{Katanya, kebohongan adalah kejujuran yang tertunda}
“Loh Seno? Kok malem-malem masih pake seragam?” Tante Rana menyambutku setelah tiga kali ketukan di daun pintu.
Aku meraba tengkuk kikuk. Sejujurnya, aku lebih takut ketangkap basah berbuat nakal olehnya dibanding Mamaku. “Anu, abis ada urusan, Tan tapi lupa ganti dulu tadi. Hehe.”
“Ih, payah banget ngibulnya. Belajar tuh sama Mamamu, expert. Minta ajarin Garin mah pasti gini jadinya, sesat,” ujarnya yang membuatku makin yakin siapa gerangan sumber gen banyolan-banyolan absurd yang Garin anut. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
“Passion Seno bukan di bohong sih, Tan,” tukasku beralasan.
“Halah! Ngeles aja jago! Gih, mandi di atas, bau keringetmu meluber-luber nih,” titahnya yang langsung kusambut dengan seruan bersedia penuh semangat.
“Oke. Oke. Seno sekalian anterin ini ke Garin deh,” kataku mengangkat kantung plastik bukti janjiku kepada Garin seraya bergegas menaiki tangga.
“Nyidam lagi dia?” tanya Tante Rana yang hapal ngelotok perilaku putra bujangnya.
“Nggak bakal tamat, Tan sebelum anaknya lahir,” tanggapku enteng mendorong Tante Rana tergelak di lantai dasar. Sumpah, di rumah Garin aku seratus persen diterpa rasa it was home–hangat.
Mematenkan senyum di bibir, aku begitu saja menjeblakan pintu kamar Garin yang lumrahnya memang jarang terkunci. Dapat kusaksikan d******i warna hijau melapisi seluruh sudut kawasan luas ini. Sebut saja, sebuah ranjang Prince size yang mepet dinding, seprainya mirip lumut, tak jauh dari sana ada bufet yang di atasnya berdiri satu set lampu tidur berbentuk pohon, kemudian lemari tiga pintu tampak raksasa di dekat sekat ke kamar mandi. Ruangan ini ramai, buku-buku mengikis habis lahan kosong di rak sudut kanan dekat balkon, home theatre, tivi plasma, kulkas mungil. Tempat ini sudah cocok masuk golongan rumah pribadi.
Berjalan menuju teras, wallpaper bergambar pepohonan dan alam bebas memang favorit Garin. Bocah itu pencinta lingkungan namun di sekolah dia justru masuk eskul basket yang sama sekali tak ia kuasai.
“Hoi istri pertama! Gue bawain hadiah nih,” teriakku saat menangkap sosok Garin yang sedang larut melamun sambil menatap langit.
“Kalau para suami macem lo yang ada bayi-bayi keburu ileran semua. Udah nggak nafsu pizza gue,” dumelnya tanpa repot menengok dan berbalik melewatiku untuk duduk di kursi rotan.
“Jiah, PMS lagi,” selorohku meletakan bungkusan yang kutenteng ke atas meja di depan tempatnya serta bergerak guna menyandarkan punggung pada tembok penyangga balkon. “Gue ‘kan nggak telat-telat amat. Baru juga jam setengah sembilan, makan pizza belum berkekuatan menaikan berat badan. Yuk, cicipin?”
“Nggak! Gue abis sit-up 200 kali tadi, ntar otot-otot gue batal timbul lagi. Makan lo aja!” putusnya yang belakangan memang sedang rutin main angkat berat. Biar six pack, eight pack and perfect pack, sombongnya.
“Oke,” aku menuruti, mencomot satu potong pizza dengan keju mozarella yang lumer lezat di atasnya. Mengunyah dalam diam, tiba-tiba terdengar helaan napas kasar dari Garin yang membuatku refleks memandangnya–mencari tahu penyebabnya.
“Stop pura-pura di hadapan gue lah bikin kepengen nonjok tahu nggak?” tuduhnya galak yang usut punya usut aku paham ke mana lari temanya.
“Terus gue kudu ngapain? Nangis sambil ngucek-ngucek mata, nyerutin ingus di depan lo gitu?”
“Lakuinlah! Kalau lo butuh surat sakit buat besok, nanti gue tulisin. Tapi, sok-sokan bersikap kayak manusia tanpa beban? Gue tendang b****g tepos lo lama-lama.”
Sebenarnya aku sangat berharap bahwa Pak Tanu tidak sebaik itu hari ini. Andai tadi aku tidur saja di kelas, andai dia dengar ribut-ribut percakapanku bareng Garin. Aku akan berterimakasih banget bila surat skors tersebut sampai ke tanganku.
“Sen, ngaca nggak? Muka lo mirip Edward Cullen loh,” dugaku Garin mengambil letak jeda yang salah, sehingga mata ini pun tak luput guna memicinginya. “Pucetnya. Seriously, are you healthy?” Tuh ‘kan.
"Kalau yang lo maksud phsycally, it's okay. Cuma hati gue kok yang agak kritis."
"Akan lebih gampang kalau itu lever, kasat mata rumah sakitnya, Sen,” gumamnya sarat nada prihatin, dan aku sama sekali tak menyukai reaksi tersebut. “Lo pasti sangsi jika gue ngomong paham kondisi lo. Gimana pun juga kita lagi nggak di lubang yang sama. Lo masuk ke liang yang ada cacingnya, berair, atau malah banyak emasnya gue nggak tahu. Jelasnya, gue ingin nanting lo biar terbebas dari semua ketidak kerasanan itu.
"Pernah denger ‘kan, naik gunung rame-rame lebih menjamin keselamatan? Turuninlah sekilo-dua kilo beban lo buat gue bantu pikul. Gue mau lo selamat kali ini."
Aku dan Garin memang seumuran. Namun acap kali dia yang umumnya manja terhapaku berubah seratus delapan puluh derajat, membuktikan diri bila orang lain pun perlu mengandalkannya. Mungkin sebab dia punya adik, jiwa mengayomi terpendamnya suka muncul alami.
“Sip! Kita pillow talk nanti, gue numpang mandi dulu udah lengket,” kataku memblock niatannya seraya menutup kuping guna bergegas menyembunyikan diri di balik pintu toilet. Sudah kutegaskan bila jujur itu sukar meskipun kepada sahabat kental.
***
Melipat siku sebagai bantalan kepala, aku merenggangkan badan beberapa kali demi menemukan posisi ternyaman di atas kasur organik–hijau–Garin. Sementara si tuan rumah telah berbaring telungkup di sisi sebelahku.
Saling menginap. Pertemanan kami memang sangat dekat. Bisa dibilang Garin orang paling kupercaya setelah Mama tentunya. Jadi, kami sering bergantung satu sama lain dalam hal remeh-temeh sekali pun.
Menarik selimut yang menjuntai di atas lantai dekat kakiku, aku lantas menjembrengnya guna menutupi Garin. Aku tahu di belum tidur dan aku sangat memahami bahwa malam ini ia akan tetap terjaga apabila aku kekeuh tak buka suara. Jika kedewasaan tidak mempan padaku, bocah ini memang bersedia menghalalkan segala cara agar sanggup menumbangkan kekakuan egoku.
“Gue mau nanya sesuatu, kira-kira lo bisa jawab nggak?” kalahku mencelupkan diri ke sesi korek-korek informasi yang pangkalnya tentu bakal Garin menangi.
“Essay apa PG?” gumamnya cepat teredam bantal.
“Essay, Matematika, soal vektor?”
“Mending kagak usah tanya-tanya deh lo!” gerutunya yang jelas anti Matematika sejati.
“Oke, makhluk yang diramalkan bakal gagal lulus UN, gue serius nih sekarang, jawab yah?”
“Silakan, wahai cenayang yang diperkirakan bakal ikutan gagal UN juga saking loyalnya sama gue. Apa? Buru ngomong!”
Kubulatkan campur-aduk rasaku seraya samar-samar memberi celah di mulut supaya karbon dioksida yang menyumpal lekas keluar. “Menurut lo, Nyokap gue beneran selingkuh?”
Hening pascakalimat tersebut kulontarkan berlangsung menit demi menit hingga bunyi ‘kresek-kresek’ guling yang berpindah tempat, membelah ranjang menjadi dua. Sudah kucerna diluar kepala, tingkah Garin yang begini menandakan ia mau menghadapkan tubuhnya ke arahku tapi tak mau kulihat. Guling ini otomatis menghalangi pandanganku. Bila polah ini timbul maknanya ia serius.
“Kalau kata gue sih enggak,” jawabnya agak lirih di tengah nuansa super senyap.
“Kalau gitu, Bokap gue dong yang selingkuh?”
“Menurut gue enggak juga.”
“Terus siapa pembohongnya di antara mereka?”
“Lo.” Aku menelan kembali suku kata yang niatnya hendak kukuarkan. “Lo sayang Tante Nola, lo anak kandungnya, lo segalanya buat dia, lo alasanya hidup bareng-bareng sama Om Raga, dan lo juga sumber sakit hatinya.
“Gimana tega lo nolak tinggal sama Nyokap lo sendiri? Lo tukang tipunya tahu! Lo pembohong besarnya. ‘Aku milih tinggal sama Papa Raga, aku nggak mau hidup sama orang yang nggak ada waktu buat aku’. Prettt! Subuh-subuh balik syuting, Tante Nola selalu nyempetin diri masak buat lo. Dia yang hadirin pertemuan wali murid di sekolah, dia yang jamin lo ke kantor polisi kalau lo bikin rusuh.
“Tante Nola yang lahirin anak kupret macem lo, Tante Nola yang bacain dongeng seru, bahkan setiap gue nginep di lo, kita sering latihan story telling bareng-bareng, Tante Nola yang nyiapin bekel di TK buat lo, dia lakuin apa pun yang Ibu-Ibu lain lakuin. Dia Mama lo tersayang, Sen. Nyadar dong!” Fakta. Semua itu kenyataan yang aku ceritakan maupun Garin saksikan sendiri melalui mata kepalanya. Namun, tidak semua hal berjalan lancar ‘kan?
“Lo nggak ngerti, Gar,” simpulku. Betul dia tidak memahami situasi yang tengah kuselami sebenarnya.
“Jelaslah gue bukan dukun. Lo menutup sebagian poin-poin penting buat diri lo sendiri. Oke, gue terima. Lo mungkin nggak sepercaya gue ke lo. Tapi inget ini, Sen. Bahkan seorang cowok juga diciptakan dengan hati yang sama. Ketika menderita, retakannya juga bisa mancing air mata. It’s okay to cring lo sama sekali nggak childish apalagi feminin gara-gara lakuin hal itu.
“Gue selalu siap kapan pun lo yakin buat cerita segalanya, hm?”
Menoleh ke arahnya yang tertutupi bantal, aku lantas memejamkan mata erat-erat berharap ngantuk cepat menyerang. Menyembunyikan sesuatu dari teman sebaik Garin benar-benar mengesalkan. Aku merasa tidak berdaya sekaligus malu, persis seperti kejadian di hari itu saat mulut ini harus lancang membohongi Mama.
***
"Sen, kamu punya pacar yah?" s**u cokelat dalam mulutku serta merta muncrat keluar, mengotori seragam biru-putih tingkat dua SMP Terasus. Senin yang buruk. Sambil cemberut ke tersangka utama keterkejutanku, tanganku segera meraih serbet.
"Enggak kok," menurut pengakuan Garin, keahlian utamaku itu berbohong. Bakat ini melekat mungkin karena memang faktor turunan. Mamaku artis dengan akting memukau, dia sudah berhasil membintangi ratusan judul film layar lebar sepanjang kariernya.
"Hm, gitu. Tapi, Mama nemu dua lembar sobekan tiket bioskop tuh di kantong celana jeansmu."
"Punya Garin Ma yang satu." Dasar mulut tak tunduk tuannya. Sudah tahu ini dialog klise, kenapa pula kubalas tanpa pikir matang dulu?
Mama manggut-manggut seakan memaklumi. Meski begitu dari caranya mengendus keberadaanku, tampaknya Mama mengantongi analisis tersendiri. "Ah, dari kapan Garin suka Triangle Love? Em, judulnya sih agak adventure yah meski sedikit kurang thriller."
Mati sudah! Aku dapat menduga obrolan ini akan meluncurkan kalimat-kalimat kolot macam apa kedepannya. Garin dan aku, selera kami tidak pernah berlainan.
"Er, punya adiknya." Mengelabuhi Mama itu rintangan yang sulit. Seingatku, hingga hari ini skor dustaku terhadapnya masih nol raksasa.
"Harby?" Garin cuma dua bersaudara. Cowok tulen yang seratus persen mending makan kaus kaki busuk daripada nonton roman picisan. Alasan-alasan yang kuudarakan tak masuk di akal. Terlebih setelah kutangkap raut menyesal di wajah Mama, lidahku makin kelu untuk meneruskan kebohongan ini.
Menyimpan lap ke atas meja, aku menyatukan kepingan-kepingan tekat yang sebelumnya berserakan dihempas oleh deru takut. "El,” cicitku.
"Eleona," kuarku makin tegas menyampaikan kejujuran soal siapa gerangan yang beberapa waktu terakhir berkutat bersamaku.
"Pacar Seno."
"So, dia adiknya Garin?"
"BUKAN!” bantahku nyaring. Begitu kencangnya hingga bibirku jadi bergetar. Barusan saja aku membentak Mama. Bagaimana mungkin itu terjadi? Menggigit daging rongga mulut sana, aku lantas menunduk bersalah.
Selang sepersekian detik, tangan halus Mama terasa menyentuh helaian rambutku. Perlakuan ini kerap kutolak bila dalam keadaan normal. Karena dapat memancing timbulnya olokan orang, dituding manja. Tetapi, mengingat yang telah kuperbuat ke Mama, rasanya napasku lega sekali.
"Kenapa Seno bohong?"
"Nggak," suaraku lirih. "Di mata orang lain Seno nggak akan kelihatan lagi bohong. Karena ini Mama, tipu-tipu kayak gini jelas kacangan ‘kan?"
"Katanya nggak mau jadi artis," ucap Mama disela tawa mengejeknya.
"Emang."
"Terus kok nyusun dan mainin skenario?"
"Anak kecil nggak boleh cinta-cintaan. Papa bilang, cewek cuma bikin cowok amnesia."
"Hm? Maksudnya?"
"Alamat Mumet Nan Emosional Sehingga Idupnya Ancur. Cowok jadi lupa segalanya kalau udah ketemu cewek. Papa nggak ingin Seno ikutan masuk ke lubang kayak gitu. Papa mau Seno mentingin cara biar jadi Pengacara, Ma. Dan saat Papa tahu Seno ngebantah, nanti Seno nggak jadi dibeliin MV Agusta."
Mama kembali membelai kepalaku, kali ini dia tersenyum kecil. Membuatku menyadari dari mana kuwarisi bibir yang katanya mirip Im Yoona. Yep, sebagai seorang cowok bibir ini terpasang kelewat cantik. "Jadi, sekarang Seno ngerasa amnesia?"
"Enggak. Eleona baik meski kadang dia cerewet banget macem Jonesnya Criminal Case tapi berkat dia, Seno mau rajin ikut bimbel. Pokoknya Seno harus lulus bareng-bareng sama El. Terus kita ke SMA Bakti Luhur sama-sama. Lalu, Seno bisa boncengin dia pake motor. Keren ‘kan?”
"Seno suka banget ke Eleona yah?"
Wajahku serta merta memerah ibarat remukan batu bata. Er, jujur aku tidak terlalu yakin. Tapi, Eleona beda. Tertawa, mengobrol, berjalan, bermain, bahkan bertengkar, segalanya terasa lengkap jika aku berdua dengan dirinya. Aku bahagia. "Nggak pake banget sih. Yah, lumayan aja, Ma. Lagian kalau bukan Seno, nggak akan ada yang suka sama El. Orang ceweknya urakan gitu, kalau pake celana olahraga suka kebalik, udah gitu suka ngupil lagi, Ma. Upilnya ditaruh di bawah meja. Jorok! Cewek jadi-jadian banget."
Mama terbahak-bahak nampak menikmati usahaku untuk menggambarkan seperti apa sosok Eleona itu. Entahlah, sedihku raib seketika. Pemicunya boleh jadi tawa Mama, bisa juga karena aku ingat Eleona atau mungkin malah kombinasi keduanya.
"Kayaknya Eleona ABG yang seru yah,” komentar Mama sedikit mencurigakan. Percaya! Mamaku penilaiannya lumayan nyentrik. "Kapan-kapan boleh dong Mama tanya-tanya tutorial ngupil yang asik pake jari apa?" Tuh ‘kan. Aneh!
"Terus, menurut Seno tindakan pacaran sembunyi-sembunyi ini bener apa nggak?"
Aku remaja tanggung, pola pikirku belum matang. Namun percobaan Mama kali ini tentu bermakna sesuatu. "Mama mau Seno putusin Eleona?"
"Eh, kok nangkepnya gitu?"
"Abis, Mama juga tau alternatif mana yang bakal Seno kasih buat jawaban. Saat Seno lakuin kekeliruan, intinya ‘kan Seno mesti perbaiki."
"Mama nggak suka kalau Seno bohong. Inget ‘kan bohong itu dosa? Mama nggak ingin anak kesayangan Mama masuk neraka."
"Kalau Seno udahan sama Eleona, Mama bakal seneng?" Tak ada yang lebih penting dari perempuan pemberani penuh kasih ini. Kalau Mama bilang lompatlah dari atas gedung! Tentu bakal kukabulkan.
"Mama bakal kutuk Seno biar jadi batu nemenin Malin Kundang," jawab Mama beserta pelototan ala ibu tiri yang sama sekali tak ada seram-seramnya.
"Kok?"
"Bohong itu kejahatan. Mama benci pembohong khususnya orang yang tega membohongi diri sendiri," Mama melemparkan bola mata cokelat bersinarnya ke arah pigura foto keluarga yang anteng menggantung di dinding sebelum kembali menyorotku penuh sinar keibuan. "Ngelawan Papa saat ini, Seno mungkin bakal kesusahan. Dan sama seperti yang Seno bilang, orang lain nggak akan mudah nangkep basah kebohongan Seno. Jadi, asal Seno janji nggak macem-macem dan hati-hati. Mama akan bahagia jika lihat Seno seneng.
"Mama nunggu hari di mana Seno bisa boncengin Eleona sama MV Agusta, oke?"
Pada kenyataannya hari itu tidak pernah datang.
***