Pagi harinya, Hilda sudah bangun bahkan dia sudah siap untuk turun ke lantai satu menyiapkan sarapan untuk mereka dan juga dirinya sendiri.
“Suatu hari nanti aku akan menyiapkan sarapan untuk suamiku dan diriku sendiri saja lagi,” gumam Hilda sambil berjalan menuju pintu keluar dari kamarnya. Wajah sinis dan datarnya berubah saat setelah melewati pintu kamar, dia jadi tersenyum dengan wajah riang dan manis.
Rambutnya basah sengaja di gerai agar cepat kering.
Dia akan pergi ke kantor hari ini bersama Louis, dan dia tentu saja sangat bahagia.
Hilda sampai di dapur, dia mulai mengeluarkan bahan-bahan yang dia perlukan untuk membuat sarapan pagi ini.
Saat sedang fokus pada bahan-bahan yang dia siapkan, suara seseorang mengagetkan Hilda yang sedang mengucap bawang merah.
“Hai sayang, selamat pagi,” sapa Ayunda yang terlihat juga habis keramas.
“Hai Bibi, selamat pagi. Aku lagi bikin sarapan nasi goreng hari ini,” jawab Hilda tanpa mengalihkan perhatiannya dari bawang-bawang yang sedang dia kupas.
“Rambutmu masih basah dan tidak dikemas dulu, aduh nanti kamu bisa masuk angin kalau dibiarkan begini.” Ayunda tampak sedikit memprotes Hilda yang menggerai rambut basahnya saat memasak.
“Biar cepat kering Bibi…, aku kan hari ini kerja dan rambutku apek bau hari kemarin aku lupa keramas,” balas Hilda.
“Ya sudah terserah kamu saja, biar Bibi ikat ujung rambutmu sedikit agar tidak menggangu pekerjaanmu,” kata Ayunda kemudian Hilda merasakan jika Ayunda sedang meraup semua rambut panjangnya untuk dijadikan satu dan setelahnya barulah Ayunda mengikat ujung rambut Hilda dengan ikat rambut kecil seperti karet. “Sudah, nah sekarang kamu tidak akan terganggu lagi memasaknya,” ucap Ayunda.
Ayunda kemudian mengambil segelas air dan meminumnya.
Kemudian Ayunda beranjak mengambil gelas yang Hilda yakin itu gelas untuk membuat kopi untuk Louis. Ayunda membuatkan kopi untuk suaminya dengan penuh cinta. Dia terseyum sendiri saat mengingat tengah malam tadi suaminya tiba-tiba menyentuhnya berkali-kali.
“Bibi kenapa senyum-senyum sendiri,” tegur Hilda mengamati Ayunda tersenyum sendiri sambil mengaduk kopi panas di pentry.
“Tidak kok, tidak siapa yang tersenyum,” bantah Ayunda menolak mengakui bahwa baru saja dia tersenyum-senyum sendiri.
“Oh Iya Bi, apakah di rumah ini ada makhluk halusnya? Tengah malam tadi aku mendengar suara teriakan wanita, aku sampai takut dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku takut dia mendatangiku dan menarik kakiku dari balik selimut. Itu menyeramkan Bibi,” keluh Hilda.
Ayunda terkejut dengan penuturan Hilda tadi, dia merasa malu karena dia sadar yang Hilda dengan adalah teriakannya mana ada makhluk halus di rumahnya ini.
“Tidak ada, kamu salah dengan mungkin,” sanggah Ayunda.
Hilda menyengit bingung.
“Masa aku salah dengar, jelas-jelas aku mendengarnya dengan jelas. Aku sampai takut, coba Bibi lihat kantung mataku saat ini, aku tidak tidur dengan baik gara-gara suara itu. hiks,” keluh Hilda lagi sambil menunjukkan kantung matanya yang memang sedikit menghitam. Dia memang tidak tidur bukan karena mendengar suara-suara itu tapi karena dia tidak sabar untuk menanti hari ini, dan soal suara itu, Hilda hanya berbohong dia mendengarnya karena sesungguhnya dia tidak mendengar suara teriakan apapun di rumah itu pada malam tadi.
“Jangan khawatir gak ada yang aneh-aneh di rumah ini, rumah ini aman jadi kamu tenang aja,” ujar Ayunda menangkan Hilda.
“Mungkin, semoga aja malam ini aku gak dengar suara itu lagi, atau malam ini… Bibi yang mendengar suara itu hiihihi…,” goda Hilda, dia malah cekikikan sendiri sambil memasukkan bumbu-bumbu nasi gorengnya ke dalam wajan kemudian menumisnya sebentar.
“Ih jangan gitu, gak ada yang begituan di sini,” sanggah Ayunda.
Sedangkan Hilda dia tahu pasti dengan apa yang baru saja dia bilang pada Ayunda tadi. Dia tersenyum sendiri tanpa di sadari oleh Ayunda yang berada di belakangnya.
“Bibi ke depan dulu ya, mau ngasih kopi ini ke Paman kamu,” ujar Ayunda.
“Ya,” balas Hilda.
“Pamanku? Ck dia itu suamiku,” gumam Hilda sambil memasak nasi gorengnya. “Lagi pula aku tidak akan membagi suara desahanku nanti pada orang lain,” tambah Hilda. Tentu saja ucapannya itu tidak akan terdengar oleh Ayunda.
Begitulah Ayunda, dia hanya akan membiarkan Hilda yang melakukan tanggung jawab rumah semuanya.
Tinggallah Hilda yang memasak sarapan, dia memasak nasi goreng dan telur dadar yang menjadi penutup nasi goreng. Dia pintar memasak sarapan seperti ini sudah biasa baginya, hanya butuh waktu sebentar sarapan seperti itu akan cepat selesai dia olah karena dia tinggal sendiri sudah hampir empat tahun saat masa kuliahnya dulu. Jauh dari orang tua maka tanggung jawab atas tubuhnya kebutuhannya adalah tanggung jawabnya sendiri, tidak ada yang akan membantunya. Bahkan Hilda juga melakukan pekerjaan paruh waktu di tempat fotocopy kampusnya untuk mengisi waktu luang dan menambah uang sakunya.
Setelah masakannya siap, dia tata masakannya di atas meja makan. Menyiapkan seluruhnya dia lakukan sendiri dan terakhir dia memanggil Ayunda dan Louis untuk sarapan.
“Bibi Paman! Sarapan sudah siap di meja makan,” panggil Hilda pada pasangan suami istri itu yang sedang asik menonton televisi, Hilda melihat Ayunda bersandar pada d**a Louis sambil bermanja ria. Hilda tentu panas melihat itu.
Hilda naik ke lantai dua meninggalkan sarapannya yang belum dia sentuh.
“Kamu mau kemana?” tanya Ayunda melihat Hilda malah pergi ke tangga bukan ke meja makan.
“Aku mau ganti baju dulu, biar nanti selesai sarapan bisa langsung berangkat!” sahut Hilda. Dia menahan amarahnya dengan menghebuskan nafas berkali-kali untuk meredakan gejolak di dalam dirinya. Tidak baik untuknya jika dia meledak saat ini karena cemburu melihat suami istri itu bermesraan karena itu sudah sewajarnya mereka lakukan, apalah seorang Hilda, dia bukan siapa-siapa.
“Kamu tidak terganggu dengan cara berpakaian Hilda, sayang?” tanya Ayunda pada suaminya saat mereka sudah duduk di meja makan yang sudah disiapkan oleh Hilda tadi.
“Apa yang salah dengan cara berpakaian Hilda?” tanya Louis.
“Diakan sering banget tidak menggunakan dalaman, tidak menggunakan bra atau mungkin juga dia tidak menggunakan celana dalam,” ujar Ayunda.
“Ya… mau bagaimana lagi, kamu kan tau sendiri bahkan Mbak Vania memaklumi anaknya itu, itu sudah kebiasaannya.” Louis menjawab pernyataan Ayunda dengan tenang. Bodoh dia tidak masalah dengan gaya berpakaian Hilda, dia bahkan sudah menantikan hari ini. Jika Ayunda tahu alasannya bergaul pada tengah malam malam tadi adalah karena Hilda menolaknya maka Ayunda tidak akan berbicara dengan nada setenang tadi padanya.
“Iya sih, aku khawatir saja padamu, kamu jangan sampai tergoda padanya ya. Kasian dia, dia masih muda kamu jangan khilaf jangan rusak dia, kita saja yang harus memakluminya,” pinta Ayunda pada suaminya.
“Ya tidak akan,” balas Louis cepat. “Tidak akan menolaknya, dia sudah menjadi istriku malam tadi, dia yang menawarkan dirinya jadi sayang jika aku menolaknya. Jika kamu tau keponakanmu itu mencintaiku aku yakin kamu tidak akan bisa berbicara kasihan padanya seperti tadi,” batin Louis.
(s)
….