Bab 44

1138 Words

44 Bunyi samsak yang dipukul dan ditendangi berulang kali, menjadi satu-satunya hal yang terdengar di ruangan luas, dalam unit apartemen di pusat Kota Sydney. Tarendra terus meninju dan menendangi samsak, sambil membayangkan jika itu adalah Bryan. Tarendra benar-benar kesal, karena Bryan berani menekannya secara langsung. Puluhan menit terlewati. Tarendra masih duduk menyandar ke dinding. Bulir keringat membasahi baju dan celana pendeknya. Tatapan Tarendra mengarah ke langit malam yang tampak gelap. Dia membiarkan angin kencang menerpa tubuh, dan berharap sang bayu bisa mengeringkan badannya. Getaran ponselnya mengalihkan perhatian. Namun, Tarendra tetap diam dan tidak berniat mengangkat panggilan itu. Sementara di tempat lain, Karl Langdon tengah menggerutu. Sejak tadi dia mene

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD