"Odessa?" adalah Garin yang begitu menyebutkan nama tersebut bereaksi sama bingungnya denganku, ia menukar pandangan bersamaku, mengedip beberapa kali.
"Cewek edan dari mana lagi dia?" lanjutnya tak sanggup membendung air muka frustasi. Lihat! Garin saja seheboh itu apalagi aku?
Mengeja satu per satu suku katanya, sebaris tulisan tangan rapi tersebut berpendar-pendar dalam irisku. Jenis kutukan apa lagi ini, Tuhan?
ARSENO DIPUTRA. AKU YAKIN KAMU AYAH DARI ANAK INI. TANGGUNG JAWAB DONG!
-Odessa-
Menggigit ujung lidah, aku lalu membuang napas kasar. "Lo inget temen gue yang namanya aneh gini? Odessa … Gar, seumur hidup sumpah gue malah baru denger.”
"Dan anak? Gue cuek dalam segala bidang tapi medical check up mah rutin. Enam bulan terakhir, kata dokter gue sehat. No alzheimer, nggak kepeleset di wc lalu kebentur, nggak kegetok balok waktu berantem, nggak nyusruk ke got waktu ngebut. Otak gue normal. Tapi, dia ngungkit soal anak? Tanpa mabuk, tanpa kerusakan otak. Gimana gue bisa jadi Bokapnya?”
Mengusap wajah tegang, aku mencoba tenang. Namun sulit sekali. Dilempar segulung bom tepat di depan mata kepala sendiri, mustahil ‘kan aku leha-leha, nyantai? Sekalipun tak bersalah, presentasi kematianku tetaplah tinggi. Untung ruang kelas kosong, anak-anak sudah pergi ke lapangan untuk mengikuti pelajaran olahraga. Jika kejadiannya sebaliknya, makin bobroklah harga diriku.
"Menurut lo wajar? Cewek ngandung tanpa hubungan fisik? Er, misalnya cuma dengan mandangin foto, mung–?" Sebodoh-bodohnya aku dalam IPA, pertanyaan barusan memang sungguh i***t. Bahkan Garin lagi-lagi berkutat bersama raut was-was mengerikannya. "–kin? Em, gue pikir ...."
"Secara rumus biologi emang faktanya sebatas lihat foto aja nggak bakalan bikin cewek mengandung. Kecuali ... Siti Maryam," tukas Garin tiba-tiba, menyeterumkan kejut tersendiri di diriku. Dia sedang berguraukah? Di situasi mencekam begini?
"Siti Maryam hamil karena mandangin foto?" Sebenarnya aku ragu mengudarakan kalimat tersebut. Baunya agak t***l. Sayangnya aku lumayan penasaran mengenai kebenarannya.
"Ngaco! Bukanlah. Itu maksud gue, ketika Tuhan bilang 'Man Jadda Wajada' apa pun mungkin buat terjadi." Yah. Betul. Dan menit ini aku tertarik untuk berharap Tuhan berkata 'Man Jadda Wajada’ agar dapat mengubah pola pikir manusia biang onar nan tak lucu ini. "Tanggapan lo memperihatinkan banget sih, Sen. Woles, bro! Anggap memo itu hasil iseng tangan orang. Lagian, tudingannya sulit dipercaya ‘kan? Gue berpihak ke lo seratus persen. Lo mustahil main permainan bahaya kayak gitu. Lupain aja, oke?"
Mengatur respirasi melalui lubang hidung, aku menggeleng sekilas guna menanggapi aksi pemecahan keadaan yang baru Garin praktikan. Bisa jadi pendapat Garin benar. Surat tersebut tak ubahnya candaan. Tetapi, apa tidak kebablasan? Menghamili anak orang bukanlah tipikal gosip kacangan. Jika sampai ke kuping orangtuaku, matilah sudah. Tudingan mencoreng nama keluarga bakal menjadi nama belakangku, parahnya siapa yang paham isi otak Andri Raga Wirama? Papaku mungkin akan mencari tukang fitnah ini hingga ujung dunia kemudian menggiring kami ke KAU. s****n!
"Gar, lo bersedia nolongin gue ‘kan?" pintaku pasca menarik simpul sebab-akibat.
"Buat cari tahu sosok di balik Odessa itu?" Hubungan kami tak sejenius Sherlock Holmes dan Dr. John Watson. Akan tetapi, kami cukup terampil menerima pesan tanpa saling berpanjang lebar mengobrol.
"Bisa aja dia salah satu dari 257 siswi sini ‘kan?"
"Bila pun begitu, gue ragu kalau Odessa merupakan nama asli. Macem haters sosmed. Nggak gampang ngelacak sesuatu yang fake."
Mengangguk setuju. Pemikiran kami terpaksa putus di tengah misi akibat Sebastian–Ketua Kelas kami–tiba-tiba menerobos pintu serta meneriakan omelan agar aku dan Garin segera bergegas untuk bergabung ke lapangan.
