Tatapan Curiga

1030 Words
Aku menuju dapur, meletakkan serbet kotor tadi ke dalam keranjang tempat pakaian kotor dan mencuci tangan di wastafel. Aku terkejut ketika tangan ini ingin menyentuh gagang kulkas ternyata ada tangan lain yang lebih dulu meraihnya dan tangan kami saling menumpuk. Aku menelan salivaku saat jarak pandang kami sangat dekat. Kami saling tatap sekian detik dan lalu sama-sama membuang pandang ke arah lain. Sekaku itulah kami hubungan kami walau sudah tinggal serumah selama hampir dua tahun. Kadang kami tampak masih merasa malu-malu kucing hanya karena tidak sengaja saling tatap. Lucu. Aku mundur satu langkah kebelakang dan ingin berbalik pergi. Namun ada tangan yang mencengkramku kuat hingga aku terpaku karenanya. "Kamu mau minum? Ini!" ucapnya sambil menyodorkan botol air mineral dingin dari dalam sana. "Tidak, a--aku mau ke atas," balasku gugup sambil melonggarkan pegangan tangannya dari lenganku. Dia hanya menatapku dengan raut yang ... Entahlah. Seperti ada yang ingin dikatakannya kepadaku, tapi masih tertahan di tenggorokan. "Ya!" panggilnya. Aku menoleh dengan alis yang naik. Bertanya. "Dompetku ada di--" belum selesai dia bertanya, aku sudah menyela. "Masih ditempat yang sama saat Mas meninggalkannya, belum bergeser atau berpindah sama sekali," jawabku ketus. Lalu kutinggalkan dia berlalu pergi keatas. Ternyata benar, dompet itu lebih penting dibanding bertanya tentangn keadaan diriku--istrinya, atau bagaimana kabarku hari ini atau juga tentang keadaan rumah ini. Walaupun hanya basa-basi, setidaknya itu sudah cukup membuatku bahagia. Bahkan dia tidak bilang terima kasih tentang jas hujan itu. Apakah aku pamrih? Tidak. Seorang istri tak memerlukan itu, dia akan sangat senang diajak bicara walaupun cuma sekedar ucapan receh seperti yang kujelaskan, atau hal-hal yang tidak penting lainnya. *** Aku keluar dari kamar mandi dan mendapati Mas Bintang duduk di tepi ranjang dekat nakas. Kulihat dia menggenggam dompetnya dan menatapku saat aku melewatinya menuju lemari pakaian. "Aya, aku sudah mentrasfer sejumlah uang ke rekeningmu. Maaf bulan kemarin aku lupa mentransfernya, tapi bulan ini kubuat jadi dobel. Mungkin ada yang ingin kau beli? Beli saja! Kalau kurang, bilang! Biar nanti kutambahkan," ucapnya memulai obrolan dan membahas tentang nafkahnya padaku. Aku tak menghiraukan ucapannya tersebut. Sudah biasa bagiku dilupakan. Dia hanya butuh dan ingat saat memerlukannya saja. Aku menggenggam erat ujung baju yang akan kuambil. Melampiaskan kekesalan hatiku saat ini pada benda mati tersebut. "Ya!" panggilnya lagi karena aku hanya diam. Mungkin dia mengira kalau aku tak mendengar panggilannya. "Hm," balasku tanpa melihatnya. Aku mencoba mengendalikan diri. "Kamu kenapa?" tanya Mas Bintang kemudian. Heh! Apakah dia baru sadar dengan sikapku yang kali ini berbeda padanya? Telat Mas. Aku berbalik. "Cepatlah mandi! Mau Maghrib, apa Mas mau aku siapkan pakaian? Oh ya, lupa, Mas kan bisa melakukannya sendiri," sindirku saat melewatinya dan melangkah pergi keluar kamar. Tak kupedulikan lagi seperti apa raut wajahnya karena aku memutuskan mengenakan pakaian di kamar mandi bawah. *** Malam tiba. Aku sedang menyiapkan makan malam di dapur. Hari ini menunya kupesan saja lewat aplikasi pesan antar. Gara-gara dompet Mas Bintang, aku tidak jadi memasak karena tidak jadi belanja di abang sayur langganan. Sore sebelum Mas Bintang pulang, makanan yang kupesan sudah datang. Semua masakan sudah terhidang diatas meja. Aku berjalan ke kamar ibu untuk memanggilnya bersama juga Mas Bintang yang sedang berada disana. Aku tahu Mas Bintang menemui Ibu di kamarnya. Mungkin dia ingin melihat keadaan ibunya setelah seharian bekerja di kantor. Mas Bintang memang sangat menyayangi ibunya. Sehari pun tidak pernah lupa menanyakan kondisi ibu. Apalagi sejak ibu mengalami stroke dan lumpuh. "Bu, Mas, masakan siap, kita makan!" ajakku di depan pintu kamar Ibu. Mereka menoleh ke diriku dan kompak mengangguk. "Aku saja," ucapnya saat aku ingin mengambil kursi roda Ibu. Oh, akupun mengurungkan niat mengambilnya. Aku menunggu Mas Bintang mendudukkan ibu ke kursi roda dan mendorongnya keluar kamar, lalu ikut mengekor langkah mereka dibelakang. Kami makan dalam diam. Sesekali dapat kutangkap ekor mata Mas Bintang selalu mencuri pandang ke arahku. Namun tak kuhiraukan. Aku lebih fokus menatap ke bawah, menikmati makanan di hadapanku. "Ehem ..., gimana masakannya Bin? Enak?" tanya ibu sembari matanya menyorot ke arah makanan diatas meja. Lalu mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Aku menyipitkan mata mendengar pertanyaan dan sikap Ibu barusan. Apa maksud Ibu menanyakan makanan ini kepada Mas Bintang? Yang ada Mas Bintang akan tahu kalau ini bukan aku yang memasaknya, dan ini untuk pertama kalinya aku memesan makanan dari luar dan tidak memasak di rumah. "Enak, masakan Aya selalu enak seperti biasanya," jawabnya tersenyum tipis ke arahku sembari mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Aku dan ibu saling pandang, dan lalu ibu terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. "Bintang ... Bintang, bagaimana sih kamu, masa tidak bisa membedakan yang mana masakan istrimu dan mana yang bukan," sindir Ibu telak. "Maksudnya, ini Ibu yang masak?" tanya-nya dengan binar bahagia. Makin Ibu terbahak mendengar pertanyaan Mas Bintang. Sedangkan aku hanya diam menunggu jawaban Ibu selanjutnya. "Kamu ngejek Ibu?" Mas Bintang menggeleng. "Lihat kondisi Ibu, apa bisa Ibu memasak makanan ini dengan kondisi seperti ini?" Mas Bintang mengernyitkan dahi, dia terlihat bingung. "Aya hari ini tidak masak karena tragedi dompet, jadi hari ini kita makan masakan yang dipesan dari luar, tapi bagi Ibu tetap masakan Aya yang paling enak," jelas Ibu sambil tersenyum renyah kepadaku. Aku membalasnya dengan tersenyum juga. "Tragedi dompet? Maksudnya?" tanya Mas Bintang menyelidik. Dia menatap bingung ke arahku. Aku balik menatap ke Ibu, aku harap Ibu mengerti kesulitanku, karena jujur malas membahas masalah dompet, dan tidak ingin menjawabnya, moodku lagi jelek. "Oh itu, Aya kehilangan dompetnya, padahal dompetnya di kamar Ibu, tertinggal saat dia membawakan sarapan buat Ibu. Jadi karena tidak menemukannya, Aya tidak jadi belanja ke Abang sayur," jelas Ibu pada Mas Bintang dengan santai. Mas Bintang diam. Dia tidak mengalihkan sedikitpun tatapannya dariku. Menatap tajam seakan ingin mengulitiku. Kurasa dia curiga karena siang tadi aku berbohong padanya kalau sedang sibuk memasak saat berteleponan dengannya. "Kenapa Bin? Kok nggak diterusin makannya? Kamu nggak suka kalau kita sesekali makan makanan luar? Jangan marah sama Aya, baru kali ini Aya tidak masak, jadi jangan dipermasalahkan," ucap Ibu membelaku. "Nggak papa kok Bu," sahut Mas Bintang sambil tersenyum ke arah Ibu lalu beralih menatapku. Aku hanya bisa menunduk. Aku tidak tahu alasan apa yang kuberikan jika dia meminta penjelasan tentang kebohonganku tadi siang. Namun biarlah. Memang apa haknya marah padaku cuma masalah makanan? Bukankah selama ini dia tak peduli?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD