Obsesi 3

1134 Words
Pada akhir pekan adalah hari libur Hilda, dan selama itu pula Louis masih menahan dirinya karena dia belum memiliki kesempatan untuk tinggal berdua saja dengan Hilda. Sedangkan Hilda bila ada kesempatan dia semakin gencar menggoda Louis dan membercandai Louis dengan kadang seperti tidak sengaja menyenggol milik Louis, tidak sengaja menggesekkan dadanya pada lengan Louis dengan berbagai cara Hilda berinteraksi dengan Louis. Dia semakin berani karena Louis tidak terlihat marah padanya. Dan dia memang sengaja melakukan itu semua karena dia menyukai Louis, pamannya itu dimatanya adalah pria yang dewasa, matang, menggoda, sesuai dengan pria idamannya selama ini. Louis juga pria yang lembut pada wanita, dan hal itu membuat Hilda semakin jatuh cinta pada Louis. Tidak hanya hal-hal yang sudah Hilda jelaskan, tapi ada yang lain sebagai penunjang. Yaitu Louis memiliki tubuh atletis, tegap, perutnya datar keras itu yang Hilda perhatikan. Louis rajin berolahraga selagi ada kesempatan untuknya merawat tubuhnya. Pokoknya Louis adalah definisi pria idaman untuk Hilda. Katakanlah Hilda sudah masuk pada tahap terobsesi pada pamannya sendiri, karena dia tidak segan untuk melakukan fantasi liarnya membayangkan pamannya itu bersamanya bahkan mereka menikah pun sudah pernah Hilda bayangkan. Maka dari itu dia senang dan tidak mengeluh lelah saat dia membantu mengurus Louis, malah dia senang dapat berperan seperti istri Louis sesungguhnya. “Kapan ya aku bisa jadi istri Louis,” gumam Hilda sambil memandang langit-langit kamarnya yang berwarna putih gading. "Kamu pasti bisa, suatu hari nanti. Waktu untuk terus berusaha masih panjang Hil." "Kamu benar, aku sudah lama jatuh cinta dan ini adalah kesempatan. Bantu aku ya, Ila." Kemudian Hilda berbalik mengubah posisi menelungkup, setengah kakinya dia angkat ke atas. “Tapi apa bisa? Uh Mami Hilda pusing, Hilda pengen nikah saja, tapi calon suaminya? Hilda cuma mau nikah sama Louis gak mau yang lain,” ujar Hilda, dia kemudian menenggelamkan wajahnya di kasur yang tertutupi selimut tebal miliknya. “Ugh Hilda pengen liat d**a dan perut Louis lagi, tapi hari ini hujan Louis tidak akan berenang. Atau sekalian saja Hilda anuin itunya Louis ya? Hihihi kemarin keras lagi ughh pengen pegang gemas pengen gigit.” Monolog Hilda membayangkan yang dia lakukan sehari sebelumnya. “Besok kerja, Hilda bakal sama Louis seharian. Berangkat bareng, Louis peka gak sih sama Hilda yang suka dia,” gumam Hilda, pikirannya bercabang-cabang tapi fokusnya cuma pada satu objek yaitu Louis. Otaknya bertanya-tanya, sangat menunggu hari esok. “Ughhhh senangnya...!” pekik Hilda kesenangan, pekikankan itu tidak terlalu dia lepas karena dia ingat nanti ada yang mendengarnya, dia tidak takut jika benar ada yang mendengarnya tapi dia masih belum berani mengambil resiko karena dirinya belum sepenuhnya mendapatkan Louis, pria idamannya. Hilda masih baring tertelungkup dengan wajahnya menyamping. “Sekarang apa yang sedang dilakukan Louisku ya?” gumam Hilda bertanya-tanya. “Coba dari kemarin saat Bibi tidak di rumah aku bertindak, pasti malam dingin ini aku bisa memeluk Louis erat, dia juga tidak akan kedinginan bersamaku.” Fantasi Hilda masih berlanjut untuk membayangkan pamannya itu. “Waktunya tidur.” Hilda turun dari tempat tidur dan berdiri di depan lemari. Dia menanggalkan pakaiannya yang hanya menggunakan kaos dan celana pendek longgar, lalu dia ganti dengan kaos lainnya yang lebih terang dan hanya menggunakan celana dalam. Hilda yang memang memiliki kebiasaan minum segelas air putih sebelum tidur pun keluar dari kamarnya dan turun ke lantai satu menuju dapur untuk mengambil minumannya. Hilda tidak khawatir dia berkeliaran pada malam hari dengan pakaian seperti itu, menurutnya