Ini masih tentang kisah perjuangan Hilda mendapatkan pria idamannya dan juga kronologi mengapa Lui bisa bersama Juan.
Ini masih belum pagi dan masih di ruangan kerja Louis dan Hilda masih berada di sana. Hilda berhasil membangunkan Louis bahkan membangunkan yang seharusnya tidak dibangunkan oleh Hilda.
“Hilda? Kenapa kamu di sini?” tanya Louis tapi matanya belum fokus karena baru saja bangun dari tidurnya.
“Paman yang kenapa tidur di sini, apa gak sakit tengkurep begitu, atau besok malah sakit-sakit. Besok kerja loh Paman,” seru Hilda, benar kata Hilda besok mereka bekerja lagi. Tapi Louis malah ketiduran di meja kerjanya dan itu akan membuatnya tidak nyaman.
“Paman ketidu-ra-an?” Louis sudah sadar sepenuhnya, dia terbata saat melihat Hilda hanya menggunakan kaos tipis sedikit lembab tanpa menggunakan dalaman, bahkan Louis yakin kaos itu ukurannya lebih kecil dari kaos yang Hilda pakai saat masih makan malam tadi.
“Paman baik-baik saja?” tanya Hilda heran melihat Louis terbata, tapi setelah beberapa saat barulah Hilda paham apa yang terjadi pada Louis. Hilda tersenyum menyadarinya, arah mata Louis terkunci pada dadanya yang menantang sangat dekat dengan wajah Louis. Apa Hilda sedang menggoda Louis? Pikir Louis tidak, karena dia mengetahui kebiasaan Hilda dan baru kali ini menyaksikan dari dekat milik Hilda yang dia mimpi-mimpikan untuk menyentuhnya.
Louis tidak menjawab Hilda, senyum Hilda semakin mengembang. Hal ini adalah hal bagus tapi menurut Hilda ini belum saatnya karena dia tidak ingin rencananya terbongkar terlalu dini oleh Ayunda yang sedang tidur di kamarnya lantai satu.
Tapi dengan berani Hilda meraih tangan Louis dan mendaratkan tangan besar Louis untuk menyentuh dadanya. Sambil tersenyum dia memandang Louis penuh puja, dia tidak menyangka tangan Louis kini sudah berada di dadanya, itu impiannya, itu obsesinya.
“Pegang saja,” seru Hilda menatap keterkejutan Louis karena tangannya kini sudah berada di d**a Hilda.
Bahkan Hilda pernah berniat untuk suntik hormone suatu hari nanti agar dia dapat menghasilkan ASI sebelum dia memiliki anak semua hanya untuk Louis. Hilda juga sudah bertekad akan menyingkirkan penghalang baginya untuk mendapatkan Louis atau menganggu rencananya mendapatkan Louis.
“Paman suka?” tanya Hilda lagi dengan suara kalem dan lembut.
“Louis, aku ingin memberi sebuah pengakuan,” ucap Hilda lebih berani, tanpa berpikir panjang dia memanggil Louis yang jauh lebih tua darinya dengan sebutan nama saja.
Louis bahkan terkejut dengan keberanian Hilda padanya.
“Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Louis. Dia tidak ambil pusing dengan kekurang ajaran Hilda padanya karena dia pun sedang enak, menikmati remasannya dan pilinannya di balik kaos Hilda. Sedangkan di bawah sana sudah hampir menegang sesak.
“Aku mencintaimu,” kata Hilda dengan pengakuannya. Dia menatap Louis dengan tatapan memelas.
“Tapi aku Pamanmu, suami dari Bibimu, Hilda,” sanggah Louis tapi dia sambil tersenyum dan tangannya masih bertengger di d**a Louis.
“Tapi aku mencintaimu Louis bukan sebagai Paman!” ungkap Hilda dengan suara sedikit lebih keras.
“Sttt jangan keras-keras, aku tau kau mencintaiku tadi kau sudah mengatakannya.”
“Kumohon.” Hilda memelas di hadapan Louis.
Tangan Louis menjauh dari d**a Hilda. Kemudian dia membenarkan posisi duduknya.
“Apa?” tanya Louis tanpa mengalihkan pandangannya ke depan tidak memperhatikan Hilda yang sedang di sampingnya. Di wajahnya dia tersenyum kecil, dia sedang menggoda Hilda dengan berpura-pura tidak peduli dengan perasaan gadis berumur 22 tahun itu.
“Jadilah suamiku, aku hanya ingin kamu yang menjadi pendamping hidupku, aku akan mengabdikan diriku untukmu. Louis mohon terima aku,” tutur Hilda memohon pada Louis.
“Apa yang aku dapat dari menikahimu? Aku sudah memiliki istri yang cantik dan pintar untuk apalagi menambah istri. Aku tidak ingin menambah tanggung jawabku dan beban pikiranku, istriku cukup Bibi mu saja,” ungkap Louis membalas pengakuan Hilda padanya.
“Aku bisa menjadi simpananmu saja, aku bisa menjadi istri tanpa harus kamu menikah denganku, kamu bisa mengambil seluruh tubuhku, tubuh ini milikmu, tapi jangan dorong aku menjauh darimu, cukup aku mencintaimu. Aku tidak ingin ada beban maka dari itu aku mengungkapkannya, aku berharap kamu membalas cintaku dan biarkan aku tetap selalu berada di sampingmu,” ungkap Hilda. Sedangkan di dalam pikirannya sudah mengibarkan bendera perang untuk Ayunda.
Tanpa Louis sadari ucapannya tadi sudah membuat Ayunda berada di posisi terancam, terancam karena Hilda sudah bertekad akan melakukan apa saja agar Louis hanya menjadi miliknya. Hilda sudah mengklaim Louis miliknya maka dari itu Ayunda adalah penghalang yang harus disingkirkan.
“Aku tidak yakin kau mampu tidak menuntutku,” ujar Louis lagi menggoda Hilda.
“Tidak! Benar-benar aku tidak akan menuntut padamu, aku hanya akan tetap menjadi asistenmu, aku tidak butuh diikat tapi biarkan aku menjadi kekasihmu, kekasih bayangan yang hanya milikmu…,” ungkap Hilda lagi dengan nada menggoda Louis kali ini.
Louis tersenyum menang. “Benarkah?” tanya Louis dan kini tangannya berani dengan sendirinya meremas d**a Hilda dan berpindah membelai wajah Hilda.
“Yahh…h,” desah Hilda.
“Kalau begitu…, baiklah. Tapi malam ini kau harus bertanggung jawab Hilda, kau telah membangunkannya,” seru Louis dengan sorot mata menajam memandang Hilda.
Hilda sudah bertekad, malam ini dia tidak akan melakukan hal lebih pada Louis. Belum dia belum bisa melakukannya, dan Louis sudah masuk ke dalam hubungannya. Louis sudah menginginkannya, Hilda hampir tergoda jika tidak mengingat janjinya sendiri.
Hilda tersenyum pada Louis, dia membelai wajah Louis dengan jari-jari lentiknya.
“Maafkan aku sayang, malam ini aku tidak bisa melakukannya,” tolak Hilda tangannya turun ke bawah menuju pusat Louis dan meremasnya pelan.
“Akkhh…,” pekik Louis saat Hilda mempermainkan miliknya.
Tangan Hilda sudah kembali pada posisinya tidak lagi menyentuh Louis di bagian manapun.
“Kenapa?” tanya Louis penasaran. Dia sudah tidak sabar tapi Hilda malah mempermainkannya.
“Tahan sajalah dulu malam ini, atau bermain bersama Bibi di kamar sana. Yang pasti aku tidak akan bermain denganmu malam ini sayang,” tutur Hilda dengan senyum menggoda. Hilda pintar dia menggoda Louis, dia sengaja itulah alasan utamanya. Padahal dia sendiri juga sedang menahan gejolaknya. Apalagi saat tadi tangannya benar-benar menyentuh milik Louis yang sudah tegang ingin bebas. Hilda berhasil mengendalikan dirinya walau tersiksa.
“Tapi kenapa? Dia ingin berkenalan dengan milikmu!” tanya Louis lagi dia tidak habis pikir, setelah Hilda menggodanya, Hilda malah meninggalkannya menolaknya.
“Sudahlah pakai saja Bibi Ayunda dulu, besok. Aku janji besok dia akan berkenalan denganku. Aku mau istirahat dulu, pai pai sayang pai pai juniorku!” Hilda pergi begitu saja dari samping Louis.
Louis menggeram, dia merasa dia habis dipermainkan oleh Hilda. Tapi dia jadi menginginkan Hilda yang membuatnya mau tak mau harus bersabar seperti apa yang dikatakan Hilda tadi.
“Sepertinya aku memang harus memakai Ayunda terlebih dahulu malam ini,” gumam Louis. Dia berdiri dan beranjak dari kursi kerjanya, turun ke lantai satu menuju kamar dirinya dan istrinya.
Sedangkan Hilda, dia sudah sampai ke kamarnya. Dia bahagia tidak menyangka rencananya akan terlaksana lebih cepat beberapa jam dari yang dia perkirakan sebelumnya.
“Dia sudah jadi milikku, tunggu saja besok hihihi…, suamiku kamu akan seutuhnya menjadi milikku….”
(r)
…