Dilain tempat, tepat sebuah mall salah satu dari empat orang yang sedang memilih bahan masakan perlengkapan dapur. Aliana sibuk mengkerutkan mukanya, wajahnya masam sebab dia merasa tertipu, tertipu oleh tiga orang licik bersamanya yang sayangnya mereka adalah orang terdekat dirinya.
“Sudah jangan cemberut seperti itu, wajahmu tidak cocok dibuat imut seperti itu,” tegur Andrean yang dari tadi sibuk menemani Aliana yang berjalan beberapa langkah lebih lamban dari dua orang di depan mereka, yaitu Brian dan Erisa.
“Kau! Ish!” kesal Aliana. Dia kesal pada Andrean pasalnya Andreanlah yang menyetir mobil mereka tapi Andrean malah membawa mereka berbelanja ke pusat perbelanjaan, bukannya pasar tradisional atau mini market saja sesuai dengan kesepakatan mereka sebelum berangkat.
Aliana mengarahkan pandangannya kearah lain tidak ingin melirik Andrean yang setia berjalan di sampingnya.
“Ya maaf, masa sekali-sekali kalian keluar hanya pergi ke mini market di dekat kompleks sih, kan tidak asik sekali.”
Alasan saja Andrean berucap seperti itu, dia memang ingin membawa kakak beradik itu keluar agar tidak terkurung di dalam rumah saja seperti orang yang parto terhadap matahari. Hal tersebut juga akan membuat paman Andrean semakin gencar menyerang pergerakan kakak beradik itu jika mereka tidak bergerak dari satu titik.
Aliana tidak membalas ucapan Andrean, menoleh saja dia tidak mau, dia kesal entah kenapa dia sangat mengerluarkan ekspresi saat bersama Andrean.
“Dek! Kamu gak pilih cemilanmu?” tanya Erisa yang berada tiga langkah di depan Aliana dan Andrean.
Aliana memandang lurus ke depan melihat keberadaan sang kakak.
“Gak mood Mbak!” jawab Aliana dengan suara sedikit tinggi. Bibirnya masih melengkung maju tanpa dia masih kesal.
“Lagi kesal dia Mbak,” kata Andrean memberitahu Erisa.
“Kesal kenapa?” Pertanyaan itu tiba-tiba muncul, bukan dari Erisa tapi dari orang yang mendorong troli belanjaan Erisa, yaitu Brian.
“Gak suka ngemall dia Bri!” sindir Andrean menjawab pertanyaan Brian tadi.
“Oh, salah sendiri keluar pakaian malah kaya orang kebuang seperti itu,” sindir Brian, Aliana mendengarnya dan dia semakin kesal. Rasanya dia berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di ceruk telungkup kedua lengannya serta kedua lutut yang ditekutnya.
“Aku yakin dia tambah pundung Bri,” sindir Andrean lagi. Dia ingin meledak tertawa melihat wajah Aliana yang memerah malu.
Tepat dengan apa yang dikatakan Brian tadi, pakaian Aliana yang sangat rumahan sekali bahkan terlewat santai. Berbending terbalik dengan Erisa, sang kakak. Pakaiannya anggun rapid an sopan, sedangkan dia baju kaos overzise menutupi sebatas setengah paha dan celana pendek yang syukurnya kain bahan sebatas lima jari di atas lututnya. Tetap saja itu membuatnya malu.
“Syukurkan tadi diingatin buat ganti sandal rumahannya sama sepatu, kalau gak mungkin dia gak mau keluar dari mobil,” sindir Erisa juga, dia terkekeh melihat wajah cemberut sang adik. “Sudah ayo bantu Mbak pilih bahan dapurnya, kamu mau masak sama makan apa? Cemilan juga jangan lupa diambil,” titah Erisa pada sang adik. Erisa kembali fokus pada rak-rak bahan makanan di sampingnya.
Bahu Aliana melorot karena dia merasa kaki jenjangnya kedinginan dan dia sadar harus membantu Erisa, jika tidak makanan yang dia akan makan selama seminggu ke depan hanya akan makanan sehat dan tawar tanpa rasa.
“Hidup itu memang berat Al, angkat bahumu jangan melorot begitu,” tegur Andrean lagi. Dia memegang kedua bahu Aliana dari belakang dan mengangkatnya sambil mendorong Aliana untuk melangkahkan kaki lemasnya ke depan.
“Pakai ini.” Sehelai kemeja berwarna denim disodorkan dihadapan Aliana.
Aliana menatap kemeja tangan panjang di depannya, dan melihat orang yang memberikannya padanya. Itu kemeja Brian, dia tadi menggunakan kemeja itu tapi saat ini dia melepaskan kemejanya dan tersisa kaos hitam yang dia kenakan dibagian dalam kemeja sebelumnya.
“Kamu? Bagaimana?” tanya Aliana setelah terasa cukup dengan keterkejutannya.
“Pakai aja, aku masih ada kaos. Tidak mungkinkan kamu menyerut Andrean yang melepaskan kaosnya itu untuk menutup kakimu yang kedinginan?” sindir Brian, nadanya datar dan tenang. Oleh sebab itu setelah mendengar ucapan Brian tadi, Aliana langsung ingin menyambut kemeja yang diulurkan padanya itu.
Tapi sebelum sampai tangan Aliana meraih kemeja Brian, sebuah tangan lebih dulu mengambilnya dari tangan Brian dengan gerakan cepat.
“Biar aku yang pasangkan, nunggu kamu lama. Loading kaya jaringan hpnya lemot,” sindir Andrean sambil mengikatkan kemeja denim milik Brian tadi ke pinggang ramping Aliana dan berhasil menutupi lebih panjang dari celana pendek yang Aliana kenakan.
“Makanya lain kali Mbak bilang siap-siap itu nurut, ganti pakaian rumahannya, udah tau kamu gak kuat dingin juga.” Nasehat Erisa pada Aliana, dia merasa bertanggung jawab atas adiknya itu jika terjadi apa-apa dan beruntung dia memiliki Brian yang peka akan kondisi anggota keluarganya.
“Iya Mbak, maaf dan makasih Mas,” ucap Aliana lirih.
“Apa tadi?” goda Andrean yang sengaja meminta Aliana untuk mengulangi ucapannya tadi.
Aliana menoleh ke samping dan, “ish!” plak!
“Duh! Dih dia kesal. Tapi perit juga ya Al pukulanmu,” ujar Andrean merasakan punggungnya perih.
Aliana memukul bahu belakang Andrean dengan keras karena wajah tegil Andrean membuatnya kesal.
Dia tahu Andrean sengaja menggodanya oleh karena itu tidak segan untuknya memukul bahu Andrean. “Dari tadi!” ucap Aliana asal.
Kemudian Aliana melangkah mendekati Erisa dan memilih bahan makanan yang dia butuhkan di dapur, dia tidak ingin diet seperti sang kakak jadi dia memilih bahan makanan yang menurutnya enak di lidahnya.
“Kebanyakan Aliana…,” protes Erisa melihat sepuluh bungkus mie instan pedas masuk ke dalam troli yang di dorong Brian. Di tambah lima cup samyang pedas, lima cup mie instan lokal sedap dengan rasa pedas juga.
Brian tercengang dengan selera pedas Aliana, dia baru menyadarinya.
“Apa lambungmu baik-baik saja dengan ini semua?” tanya Brian.
“Paling bentar lagi ada kabar dia kena usus buntu, atau yang parah lambungnya robek,” sindir Andrean yang juga sudah berdiri tidak jauh dari Brian, dia terkekeh melihat Erisa dan Brian yang sudah hampir sesak napas melihat Aliana yang tidak peduli dengan teguran sang kakaknya tadi. Andrean saja yang lebay, mereka bukan sesak napas setidanya tidak dengan Brian hanya Erisa yang mengurut pelan keningnya terasa pusing.
“Aku pengen Mama cepat pulang, semakin lama Mama di Dubai, semakin dekat Aliana sama ruang inap rumah sakit,” ucap Erisa putus asa.
“Akukan gak makan semua itu sekaligus Mbak…,” ujar Aliana pada akhirnya, kesal juga lama-lama dia ditatap penuh tudingan begitu. “Jangan dibalas! Lanjut aja,” potong Aliana langsung saat Brian akan mulai buka suara yang pasti akan menceramahinya tentang kesehatan sama saja dengan Erisa.
“Cemburu bilang bos,” bisik Andrean yang sudah berdiri di samping Aliana yang sedikit jauh dari Brian dan Erisa.
“Diam. Siapa yang cemburu, aku masih kesal ya sama kamu.” Aliana mendelik memandang Andrean dengan sinis.
“Iya kamu aku tau…,” balas Andrean, tatapannya membalas tatapan sinis Aliana dengan tatapan mengejek.
Sesuai permintaan Erisa, Brian mendorong troli mengikuti langkah Erisa untuk menghampiri tempat sayu dan buah. Dengan teliti dan hati-hati penuh pertimbangan Erisa memilih sayuran yang tubuhnya tubuhkan untuk satu minggu ke depan.
(x)
….