"Sayang, jangan digaruk bekas lukanya, itu udah mau kering. Nanti kalau basah lagi, gimana?" Aku menghentikan tangan Rafa yang hendak menggaruk luka di lututnya. Luka yang hampir mengering, sebenarnya. "Gatal, Bun. Rafa nggak tahan," ucapnya dengan nada merengek. Aku kembali teringat pada kejadin beberapa hari yang lalu, saat Si Lele biadab itu datang ke rumahku. Aku benar-benar mengusirnya waktu itu. Aku memang berlaku kasar padanya, tapi perlakuannya jauh lebih kasar daripada yang aku lakukan. Rafa, putraku yang entah kenapa bisa mengetahui kalau laki-laki itu ayahnya, tiba-tiba saja berlari dan mengejar laki-laki itu. Namun, naasnya putraku malah tersandung dan mengakibatkan kedua lututnya terluka. Hati ibu mana yang baik-baik saja saat melihat putranya seperti itu? Putraku menangis

