Brian Berubah?

1115 Words
“Biasanya kamu tidak masalah kalau kita makan di kedai kaki lima, hari ini kenapa?” “Aku memikirkan apa Aliana sudah makan.” Ucapan Erisa membuat Brian tersenyum maklum. Erisa seorang kakak yang juga memikirkan adiknya. Aliana, adalah titipan kepercayaan dari Hasbie dan Annie. Hal itu membuat Erisa selalu memikirkan adiknya itu. “Jangan dipikirkan itu bisa membuatmu terbebani. Apa kamu selama ini terbebani dengan adikmu itu?” tanya Brian. “Tentu tidak, dia anak yang baik dan dipikir dia selalu mengalah dari pada aku,” ujar Erisa. “Aku tidak merasa terbebani sekali pun, aku hanya merasa tidak nyaman saja saat ini aku makan tapi dia belum tentu makan,” jelas Erisa. “Jangan mengkhawatirkannya berlebihan, aku yakin dia sudah makan bersama Andrean,” ujap Brian mencoba menenangkan Erisa. “Mmm Bri, kamu tidak keberatankan aku membuat dua bungkus untuk dibawa pulang.” Erisa memberanikan dirinya untuk meminta izin pada Brian. “Aku akan-/” “Ok, tidak masalah aku akan membayarnya,” sela Brian, dia tahu Erisa akan mengatakan apa. “Kang! Bungkus dua bakso urat jumbonya.” Brian memesan dua bakso urat yang sama sepertinya untuk dibungkus dibawa pulang sesuai dengan permintaan Erisa. Hati Erisa menghangat melihat tindakan Brian untuknya. Erisa memang sudah sangat lama jatuh cinta pada Brian. Mereka memang dekat, dan mereka juga sudah pernah berhubungan mesra yang dilakukan suami istri, dapat dikatakan sering. Tapi walau sudah melewati waktu yang lama, panjang cerita, dan hubungan yang mesra. Mereka tidak pernah memiliki ikatan hubungan lebih dari teman atau lebih akrabnya sahabat. Hal itulah yang membuat Erisa gundah dan merasa resah akan perasaannya sendiri. Awal dari hubungan seorang Hilda dengan Lui dan Aliana yang berawal dari Hilda yang tinggal bersama Ayunda dan Louis dan berakhir pada Hilda memiliki keinginan berhubungan dengan Pamannya, sebagaimana Bibinya berhubungan dengan Pamannya itu. Intinya Hilda ingin merasakan bagaimana berada diposisi Ayunda. Beberapa tahun yang lalu dikeluarga Louis, sang istri anak pertama dari keluarga Pearl bernama Ayunda Pearl. Tepat sebelum Ayunda menangkap basah Hilda dan Louis yang sudah berhubungan perselingkuhan selama dua tahun. Ayunda masih dan tetap bersikap baik dan ramah pada Hilda. Dia menyanyangi Hilda seperti anaknya sendiri karena umur anaknya bernama Lui dan keponakannya itu tidaklah jauh berbeda. Dia sangat tahu Hilda adalah putri kesayangan adiknya maka dari itu Ayunda pun memperlakukan Hilda sama seperti ibunya Hilda memperlakukan putrinya itu begitu pula Louis diminta oleh Ayunda untuk memanjakan keponakannya itu. Sejak kecil semua yang diinginkan oleh Hilda akan selalu dituruti dan dikabulkan. Diperlakukan seperti seorang princess membuat Hilda tidak bisa dibentak dan tidak bisa diatur untuk menjadi anak yang penurut, seharusnya. Tapi tidak dengan Hilda, dia sangat baik dan sopan, dia bahkan menjadi anak yang penurut selama keinginannya selalu dituruti oleh orang-orang yang dia tuntut, termasuk dia ingin belajar mandiri, bekerja dengan suami bibinya. Orang tua Hilda yaitu Poetri Luna Pearl dan Hendro Pettena hanya memiliki satu putri yaitu Hilda saja oleh sebab itulah mereka sangat memanjakan Hilda dari kecil sampai dia sudah dewasa sekalipun. Hilda tidak pernah sekalipun mendapatkan kata tidak ataupun jalangan atas keinginannya. Semua yang dia inginkan instan dia dapatkan, dia akan marah dengan caranya jika kemauannya lambat terpenuhi, dan akan sangat manis dan manja jika semuanya yang dia inginkan dia dapatkan, semua itu membentu Hilda yang tidak memiliki empati. Hilda cendrung tidak peduli dan cuek dengan lingkungan sekitarnya bahkan kepada orang lain walau orang itu adalah