“Dosen aku, kami sering main biar tugas aku dia yang nanganin. Bahkan aku udah kaya istri dia, sayangnya aku udah lulus jadi aku udah gak ada keperluan lagi buat jadi mahasiswa rasa istri dia,” jelas Hilda dengan nada santai sambil menyandarkan punggungnya. “Satu?” tanya Louis lagi. “Tidak,” jawab Hilda cepat. “Ya udah sih, aku sehat gak ada apa-apa. Lagi pula aku merasa kosong akhir-akhir ini karena gak ada lagi suaminya, aku kan suka main rumah-rumahan. Terus aku jatuh cinta sama kamu, Paman…. Jadi suami aku beneran ya?” pinta Hilda dengan nada menggoda, dia menghadapkan tubuhnya pada Louis yang masih duduk di kursi kemudi, tangannya meraih tangan suami bibinya itu dan menggenggamnya dengan erat, tatapannya pun memohon agar dituruti. “Kita nikah?” tanya Louis, hanya memancing agar Hil

