Kekuatan sekaligus kelemahan laki-laki; Perempuan
___
Segelintir manusia bak ilmuan bidang percintaan merumuskan jika makhluk-makhluk korban panah cupid memutuskan menggunakan metode backstreet maka ia bisa digolongkan menjadi tiga kelompok. Satu, mereka yang dirasa mustahil mendapat dukungan keluarga. Dua, mereka yang sama sekali tidak punya pendukung entah itu teman ataupun saudara. Tiga, mereka yang ragu terhadap hubungan itu sendiri. Lantas di poin manakah posisiku? Sialnya aku terjebak dalam jerat ketiganya.
Aku tidak ingin menyakiti Nura, orangtuaku, orangtuanya atau siapa pun. Jatuh cinta kadang serumit menghitung bintang di langit, saat berhasil mencapai sebuah titik mendadak mendung singgah, bintangnya lenyap dan begitu ia muncul lagi kamu lupa kemarin berhenti di kerlip yang mana. Begitupun masa SMA-ku, waktu mengarunginya rasanya tidak selalu sederhana. Sungguh! Menyusurinya hingga detik ini, aku baru mengerti kalau hidupku intinya tak sekadar naksir cewek–pedekate–jadian–bosan–putus–move on–break up. Lalu pergi tawuran, berkelahi, kemudian bisa lulus sekolah secara gemilang meski tanpa harus repot ikut les ini-itu, endingnya diterima perguruan tinggi beken. Keindahan tersebut cuma ada di novel Nura juga film-film Mama.
Faktanya, aku bahkan tidak bisa menginjak koridor dengan tenang pun nyaman. Beberapa anak terang sekali mencuri pandang ke arahku, tidak masalah. Di luar, aku mampu cuek saja tapi, risih itu ada.
“Eh, eh, lihat tivi belakangan bosenin banget yah? Beritanya cuma soal perceraian artis sih. Nggak penting banget deh.”
“Pencitraan abis! Cerai mah cerai aja keles. Mesti digembor-gemborin ke seluruh penjuru Indonesia segala.”
“Parahnya nih yah, Venola itu selingkuh loh makanya, Pengacara Andri Raga ngelakuin gugatan. Bener-bener contoh yang b****k ‘kan? Jadilah gue males nonton channel lokal.”
“Seriusan? Venola? Itu Nyokapnya Arseno Diputra ‘kan?”
“Huum. Kabar yang lebih ngejutin lagi nih yah, katanya Seno anak haram tahu.”
Beruntungnya gerombolan itu cewek. Sebab di tempatku berdiri dekat tangga, sebentuk kepalan telah sempurna terisi energi.
Sekali aku dapat target, tinjuan tak mungkin terhindarkan. s**l!
Orang hobi nyinyir masih bisa hidup tenteram. Mereka yang buta fakta, sok paling update informasi, bebas menghakimi. Dunia kadang memang berani untuk setega itu. Ketidakadilan bukan omong kosong belaka.
Begitu aku niat menghindar dari kepengapan akibat gunjingan anak-anak, orang itu tiba-tiba muncul dari atas tangga.
Setumpuk buku didekapnya erat, sementara lensa kaca matanya serta merta menembus diriku. Dalam kondisi serba salah, bertemu dengannya merupakan kemungkinan terburuk yang wajib kukaburi.
Mematung, suara-suara yang tadi bising mendadak sirna. Segalanya berwarna tapi dia hitam-putih. Gelap, mengerikan, dan aku sadar kutukan ini menimpaku sebab aku terhubung oleh kekeliruan terhadapnya.
Melintasiku tak acuh, baginya aku kasat mata. Selalu. Penilainnya untukku ialah sampah. Itulah kenapa ikatanku bersama Nura tak akan mudah.
“Are you alright?” tepukan Garin di punggungku sukses menghempaskan bayang-bayang yang tidak mengenakan.
Berdehem sekali, secara kilat kutata kembali porak-poranda yang menimpa jiwa. Menoleh kikuk, sosok Nura tertangkap di undakan teratas. Cewek itu menatapku nanar, khawatir, serupa ketika ia menyaksikan aku untuk pertama kalinya tak sengaja berpapasan dengan Bundanya. Sorot ini, dia takut aku terluka sendirian. Menarik bibirku supaya tersenyum, tanganku lantas melambai padanya.
“Gue nggak apa-apa,” ujarku tanpa suara yang serta merta dia balas dengan anggukan mengerti rasa terpaksa.
“Camer nganggap lo makhluk gaib, lo masih bilang ‘fine’ ke anaknya? Ck, ck, ck nyali lo emang k*****t!” Garin mengambil alih situasi.
“Hari pertama setelah gue nembak Nura, gue ingin lari. Gue bilang ke diri gue sendiri, kalau keputusan gue itu nggak mungkin bisa gue pertanggungjawabin. Sekolah di tempat Bu Laras ngajar, gue bahkan ngehindarin kelasnya. Gimana mungkin gue jadian sama anaknya?
“Tapi, Nura beda. Gue kira Eleona yang paling sempurna. Nyatanya? Gue suka karena pilihan gue bener buat deket sama Nura.”
“Gue masih belum ngeh dengan masalah lo sama Bu Laras. But, serius lo jatuh cinta ke Nura?” kalimat tanya ini lagi. Cinta? Entahlah, ratusan kali aku bermonolog mencari jawabannya tapi, perasaan sejenis itu nampak masih cukup jauh.
Lantas, apa pilihanku sekarang ini? “Cabut yuk! Gue lupa belum ngerjain PR, cari contekan dulu ah.”
“Fine ngehindar lagi! Yeh! Sekali-kali jangan ngajakin gue berburu contekan mulu dong! Berburu hatinya kapan ini?” teriak Garin di belakangku. “Eh, smartphone lo kasih gue sini! Pokoknya no internet access khusus lo di hari ini! Sen, jangan torek napa? Hoi!”
Melenggang cepat, aku meringis remang. Di saat aku gagal memproteksi diri, tanpa sadar orang-orang sudah ambil langkah akurat guna menjulang memunggungiku. Menawarkan perlindungan yang sebenarnya tak pantas kuangankan.
***