Bab 5

1191 Words
Sudah pukul empat sore, sebentar lagi jam kerjaku akan berakhir. Aku cukup senang hari ini, besok aku diperbolehkan untuk ambil cuti. Aku sedikit tersentak ketika ponselku berbunyi. Aku mengeluarkan benda elektronik keluaran negeri Ginseng dari saku celanaku. Ponsel lama milikku yang entah kenapa, masih bisa berfungsi dengan baik. "Ya, halo? Assalamu'alaikum." "Halo, sayang, wa'alaikumsalam. Gimana kabar kamu? Kamu baik-baik aja 'kan? Kalau Rafa, gimana kabar cucu tampan Bunda itu?" Suara Bundaku yang menyahut, aku kira telpon ini tadi dari ayahku, karena yang tertera di layar ponselku tadi, adalah nama ayahku. "Baik, Bun. Kami semua baik. Bunda sendiri gimana? Ayah juga baik, kan?" Aku balik bertanya. "Alhamdulillah, kami semua baik. Ayah kamu juga baik, ya walaupun asam uratnya suka kambuh." Aku mengangguk mendengar jawaban Bunda, meski kutahu Bunda tidak melihat mengangguk. "Oh ya, ada apa Bunda nelpon Lena? Nggak biasanya Bunda nelpon Lena." Terdengar kekehan dari seberang, aku mengernyit. Kenapa Bunda malah tertawa? "Kamu ini ada-ada aja Len, masa ibu sendiri nggak boleh nelpon putrinya yang lama nggak ketemu. Bunda kangen banget sama kamu, sama Rafa juga." Aku menghela napasku, bukan itu maksudku bertanya kenapa Bunda menelponku. Aku sudah menjelaskan bukan, kalau Ayah dan Bundaku masih menerimaku meskipun kesalahan yang kubuat terlalu besar? Kedua orang yang berperan penting terhadap adanya aku di dunia itu, tetap memperlakukan selayaknya anak. Mereka tidak menyinggung perihal kesalahan besar yang telah kubuat. "Nggak Bun, bukannya nggak boleh. Bukan gitu maksud Lena, ini nggak biasanya Bunda nelpon Alena sore-sore gini, biasanya Bunda nelpon Lena itu kalo udah malem." "Iya, Bunda percaya. Ya kan, kangennya Bunda nggak bisa ditahan sampai malam. Oh ya, nanti sekitar pukul tujuh, Pak Dadang bakal jemput kamu sama Rafa. Ayah mau ngadain pertemuan keluarga." Aku bingung, ada apa sampai-sampai Ayah ngadain pertemuan keluarga? Oh ya, Pak Dadang itu sopir pribadi keluarga ku. Ia sudah lama bekerja dengan keluarga kami. "Pertemuan untuk apa, ya Bun? Alena ajak Naya juga, ya. Kasihan kalo dia sendirian di rumah. Dia lagi hamil besar, takut terjadi apa-apa sama dia." Aku mencoba bertanya pada Bunda, apakah aku boleh mengajak Naya atau tidak. Lagipula Bunda sama Ayah juga udah kenal dengan Naya. Kasihan juga, kalau Naya aku tinggal sendirian di rumah dengan kondisinya yang tengah hamil tua. "Boleh, nggak apa-apa. Bunda juga nggak tega kalau Naya ditinggal di rumah sendirian. Emang udah berapa bulan usia kandungan Naya?" Aku menghela napasku lega, tapi masih ada yang mengganjal di hatiku. Bunda tidak menjawab apa alasannya mengajakku untuk menghadiri pertemuan keluarga. "Udah enam bulanan. Tiga bulan lagi lahiran. Bunda belum jawab pertanyaan Lena tadi. Itu pertemuan untuk apa, Bun?" Ulangku bertanya. Aku cukup penasaran apa yang ada di balik pertemuan ini. "Nanti kamu juga tahu, udahlah yang penting kamu siap-siap buat nanti malam. Bunda tutup dulu telponnya ya. Sampai ketemu nanti malam, Sayang. Wassalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam, sampai ketemu nanti malam, Bun." Setelah itu sambungan pun terputus, aku menatap layar ponselku lama. Apalagi yang akan terjadi? Hal buruk atau hal baik? Aku tidak bisa menebaknya begitu saja, ini terlalu sulit untuk ditebak. Lebih baik aku tidak usah memikirkannya dengan berlebihan, seharusnya aku fokus bekerja daripada melamun. Bisa-bisa gajiku dipotong karena Bu Pemilik Toko melihatku yang terus-terusan tidak fokus. 'Kan, kalau aku rajin kerja, gajiku bisa dinaikkan dan aku bisa membelikan mainan untuk Rafa yang harganya selangit itu. **** "Naya kamu siap-siap ya, nanti malam aku mau ajak kamu ke rumah Ayah sama Bundaku," ucapku pada Naya yang tengah menyuapi sepotong jeruk ke mulut Rafa. Naya menghentikan gerakannya. "Loh, kenapa Naya juga diajak Mbak Len?" Tanyanya dengan wajah heran, kerutan di dahinya tampak dalam. "Masa Mbak tinggalin kamu di rumah sendirian, mending Mbak ajak 'kan?" Kataku seraya tertawa. Naya mengangguk. "Boleh Mbak, lagian Naya sumpek kalau di rumah terus. Oh iya, nanti kita di jemput atau ke sana sendiri Mbak?" "Dijemput sama Pak Dadang, Nay. Udah gih, kamu siap-siap dulu, udah mau jam setengah tujuh tuh, nanti Pak Dadang nya jemput kita pukul tujuh." "Iya Mbak, Naya siap-siap dulu," katanya lalu melenggang pergi, meninggalkan Rafa yang masih melongo menunggu suapan jeruk selanjutnya. Aku mencium gemas pipi tembamnya. "Jangan melongo terus, sayang. Nanti mulut kamu kemasukin lalat, loh." "Ih, Bunda. Rafa kan masih pengen makan jeyuknya, tapi Mbak Naya nya udah pegi. Jeyuknya udah habis ya, Bun?" Tanyanya padaku. Putraku ini sangat menyukai buah berwarna oranye itu, katanya saat ia mengunyah buah itu ada sensasi uniknya. Dan dia sangat menyukai sensasi itu. "Jeruknya udah habis, Sayang. Nanti kalau di rumah Oma sama Opa, kamu bisa makan jeruk sepuasnya, di sana ada banyak buah jeruk," kataku seraya mengecup pipi tembamnya lagi. "Beneyan, Bun? Buah jeyuknya ada banyak? Rafa nggak sabal ke lumah Oma sama Opa. Oiya, emang kenapa kita ke lumah Oma sama Opa, Bun?" Untuk yang kesekian kalinya aku mengecup pipi tembamnya itu. "Bunda juga belum tau, Sayang, Oma belum kasih tau Bunda. Mending Rafa siap-siap. Ayo Bunda bantu siap-siapnya." "Ya, Bun." Aku pun menggendong Rafa, dan membawanya ke kamar kami. Aku menurunkan Rafa di atas ranjang milik kami, ranjang yang kami gunakan untuk tidur bertiga. Ukurannya cukup besar, hingga muat untuk ditiduri tiga orang sekaligus. Aku berjalan ke keranjang bajuㅡmaklum saja, di rumah ini tidak ada lemari, biaya pembuatan lemari terlalu mahal, dan aku harus mengirit meski Bunda dan Ayah sering mengirimiku uangㅡdan aku pun mengambil satu stel kemeja kecil milik putraku. Aku memakaikan kemeja itu pada Rafa, Rafa hanya diam dan bergerak ketika aku suruh. Satu menit berselang, akhirnya baju itu sudah terpasang sempurna di tubuh mungil Rafa. Sekarang giliran memakaikan celana untuknya. Aku memasukkan kakinya pada dua lobang celana jeans yang sedikit kebesaran di tubuhnya, dan menariknya ke atas. Sekarang persiapannya hampir selesai. Tinggalㅡ "Bunda, lambut Rafa masih belantakan, nih." Nah, itu yang aku maksud, tinggal rambut Rafa yang belum aku rapikan. "Iya sayang, Bunda ambil sisirnya dulu ya," kataku sambil mencium pipinya. Aku mengambil sisir berwarna merah muda yang terletak di atas meja. "Bunda, nanti nyisilnya yang lapi ya, bial Rafa tambah ganteng," kata putraku ketika aku sudah berada di depannya. "Hmm, Rafa pasti jadi laki-laki yang paling ganteng di sana. Opa saja pasti kalah sama kegantengan anak Bunda," gurauku. "Tentu Bunda, Rafa kan emang ganteng," ucapnya penuh semangat. "Eh, Rafanya udah ganteng aja." Aku menoleh, mendapati Naya yang hanya memakai handuk sebatas d**a sampai pertengahan pahanya. Naya pasti lupa lagi membawa baju ke kamar mandi, makanya dia hanya mengenakan handuk. "Iya dong, Rafa kan emang ganteng," balas Rafa yang membuat Naya terkekeh. "Naya, kamu mandi malam lagi?" Tanyaku, pertanyaan retoris. Aku sudah tahu jika ia baru mandi, dan aku masih bertanya saja. "Hehe, iya Mbak. Tadi belum sempet," cengirnya menampilkan gigi-giginya yang rapi. "Jangan kamu ulangi lagi mandi malamnya, itu nggak baik buat kesehatan," nasihatku. Aku sudah sering memberitahunya agar tidak mandi malam. Tapi, tetap saja ia sering mandi malam. "Iya Mbak, nggak bakal lagi." "Ya udah kamu siap-siap gih, Mbak juga mau siap-siap ini." Ia mengangguk, masih dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat. "Rafa, Rafa duduk di sini ya, Bunda sama Mbak Naya mau siap-siap dulu," kataku pada Rafa. "Iya, Bun." Aku tersenyum dan mulai bergegas untuk bersiap-siap, pasti sebentar lagi Pak Dadang akan menjemput kami. ***** Tbc... Maaf untuk typonya dan untuk ceritanya yang semakin aneh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD