Brian mengkhawatirkan Aliana, dia merasa bersalah dan cara Brian untuk mendorong Aliana agar Aliana dapat dia lindungi adalah menjauhi Aliana. Setelah itu Brian benar-benar menjauhi Aliana, mendorong Aliana agar tidak menyukainya.
Dia tahu Aliana sedih karena dirinya menolak untuk berteman lagi. Brian sempat goyah setelah mengetahui bahwa Aliana menyukainya saat dirinya sendiri berumur 16 tahun sedangkan Aliana berumur 13 tahun. Sebelum itu terjadi pun Aliana selalu mencoba mendekati Brian, memberikan perhatian bahkan bercanda mengatakan Brian adalah calon pacarnya.
Tidak pernah terlihat ada yang aneh dengan Aliana, dia seperti anak perempuan pada umumnya, suka bermain boneka, bermain masak-masak, bermain pertak umpet dan lain-lainnya.
Tapi satu hal yang membuat Brian berpikir adalah Aliana sangat hebat dalam panahan, dan pintar dalam hal anatomi tubuh manusia. Brian tidak menyangka Aliana bisa paham dengan pelajaran IPA anak kelas 3 SMP sedangkan saat itu dia masih berada di kelas 1 SMP, bahkan terlihat gampang untuk Aliana.
Untuk mencoba kemampuan Aliana lagi. Brian sengaja meminta kakaknya untuk minta bantuan Aliana dalam mengerjakan tugas sekolahnya yang berada di kelas 3 SMA jurusan IPA. Tepat tanpa diharapkan, Aliana mengerti bahkan paham benar dengan apa yang dia kerjakan. Brian tidak bisa bertanya lebih lanjut atau menyelidiki seberapa pintar Aliana.
Brian hanya berpikir Aliana adalah anak perempuan yang memiliki otak cerdas dalam bidang ilmu pengetahuan alam. Secerdasnya Aliana, Aliana sangat membenci matematika itu yang Brian tau. Aliana dan matematika adalah musuh yang sulit bersatu.
Sampai dewasa pun Brian masih memikirkan bagaimana Aliana harus menjaga dirinya sendiri sampai akhirnya dia pun turun tangan juga.
Brian marah pada Aliana karena Aliana tidak memikirkan dirinya sendiri.
“Tidaklah! Aku tidak melarikan diri. Kan aku bilang jangan kasih tau yang lain aja bukannya aku mau kabur dari tanggung jawab! Ish bikin emosi aja. Aku akan tanggung jawab tapi aku akan buat alasan lain untuk lukamu ini bukan alasan karena kau ditusuk dari belakang saat lagi memukul pacar orang, eh? Tunggu, tapi alasan itu boleh juga ya?” jelas Aliana yang berakhir dia berpikir tentang ucapannya sendiri.
“Apa yang kamu pikirkan?!” tuding Brian curiga melihat Aliana menatapnya dengan senyuman yang membuat Brian tidak habis pikir ada dengan senyuman sebodoh itu.
“Kakak,” jawab Aliana singkat.
“Tumben,” kata Brian menyengit heran. Heran Aliana tiba-tiba memanggilnya kakak lagi seperti dulu.
“Kemauan!” ucap Aliana tiba-tiba. “Pokoknya aku tidak akan bilang tentang kejadian tadi dan Kakak! Juga jangan bilang siapapun!” protes Aliana. Brian jadi ingat gaya bicara Aliana pada masa kecil dulu, persis seperti saat ini. Aliana akan mengumpulkan teman untuk bermain atau dia mengumpulkan mainannya untuk dimainkan bersama, tapi dia akan memaksa teman-temannya mengikuti kemauannya sendiri.
“Tidak janji,” balas Brian santai. “Tidak ada untungnya bagiku tidak membeberkannya,” sambung Brian.
Aliana melototi Brian. “Tapi mau dibeberkan juga tidak ada untungnyakan bagimu!”
“Iya juga,” ucap Brian. “Ada! Setidaknya akan ada penjagaan tambahan untukmu Al, kau itu dalam bahaya bodoh! Memangnya mau kamu diculik tua Bangka itu dan organmu dijual agar bisa dijual, harta kekayaanmu itu juga akan dia keruk untuk keuntungannya!” batin Brian protes dengan tindakan Aliana, tapi dia tidak bisa berbuat banyak untuk mengatakannya langsung karena yang ada nanti Aliana akan bertanya macam-macam padanya.
“Kumohon kali ini, jangan beritahu siapapun. Aku janji akan menjaga diriku sendiri dan tidak akan menyusahkanmu.” Aliana berucap dengan nada lirih. Dia berbicara dengan bahu merosot. Brian melihat beban besar yang sedang Aliana tangung saat ini.
“Baiklah,” ucap Brian setelah dia menghela napas berat.
Aliana menoleh sambil tersenyum senang. “Terimakasih, aku tidak akan menyusahkanmu lain kali, dan biarkan aku akan merawat lukamu sementara waktu seperti saat aku merawat Ren dulu,” ujar Aliana.
Brian menoleh. “Jadi adikku luka dulu itu gara-garamu juga?!” tanya Brian dengan sedikit nada bentakan.
“Hey! Dulukan sudah aku dan Ren jelaskan kronologinya!” balas Aliana tidak kalah sengitnya.
“Kronologi apa?” tanya seseorang dari arah belakang tepat dari ruang menuru tempat meja keluarga berada.
Aliana mendengar suara itu langsung menoleh tapi bagusnya dia dapat menyembunyikan mimic wajahnya dengan baik sehingga raut wajahnya terlihat natural.
“Mbak ngagetin,” sindir Aliana sambil memperhatikan wajah Erisa.
“Kalian asik banget ngobrol sampai gak sadar kalau aku masuk rumah,” sindir Erisa lagi.
“Asik ngobrol apanya, kami lagi seru tengkar. Siapa yang lebih hebat debat, Briankan pintar, nah aku mau ngukur kepintarannya dengan debat.” Aliana mulai mencoba mencari Alasan yang pas untuk mengalihkan perhatian Erisa.
Erisa tampak berpikir, dia juga memperhatikan Brian yang memang seperti sedang memikirkan sesuatu. Brian juga terlihat kesal pada Aliana.
“Jadi siapa yang menang atau yang lebih pintar dari kalian berdua?” tanya Erisa, pertanyaan itu Erisa tidak menyangka akan memancing keributan diantara Brian dan Aliana yang selalu terlihat perang dingin atau saling tidak peduli.
“Akulah!”
“Akulah!”
Mereka berucap secara bersamaan dan raut kekesalan dari masing-masing mereka pun tergambar jelas.
“Hey Bri aku yang menang!” teriak Aliana lebih dulu.
“Aku tadi! Kau kalah karena tidak bisa menjelaskan kronologi terjadinya perang dunia pertama!” balas Brian.
“Brian mana bisa begitu!” teriak Aliana kesal, mulutnya ternganga tidak terima dengan raut cemas memandang kakaknya dan juga Brian bergantian.
“Bisa karena aku lebih lama hidup di dunia ini dari pada kamu,” ucap Brian santai tapi dia memandang Erisa dengan senyuman.
“Hemm…! Dari mana ada aturan seperti itu untuk tingkat kecerdasan seseorang?” geram Aliana.
Aliana tidak habis pikir tentang berbaikan dengan Brian adalah impiannya yang dia kira akan lebih baik, tapi pada kenyataannya dia dan Brian tidak cocok untuk berbaikan karena tetap saja tidak ada kata berbaikan diantara mereka.
“Mau bagaimana pun tetap saja aku yang lebih cerdas darimu,” kata Brian semakin membuat Aliana kesal.
“Iya udah, aku waras aku ngalah,” ucap Aliana kemudian dia berdiri dari duduknya ingin naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Sreettt…
“Mbak aku ke kamar dulu ya,” pamit Aliana pada Erisa. Sudah ada Erisa di ruangan itu maka dia tidak perlu lagi bersama Brian terlalu lama karena itu juga demi kesehatan hatinya. Dia sudah hampir jatuh kembali pada pesona Brian tadi.
“Iya,” balas Erisa sambil tersenyum melihat punggung adiknya mulai menjauh.
“Heh! Kamu masih ada urusan denganku ingat!” seru Brian dengan meninggikan suaranya.
“Ya!” balas Aliana dengan teriakan pula tapi tidak menoleh melihat lawan bicaranya itu.
Aliana sudah naik menapaki satu persatu anak tangga. Wajahnya berubah datar dan helaan nafas berat mengiringi langkahnya.
“Apa aku harus mulai melawannya?” gumam Aliana kemudian dia tersenyum dengan pikirannya sendiri.
Sedangkan di tempat tadi, meja panjang tempat kumpul keluarga. Terdapat Brian dan Erisa di meja itu. Kini Erisa duduk di tempat Aliana tadi menatap Brian lekat, ada yang tampak aneh dari wajah Brian.
“Kamu kenapa Bri?” tanya Erisa membuka suara.
Brian memfokuskan pandangannya pada Erisa.
“Bagaimana kelasmu hari ini?” tanya Brian tidak menjawab pertanyaan Erisa tadi.
(m)
…