orang terdekatnya. Seperti yang terjadi pada Ayunda, sang bibi. Hilda menyukai seorang pria yang umurnya berbeda jauh dengannya yang tidak lain adalah pamannya sendiri. Pada awalnya Ayunda membiarkan Hilda yang memang bersikap manja itu seperti biasanya. Dia hanya mengira Hilda dekat dengan suaminya adalah hal yang baik dan bagus, karena mengingat Hilda bekerja pada suaminya. “Bibi aku suka Paman,” celetuk Hilda dengan nada bercanda. Gadis berwajah dingin itu sedang tersenyum mengatakan dia menyukai pamannya. Ayunda pun tertawa mendengarnya dan Louis terlihat terkejut tapi dia masih bisa mengontrol ekspresinya. “Hahaha…, kamu ini bercanda terus. Sudah duduk dengan benar selesaikan sarapan lalu berangkat ke kantor bersama Pamanmu kesayanganmu itu,” balas Ayunda memerintah Hilda. Dia tersenyum lembut seperti seorang ibu sedang mengurus anak gadisnya. “Iya iya, Bi kata Mama aku udah boleh kawin,” celetuk Hilda lagi tapi dengan suara yang tidak seperti sebelumnya. Kali ini dia hanya menatap Ayunda dengan senyuman dengan ekspresi wajah tanpa bersalahnya. “Nikah sayang, nikah dulu baru kawin,” komentar Ayunda. Sedangkan Louis hanya diam tidak ingin masuk ke dalam pembicaraan istri dan keponakannya itu. “Kawin dulu gak papa kali Bi, kan aku udah besar,” sanggah Hilda lagi. “Iya terserah kamu deh,” ujar Ayunda pada akhirnya. Dia paham dengan karakter keponakannya itu, apa yang dia katakan iya maka jawabannya adalah iya dan jangan katakan tidak atau jangan. “Hihi.” Hilda malah tertawa manja sambil melihat kearah Louis yang hanya Luois yang menyadari arah mata keponakan istrinya itu. Selang beberapa menit sarapan pagi itu di meja makan kediaman keluarga Luois dan Ayunda, dengan keberadaan Hilda selesai. Hilda dengan telaten membersihkan meja makan yang mereka gunakan, seperti seorang anak perempuan yang baik pada umumnya. Hilda menyatukan piring-piring atau alat-alat makan yang baru saja digunakan menjadi satu lalu di bawa ke tempat pencucian di dapur. Disela-sela dia mengemas piring-piring dia menyempatkan diri untuk menggoda Louis seperti memegang tangan Louis atau membuat menunduk dengan berlebihan agar belahan dadanya terlihat jelas oleh Louis, dan saat Ayunda lengah dari memperhatikan Hilda dan suaminya. Maka saat itulah Hilda berani dengan senyum nakalnya mencuri ciuman pada bibir Louis. Louis tentu terkejut dengan tindakan berani keponakan istrinya itu. Tapi dia tidak memberitahukan hal tersebut pada istrinya karena tidak ingin hubungan keponakan dan istrinya menjadi buruk. “Jangan dicuci sayang! Biar Bibi saja yang akan mencucinya nanti, kamu berangkat saja bersama Pamanmu sekarang!” teriak Ayunda dari meja makan pada Hilda yang sudah berlalu menuju dapur untuk meletakkan beberapa peralatan makan yang sebelumnya tidak dapat dia bawa sekaligus. “Siap Bibi!” balas Hilda sambil melangkah keluar dari dapur. “Paman tunggu di mobil aja, aku mau ke kamar ngambil tas dulu,” pintar Hilda pada Louis yang sedang merapikan pakaiannya. “Hmm,” balas Louis dengan deheman. Ayunda mengambil langkah untuk merapikan dasi suaminya tersebut dan berjalan beriringan dengan sang suami sambil membawakan tas berisi ipad kerja suaminya. Sedangkan di lantai dua tepatnya di kamar Hilda. Dia sedang membuka pakaian bagian dalamnya dan menyisakan pakaian luarnya saja. Setelah dirasa cukup dan berpenampilan menarik, Hilda keluar dari kamar dengan menggunakan blazer berwarna hitam yang menutupi kemeja putih tipis yang mencetak dadanya sangat jelas karena kemeja itu  pun sangat ketat untuk Hilda kenakan. Hilda menuruni anak tangga sambil menenteng tas kerjanya, langkah ringan dan riangnya menandakan hatinya sedang berseri-seri. (c) …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD