Bab 6

1286 Words
Aku, Rafa, dan Naya tengah berada di dalam mobil, dengan Pak Dadang sebagai sopirnya. Naya duduk di depan, sedang aku dan Rafa duduk di belakang. "Pak Dadang, sebenarnya ada apa, sampai-sampai ada pertemuan keluarga?" Tanyaku memecah keheningan ruang sempit mobil ini. Semoga saja Pak Dadang mau menjawab pertanyaanku ini. Meskipun sebenarnya aku tidak yakin laki-laki paruh baya yang bekerja sebagai sopir keluargaku ini, tidak mengetahui pasti apa jawabannya. Pak Dadang menatapku dari spion, seulas senyumnya terpatri pada wajah senjanya. "Nyonya tidak memperbolehkan saya untuk memberitahu Non Lena," jawabnya sopan. Aku mengangguk, hal ini semakin membuatku penasaran. "Pak Dadang, di sana ada jeluknya nggak?" Kali ini celotehan Rafa yang mengisi keheningan dalam mobil. "Rafa," bisikku memperingatinya, tapi ia sama sekali tak mengindahkanku. "Kenapa sih, Bun. Rafa kan kepengen jeluk," lirihnya membalasku. Aku dapat melihat binar kesedihan di matanya. Aku memang jarang membelikan jeruk untuk putraku itu. Apalagi saat bukan musimnya, seperti ini harga buah satu itu mengharuskanku merogoh sakuku dalam-dalam. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi buah dalam tubuh putraku saja, aku memilih membeli pisang yang harganya jauh lebih murah dari buah-buahan yang lain. "Ih, Rafa mah jangan jeruk mulu, di sana juga ada apel, mangga, anggur, semangka, ehmmㅡapa lagi ya? Pokoknya banyak, deh. Iya kan, Pak Dang," sahut Naya tiba-tiba. "Iya, Den Rafa," ucap Pak Dadang disertai anggukkan dan seulas senyum ramah. "Emang lasanya lebih enak dali jeluk, ya Mbak Nay?" "Enak banget, pokoknya rasanya enak banget, Raf." Aku menghela napasku, Naya ini sungguh membuatku naik darah. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu pada Rafa, kalau sewaktu-waktu Rafa minta buah itu gimana? 'Kan harganya mahal, apalagi harga anggur. "Kita sudah sampai, Non, Den." suara Pak Dadang membuat fokus kami teralih. "Eh iya, terima kasih Pak," ucapku lalu hendak membuka pintu mobil. "Sebentar Non, biar saya saja yang membukakan pintunya," ucap Pak Dadang menghentikan aktivitasku yang hendak membuka pintu mobil ini. "Tidak usah Pak, saya bisa sendiri." Aku monolaknya dengan halus. Aku, Naya, dan Rafa pun keluar dari mobil. Aku membawa Rafa dalam gendonganku. "Non Lena sudah ditunggu Nyonya dan Tuan di dalam, kata beliu ada hal penting yang akan mereka sampaikan," kata Pak Dadang yang sudah berada di depan kami. Aku mengangguk dan menyunggingkan senyumku. "Iya Pak," ujarku. "Mari saya antarkan," ucapnya lagi, lalu berjalan lebih dulu. Aku mengikuti Pak Dadang, Rafa mengalungkan tangan mungilnya di leherku, ketika aku mulai berjalan. Naya berjalan bersisian denganku. "Bunda, tunggu. Rafa kebeyet pipis." Aku menghentikan langkahku, begitu pula Naya dan Pak Dadang. "Rafa kebeyet pipis, Rafa pengen pipis," kata putraku mengulangi ucapannya tadi. "Ya udah, Bunda antarkan ya?" Rafa mengangguk. "Eh, Maaf Nona, tapi Tuan dan Nyonya sudah menunggu Non Lena." Pak Ujang mengintrupsi kami, aku menatap ke arahnya. "Tapi, putra saya sudah kebelet. Kasihan kalau harus ditahan. Emangnya nggak bisa ya Pak, kalu ditunda satu atau dua menit? Kayaknya nggak masalah Pak." Pak Dadang tampak bingung, ia menggaruk lehernya yang aku rasa tidak gatal. "Gimana ya, Non?" Tanyanya yang jelas terdengar bingung. "Biar aku saja yang mengantar Rafa, Mbak Len. Mbak Lena tinggal kasih tahu di mana letak kamar mandinya," ucap Naya menyahut. Aku menoleh menghadapnya. "Apa nggak pa-pa Nay? Nanti kamu kerepotan, lagi." Aku merasa tidak enak, jika terus-terusan merepotkan Naya. Meskipun Naya selalu bilang kalau ini sudah menjadi tugasnya. Naya tersenyum lebar ke arahku. "Naya nggak bakal kerepotan Mbak, lagipula Mbak Lena sudah ditunggu. Mungkin aja ada hal yang benar-benar penting, yang menyangkut Mbak Lena." Aku mengangguk membenarkan ucapan Naya. Apa yang dikatakan itu mungkin saja benar. "Beneran nggak apa-apa kan, Nay?" Tanyaku sekali lagi. "Nggak apa-apa Mbak, Mbak Lena tinggal beritahu Naya di mana letak kamar mandinya." Naya tersenyum meyakinkan. "Eh, makasih banyak Nay." Aku menurunkan Rafa dari gendonganku. "Rafa sayang, pipisnya di antar Mbak Naya, ya?" Aku berkata pada Rafa, Rafa langsung mengangguk. "Iya Bun. Mbak Nay, ayo ke kamal mandi sekalang, Rafa udah nggak tahan," katanya sedikit mendesak. Naya tertawa, ia mencubit gemas pipi Rafa, yang tumbennya tidak membuat Rafa menganduh, mungkin karena terlalu kebelet pipis, kali ya? "Eh, Raf. Kan Mbak Naya belum tahu di mana kamar mandinya. Tanya dulu lah," ucap Naya menahan Rafa yang sudah menarik tangannya. "Oo iya, Rafa lupa!" Rafa menepuk dahinya sendiri. "Bunda, Pak Dang, di mana kamal mandinya? Rafa udah kebelet level tinggi, nih!" Tanyanya dengan nada mendesak. "Naya, kamu jalan ke arah dapur. Nanti belok ke kiri, di sana ada kamar mandinya," ucapku. Karena aku pernah tinggal di rumah ini, tentu saja aku masih hapal di mana letak tempat-tempat tertentu. "Itu Mbak Nay, udah di kasih tau Bunda. Ayo pelgi, kebulu kelual ail kencingnya! Kalo kelual nanti baju Rafa pesing," Rafa menarik tangan Naya memasuki rumah, Naya hanya menurut mengikuti Rafa. Aku sedikit bersyukur, rumah ini dibangun dengan sederhana. Jadi, tidak akan susah untuk mencari ruang-ruang tertentu. "Ayo Mbak Len, kita masuk." Suara Pak Ujang lagi-lagi mengintrupsiku. Aku mengangguk dan kembali memgikuti langkah kakinya. Aku pun memasuki rumah itu, rumah yang beberapa tahun belakangan ini jarang aku kunjungi. **** "Ayah, Bunda, apa maksud semua ini? Kenapa kalian merencanakan ini semua?" Aku menatap tak percaya dua manusia paruh baya di hadapanku kini. Mataku beralih menatap seorang laki-laki dengan setelah jas dan sepasang suami istri yang merupakan orang tua dari laki-laki itu. "Ini jalan yang terbaik untuk kamu, Sayang. Lagipula Nak Reanta mau menerima kamu apa adanya, dia mau menerima Rafa juga," jelas Bunda yang masih membuatku tak habis pikir. Aku? Dijodohkan? Aku tidak menyukai rencana mereka. Akupun sudah berulang kali menolak perjodohan ini. Meskipun Ayah dan Bunda masih membujukku tentang perjodohannya, tapi aku merasa aneh dengan ekspresi mereka. Termasuk laki-laki yang mau dijodohkan denganku itu, terlihat tidak tenang. Mungkin sebenarnya dia juga ingin menolak perjodohan ini, kalau tidak karena orang tuanya yang memaksa. lagipula, kenapa mereka menjodohkanku dengan laki-laki yang sama sekali tidak kukenal? Bahkan melihat wajahnya saja, baru pertama kali ini. "Yah, Bun, Lena nggak kenal sama Mas Reanta. Nggak mungkin kalau kita menikah, apalagi dalam jangka waktu dua bulan ini, itu benar-benar nggak mungkin. Dan aku rasa, aku menolak perjodohan ini," ucapku menahan napas. Meskipun aku menyatakan penolakanku, Ayah dan Bunda tidak terlihat kecewa, justru mereka terlihatㅡehm, lega? Selama ini aku memang tidak pernah melakukan suatu hal yang membanggakan untuk mereka, aku malah sering membuat masalah. Sementara, kedua orang tua Mas Reanta malah memandangku dengan tatapan ramahnya. Tidak seperti yang aku kira, mereka masih berlaku baik setelah mendengar penolakkanku. "Tapi Len, tidakkah kamu mau mencobanya dulu? Bukankah cinta datang karena terbiasa? Perlahan-lahan kamu akan mencintainya, Sayang." Bunda masih membujukku. "Benar Lena, lagipula Rafa juga membutuhkan figur seorang ayah. Jangan egois, sayang," ucap Ayahku menyahut. Ya, aku akui jika Rafa membutuhkan figur seorang ayah. Tapi tetap saja, Reanta bukan ayah kandung Rafa, itu malah membuat masalah baru yang lebih rumit. Untung saja selama ini, Rafa belum menanyakan hal yang berkaitan dengan 'ayah'. "Tapi Yah, Bun, Lena nggak bisa. Ini semua terlalu cepat!" Aku berkata sedikit frustasi. "Jika Alena tidak setuju dengan perjodohan ini, saya tidak apa." Pandanganku teralih ke arah laki-laki bernama Reanta itu, pembawaannya yang tenang cukup membuatku kagum saat pertama kali melihatnya. Aku akui jika laki-laki yang ada di depanku ini benar-benar tampan. Sangat tampan malah. Mungkin dia lebih tampan dari laki-laki jahat itu. "Kami sebagai orang tua Reanta, juga tidak keberatan jika perjodohan ini dibatalkan. Kami tahu bagaimana perasaan Alena sekarang." Ibu Reanta, dengan senyum ramahnya berkata padaku. "Benar Pak Dirga, Bu Anjar, kami tidak masalah," timpal Ayah Reanta dengan menyebut nama Ayah dan Bundaku. "Taㅡ" "Ka-Kak Reanta?!" "Nasera!" Ucapan Ayahku terpotong oleh suara lirih Naya yang terdengar bergetar, aku menatap Naya yang tengah menggandeng Rafa, wajahnya terlihat kaget. Dan apa tadi? Reanta? Nasera? Kenapa Reanta memanggil Naya dengan nama Nasera? Apa mereka saling kenal? Kenapa wajah Naya bisa sekaget itu? Ada apa ini? "Kalian saling kenal?" ***** Tbc...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD