Pagi sepertinya terlalu b*******h sampai-sampai ia tiba awal sekali. Mengesampingkan potongan-potongan mimpi semalam aku mencoba bersikap ala kadarnya seolah dampak yang tertinggal dari film-film pribadi tersebut datar saja.
“Seno sama Garin berangkat dulu, Tan,” pamitku sekalian mewakili Garin yang telah ngacir menjemput motor di garasi.
“Uang jajan tunai apa transfer nih?” ucap Tante Rana yang menghampiriku bersama segelas s**u murni. “Nyusu dulu ah, biar macho dan tahan banting!”
“Em, jadi ini toh resep s**u rahasia otot Garin belendung gitu yah, Tan?” ulasku hiperbolis. Garin baru mengawali debut hidup sehatnya sekitar 2 minggu lalu, maka pujian tersebut jelas palsu.
Tertawa geli, Tante Rana kemudian menggenggam kembali gelas bekas s**u yang kutandaskan. “Makasih, Tan. Uang jajannya kayak biasa aja, cicil? Oke oke?”
“Dasar! Ngerti aja hobi Ibu-Ibu kredit. Hati-hati yah? Kasih tahu Garin juga suruh rajin ikut bimbel Matematika. Kalau sampe UN nggak lulus, positif namanya bakal dicoret dari KK.”
“s***s! Siap, Tan. Have fun arisannya.” Sudah begitu lama dari terakhir kali aku merasa diperhatikan oleh keluarga. Aku kenal Tante Rana sedari lahir, Mama sangaat akrab dengannya layaknya aku dan Garin. Namun aku bersyukur sekarang ini Tante Rana peka untuk tidak mengungkit sekecil debu pun soal Mama.
Mengayunkan kaki, bersiul-siul seraya memutar kunci di jari, tampak Garin telah nongkrong santai di jok motor sambil mengunyah roti. Bocah satu ini betapa susahnya memengaruhinya agar bersantap di meja makan.
“Ancamannya KK lagi?” tanyanya yang justru terdengar tengah menebak.
Mematung sepersekian menit, aku mengamati detail air muka Garin. Lingkaran mata hitam bekas latihan ujian minggu lalu masih sedikit membekas, sebiji-dua biji calon jerawat adalah bukti kemalasannya bersih-bersih, lantas segurat tarikan paksa pada otot-otot bibir keritingnya ialah tanda manual bahwa aktivitas murkanya telah usai. Syukurlah.
“Apalagi emang? Harta lo yang paling berharga yah ‘kan selembar kertas itu,” jawabku rileks, menggesernya agar menempati boncengan.
“Huum juga sih. Eh yah, Ben nyebar undangan buat balapan. Mau gabung nggak lo?”
“Serius lo nawarin ke gue?” tanyaku mencoba mengingatkan, kalau-kalau dia lupa. “Motor mungil gue dibawa lari 120 kilometer nggak rontok aja gue udah syukur. Lawan Ben? Yang ada gue dikentutin kenalpotnya.”
Hobi lainku di luar fotografi ialah balapan. Enam bulan lalu, dengan senang hati aku meladeni seluruh kesempatan yang datang. Ben bahkan musuh abadiku dalam bidang ini. Namun sekarang? Sudah kuutarakan bukan bila masalah bertubi-tubi menghujaniku. Pindah dari Bakti Luhur ke Altair, sebagai konsekuensinya aku mesti merelakan MV Agusta tersayangku dijual oleh Papa. Kompensasi atas kerugian biaya 2 tahun aku bersekolah–sia-sia–dalihnya.
“Terus lo mau cuekin aja nih? Hadiahnya gede loh, Sen,” tuturnya belum menyerah mengimingi.
“Masa bodolah! Nura nggak ngizinin gue ngikut-ngikut gituan lagi,” ujarku beralasan yang memang benar adanya. Nura itu Ketua Osis, prestasinya dipuji-puji, sikapnya dipuja-puja dan aku tidak tertarik mengotori pencapaiannya itu.
“Tumben lo nurut,” ucap Garin yang nyata sekali menyimpan kecewa. Sama sepertiku, dia cinta balap hanya saja basket merenggut segala asa terpendam yang melulu ia coba tenggelamkan.
“Lo ‘kan tahu, dia alasan utama gue pindah ke Altair. Nah, apa gunanya perjuangan gue kalau ujungnya malah ngecewain?”
“Seperti lo nggak bakal bikin dia kecewa aja.”
“Garrrr!” tegurku mencegah pagi kami terbakar emosi.
Garin berdecak lantang, sebelum akhirnya meraih helm dan mengedikan dagu supaya aku segera berkendara. Melirik melalui ekor mata, kelihatannya Garin memang tetap tak mendukung hubungan yang kutempuh bareng Nura. Walau sejauh ini dia berusaha mengikuti kemana pun lajuku pergi.
“Sorry,” sesalku sambil memutar gas lalu melesat kencang–sewajarnya motor kecil–membelah kesibukan jua kemacetan Ibu kota.
***