktu yang tepat. Aku bersyukur punya kamu disisiku. Makasih, Ra.” Meremas jari-jarinya di atas dadaku, aku bangkit berdiri. “Nanti kutelepon yah?” “Jangan!” “Hm?”  “Istirahat aja! Cuti dulu ngekhawatirin akunya. Ntar aku yang cek ke Bi Yum tentang kondisimu, sip?” Dia tahu. Nura membaca kebohonganku. “Jangan bandel di rumah! Makan yang bener, terus jangan lupa selimutan kalau tidur!” “Siap, Bos! Aku bakalan cepet sehat dan kita bisa berangkat bareng lagi.” Nura memasang seulas senyum manis, kemudian mengangguk setuju. “Hati-hati naik motornya. Awas ada lubang!” “Oke,” mengertiku, berbalik lantas memacu gerak lari guna mengeluari tempat ini. Sesak, dadaku sesak sekali. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD