[Mas, di jok kendaraanku ada jas hujan, pakai saja.]
Done. Akhirnya terkirim juga pesan tersebut ke nomer Mas Bintang.
Sebelumnya aku sibuk mengetik lalu menghapus pesanku untuknya. Berulang kali, begitu saja terus-menerus. Ada keraguan untuk melakukannya. Hanya untuk menyampaikan pesan sesingkat itu saja, aku kesulitan. Bagaimana kalau bicara langsung di hadapannya?
Aku duduk seraya menatap layar depan ponselku. Menantikan pesan balasannya. Kutunggu hingga beberapa detik berganti menit, belum juga terbaca pesanku di aplikasi hijau miliknya. Masih centang dua abu-abu. Tak sabaran, aku terus mondar-mandir di dalam kamarnya menghilangkan rasa tak menentu. Lalu pandanganku tertuju keluar jendela. Kulihat hujan malah makin deras. Awalnya hanya gerimis saja, lama-kelamaan semakin deras turunnya disertai bunyi Guntur dan kilat.
Kuintip lagi ponselku. Tujuanku langsung ke aplikasi berwarna hijau yang sedang populer. Aku terseyum, karena pesan tersebut sudah dibacanya. Namun senyumku memudar setelah ditunggu beberapa menit, belum ada juga balasan darinya. Sepuluh menit berlalu, masih sama. Hingga beranjak sampai tiga puluh menit berlalu pun tak jua masuk pesan balasan darinya. Suamiku memang jarang membalas pesanku, mungkin menurutnya pesan yang kukirim itu tidak penting, makanya hanya dibacanya saja. Seperti yang sekarang terjadi. Lagi, aku cuma bisa menghela nafas berat. Kecewa, akhirnya ponsel kuletakkan kembali ke atas tempat tidur dan meninggalkannya pergi keluar kamar.
***
Aku mendekati Ibu yang masih duduk sambil menonton televisi.
"Sudah Ya?" tanya-nya. Aku mengangguk dengan tersenyum paksa. Ibu bertanya tentang jas hujan tersebut.
"Baguslah. Lihat! hujan beneran kan? deras lagi. Terus Bintang bilang apa?" tanya Ibu lagi menoleh ke arahku.
"Hm ..., terimakasih katanya, Bu," sahutku berbohong. Aku menatap ke arah lain. Takut Ibu tahu kalau aku sudah membohonginya.
Ibu tersenyum. "Sini!" pintanya menyuruhku duduk disampingnya. Aku mendekat dan duduk disana.
"Nanti Ibu minta Bintang carikan orang buat jaga Ibu saja, " ucapnya membuatku kaget. .
Aku mengernyitkan dahi mendengarnya. "Maksudnya, Bu?" tanyaku minta kejelasan.
Ibu menyunggingkan senyumnya lagi. "Ibu tidak mau nyusahin kamu terus-terusan, Ya, gara-gara Ibu, kamu tidak punya waktu buat ngurus diri sendiri. Nggak bisa pergi kemana pun kamu mau, kamu juga sudah jarang kan ikut pengajian Ibu-Ibu disini karena jagain ibu?"
Ternyata Ibu peka juga. Aku merasa beruntung memiiki mertua sepertinya.
"Nggak papa Bu, Aya tidak pernah merasa berat melakukannya, Aya suka dan Aya ikhlas menjalaninya. Aya senang bisa merawat ibu dengan baik. Jadi ibu tidak usah khawatirkan Aya. Menantu Ibu ini baik-baik saja," jawabku menenangkannya.
"Ibu tahu, tapi hati ibu yang nggak enak Ya. Sejak enam bulan yang lalu, saat ibu mengalami setruk, ibu selalu membutuhkan bantuanmu. Nanti ibu jadi keenakan dan tergantung sama kamu terus. Bagaimana kalau nanti kalian punya anak, kan tambah repot. Jadi mulai sekarang ibu mau orang lain saja yang ngurus ibu supaya waktumu lebih banyak bersama Bintang," imbuhnya lagi berargumen.
Aku tersenyum mendengarnya. "Kan kami belum punya anak, Bu, jadi nanti saja kalau memang nanti Aya kerepotan, baru kita cari orang Bu. Ibu nggak senang ya kalau Aya yang urus Ibu?" ucapku manja, berpura merajuk.
"Ibu sangat senang Ya, senang banget. Tapi jangan tolak keinginan ibu ini ya. Ini juga demi kebaikan kamu dan Bintang. Ibu pengennya kalian bulan madu. Atau jalan-jalan lagi, tapi cuma berdua saja, ibu nggak ikut dan jangan paksa ibu untuk ikut lagi. Kalian ini aneh, tahun kemarin bulan madunya masa bertiga sama ibu, ibu merasa jadi obat nyamuk, ngintilin kalian kesana-kemari," sahut ibu dengan sewot.
Aku tertawa mendengarnya. Iya, memang lucu sih. Waktu itu kami selalu pergi bertiga, bahkan aku lebih sering bersama ibu pergi jalan atau shopping ketimbang bersama suami sendiri. Mas Bintang lebih suka sendiri berdiam diri di dalam hotel. Malas keluar kamar.
"Terserah Ibu saja kalau memang itu yang terbaik dan ibu inginkan. Tapi Aya masih boleh kan merawat ibu, bikinkan ibu makanan atau ngajak ibu jalan-jalan kalau bosan di rumah," ujarku memberi penawaran.
Ibu mengangguk dan tersenyum. Akupun ikut tersenyum. Tiba-tiba kami malah berpelukan. Aku suka memeluk beliau. Merasa seperti memeluk ibu sendiri. Ada rasa hangat menjalar setiap kali memeluknya. Namanya juga pelukan dengan ibu. Ibu akan selalu memberikan kehangatan untuk anaknya.
***
Aku mendengar deru mesin motor berhenti di depan rumah bersamaan dengan suara air hujan yang masih turun dan semakin deras membasahi bumi ini. Kutengok lewat jendela depan, nampak terlihat suamiku--Mas Bintang yang sedang membuka pintu pagar dengan mengenakan jas hujanku. Artinya ia menuruti saranku di pesan tersebut meskipun tidak membalasnya.
Senyum terukir di wajahku. Lucu. Sekejap rasa kesalku padanya menguap. Jasku berwarna pink dan dia mau mengenakannya tanpa merasa malu.
Ibu mertua sudah berada di kamarnya. Aku sudah membantunya mandi dan menemaninya solat ashar bersama. Lalu meninggalkannya sendiri untuk beristirahat sebelum waktu Maghrib tiba.
Gerakan tangan di handle pintu terhenti. Kulepaskan tangan dari sana dan ingin berbalik arah menuju ke dalam. Kuurungkan niat untuk menyambutnya pulang dan membukakan pintu depan tersebut. Aku melangkahkan kaki beranjak pergi dari sana sampai kudengar suara pintu berderit dibuka. Memang pintu depan cuma ditutup tanpa dikunci. Itu sudah kebiasaan apalagi tahu kalau Mas Bintang pulang cepat. Komplek rumah kami cukup aman. Dan kurasa diapun mengingatnya, sehingga langsung membuka pintu tanpa harus mengetuknya terlebih dahulu.
Aku terpaksa menoleh ke arahnya. Tatapan kami beradu. Belum lima menit, aku terlebih dahulu menyudahinya dengan membuang muka ke arah lain. Namun aku sempat melihatnya menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan, menyapu sisa air yang masuk mengenai kepalanya. Tampan. Aku menggumam dalam hati. Tidak bisa kutolak pesonanya memang selalu bisa menghipnotisku. Lalu aku sadar dan pura-pura terlihat sibuk menggosok lemari panjang yang diatasnya berderet pigura-pigura foto Mas Bintang waktu kecil hingga dewasa. Untung di tanganku ada serbet bekas waktu aku membersihkan meja makan tadi. Aku bahkan tidak sadar kalau benda tersebut berada di tanganku, dan telah kubawa kemana-mana.
"Ehem." Mas Bintang berdeham. Aku pura-pura tidak mendengar.
"Ya!" Akhirnya dia memanggilku saat melihatku ingin pergi melangkah ke dalam. "Jas hujanmu kutaruh di atas kursi depan, basah, takut membasahi lantai ini kalau kubawa masuk," ujarnya lagi.
Tanpa berbalik aku mengangguk. Kurasa dia mengerti maksud gerakan kepalaku. Lalu aku tetap pergi meninggalkannya, tak tahu bagaimana reaksinya melihat sikapku yang memang berbeda dari sebelumnya. Aku tak peduli. Ternyata, Aku tidak pandai untuk menyembunyikan kekecewaanku yang sejak tadi pagi masih kupendam terhadapnya.