Oke. Odessa, entah niatnya mengerjaiku atau memang serius. Setidaknya dapat kupastikan satu hal; dia tidak bisa lari, menantangku adalah kesalahan terbesar yang patut dia sesali. Beneran, ketika kutemukan wajahnya, maka hari itu permohonan ampun pun mustahil menolongnya.
Odessa? Ini agak familiar. Entah kapan, di mana, dari mana dan dalam nuansa bagaimana aku pernah sekali mendengarnya. Menurut kelebat tersebut, kata ini mengandung makna tak baik. Keburukan seperti apa? Aku tidak begitu yakin. Intinya sekarang, selepas kalah langkah dari Garin aku tertinggal di sebuah lorong jajaran kelas X. Memperlambat jalanku, hukuman push up juga lari memutari Altair mulai melambai-lambai kepadaku. Pak Rendra, tentu sedang murka sambil mengumpatiku di luar sana. Apes benar! Tapi, kemalangan paling asli kini adalah dihadang oleh sesosok cewek berambut mirip Raline Shah, berbody proporsional khas atlet. Tidak heran, dia ‘kan memang bintangnya olahraga futsal.
“Kak Seno, ada yang mau gue omongin,” dengan suara seperti ini, di gendang telinga Garin pasti terdengar bagai gesekan biola. Maklum, ketika orang jatuh cinta keburukan pun menjadi sangat tabu.
“Tapi nggak ada yang ingin gue dengerin tuh. Gue juga lagi ada kelas penting dan dibanding buang waktu ngomong bareng gue, mending lo bilang terima kasih atau apa kek gitu ke orang yang udah bela-belain ngedekem di toko buku buat beliin lo bacaan yang bagus.”
“Tapi ‘kan lo tahu, gue sukanya ke lo, Kak bukan ke Garin,” Yura ini jenis cewek macam apa sih yah? Seorang cowok menguber-ubernya sampai rela keluar dari zona nyaman. Berlatih angkat beban demi terlihat bagai cowok yang dia idamkan, mengitari toko buku di Jakarta demi menemukan selera cewek ini padahal itu cowok antisnya bacaan. Garin memantengi akun media sosial gadis ini samban waktu. Temanku itu banyak mengimprove diri namun bukannya menghargai, cewek ini malah terus menguntitku yang jelas-jelas tak single lagi.
“Lo nggak mau minggir?” tanyaku sedikit kasar, menyisir rambutku yang kian panjang. “Semakin sering lo nimbrung di kehidupan gue makin nggak aman juga Nura. Lo nyadar ‘kan ini Altair? Rumor menyebar secepat lari lo. Gue nggak ingin ambil risiko apa pun jika itu menyangkut reputasi cewek gue.”
Yura adalah sebagaian kecil anak yang berhasil menangkap basah hubungan tersembunyiku bersama Nura. Entah aku mesti berterimakasih atau menyumpah kepadanya. Setidakmya dia tak mengumumkan di tengah lapang informasi yang dikantunginya itu. Dan untuk Nura, aku tak keberatan tercap berengsek di mata orang lain. Untuk Nura, aku tak ragu menyakiti orang lain. Untuk Nura, aku akan mengorbankan segalanya. Untuk Nura yang tak pantas merasakan sekecil debu pun deru lara.
“Gue nggak akan minta maaf. Untuk apa yang udah gue katakan ke lo, gue perbuat ke lo. Jangan mencoba lebih keras dari ini! Usaha lo dalam bentuk bagaimanapun, bakal sia-sia. Gue jamin itu. Jadi, Yura Alona udah cukup yah main-mainnya, hm? Gue nggak butuh lo!”
Menabrak bahunya, sudah lumayan bajingankah? Seandainya Garin tahu aku memperlakukan cewek yang ditaksirnya setega itu, bocah sensitif tersebut tentu tanpa ragu menenggelamkanku di Ciliwung. Namun, tetap yang terparah adalah datangnya hari ketika ia membaui bila cewek kecintaanya telah menembakku ratusan kali sejak aku menginjakan kaki di sekolah ini.
Terbongkarnya hal itu sudah jelas bakal memengaruhi ikatan persahabatan kami. Kehilangan Garin bukan kemustahilan lagi dan aku belum pernah menemukan titik itu. Maka, selagi aku kuat, sesuatu yang tersembunyi ini akan terus menjadi rahasia.
Mencapai ujung keramik koridor, mataku menangkap tubuh tinggi Garin yang semangat mengitari lapangan basket. Dia masih seperti dulu. Garin tidak pernah berubah. Geloranya, loyalitasnya, keberaniannya. Dia teman yang sungguh berharga. Oleh sebab itu, diri ini tak layak mengecewakannya. Untuknya dan untuk Nura aku harus bertahan melawan tiupan badai tanpa jeda di ruang hidupku.
“LOH, SEN? NGAPAIN NGEJOGROK DI SITU? BURUAN KABUR! LARI CEPET SEBELUM PAK RENDRA MENYERANG!” Lihat tingkahnya yang bagaikan Naruto itu! Bagaimana bisa aku tanpanya?
***