Berbaikan

1118 Words
“Jangan pedulikan, aku bisa mengurusnya sendiri,” seru Aliana. Dia tidak ingin berurusan dnegan Brian lagi setelah dia mengobati luka Brian ini. “Terserah saja, tapi lukaku ini tanggung jawabmu. Jadi obati dengan baik,” kata Brian. Di balik punggungnya, Aliana menatap sinis Brian dengan geraman yang dia tahan. Tapi bibirnya tidak bisa untuk tidak tersenyum. Aliana kesal dengan dirinya sendiri yang masih saja bisa tersenyum pada orang yang sudah selalu melukai hatinya. Tapi untuk kali ini, Aliana merasakan Brian sedikit berbeda dari biasanya. Setelah sekian lama mereka bertetangga, baru kali ini mereka saling berbicara dengan santai dan saat ini juga seperti ada secercah harapan yang menghampiri hati Aliana untuk berharap pada Brian kembali, untuk jatuh cinta pada Brian lagi. Aliana tahu pasti dari rasa yang dia miliki, dia jatuh cinta lagi. “Sudah atau belum?” tanya Brian. “Sebentar,” jawab Aliana. Saat sedang memotong plaster untuk memperikan perekat pada kain kasa yang sudah ditempatkan pada punggung Brian, Aliana teringat akan sesuatu yang tadi dia lewatkan. “Bri. Kenapa mereka memanggilmu tuan muda? Apa kamu salah satu dari master mafia? Atau kamu anak dalang penculikanku? Juan?” tanya Aliana tiba-tiba, kegiatannya berhenti sebentar untuk mengingat dengan pasti panggilan tiga pria yang tadi ingin melakukan penculikan di rumahnya sendiri ini. “Aku bukan bagian dari mereka, dan satu lagi, kamu ini bodoh atau apa? Orang tuaku Fikra dan Billa bukan Juan. Sudah bagus aku menolongmu, tapi malah begini menuduhku.” Brian berucap dengan dingin membuat Aliana mengerutkan dahinya. “Lalu kenapa mereka memanggilmu dengan sebutan tuan muda, dan satu lagi mereka mengenalmu Bri!?” ujar Aliana dengan nada tanya, tatapannya tertuju pada Brian dengan tatapan curiga penuh tanya. “Apa itu perlu?” Brian malah kembali bertanya pada Aliana bukannya menjawab pertanyaan anak bungsu keluarga Hasbie itu. “Perlu gak perlu. Tapi cukup perlu, kan mana tau kamu itu malah anggota mafia− atau komplotan apa gitu, ya- kan?” Tatapan curiga masih Aliana layangkan pada Brian, malah dengan tuduhan-tuduhan yang terpikir di kepala kecilnya Aliana. Brian melirik Aliana dari sudut matanya tanpa menolehkan kepalanya. “Aku punya tampang penjahat? Atau mafia? Asal kamu tau jadi mahasiswa kedokteran saja aku sibuk.” Aliana mendelik pada Brian dengan raut seperti memikirkan sesuatu. “Lalu ada yang mau kamu jelaskan tidak tentang mereka yang memanggilmu dengan sebutan tu-an mu-da?” tanya Aliana sekali lagi dengan menekan kata diucapan terakhirnya. “Jangan bilang ini bukan urusanmu, karena yang tadi mau diculik itu aku bukan kamu.” Brian menghela nafasnya. “Nanti kamu akan tau, tapi tidak sekarang. Sekarang waktunya kamu menjaga dirimu dengan benar.” Brian berucap dengan nada serius tanpa menoleh pada Aliana yang dari tadi memperhatikan wajah datar Brian. “Apa aku tidak bisa tau sekarang saja?” tanya Aliana, dia benar-benar penasaran dengan hubungan Brian dengan orang-orang tadi, karena bagaimana pun hal tadi menyangkut dirinya, keselamatannya. “Brian adalah orang yang patut dihindari atau orang yang dapat dipercaya? Di sini aku tidak tau posisi aman itu dimana karena terlalu banyak intrik dan kepalsuan.” “Tidak, tunggu saja waktunya,” jawab Brian lagi pada Aliana. “Tapi ini tentangku, penculikan tadi juga. Aku gak tau Bri, kamu itu orang yang seharusnya aku hindari atau orang yang seharusnya aku dekati sebagai pelindungku untuk menjalankan tugas ini. Aku butuh penjelasan, jujur dalam hidupku sudah terlalu banyak ketidak jelasan yang kujalani,” keluh Aliana. Tanpa sadar Aliana menyampaikan keluh kesahnya pada Brian. Dia yang merasa tidak pernah mendalami sesuatu yang dia inginkan karena hidup Aliana tidak jauh-jauh dari terror dan melarikan diri. Aliana tertunduk setelah melamunkan kenangan masa hidupnya dalam beberapa bulan berubah secara total. Awalnya Aliana hanya memandang luruh ke depan meja ruang tengah itu tanpa berniat melirik Brian yang berada di kursi sampingnya. “Aku hanya ragu Bri, jika aku dekat denganmu saat ini adalah sebuah kesalahan. Jadi dapat dipastikan bahwa tindakanmu selama ini padaku, mendorongku menjauh darimu adalah tindakan yang tepat, dan tetap saja kamu jadi heroku lagi Bri,” tutur Aliana mencoba menahan genangan air mata yang mengumpul di pelupuk matanya. Tatapan datar Brian menyadarkan Aliana dengan dirinya sendiri. “Siapa aku malah ingin menangis begini!” batin Aliana menekan keras dirinya sendiri agar selalu kuat seperti yang dia harapkan seperti sebelumnya. Aliana mendongakkan kepalanya menahan agar air mata yang sudah menggenang tidak mengalir dipipinya. “Bukan apa-apa jangan pikirkan perkataanku tadi, uh,” ucap Aliana sambil masih mendongakkan kepalanya, baru saja menggenang hidungnya sudah tersumbat saja, hal itulah yang membuat Aliana benci menangis karena ingusnya akan mengalir dengan cair lolos dari lubang hidungnya. “Kamu kenapa?” tanya Brian merasa aneh melihat Aliana mendongak. “Sudah aku bilang jangan pikirkan dan jangan pedulikan aku!” ucap Aliana dengan suara sedikit keras. “Apa salahnya dengan menangis, bilang saja kamu ingin menangis,” sindir Brian tanpa melihat Aliana, dia sedang mengalihkan perhatiannya dari Aliana. “Ish!” kesal Aliana. “Kejadian hari ini bisa disembunyikan saja? Tolong jangan katakan kepada siapapun, untuk kali ini dan saat ini. Aku tidak ingin disuruh pindah atau aku dikirim kemana pun itu, jadi tolong aku kali ini Bri.” Aliana memohon pada Brian untuk merahasiakan kejadian yang telah melukai Brian itu begitu saja. “Kamu ingin melarikan diri dari tanggung jawab ya?!” bentak Brian tiba-tiba. Brian yang biasa terlihat tenang malah tiba-tiba emosi mendengar ucapan Aliana. Brian tidak habis pikir dengan jalan pikir Aliana yang ingin menyembunyikan hal sepenting yang baru saja terjadi. Keselamatannya sedang dipertaruhkan, Brian jujur dia memang mengawasi Aliana tanpa sepengatahuan Aliana sendiri tentunya bahkan orang lain pun tidak ada yang tahu hal tersebut. Brian juga menyelidiki kedua orang tuanya, Brian sudah tahu tentang masa lalu kedua orang tuanya maka dari itu dia memiliki tujuan untuk membantu Aliana, melindungi Aliana tanpa dia terlalu dekat dengan Aliana. Brian mengetahui Aliana menyukainya dari masa remaja atau mungkin dari masa kanak-kanak mulai dari keluarganya pindah menjadi tetangga keluarga Hasbiean. Ya dulu Brian menerima dirinya dekat dengan Aliana, bermain bersama belajar bersama membuat mereka berempat sangat Akrab. Brian dikeliling oleh anak perempuan, tapi Brian tidak mempermasalahkannya. Sampai sebuah fakta yang Brian curiga terbukti, yaitu kejahatan kedua orangnya pada saat dia masih berumur 3 tahun. Brian mengetahui tanpa sengaja dari mendengar kedua orang tuanya sedang membahas tentang seorang anak perempuan yang mereka sudah tumbuh menjadi anak perempuan yang cantik. Mereka sedang berbicara pada tuan besar, itu yang Brian tangkap. Kedua orang tuanya memiliki tuan. Dan tuannya itulah yang sedang mencari seorang anak perempuan dari keluarga Yaksa yang dia bantai melalui kedua orang tuanya. Walau kedua orang tuanya sudah mengetahui siapa anak itu, tapi mereka tidak pernah melaporkannya pada tuan besarnya itu. Brian malah menyimpulkan jika kedua orang tuanya itu sedang menyelidiki lebih lanjut dan masih menutupi identitas anak tersebut. (l) …   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD