Langit Mendung

1139 Words
Erisa mengambil plastic untuk memasukkan kacang kulit. “kacang? Untuk apa?” tanya Brian melihat Erisa memasukkan kacang tanah kulit ke dalam kantong plastic dan ditimbang setelahnya disegel. “Untuk Aliana,” jawab Erisa. Sedangkan orang yang dimaksud sedang bersama Andrean bertengkar kecil sambil mengambil lemon dengan adu mulut bersama Andrean, memilih lemon yang dikilo terlebih dahulu atau lemon yang sudah dipacking dan disegel. “Dia suka makan kacang kulit?’ tanya Brian. “Kenapa tidak beli kacang almond panggang saja,” usul Brian sebelum Erisa menjawab pertanyaannya tadi. “Dia suka kacang sejenis biji-bijian sebenarnya, tapi tidak suka kacang merah takut saingan sama aku katanya, jadi aku beli kacang tanah aja tapi dalam jumlah sedikit, dia suka kacang almond tapi aku rasa dia sendiri nanti yang mengambilnya,” jawab Erisa sedikit menjelaskan kesukaan sang adik. “Kamu jangan keseringan diet, gak baik juga buat kesehatan kalau terlalu ketat.” Nasehat Brian pada Erisa. Erisa memandang Brian dengan senyuman. Di tempat Aliana dan Andrean. Aliana sudah membawa satu kantong lemon yang kiloan, sudah disegel. Kiwi packing, apel kiloan, jeruk kiloan, dan dia bawa ke Brian lebih tepat untuk dimasukkan ke dalam troli yang didorong oleh Brian. “Segitu aja?” tanya Erisa melihat sang adik membawa empat jenis buah di tangannya. “Ah hampir lupa tadi mau beli lemon,” kata Erisa yang ingat dia juga butuh buah masam itu. “Tidak perlu lagi Mbak, ini aja. Mama bisa marah besar kalau aku sering ngemil lemon,” seru Aliana menghentikan Erisa yang ingin pergi mengambil buah lemon juga.  Erisa tersenyum mendengar adiknya mengingat perkataan mama mereka. “Hilih, lemon ingat bakal kena marah tapi ini mie instan banyak pedas lagi gak ingat dia bakal sakit,” sindir Andrean sambil mencebikkan bibirnya mengejek Aliana. “Mama gak bilang gak boleh makan mie instan banyak-banyak,” balas Aliana santai. Brian jadi pening sendiri mendengarnya. “Sudahlah, nyerah aku Mbak,” ujar Andrean pada Erisa. Mereka melanjutkan acara berbelanja mereka, ternyata cukup banyak bahan belajaan dua orang kakak beradik itu, memenuhi troli besar hanya dengan bahan dapur dan satu lagi untuk cemilan yang didorong oleh Andrean pada akhirnya. Setelah merasa cukup dan selesai semua dengan acara berbelanja. Andrean dan Brian mendorong troli menuju kasir diikuti oleh Aliana dan Erisa. “Setelah ini kita nonton dulu di bioskop ayok.” Bukan seperti tawaran tapi itu ajakan mutlak sepertinya dari Andrean. Ditangannya sudah menenteng dua kantong plastic besar belanjaan kakak beradik Erisa dan Aliana begitu pula yang terjadi pada Brian. Sedangkan Erisa dan Aliana, hanya membawa satu kantong cemilan masing-masing yang isinya pun sebagian kecil dari seluruh cemilan mereka berdua. “Tidak apa-apa lama di luar rumah?” tanya Erisa memastikan. “Tidak apa-apa, sekali-sekali kita keluar begini nonton di bioskop.” “Di rumah juga bisa nonton,” sanggah Aliana. Dia secara harus menolak niat Andrean yang mengajak mereka untuk menonton film di bioskop. “Kamu gak sibukkan Bri?” tanya Erisa. Diantara mereka bertiga tidak ada yang memperdulikan protesan Aliana tadi. Sungguh Aliana jadi merasa terabaikan, dia bukan pajangan berjalan tapi memang terasa seperti itu saat ini. “Tidak, kalau kamu memang mau nonton film, ayo,” kata Brian pula. Tentu saja membuat bahu Aliana merosot. “Tidak ada yang mendengarkanku? Kita pulang saja ayok,” ajak Aliana yang masih belum terima mereka akan pergi nonton. “Kasian Erisa terkurung, dia juga butuh jalan-jalan dan hiburan keluar. Kalau kamu mau terkurung di rumah sendiri ya terkurung saja sana sendiri jangan bawa-bawa orang lain,” ucap Brian dingin. Aliana terkesiap dan mengerjab beberapa kali. Brian kembali menyakitinya lagi. Andrean jadi merasa bersalah sudah mengatakan ajakan untuk nonton tadi yang berujung menyakiti perasaan Aliana. Padahal tujuan dia mengajak menonton adalah untuk hiburan Aliana sendiri tapi ternyata Aliana tidak suka dengan kegiatan menonton. Aliana menjadi diam, tidak protes ataupun memberikan usulan pada saat Andrean bertanya padanya ingin menonton apa, mau popcorn atau tidak, mau minuman milo atau apa, Aliana hanya menggelengkan kepalanya saja, dia masih tidak mau berbicara. Tatapannya pun datar dan terlihat lelah. Berbeda dengan Erisa, dia memilih film yang akan mereka berempat tonton. Membeli satu cup ukuran large popcorn dan minuman untuk bertiga karena Aliana menolak untuk minum. Mereka bertiga menikmati tontonan, tidak ketiganya. Hanya Erisa yang menikmati, tapi setidaknya dua orang lainnya yaitu Brian dan Andrean masih terjaga memberikan respon seadanya saat Erisa tertawa kecil atau memuji yang dia tonton. Berbeda dengan Aliana, dia yang awalnya sudah menatap bosan film bergenre romantic pada akhirnya tertidur dengan memposisikan dirinya menyender ke senderan kursi yang dia duduki dengan agak menyampingkan tubuhnya, di sebelahnya kanannya ada orang lain dan sebelah kirinya barulah Andrean, di sebelah kiri Andrean ada Erisa yang posisinya berada di tengah-tengah diapit dua orang tampan itu. Aliana tidak peduli dengan tontonannya dan nyaman tertidur hingga film selesai. Semua orang sudah beranjak keluar dari bioskop dan tertinggal Aliana yang masih diposisinya, sedangkan Brian, Erisa dan Andrean sudah berdiri dan melihat Aliana tertidur. Andrean membangunkan Aliana dengan memanggilnya, tapi tidak ada respon. Kemudian dia membangunkan Aliana dengan memencet hidung Aliana. Syukurkan Aliana berhasil terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa film sudah usia dan bioskop sudah sepi. “Astaga aku tertidur,” keluh Aliana, dia berdiri sedikit sempoyongan lalu dibantu oleh Andrean agar Aliana berdiri dengan benar dan berjalan dengan dipimpin. Sedangkan Brian dan Erisa sudah lebih dulu menuju pintu keluar. “Pokoknya aku tidak mau pergi nonton bioskop lagi, membosankan,” cibir Aliana saat dia sudah dapat berjalan dengan normal dan Andrean berjalan di sampingnya. “Lain kali jangan pernah mengajakku untuk menonton di bioskop, aku tidak akan mau pergi,” tambah Aliana. Andrean tersenyum karena Aliana sudah mau berbicara lagi. Dia juga merasa bersalah pada Aliana. Andrean sadar bukan salah bioskopnya Aliana tertidur seperti tadi. Tapi salahkan film yang mereka tonton, terlalu meye. Dia sendiri mengakui bahwa tidak menikmati sepanjang film diputar, tapi dia menghargai pilihan Erisa yang sudah memilih film itu. Sedangkan Aliana, dia suka menonton Film tapi genre yang dia tonton bukanlah romantic yang malah dia tidak sukai hal itu. “Lebih baik mengajakku keperternakan dari pada ke bioskop,” keluh Aliana lagi. “Iya iya, aku maafkan aku soal yang tadi,” kata Andrean pada akhirnya. “Sudahlah, ayo pulang.” Mereka sudah sampai di parker dan duduk di bangku seperti saat mereka pergi tadi. “Langitnya muram sekali,” celetuk Andrean yang sedang mengemudi. Diliriknya Aliana yang duduk di sampingnya tapi lebih memilih menatap keluar jendela di sampingnya. “Seperti akan turun hujan atau mungkin badai kalau dilihat segelap ini,” tambah Andrean. “Sudah lama tidak hujan, sudah waktunya hujan berarti,” sahut Erisa di kursi penumpang belakang. “Kalau begini, aku akan menginap saja,” putus Andrean pada akhirnya, dia melirik pada tempat duduk Aliana. Aliana bergeming di tempat duduknya, masih melihat keluar jendela seakan tidak tertarik sama sekali dengan pembicaraan yang Andrean buka. (y) ….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD