12 Dini hari itu, Sekar terbangun, karena mimpi buruk. Dia mengatur napas yang ngos-ngosan, sambil mengusap dahi dan lehernya yang berkeringat. Sekar mengamati sekeliling. Dia khawatir, sosok Tarendra benar-benar berada di dekatnya. Sekar menggeleng kuat untuk menghilangkan rasa tidak nyaman dalam hati. Dia mengingatkan diri untuk menemui psikiater, yang dulu membantunya terapi selama setahun. Sekian menit berlalu, Sekar telah bersimpuh di sajadah. Dia memohon pada Tuhan, agar diberi ketenangan hidup. Kala sosok Bryan dan kedua anaknya melintas dalam benaknya, Sekar tertegun sesaat, lalu mendoakan mereka agar selalu sehat dan bahagia. Sejumput rasa rindu menyeruak dalam hati Sekar. Belakangan hari, dirinya memang akrab dengan Bryan. Bila tidak bisa bertemu, mereka akan saling menelepo

