Pagi sudah menjelang, tapi hujan tak kunjung reda. Jika terus seperti ini, aku tidak bisa melakukan aktivitasku, jika hari ini aku bolos kerja, bisa dipastikan gajiku akan dipotong.
"Bunda, hujannya kok nggak leda-leda sih? Rafa gimana sekoyahnya?" Aku mengerjapkan mataku mendengar pertanyaan Rafa. Secepat kilat, kualihkan tatapanku pada anak berusia lima tahun di hadapanku kini. Aku tersenyum menatapnya, dengan lembut kuusap puncak kepalanya.
"Hari ini, 'kan hari minggu. Jadi, Rafa nggak ke sekolah." Aku tergoda dengan pipi tembamnya, aku 'pun mencium pipinya itu.
"Masa sih? Kok Rafa nggak tahu? Emang beneyan hali minggu, ya Bun?" Dia tampak tak percaya dengan apa yang aku bicarakan, aku mencium pipinya lagi.
"Iya Rafa sayang, kalo masih nggak percaya, tanya aja sama Mbak Naya. Tuh, Mbak Nayanya lagi minum air." Aku menunjuk Naya yang tengah meminum air di atas kursinya.
"Iya Raf Sayang, hari ini, hari minggu. Kalo masih nggak percaya lihat aja tanggalannya."
Tanpa menunggu pertanyaan Rafa, Naya langsung menyahut, tentunya setelah menghabiskan segelas air minum yang dipegangnya tadi.
"Ih, Rafa kan beyum bisa baca, gimana sih Mbak Naya ini?" Kata putraku dengan wajah cemberutnya. Naya malah tertawa melihat itu.
"Habisnya Rafa nggak percaya. Mau gimana lagi," balasnya diakhiri kekehan.
"Tau ah, Mbak Naya ngeseyin."
"Udah, jangan ribut mulu. Rafa, jangan ngomong gitu sama Mbak Naya, nggak sopan. Mbak Naya lebih tua, dan kita harus sopan sama orang yang lebih tua." Aku melerai perdebatan kecil mereka.
"Tuh Raf, dengerin omongan Bunda," ucap Naya sebelum beranjak dari duduknya.
"Eh iya, Rafa dibuatin s**u nggak?" Tanya Naya, Rafa mengangguk pasti, wajahnya berubah antusias.
"Ya udah, Mbak Naya buatin dulu susunya, Rafa diem aja di sini. Tungguin s**u buatan Mbak Naya. Oh ya, Mbak Lena dibuatin apa? teh atau kopi?"
"Boleh juga, dingin-dingin gini enak kalo ngeteh, buatin teh aja ya." Aku tersenyum menatap Naya yang menanti jawabanku.
Naya mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya. Ia terlihat lebih ceria dibanding beberapa bulan yang lalu. Mungkin, perlahan rasa sakit di hatinya itu mulai berangsur pulih. Sebenarnya aku masih penasaran dengan kehidupannya, siapa laki-laki yang telah menghamilinya dan bagaimana bisa keluarganya berlaku seperti itu.
Aku teringat kejadian beberapa tahun yang lalu. Aku masih mengingat jelas bagaimana ibu dari laki-laki tak bertanggung jawab itu malah menghinaku ketika aku mengadukan perbuatan b***t anaknya. Dia tidak percaya jika anaknya telah berbuat kotor, dia malah memakiku, memberiku predikat wanita kotor.
Aku tahu aku kotor dan penyebabku menjadi wanita kotor karena laki-laki b******k itu, tapiㅡbukankah masih ada yang lebih kotor dariku.
Para pejabat yang korupsi, contohnya. Mereka lebih kotor, mereka mengambil hak rakyat. Mereka menambah hutang negara, yang sekarang ini sudah berjumlah 2,92%. Padahal, jika kita tilik lebih dalam, sebuah negara akan bangkrut jika hutangnya melebihi jumlah 3% pemasukannya. Dan tentu saja negara kita ini sudah terancam bangkrut. Bukankah mereka lebih hina dariku, dari seorang perempuan yang hamil tanpa suami, karena si laki-lakinya yang tak mau bertanggung jawab?
Kenapa mereka menganggapku, menganggap semua perempuan yang terlecehkan dengan sebelah mata? Bagaimana jika mereka berada di posisi kami? Bagaimana perasaan mereka? Apakah mereka akan kuat menghadapi cobaan seberat ini? Jika tidak mampu, kenapa mereka memperlakuakan kami sebegitu hinanya. Kami hanya manusia biasa, bukan Rasulullah yang bersih hatinya.
"Mbak Naya, ini tehnya. Maaf sedikit lama, tadi aku harus mencari tehnya terlebih dulu. Dan ternyata tehnya nyelip di rak kecil itu."
Aku tersentak mendengar ucapan Naya, secepat kilat aku menyunggingakan senyumuku. Aku tidak mau, jika Naya sampai tahu kalau aku melamun. Naya pernah memarahikuㅡsedikit lucu, melihatnya marah-marah, terlebih lagi ia memarahikuㅡkarena tak menanggapi omongannya, dan lebih memilih melamun.
"Terima kasih Nay, kamu duduk gih, nggak baik ibu hamil berdiri terus," kataku mengistrupsinya. Naya tersenyum, lalu meletakkan nampan yang dipegangnya ke atas meja.
"Mbak Len, mbak nggak nyari kerja ke kantor-kantor gitu? Kan penghasilannya lumayan, dibanding kerja di toko." Ia berucap setelah mendudukkan dirinya di kursi.
Aku sedikit berpikir, apa yang ia bicarakan memang benar adanya. Toko tempatku bekerja, bukanlah toko besar yang gaji pekerjanya tetap. Upah kerja di toko masih berada jauh di bawah UMR, kalau aku bekerja di kantor meskipun menjadi office girl saja, bayarannya sudah melebihi rata-rata UMR. Dan satu lagi keuntungannya, aku bisa berlibur di hari minggu dan bisa bermain sepuasnya dengan Rafa.
"Kamu bener Nay, besok Mbak bakal izin cuti di toko. Dan coba nyari kerjaan ke kantor-kantor, kali aja ada yang mau nerima Mbak, lumayanlah jadi OG gajinya lebih dari cukup, lagian Mbak juga nggak mau nyusahin Ayah sama Bunda Mbak, yang sering ngirimin Mbak Lena uang. Ngerasa nggak enak gitu."
"Iya, Mbak Len. Mbak Lena coba aja dulu. Naya hanya bisa ngasih semangat sama doa diang. Naya doain, semoga Allah mau mudahin semua urusan Mbak Lena."
"Aamiin, Nay. Oh ya, kamu besok tolong jaga Rafa ya? Mbak nggak mungkin bawa Rafa. Kamu nggak perlu antar Rafa ke playgroup, untungnya besok playgroupnya masih libur," kataku meminta.
"Siap Mbak, Naya laksanain, lagian itu udah jadi tugas Naya." Ia membuat gerakan layaknya seseorang yang tengah hormat pada bendera.
"Kamu ini, Nay. Lucu banget," ucapku yang mengundang gelak tawa di antara kami. Rafa yang tidak mengerti apa-apa ikut tertawa, entah apa yang ditertawakan. Mungkin menurutnya, tawa kami lah yang lucu. Aku mencium pipinya gemas.
Tumbuhlah menjadi anak yang baik, sayang.
***
Aku bernapas lega, tepat pukul delapan hujan sudah reda. Ini saatnya aku pergi ke toko, untung saja jadwal tungguku di toko dimulai pukul sembilan. Aku masih memiliki waktu untuk berjalan ke sana. Sebenarnya aku bisa saja naik bis, angkot atau kendaraan lainnya, tapi mengingat aku tinggal di Jakarta, di mana Jakarta adalah kota yang sering mengalami kemancetan, lebih baik aku jalan kaki saja dari pada terlambat, dan aku juga bisa menghemat pengeluaranku.
"Nay, mbak berangkat dulu. Jaga Rafa baik-baik, kalau ada apa-apa cepat hubungi Mbak."
"Siap Mbak," katanya sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Oh iya, ini uang untuk jajan Rafa, kalau Rafa atau kamu pengen sesuatu." Aku menyerahkan satu lembar uang dengan nominal duapuluh ribu rupiah.
"Ya Mbak, Mbak hati-hati di jalan." Aku mengangguk, lalu berjongkok untuk mencium pipi tembam putraku.
"Bunda pergi dulu, ya sayang. Jangan nakal, kasihan Mbak Naya kalo kamu nakal. Jangan minta yang aneh-aneh, kalo udah waktunya bobo, kamu harus bobo. Jangan main terus, kalau mau minum s**u bilang ke Mbak Naya. Oke?"
Aku mengelus puncak kepalanya. Putra tampanku ini tersenyum.
"Oke Bunda, Bunda hati-hati di jayan," ucapnya seraya mengecup pipi kanan dan kiriku dengan bibir basahnya.
Aku pun bangkit dari posisi jongkokku, lalu melambaikan tanganku sebelum aku benar-benar tak terlihat oleh mereka, karena aku yang mulai memasuki gang kecil, yang merupakan akses jalan tercepat menuju jalan raya.
Aku berjalan cepat melewati gang kecil yang kusebut tadi. Kondisi jalannya tidak begitu terawat. Apalagi setelah hujan-hujan seperti ini, kondisi jalannya begitu becek. Membuatku harus mengangkat tinggi-tinggi celana yang aku kenakan.
"Huh, akhirnya." Aku menghela napasku lega ketika sudah mencapai ujung jalan, yang merupakan jalan raya.
Aku berbelok kiri, berjalan ke arah toko tempatku bekerja. Jarak toko dan rumahku sekitar satu setengah kiloan, membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk jalan ke sana.
Hari ini aku harus meminta izin pada manager toko, untuk liburku besok. Untuk kesekian kalinya, aku menghela napasku. Butuh persiapan ekstra untuk hari ini.
*****
Tbc
Maaf kalau ceritanya aneh+banyak typonya...