Ayunda paham dengannya, dia tidak akan memarahi Hilda, atau lebih beruntung lagi Hilda akan bertemu dengan Louis saat dia turun ke lantai satu. Harapannya begitu. Kamar tidur orang tua ada di lantai satu dan kamar tidur anak-anak ada di lantai dua. Dan Hilda sengaja menuju dapur melewati kamar Louis dan Ayunda untuk sekedar mengetahui apakah Louis sudah tidur atau belum. Hilda berdiri menatap pintu kamar Ayunda dan Louis, dia diam beberapa detik untuk mendengar jika ada suara dari dalam, tapi cukup lama dia diam hanya keheningan yang dia rasakan dan dentingan jarum jam yang berbunyi. Tik tik tik Suara rintik hujan di luar juga tidak terdengar jelas hanya sayup-sayup. Hilda kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur dan meminum segelas air putih. Hilda yang memang terlihat polos itu dengan sengaja menyiramkan air putihnya pada dadanya hingga baju itu semakin transfaran dan mencetak jelas dadanya. Hilda terkikik melihat ulahnya sendiri. Kemudian Hilda kembali melangkahkan kakinya menuju lantai dua ke kamarnya. Saat setelah sampai di ujung tangga lantai dua, dia menyadari satu ruangan di lantai dua yaitu ruang kerja Louis masih terang terlihat dari celah bawah pintu. Tanpa berpikir panjang Hilda menghampiri pintu yang tertutup rapat itu. Benar ruangan itu masih terang menandakan ada orang di dalamnya. Hilda tersenyum mengetahui itu, menurutnya dia adalah keberuntungannya. Dia dapat mulai mencoba mendekati Louis lagi. Hilda meraih ganggang pintu di berwarna coklat di depannya. Dia berharap benar ada Louis di dalam ruangan itu. “Semoga kamu ada di dalam ya sayang,” gumam Hilda. Dia memutar ganggang pintu untuk membuka pintu dia lakukan sedikit dorongan pelan pada pintu itu. Hilda terpana melihat pemandangan di depannya. Jiwanya bergejolak meronta kesenangan. Terdapat Louis sedang duduk di kursi kerjanya sambil menumpu tubuhnya pada meja kerjanya. Hilda masuk ke dalam, dia melihat dengan jelas wajah tenang Louis yang tertidur, kumis tipis terlihat beberapa uban, kerutan mata di sudut matanya, bulu mata yang lentik panjang, hidung mancung bangir, bibir merah seksi, kulit wajah Louis juga cukup halus untuk ukuran pria dewasa seumurannya. “Tampan sekali ya Tuhan…,” gumam Hilda tanpa sadar, ini pertama kali baginya selama hampir 2 bulan tinggal bersama dan bekerja bersama, melihat dari dekat sangat dekat wajah tampan itu, Hilda sangat ingin menyentuhnya. Bahkan tanpa sadar dia air liur mengalir di sudut bibirnya melihat menggiurkannya pemandangan di depannya. “Aku ingin melahap bibir itu,” tunjuk Hilda pada bibir Louis yang terkatup. Puas memperhatikan wajah Louis, walau tidak ada puasnya tapi cukup lama dia memperhatikannya. Hilda mundur dan menyadari bahwa Louis hanya menggunakan celana pendek rumahan. Hilda mengintip ke bawah sana, mengetahui apakah calon kekasihnya menggunakan celana dalam atau tidak. Hilda mulai sulit mengendalikan dirinya melihat paha terekspos Louis. Obsesinya ingin memiliki Louis semakin menjadi, bahkan saat itu juga terpikir olehnya untuk mendapatkan Louis dan menjadikan miliknya seutuhnya. “Paman-Paman,” panggil Hilda pada Louis yang tertidur. “Paman….” Kali ini Hilda mencoba membangunkan Louis dengan nada manja dan menggoncang tubuh Louis dengan pelan. Sensasi saat dia menyentuh bahu Louis membuatnya merinding. “Ugh aku basah,” gumam Hilda pelan, dia merasakan dirinya sudah basah hanya karena menyentuh bahu keras Louis. “Paman…. Ih bangun kenapa tidur di sini?!” panggil Hilda masih mengguncang tubuh Louis. Louis terbangun tapi dia enggan membuka mata saat merasakan Hilda mendekat padanya dan merasakan deru nafas Hilda yang memanas di lehernya. “Pamanh…, bangunh.” Bisik Hilda di telinga Louis. (q) ….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD