“Aku tidak tanggung resiko jika terjadi sesuatu belum terlambar untuk mengatakan menyerah, tempatmu berdiri saat ini cukup bernyali,” tegur Aliana lagi. Tapi Andrean tidak bereaksi apapun dan tetap pada pendiriannya. “Ok baiklah jika itu kemauanmu,” ucap Aliana pada akhirnya.
Andrean hanya tersenyum kecil.
1 2 3
Aliana dan Andrean membidik dart board dengan dart yang dia pegang.
Shut
Tak!
Dart pertama menancap sempurna di tepat di titik tengah dart board. Andrean tidak melihat dart yang dilempar Aliana melewatinya, gerakannya terlalu cepat dan tiba-tiba membuat nafas Andrean terhenti sebentar.
Anak panahnya lebih lambat sampai menusuk papan, bahkan mendapatkan titik inner bullseye pertamanya dengan mulus, point sempurna untuk memulai permainan. Untuk anak panahnya sendiri, Andrean sampai bingung kenapa dia begitu buruk dalam permainan panah memanah. Dia masih bersyukur anak panah masih menancam di papan walau hanya di luar angka hitungan alias di sisi papan.
“Terkejut?” tebak Aliana melihat reaksi dari sudut matanya Andrean.
Tepat pada sasarannya, Andrean mengaku di dalam benaknya dia tadi sungguh terkejut, gerakkannya terlalu cepat dan tiba-tiba.
“Point yang bagus untuk permulaan,” ucap Aliana. Kemudian dia menatap kearah Andrean berdiri. “Menyelasaikan tembakanku atau mau mencobanya lagi?” tawar Aliana pada Andrean.
Andrean tersadar dan membalas tatapan Aliana, dia mencoba menampakkan senyumnya agar tidak kalah dengan senyuman Aliana.
“Ini baru awalnya, aku yakin itu tadi point kebetulan saja,” sangkal Andrean dengan cebikan bibir sambil menatap Aliana dengan kasihan. “Tidak perlu memberikanku kesempatan yang untuk melakuakn lemparan lagi, selesaikanlah lemparanmu dulu,” tolak Andrean dan senyumannya sungguh manawan.
Aliana tidak membalasnya dengan kata-kata melainkan dengan senyuman dan dia bersiap untuk menyelesaikan tembakannya.
Shuht
Tak!
“Apa perlu aku beri tahu dulu kita akan bermain 501 point?” ucap Aliana dengan nada bertanya atau sebagai pemberitahuan informasi pada lawannya. Aliana menghentikan sebentar permainannya.
Andrean mendelik pada Aliana, dia merasa tidak terima dengan ucapan Aliana tadi.
“Al, coba kamu pikirkan dua kali. Baik-baik melihat kemampuan dua kali lemparanmu. Kamu ini adalah jagonya bermain ini, sedangkan aku bukan pelempar tapi penembak,” tutur Andrean, terdengar nada putus asa di ucapannya itu.
Aliana melirik Andrean, lalu berkata, “ingin menyerah?”
“Ingin tapi tidak jadi. Tapi bisakah kita hanya bermian dengan point 301 saja?” tanya Andrean membuat penawaran.
“Boleh tapi yakin mau bermain?” tanya Aliana memastikan.
Andrean jadi berpikir dua kali untuk tetap bermain bersama Aliana.
“Tsk! Kamu curang, permainan ini permainan yang kamu kuasai dan aku tidak menguasainya sama sekali. Sebagai laki-laki sejati, aku menerima hukuman langsung saja dari pada membuat tubuh dan pikiranku lelah mengerjakan hal percuma,” ujar Andrean. Inti dari ucapannya adalah dia menyerah lebih dulu. Aliana sempat tidak percaya Andrean menyerah dengan mudah. Aliana memperhatikan rauh wajah Andrean. Tidak menggambarkan dia sedang putus asa hanya mengatakan dia tidak peduli dengan permainannya.
Andrean merasakan rasa penyesalan karena telah menyetujui perkataan Aliana saat mengajaknya bermain tadi sebelumnya.
“Ok baiklah,” balas Aliana, kemudian Aliana tersenyum. Inilah tujuannya, membuat Andrean menyerah dan menderita. Dia ingin Andrean menjadi bahan percobaannya. “Kamu terima hukumannya, aku yakin kamu pasti bisa dan kamu akan menyukainya.” Setelah mengucapkan itu Andrean tersenyum mengembang pada Aliana.
Karena Andrean membuat dirinya sendiri berhasil terjebak dalam permainan Aliana. “Permainan di dalam permainan.”
“Ok, walau aku tidak yakin aku akan menyukainya,” balas Andrean.
“Tenang aja,” ucap Aliana sambil berbalik dan melangkah ke meja pantry kembali. “Ingat tadi yang aku bilang.” Aliana duduk di tempatnya semula.
“Apa? Banyak tadi yang kamu bilang,” balas Andrean sambil mendudukkan dirinya di kursi tinggi pantry berhadapan di depan Aliana.
Andrean melihat senyuma Aliana, sambil tangannya meraih sendok dan toples kaca yang isinya adalah bubuk kopi. Andrean memperhatikan dua hal, toples bubuk kopi itu dan wajah Aliana yang mendurigakan.
“Trobosan baru,” ucap Aliana singkat.
“Mau bikin kopi dulu? aku pesan jangan terlalu manis dan jangan terlalu pahit,” ucap Andrean. Dia tidak mengingat ucapan Aliana setelah trobosan sebelumnya.
“Tidak akan manis. Kamu harus menjalankan hukuman. Dan ini hukumannya. Kamu menyukainya?” Aliana menunjuk kearah toples kaca berisi bubuk kopi di depannya.
“Ya, yasudah lakukanlah hukumannya,” ucap pasrah Andrean.
“Sanggup berapa sendok?” tanya Aliana sambil membuka toples kaca bubuk kopi di tangannya.
“Dua cukup,” jawab Andrean santai, dia yakin Aliana akan mengerjainya dengan kopi pahit oleh karena itu dia hanya mengatakan dua sendok saja.
“Ok, bersiap.” Aliana sudah mengangkap satu sendok kopi bubuk ditangannya. “Buka mulut,” perintah Aliana.
Andrean mendelik dan memperhatikan wajah Aliana bergantian dengan sendok berisi bubuk kopi di tangan Aliana.
Walau dia menatap ragu Aliana, Andrean tetap membuka mulutnya sesuai perintah Aliana tadi.
Kemudian terlihat senyum cerah di wajah Aliana, melangkah mendekati Andrean sambil membawa sendok bubuk kopi. Tidak lama setelah Andrean membuka mulutnya tadi, mata Andrean melotot tidak terkejut, Andrean merasakan pahit dimulutnya karena Aliana memasukkan sendok berisi bubuk kopi langsung ke dalam mulut Andrean.
“Tahan tahan! Sebentar!” Aliana meraih teko air dan menuangkannya ke dalam mulut Andrean.
“Aku benar-benar sudah melakukan kesalahan!” jeritan batin Andrean merasakan penyiksaan itu sungguh membuatnya menderita rasa pahit, dan tenggorokannya terasa sangat kesat.
“Jangan ditelan dulu! astaga…,” jerit Aliana melihat Andrean malah menelan kopi dan air yang belum teraduk.
“Arghhhh! Air! Air!” jerit Andrean meminta air. Tenggorokan terasa sangat serat dan pahit di mulutnya sungguh membuatnya pusing.
“Dasar lemah, katanya suka kopi tapi sama bubuk kopi kalah,” ejek Aliana membuat Andrean mendelik marah.
“Kenapa tidak bilang hukumannya kaya gini!” geram Andrean dengan suara keras. Sekali-sekali dia masih meminum air putih yang ada di gelas yang disodorkan Aliana padanya.
“Tadi aku sudah bilang kok,” ucap Aliana dengan wajah tanpa bersalahnya. Benar, Aliana sudah mengatakannya sebelum Andrean mengira Aliana hanya menghukumnya untuk meminum kopi pahit.
“Kapan!?”
“Ish ada tadi, kan sudah aku bilang ini trobosan yang harus kamu coba!” balas Aliana.
“Arghh! Sudahlah, pusing kepalaku.” Andrean menyangka kepanya di pantry dengan kedua tangannya sambil sekali-sekali meminum air putih.
“Tidak bisa, kan masih ada satu sendok lagi tadi perjanjiannya dua sendok,” ujar Aliana mengingatkan Andrean dengan ucapannya sebelumnya.
“Arghh! Aliana! aku bunuh kau!” kesal Andrean.
Hilang sudah martabat Andrean menghadapi Aliana yang licik.
“Hahaha!” tawa Aliana mendominasi dapur sedangkan wajah Andrean sudah tertekuk memerah karena dia kesal pada Aliana. Andrean dan Aliana bersama dan menghibur satu sama lain.
Di tempat Brian dan Erisa sedang menyantap makanan mereka di sebuah kedai kaki lima. Sebelumnya Erisa tidak mengutarakan keinginannya untuk makan dimana, dan berujung Brian memilih tempat makan di sebuah kedai kaki lima yang menjual bakso urat.
“Kamu tidak makan?” tanya Brian, pasalnya mangkuk bakso mereka sudah datang lima menit yang lalu, Brian sendiri sudah bersiap-siap untuk memakan bakso urat yang memenuhi satu mangkuk baksonya, sedangkan Erisa hanya menatap mangkuk bakso tersebut dengan lesu.
“Ah kenapa?” Erisa malah balik bertanya pada Brian, membuat Brian mengkerutkan dahinya tanda dia heran.
(b)
….